
"Shi... Shiki... -kun?"
Matanya melebar ketika melihatku sudah ada di belakangnya tadi. Dari yang kulihat dia masih belum berubah semenjak aku meninggalkannya. Hanya penampilannya saja yang membuatnya sedikit berbeda dari biasanya. Dia mengepang rambut pirang panjangnya ke bahu kanannya. Dan baju yang dia pakai bukan gaun kerajaan, tetapi pakaian yang disertai armor kulit ringan.
Aku mengerti kenapa dia berpenampilan layaknya seorang petualang. Namun menurutku walaupun dia cocok memakainya, dia lebih cocok bila memakai jubah khusus penyihir saja. Dia tidak ahli atau bisa dibilang tidak menguasai hal-hal yang bersinggungan langsung dengan pertarungan. Seperti kebanyakan orang, dia mempelajari ilmu sihir.
Arelia dan Hanz tidak memakai armor biasanya karena terlalu mencolok. Mereka berdua juga memakai setelan yang sama dengan Anna. Dan itu sangat cocok untuk mereka.
Saat ini Anna terus memandangku dengan tatapan tak percaya. Manik birunya berkaca-kaca dengan air matanya yang mulai mengalir turun.
"Benarkah kau ini Shiki-kun? Aku... aku tidak sedang bermimpi, kan?" Dia bertanya-tanya dengan suara bergetar karena tak mampu menahan tangisnya.
Sepertinya tindakanku sebelumnya terlalu berlebihan, ya....
Aku berjalan mendekatinya dan membelai lembut rambutnya yang halus tepat di ujung kepalanya.
"Maaf, aku pergi tanpa pamit."
Tidak kusangka pilihanku sendiri membuatnya kesulitan.
Dia pun langsung memelukku dengan erat dan menangis sendu di dadaku.
"Syukurlah... hiks... Aku khawatir... hiks... Aku takut kau kenapa-napa... hiks... Aku tidak mau kehilanganmu...," isaknya.
"Sebenarnya, setelah kau pergi, kerajaan diserang oleh sekelompok iblis. Pemimpin mereka mengatakan kalau tujuan mereka adalah untuk mencarimu. Namun, begitu tahu kalau kau sudah tidak ada, mereka pergi tanpa adanya serangan tambahan," terang Hanz.
Sekelompok iblis?
Oh, aku ingat sekarang. Kalau tidak salah, paman yang kami temui di desa sebelah mengatakan bahwa sekelompok iblis menyerang desanya. Tapi Hanz bilang iblis-iblis itu menyerang setelah aku pergi. Sedangkan desa tadi baru 3 hari yang lalu. Mungkinkah mereka melampiaskan kemarahan karena tak bisa menemukanku? Atau masih berusaha mencariku namun tak menemukanku juga lalu berakhir memberantasnya?
Tidak. Bisa saja penyerang kerajaan dan penyerang desa itu bukan iblis yang sama.
Dua kemungkinan yang bisa kupikirkan.
Tunggu... Ada hal aneh disini.
Mengapa pemimpin iblis itu mencariku?
Mengapa paman itu memberikan pedang ini kepadaku begitu saja padahal baru bertemu?
Dan yang paling aneh adalah....
...Kenapa ada katana di dunia ini?
Dari awal kehidupanku di sini sampai sekarang aku masih belum melihat ada yang memakai katana, atau yang menjualnya sekalipun.
Namun mengapa paman itu bisa tahu dan memiliki katana yang seharusnya berasal dari duniaku?
"Aku tidak tahu alasanmu pergi dari kerajaan. Tapi apapun itu, bisakah kau kembali bersama kami? Semua orang mengkhawatirkanmu," pinta Hanz.
Kurasa kembali bukanlah pilihanku sekarang.
"Maaf, Hanz, aku tidak bisa."
"Kenapa?!" sergah Arelia yang mengerutkan alis heran.
"...."
"Apa kami punya salah padamu sampai kau harus menjauhi kami? Apa... apakah karena perlakuan semua orang padamu membuatmu tidak nyaman dan ingin pergi?"
"...."
"Mu-m-mung-mungkinkah karena kami t-t-ti-tidur be-be-bersama... mu... waktu itu?"
