Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 15 - [Orang Di Balik Bayangan]


__ADS_3

"Ne, Shiki. Kau yakin menerimanya begitu saja?"


"Kenapa? Kau khawatir?"


"Kalau aku bilang 'tidak', sama saja aku berbohong. Memangnya kau sanggup melawan petualang rank S seperti dia?"


Sudah 4 hari sejak aku terikat dengan roh baru. Vivera Listhe Serenia, roh pengikat yang sebelumnya mendiami sebuah gua di tengah hutan dan kini dia berada di dalam tubuhku. Bersama Erlia.


Setelah itu, kami mengambil beberapa batang tanaman Ephir dan membawanya ke guild lalu mengambil hadiahnya yang merupakan uang senilai 10.000 Rist.


*A/N : 1 Rist \= 1000 rupiah mata uang Indonesia.*


Namun, ketika kami baru akan pergi keluar, seorang pria mencegat kami kemudian menantangku untuk berduel. Dengan wajah yang sama sekali tak tampan menurutku itu, dia menantangku sembari tebar-tebar pesona pada gadis-gadis di dalam guild dengan mengatakan kalau rank A milikku merupakan kebohongan belaka karena kesalahan pada batu persegi yang mengeceknya. Melihat muka dan kesombongannya yang dia ungkapkan lewat desas-desus mengenai rank S nya itu cukup membuatku muak. Tanpa sadar karena kekesalanku yang sengaja kupendam dalam-dalam ini meluap, akhirnya aku menerima tantangannya. Tempat duel kami akan diselenggarakan sore ini di Arena Rand yang berlokasi di selatan kota.


Saat ini, aku dan Irie sedang berjalan menuju Arena itu. Irie sebenarnya melarangku untuk melawannya dan memintaku tidak melakukannya. Tapi aku menolaknya. Walaupun aku terlihat tidak peduli, namun kekesalanku pada wajah memuakkannya itu telah merebut rasa engganku untuk melawannya.


"Kalaupun aku tidak sanggup, setidaknya aku ingin mencoba menghilangkan wajah mengesalkannya itu."


"...tak kusangka, ternyata Shiki bisa kesal juga, ya...." Dia mengatakan itu sambil tersenyum kecut.


"Bukankah itu normal, mengingat aku juga manusia sepertimu," timpalku.


Beberapa lama kemudian, kami pun tiba tepat di depan pintu masuk Arena. Bentuknya sama seperti Colosseum. Ini mengingatkanku pada Arena pertarungan di kerajaan Alfreiden. Mungkinkah bentuk arena khusus pertarungan di dunia ini memang dibuat sama?


Selain itu, mengejutkan juga bahwa banyak orang yang memilih masuk ke tempat ini. Mereka meluangkan waktunya hanya untuk menonton pertarungan antara seorang petualang yang terkenal dengan rank tingginya melawan seorang pendatang baru yang bahkan belum pasti seperti apa kekuatan yang dimilikinya.


Melihat wajah kegirangan mereka yang tak sabar menonton pertarungan duel dari bintang mereka, aku penasaran dengan ekspresi mereka ketika melihat bintang mereka yang sangat dipuja-puja itu bertekuk lutut di depan lawannya.


Tangan seseorang menepuk pundakku lalu berkata, "Sebenarnya aku sangat tidak menyukai sikapnya itu yang terlalu pamer. Melihat wajahnya saja sudah membuatku ingin muntah. Kalau dia memang membuatmu kesal, kalahkan dia dan buktikan kalau rank-mu itu bukanlah kebohongan."


Kata-kata itu mendorongku untuk segera mengalihkan pandanganku pada seorang gadis berambut pink di sebelah kananku yang tingginya hanya se-telingaku.


Dia yang merasa kutatap heran, terus menyunggingkan senyum manis yang terlihat tulus. Kulihat matanya yang terasa tanpa celah keraguan dari ucapannya.


"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanyaku karena kami baru saja bertemu dan berkenalan beberapa hari yang lalu dan tak ada hal khusus yang menyebabkan aku mengeluarkan kemampuanku, jadi tidak mungkin dia tahu soal kekuatanku.


"Aku sudah melihat pertarunganmu saat melawan sekawanan goblin seorang diri. Itu hebat sekali. Aku yakin kau pasti bisa mengalahkannya," ujarnya sambil tetap mempertahankan senyum tulusnya dan menaikkan salah satu ibu jarinya.


"Kalau begitu, aku duluan, ya?" ujarnya lagi kemudian melenggang pergi ke dalam meninggalkanku yang masih berdiri diam menatap punggung kecilnya yang menghilang di lorong pintu masuk.


"Entah apa yang akan terjadi kali ini. Keajaiban ataukah... kesialan."


