Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 08 - [Keanehan]


__ADS_3

Aku berjalan pelan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celanaku. Termenung memikirkan semua hal aneh yang terjadi sejak kematianku di duniaku sebelumnya. Memang aku tidak mengerti apapun, tapi aku hanya bisa terus mengikuti naskah cerita kehidupanku di dunia ini yang disebut dengan jalan takdir.


"Shiki-kun, ada yang ingin kutanyakan padamu."


Suara lembut seorang gadis menyadarkan lamunanku dan aku pun menoleh ke samping kananku sambil tetap berjalan.


"Etto... S-saat aku me-memelukmu pagi ini, ada yang aneh denganmu," ucapnya gugup dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus dan terlihat ada sedikit asap yang keluar dari kepalanya.


Jika kau memang malu, kenapa kau memelukku dan tidur di sampingku dengan wajah yang tenang?


Apakah karena ucapan Hanz?


Ah, sudahlah. Kalau aku terus memikirkan hal itu, bisa-bisa kepalaku tambah pusing mengingat banyak sekali informasi yang dijejalkan di otakku.


"Aneh? Maksudmu?"


Wajahnya yang seperti kepiting rebus tadi pun mulai kembali normal. Terlihat kekhawatiran di wajahnya yang mulai tenang.


"Kenapa kulitmu dingin?" Dia yang berjalan di sampingku menoleh dan menatapku dengan khawatir.


Kulitku dingin?


(Erlia, kau disana?)


Penasaran dengan itu, aku pun memulai telepati dengan roh yang berkontrak denganku yang saat ini berada dalam tubuhku.


"Ada apa, master?"


(Hm? Kenapa kau memanggilku seperti itu?)


"Tak ada hal khusus. Hanya ingin saja. Lagipula aku adalah roh yang berkontrak denganmu."


(Baiklah, terserah. Erlia, kenapa kulitku dingin?)


Aku mengulangi pertanyaan dari Anna yang sebelumnya dilontarkan kepadaku.


"Kau tidak ingat? Bukankah sudah kujelaskan kalau kau abadi?"


(Iya, aku ingat itu. Tapi apa hubungannya?)


"Anggap saja itu efek sampingnya."


(Tidak bisakah tubuh hangatku kembali? Kalau tidak, orang yang menyentuhku akan merasa aneh dan curiga kepadaku.)


"Itu mustahil bahkan untuk roh suci sepertiku. Maaf sudah membuatmu kecewa, master."


(Tidak, itu tidak masalah. Aku hanya harus menyembunyikannya. Terima kasih informasinya, Erlia.)


"Dengan senang hati, master."


Komunikasi pun terputus. Aku kembali menoleh ke arah Anna yang masih menatapku dengan raut wajah khawatir dan penuh tanda tanya.


"Anggap saja itu efek samping dari kekuatanku."


Setelah itu kami berjalan di lorong istana dengan keheningan yang menyertai kami.


----------


Sejak pelatihanku dengan Arelia, karena bajuku yang terlihat aneh disini, Arelia menyarankan untuk memakai pakaian kerajaan. Dan inilah yang kupakai saat ini. Pakaian bergaya Eropa abad pertengahan berwarna hitam bercampur sedikit merah gelap di beberapa bagian. Entah karena apa, para pelayan, prajurit, knight, dan keluarga kerajaan menganggapku layaknya seorang pangeran. Padahal mereka tahu tak ada pangeran di kerajaan ini.


Kebanyakan pelayan wanita mengatakan dan berteriak seperti ini,


"Kyaaa!!! Shiki-sama sangat tampan!"

__ADS_1


"Seperti biasa, Shiki-sama terlihat tampan."


"Shiki-sama, pakaian anda sangat cocok!"


"Shiki-sama~, menikahlah dengan saya!"


Abaikan bagian terakhirnya.


Lalu pelayan pria hanya tersenyum dan membungkuk hormat ketika aku lewat atau berjalan di depannya. Bahkan mereka sesekali menyapaku dengan senyuman hangatnya. Kala itu aku hanya bisa terdiam menanggapi sikap mereka terhadapku.


Para prajurit tak jauh beda dengan mereka, tersenyum dan membungkuk hormat.