Dapat kulihat jelas wajahnya sekarang sudah sangat merah. Dia memaksakan diri untuk menyebutkannya. Kalau kau memang malu mengatakannya, kenapa kau melakukan itu sebelumnya? Bukankah reaksinya terbalik, ya?
Seharusnya lebih memalukan melakukan daripada membicarakan, bukan?
Aku sungguh tidak mengerti jalan pikir gadis ini....
Lalu, kenapa dadaku terasa panas, ya?
Kualihkan pandanganku ke bawah. Tepatnya ke arah gadis yang sekarang masih memelukku.
Woah... mengejutkan. Wajahnya juga merah terang dan kepalanya berasap.
Jadi dia tak jauh beda dengan Arelia.
"Bukan, Arelia," jawabku atas hujanan pertanyaan dari Arelia barusan.
"Lalu kenapa?"
Aku ingin bilang kalau ini demi kebaikan kalian. Namun sepertinya percuma. Mereka akan terus memaksaku walau sampai harus menyeretku.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Tapi, Shiki punya tujuan sendiri dan biarkan dia melakukannya. Memangnya kalian ini orang tuanya? Seenaknya saja mengatur kehendaknya-"
"Hentikan, Marcus," potongku. Kulirikkan mataku ke belakang, memberikan tatapan tajam dan penekanan pada Marcus yang telah melanggar perintahku. "Teruskan atau kubunuh."
Dia langsung bergidik ngeri dan akhirnya mengunci rapat mulutnya.
"Kelihatannya kau berubah, ya, Shiki," ucap Hanz sambil tersenyum padaku.
Bagus. Dia mengalihkan sendiri pembicaraannya.
"Kenapa kau tidak kembali saja ke kerajaan? Kau tidak rindu dengan penggemarmu?" Tanyanya tetap mempertahankan senyumannya, namun kali ini rasanya sedikit berbeda.
Apa dia berniat mengejekku?
"Kau tahu, Shiki? Dia ini sangat tertekan, lho, sejak kau tinggalkan."
Hoi, mana aksi mendramatis yang kau lakukan tadi, Arelia?
Memang ada, sih, yang tertekan sampai sikapnya berubah. Jadi, itukah alasan mengapa Hanz terlihat begitu ingin mengejekku habis-habisan saat ini?
"Wow! Shiki! Kau punya penggemar juga?" Tanpa kusadari, Irie sudah di hadapanku sambil menatapku dengan mata berbinar.
Huh... dia ini....
"Kalau begitu tak ada pilihan lain," gumamku yang membuat mereka semua bingung dan ber"Eh?"ria.
Dan yang paling bingung di sini adalah Irie karena kedua bahunya kupegang dan memutar balik tubuhnya menghadap arah lain.
"Kali ini kubiarkan kau memuaskan hatimu," ujarku.
"...."
Matanya berkedip cepat dan melirik kesana kemari. Sengaja kuhadapkan Irie pada Hanz supaya tatapan mengejek darinya hilang. Selain itu....
"Kenapa kau malah gemetara-"
"KYAAAAA!!! HANZ DI DEPANKU! HANZ SUNGGUH DI DEPAN MATAKU!! KYAAAA!!! JANTUNGKU TIDAK KUAT!!"
Sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku, teriakan Irie yang menggelegar memotongnya dengan cepat.
Sesuai dugaan, Irie segera melayangkan pertanyaan berantai. Kulihat sekarang Hanz kewalahan dan mencoba menjauhkan dirinya. Tapi keberuntungan sungguh tak memihaknya. Irie terus terusan bertanya kadang sesekali berteriak, membuat Hanz harus menghela napas berat.
Semoga kau tetap tabah menghadapinya, Hanz.
"Sikapnya yang begini akhirnya berguna. Tidakkah kau merasa senang?" balasku mengingat kembali apa yang telah Irie perbuat padaku ketika kami berdua membicarakan mengenai knight kerajaan Alfreiden. Lebih tepatnya soal Hanz. Yang dia lakukan pada Hanz saat ini sama dengan yang dia lakukan padaku waktu itu.
Ini balasan untuk ejekanmu, Hanz. Maaf, sebenarnya aku tak berniat balas dendam. Tapi hatiku tergerak sendiri.