——————————


Suara riuh penonton yang heboh memenuhi tribun bahkan terdengar sampai luar arena ketika dua orang tokoh utama dalam duel sore ini menapakkan kaki mereka di lapangan Arena Rand.

__ADS_1


Di satu sisi, seorang pria di akhir 20 tahunan yang tak terlalu tinggi, berambut merah terang dan warna mata sama. Dilengkapi armor kulit dengan pedang besar berwarna hitam yang tersarung rapi di punggungnya. Tubuhnya terlihat kekar.


Di sisi lainnya, seorang pemuda jangkung berambut hitam yang langka di Avrion dan mata ungunya menatap datar pria yang merupakan lawannya itu. Dengan mengenakan baju hitam bercampur merah gelap di beberapa bagian yang disembunyikan di balik jubah hitamnya. Sebuah pedang perak bertengger di pinggang kirinya.


Jarak normal dalam pertandingan adalah 500 meter.


Ketika wasit bersiap menghitung mundur, keduanya menyiapkan tangannya untuk bersiap menarik pedangnya masing-masing. Suasana riuh penonton pun mendadak hening akibat ketegangan dari pertarungan yang akan segera dimulai.


3....


2....


1....


Mulai!


Penarikan pedang secara bersamaan diawali dengan pria bernama Marcus itu melesat ke arah Shiki dengan kecepatan tinggi yang langsung melayangkan tebasan vertikal. Shiki menangkisnya dengan mudah tanpa bergeming sedikit pun dari tempatnya. Serangan tersebut menimbulkan efek benturan keras yang menghasilkan angin kencang yang menghempas Shiki sampai membuat jubahnya berkibar.


Melihat Shiki yang tak terpengaruh dengan serangannya yang terbilang kuat tadi, Marcus memutuskan untuk cepat-cepat mundur menjauh guna mengantisipasi serangan mendadak yang mungkin akan dilayangkan lawannya. Namun, setelah melihat Shiki yang tak berniat melancarkan serangan balasan, Marcus kembali menyerangnya.


Sementara itu, Shiki menangkis semua serangan Marcus dengan entengnya seolah itu tak ada apa-apanya.


Para penonton memandang takjub dengan serangan secepat kilat dari Marcus yang sulit dilihat dengan mata telanjang sekaligus gerakan Shiki dalam menangkis setiap serangan Marcus tanpa celah sedikit pun. Mereka sampai dibuat bingung harus mendukung siapa karena keduanya luar biasa.


Di suatu tempat di tribun penonton, Irie melihat pertarungan Shiki dengan mata berbinar-binar. Dia memang pernah melihat pertarungan Shiki melawan para goblin sebelumnya. Tapi dia belum pernah melihatnya yang seperti ini. Matanya tidak bisa mengikuti gerakan mereka. Yang pasti pertarungan Shiki kali ini sungguh menakjubkan.


Dalam benaknya, akhirnya muncul suatu rencana.


Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk seringai lebar. Dia mengangkat tangan kirinya lurus ke atas.


"Rain of Sword, Browlinder!"


Bersamaan dengan teriakannya, sebuah lingkaran sihir biru berukuran besar se-lapangan Arena muncul di atas yang mulai mengeluarkan ujung-ujung pedang dan menampakkan ribuan pedang yang melayang bersiap untuk jatuh.


"Activate!"


Ribuan pedang di langit itu pun mulai berjatuhan dengan cepat setelah merespon teriakan Marcus untuk yang kedua kalinya.


Jatuhnya pedang-pedang itu menimbulkan debu tebal yang menutupi seluruh arena tanpa terkecuali. Begitu tak ada sisa pedang lagi, debu tebal itu tak langsung menghilang dan membuat tak bisa melihat keadaan di dalam arena.


Marcus yang merasa yakin bahwa serangan brutalnya kali ini berhasil, dia tertawa kencang dengan puas.


"Tamat kau sekarang. Gahahahahaha!!!...."


Karena tak ada jawaban dari lawannya, dia semakin tertawa lepas. Kabut debu mulai memudar. Marcus yang tak sabar ingin segera melihat tubuh lawannya terkoyak, menajamkan indera penglihatannya ke daerah lawan.

__ADS_1


Saat debu-debu menghilang meninggalkan bekas samar yang beterbangan tertiup angin, Marcus malah melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Awalnya yang dia pikir bakal berhasil. Ternyata, dewa keberuntungan tak meniup angin padanya.


Tubuhnya tak tergores sama sekali. Tak hanya itu, jubahnya saja tidak ada yang robek akibat hujanan pedang. Dia masih berdiri kokoh pada tempatnya. Pedang peraknya yang teracung ke depan dan bilahnya berasap itu menunjukkan kalau dia menangkis semua pedang yang menghujaninya. Alhasil, pedang-pedang itu menancap di sekitar Shiki membentuk sebuah lingkaran tak beraturan dengan Shiki di dalamnya.