Sedangkan para knight yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari, mereka juga membungkuk hormat dan mengakrabkan diri denganku. Termasuk Hanz yang bertemu denganku di kamarku, bukan, Hanz memergoki Arelia dan Anna lalu tak sengaja bertemu denganku di kamarku.


Tapi ada sesuatu yang kulihat darinya. Tak jauh berbeda denganku, dari matanya aku tahu dia telah mengalami hal yang begitu buruk di masa lalunya dan menyebabkan dia menampakkan kesedihan yang mendalam di balik senyuman dan sikapnya yang tenang. Aku mengetahuinya karena....


...aku telah mengalaminya sendiri. Aku tidak begitu ingat apa yang kualami waktu itu, tapi yang kuingat, aku kehilangan sesuatu yang berharga dalam diriku.


Dan soal keluarga kerajaan, mereka tidak membungkuk hormat padaku seperti yang lainnya, mereka berbicara formal kepadaku dan memanggilku dengan tambahan honorific -sama- dibelakang namaku. Padahal mereka penguasa kerajaan ini, namun mengapa mereka menganggapku seolah kedudukanku lebih tinggi dari mereka? Itu tidak normal sama sekali. Aku hanyalah orang asing yang tidak sengaja berada disini.


Kecuali Arelia dan Anna. Tidak seperti lainnya yang protes dengan permintaanku untuk tidak terlalu formal kepadaku, mereka berdua bahkan senang dengan permintaanku. Yah, setidaknya ada yang meringankan tubuhku yang kaku akibat ke-formal-an seluruh penghuni kerajaan. Aku tidak terbiasa dengan ini....


----------


Meskipun aku tahu identitas Shiki-kun yang sebenarnya, namun aku tidak tahu banyak soal dirinya. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, dia alami, perasaan di hatinya saat ini. Aku tidak tahu apapun mengenai dirinya.


Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasakan kekuatan yang besar dalam dirinya. Ketika aku berjabat tangan dengannya dan menyentuh kulit telapak tangannya, tidak seperti kulit manusia lainnya yang terasa hangat dan penuh akan kehidupan, kulitnya benar-benar berkebalikan dengan yang lain. Kulitnya begitu dingin sedingin es dan aku tidak merasakan kehidupan dalam dirinya. Yang kurasakan hanya sedikit. Jika dibandingkan maka bagaikan sebatang pohon kecil di tengah tanah tandus.


Kukira itu hanya kebetulan di awal pertemuan. Namun, setelah beberapa kali aku menyentuh kulitnya dan tetap merasakan hal yang sama, ini membuatku yakin bahwa itu bukanlah kebetulan.


Untuk membuktikannya, aku pergi ke kamarnya saat tengah malam karena aku malu menanyakan itu padanya. Ketika ku buka pintu kamarnya, aku melihat dia tidur telentang di atas ranjangnya dengan wajah damainya bagaikan orang mati ditambah kulit putih pucatnya yang membuatnya semakin mirip orang mati. Dia mungkin kelelahan dengan latihannya sehingga dia tidur tanpa menggunakan selimut untuk menyelimuti tubuhnya dari hawa dingin malam yang menusuk.


Aku mendekatinya dan menatap halus wajahnya yang tampan. Walaupun tak ada ekspresi apapun di wajahnya yang hanya datar seakan tak ada emosi lain, dia tetap menawan.


Tanpa sadar wajahku sangat dekat dengan wajahnya. Bisa kurasakan napasnya yang hangat bahkan aku juga bisa mendengar suara napasnya yang teratur. Aku menatap bibir lembabnya dan yang kulakukan selanjutnya hanyalah mengikuti nafsuku.


Bibir kami menyatu. Aku benar-benar menciumnya.


Namun aku tidak bisa berlama-lama melakukannya meskipun aku menginginkannya. Aku tidak mau dia terbangun dan melihat wajahku yang sekarang memerah dan terasa panas.


Tapi berkat itu aku menyadari sesuatu. Meski kulitnya sedingin es, namun napasnya begitu hangat. Seakan tubuh luarnya telah mati, tapi rohnya masih hidup di dalamnya.


Yang pertama kupikirkan setelah mengetahui hal itu adalah....


...dia seperti mayat hidup.