Mengabaikan semua itu, entah mengapa anak ini belum juga melepaskanku.
"Anna, mau sampai kapan kau berencana terus memelukku?"
"Biarkan aku seperti ini sebentar lagi. Aku perlu mencerna semua yang terjadi," jawabnya sambil membenamkan wajahnya ke dadaku dan semakin mengeratkan pelukannya.
Bisa kurasakan kedua tangannya yang melingkar di punggungku tengah *** jubahku.
Wajar dia begini, aku meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Sudah 2 bulan kami berpisah. Kupikir mereka berdua juga sama. Namun mereka sengaja menahannya. Aku tahu dari wajah mereka bahkan walau mereka tutupi dengan senyuman atau tawa sekalipun. Tetap saja, ekspresi sedih tak akan bisa disembunyikan begitu saja.
Mungkin sebentar saja, aku membalas pelukannya dengan mendekap kepala dan punggungnya, membantunya menenggelamkan semua perasaan sedihnya dan menghilangkannya.
Karena aku....
...takkan kembali pada mereka.
"Ehem!"
Deheman keras dari pemilik kedai yang ternyata sudah di samping kami sangat mengagetkan hingga kami melepas pelukan dengan cepat.
Kami benar-benar melupakan situasi. Kami lupa akan keberadaan kami di kedai yang seharusnya ramai oleh orang-orang yang membeli makanan dan minuman.
—————————
""Apa?!"" serentak Hanz dan Arelia yang membulatkan mata, terkejut. Sementara itu Anna juga terkejut dengan mulut sedikit terbuka.
"Kau bercanda, kan? Untuk apa kau pergi ke tanah terlarang itu?" tanya Arelia tetap dengan ekspresi terkejutnya.
Tanah terlarang?
Sebelumnya, kami keluar dari kedai menuju tempat yang lebih sepi seperti kamar di penginapan yang Hanz temukan sebelum bertemu denganku, agar kami lebih leluasa dalam membicarakan hal-hal yang sensitif.
Kalian bertanya mengapa mereka bertiga bisa terkejut begitu? Itu karena aku menjelaskan tujuanku saat ini, yaitu menuju benua iblis, Rivia. Tentunya aku tak akan mengatakan ini sembarangan. Aku menjawabnya karena mereka bertanya. Jadi tak ada salahnya memberitahu mereka. Tapi balasan yang kudapat dari mereka adalah keterkejutan yang nampak seperti mereka akan membantah dan mencegahku untuk pergi.
"Memang perlu alasan?" tanyaku balik.
__ADS_1
"Harus!" tegas Arelia sembari menggebrak meja bundar di hadapan kami.
Kini aku, Arelia, dan Hanz duduk berhadapan ditengahi oleh sebuah meja berbentuk lingkaran yang cukup besar. Sementara Anna duduk di tepi ranjang tunggal di ruangan ini. Lalu Irie dan Nia duduk di belakangku bersandar pada dinding. Serta Marcus yang juga bersandar di dinding namun dalam keadaan berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Kenapa?" tanyaku mencari kepastian akan keharusanku dalam memiliki alasan di balik tujuanku ke Rivia, seperti yang dikatakannya.
"Kau tak tahu sama sekali akan tindakan tak beralasanmu ini? Kau tak tahu konsekuensinya bila kau pergi ke sana?"
"Perjanjian Drangar," timpal Hanz meneruskan. "Perjanjian yang membuat dunia ini terpisah menjadi 2 benua, Huraria dan Rivia. Melewati batas maka kau mati. Itulah inti dari perjanjian tersebut. Karena perang tiada akhir membuat populasi semua ras semakin menurun, perjanjian ini dibuat. Makna lain dari intinya yakni mengganggu kami berarti bayarannya adalah nyawamu. Dengan merealisasikan inti tersebut maka diciptakanlah dinding perbatasan yang telah dilapisi sihir. Entah apa sihir yang digunakan, yang pasti sihir tersebut dapat membunuh bagi siapapun yang menyentuh maupun melewati dinding itu."
"Jadi maksudnya, mustahil untukku pergi ke Rivia, begitukah?" simpulku.