Semua penonton pun terbisu dibuatnya. Tak ada yang berani berteriak akibat ketegangan yang menekan. Pertarungan yang telah berlangsung selama 5 menit ini berhasil membuat penonton kagum.


Sementara itu, Marcus berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Sihir terkuatnya bahkan tak sanggup menggores lawannya. Serangannya tak mempan sama sekali.


Dia semakin jengkel pada Shiki yang sama sekali tak menunjukkan perubahan ekspresi datarnya bahkan setelah menerima serangan semacam itu. Apakah tak ada serangan lain yang dapat menghancurkan musuh tangguhnya itu?


"Kenapa... Kenapa semua pedangku tak bisa melukaimu?" tanya Marcus yang mulai putus asa lagi dan berniat ingin tahu mengapa lawannya sulit untuk dia lukai.


Shiki menggerakkan kakinya untuk pertama kali sejak dimulainya duel mereka dan berjalan mendekati Marcus yang terengah-engah dengan keringat bercucuran.


"Itu tidak benar."


Jawaban singkat itu cukup menyentak hati Marcus yang sudah merasa tanpa harapan menang. Marcus pun berharap jawaban selanjutnya bakal memberinya harapan walau hanya setetes air.


"Kau..." Dari ujung bibir Shiki, darah segar mulai mengalir jatuh menuruni dagu lancipnya. "...Salah satu pedangmu...berhasil mengenai jantungku."


Perasaan Marcus yang sebelumnya tertekan akhirnya mereda akibat dari jawaban yang memberinya harapan melebihi ember berisi air penuh.


Tapi, dia merasa tidak yakin dengan itu, karena dia tidak melihat jubahnya robek di mana pun. Setelah dia teliti baik-baik, ternyata lelaki yang menjadi lawannya itu tidak berbohong. Buktinya ada pada dada kiri Shiki. Terlihat sedikit robekan diagonal pada jubah hitamnya yang basah dan berwarna merah gelap di robekan itu.


Marcus berpikir, meskipun Shiki akan mati sebentar lagi, tapi dia ingin lawannya mati langsung dengan tangannya sendiri.


Sedangkan Shiki yang kini masih berjalan mendekati Marcus, dia menyarungkan kembali pedangnya seperti semula. Dadanya memang terasa sangat sakit. Tapi dia tahan karena masih belum selesai dengan urusannya. Toh dia tidak akan mati walaupun mendapat luka semacam ini.


Marcus sempat berpikir kalau alasan lawannya menyarungkan pedangnya adalah menyerah pada nasibnya dan siap untuk dihabisi. Dia melihat itu sebagai kesempatan yang bagus untuk diambil.


Dengan keyakinannya, dia pun mendekati Shiki yang juga berjalan ke arahnya.


Penonton di tribun menajamkan mata masing-masing agar dapat melihat jelas detik-detik akan berakhirnya pertarungan kedua pelaku duel. Setiap langkah, mata penonton semakin melebar untuk bersiap dengan akhir menakjubkan yang akan kedua orang itu lakukan.


Ketika jarak keduanya sudah dekat satu sama lain, Marcus langsung menebaskan pedangnya ke arah leher Shiki. Tapi, sebelum pedang itu menyentuh lehernya, pedang tersebut terjatuh lebih dulu menimbulkan suara klontang besi yang memekakkan telinga. Tak hanya itu saja, tubuh Marcus juga jatuh tersungkur di depan Shiki dengan bekas pukulan keras di perutnya.


Suara penonton langsung kembali riuh seakan mendapat hadiah utama dari lotere. Irie yang sebelumnya duduk tegang di bangku tribun pun segera beranjak pergi kemudian berlari menuju Shiki yang tumbang sesaat setelah berhasil mengalahkan lawannya.


"SHIKIII!!!!..."


——————————


Di suatu tempat di atas Arena Rand, sepasang mata merah mengawasi seorang pemuda yang tumbang di lapangan Arena setelah memenangkan duelnya. Wajahnya gelap karena tertutup bayangan dari jubah hitamnya yang menutupi seluruh tubuhnya tak terkecuali. Kedua ujung bibirnya terangkat menampilkan senyum lebar bagai iblis. Bibirnya bergerak menghasilkan suara seorang lelaki.


"Dua bulan lagi, malam bulan purnama merah. Persiapkan dirimu untuk menemui Tuan Putri, Pangeran Rein. Tentu saja hanya kepalamu. Hihihihi...."

__ADS_1


Bersamaan dengan tawa mengerikannya, dia pun menghilang bagai tertiup angin senja yang semakin menggelap seiring berjalannya waktu.


__ADS_2