Arelia mengangguk cepat.
Namun setelah itu, mereka dikejutkan lagi oleh diriku.
"Lalu, bisakah kalian jelaskan masuknya ras iblis ke benua Huraria ini?"
"...."
"...."
Mereka berdua terdiam. Tampak sekali dari alis yang berkerut dengan mulut ternganga bahwa mereka berpikir keras.
"Dengan dinding pembatas itu, pastinya mereka mati sebelum melewati batas, kan?"
Suasana menjadi tegang seiring aku membuka mulut.
"Aku sudah melihat buktinya. Kalian juga sama."
Suara yang mendominasi di ruangan ini adalah suaraku.
"Kalau mereka bisa, aku juga bisa."
"Bagaimana...?" Setelah beberapa menit akhirnya ada yang bersuara. Arelia menatapku serius.
"Bisakah aku mempercayai kalian semua?" tanyaku memastikan. Mengabaikan dulu pertanyaan Arelia.
"Tentu saja! Kau pikir kami siapa?" celetuk Marcus sembari memasang senyum percaya diri.
"Aku tidak main-main, Marcus. Aku serius. Sangat serius," balasku dengan memberi sedikit penekanan pada kalimat akhir. Itu membuat senyum percaya dirinya hilang dan harus menelan sulit ludahnya dengan terpaksa.
Kulihat wajah mereka satu persatu. Saat aku yakin dan mulai membuka mulutku untuk bersiap, Hanz menghentikanku.
"Tunggu! Kau yakin? Kalau kau harus memastikan kepercayaan kami, berarti kau akan membicarakan sesuatu bernilai kerahasiaan pribadi yang besar, kan? Jika memang begitu, lalu bagaimana dengan tetangga sebelah atau orang yang kebetulan lewat depan kamar ini mendengar itu?" tanyanya serius yang terkesan mendorongku untuk menjawab bahwa semua akan baik-baik saja.
Oh, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan, Hanz.
Kusentuhkan telapak tanganku pada lantai di bawahku. Memusatkan aliran mana pada ujung tangan kananku yang tersambung langsung ke lantai ini. Kemudian membayangkan dan melepaskan apa yang kuinginkan. Setelah itu, barulah....
"[Silent Mode]"
Cahaya kelabu berpendar dari balik telapak tanganku, menyebar ke seluruh ruangan ini, lalu seperti berkedip cahaya tersebut menghilang. Menandakan kalau sihirku telah selesai dan mulai bekerja.
"Ap-apa itu tadi?!" Arelia nampak terkejut dengan kemunculan cahaya tadi.
"Dengan begini, tidak ada siapapun yang mendengar kecuali kita. Mau kulanjut?" ujarku meminta konfirmasi dari mereka semua.
Tak ada dari mereka yang merespon. Ini membuat diriku yakin mereka telah siap mendengar apapun yang akan kukatakan.
Aku pun membuka mulutku kembali. Memulai penjelasan yang sempat tertunda.
"Jika kalian mengetahui ini, aku takkan kesulitan menjelaskan pada kalian semuanya. Kalian tahu kerajaan bernama Ziagro?"
"Aku pernah mendengar rumornya saja kalau itu adalah kerajaan iblis," jawab Irie.
Mereka semua mengangguk setuju yang berarti mereka juga tahu berdasarkan rumor.
"Bagaimana kalau kerajaan Griollate?"
"Oh! Kalau kuingat benar, itu merupakan kerajaan terbesar pertama sekaligus asal dari salah satu penyihir Trensent," jawab Hanz.
Aku mendengar istilah itu lagi setelah beberapa lama tidak ada yang menyinggungnya.
"Selain itu, salah satu dari 4 pahlawan juga berasal dari sana," tambahnya dengan suara pelan.
"Keturunan langsung dari kerajaan Griollate. Dengan kata lain, dia seorang pangeran. Apa aku salah?" sambungku.
"Bagaimana kau tahu?" Kali ini Arelia yang bertanya dengan raut terkejut.
Jika saja emosiku tidak hilang, mungkin aku sudah menyeringai senang sekarang.
"Rein Van Griollate. Alasan aku mengetahuinya karena... Rein adalah diriku."
__ADS_1