Aku menjauhkan wajahku lalu menyentuh pipinya dengan telapak tanganku dan membelainya perlahan. Berharap tanganku bisa menghangatkannya. Pipinya sangat dingin saat aku menyentuhnya.


Entah apa yang merasukiku, aku merebahkan tubuhku disampingnya lalu mendekap tangan kanannya. Aku pun berakhir tertidur sambil memeluk tangannya.


Ketika aku merasakan gerakan, aku pun membuka mataku. Aku melihat sepasang mata ungu menatapku. Dan membuatku sadar akan suatu hal. Shiki-kun sudah bangun. Wajar saja karena ini sudah pagi.


Aku mengucek mataku lalu menyapanya sambil tersenyum padanya. Selain diriku, aku mendengar suara sapaan yang terdengar tak asing di telingaku. Tak kusangka Arelia-chan juga disini, dan yang mengejutkan ternyata dia juga tidur di samping Shiki-kun dan memeluk tangan kirinya seperti yang kulakukan.


Tapi aku tak mempermasalahkan itu sama sekali. Yang kukhawatirkan adalah, apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki yang ada di sampingku ini?


----------


"Bocah itu sungguh menarik." Suara sedikit berat namun halus terdengar di sebuah ruangan luas yang di ujung ruangan terdapat 1 singgasana besar dan 2 singgasana kecil di sampingnya.


"Apa maksud anda, Yang Mulia?" tanya seorang pria yang usianya di akhir 20-an yang berdiri di depan singgasana besar menghadap seorang pria berjanggut kuning kecil dan kumis tipis yang mengenakan pakaian Eropa abad pertengahan berwarna putih dengan jubah merah yang menggantung di kedua bahunya memanjang hingga melebihi mata kaki dan diujungnya serta sekitar lehernya terdapat bulu berwarna putih yang menghiasinya. Di kepalanya menempel sebuah mahkota emas dengan berlian merah di tengahnya. Dia duduk di singgasana besar sambil menyangga dagunya dengan tangannya. Senyum kecil terukir di wajahnya.


"Aku tidak habis pikir, mengapa putriku membawanya kemari bahkan memohon padaku untuk membiarkannya tinggal di sini, ternyata itu masalahnya."

__ADS_1


"Apa Yang Mulia yakin pemuda itu yang selama ini kita cari? Kalau memang begitu, apa yang akan kita lakukan, Yang Mulia?" tanyanya memasang raut kekhawatiran.


"Tentunya kerajaan lain, tidak, bukan itu saja, ke-lima negara mungkin saat ini tengah merencanakan sesuatu untuk mengambilnya dari kita. Dan apakah Yang Mulia tahu bahwa buronan negara sekarang telah mencapai desa di dekat perbatasan kerajaan ini? Saya yakin, dia juga menginginkannya, Yang Mulia," lanjutnya.


Senyum kecil yang menghiasi wajahnya itu masih belum menghilang. Manik hijaunya menatap halus seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Tenang saja, Gravius. Aku tahu itu. Lagipula aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun. Dia terlalu berharga untuk dicuri. Sudah hak kita yang merupakan penghuni kerajaan ini untuk memberikannya perlindungan dari tangan-tangan kotor yang ingin memanfaatkannya. Berkat dia, kerajaan ini aman dari peperangan yang masih berlangsung. Meskipun bocah itu tidak ikut turun tangan juga, ya. Ahahaha...."


Mendengar perkataan Rajanya, pria yang dipanggil Gravius itu tanpa sadar mengukir senyum kecil di wajahnya yang mulai tenang.


----------


"Berhenti menarik tanganku, Arelia. Berani berbuat maka kau harus berani bertanggung jawab."


"Huaaa!! Aku tidak mau!! Tolong aku, Shiki~"


"Arelia, yang dikatakan Shiki-sama itu benar adanya. Kau harus bertanggung jawab akibat tindakanmu itu. A-RE-LI-A...," ujar Hanz yang sekarang menarik tangan Arelia yang bebas dengan suara yang bagai iblis disertai seringai lebar yang terpampang jelas di wajahnya. Di tangannya yang lain sedang memegang cambuk.


Begitu mendengar dan merasakan hawa membunuh yang dihasilkan Hanz, membuatnya semakin merinding dan histeris ketakutan sambil terus-terusan menarik lengan Shiki yang terlihat sedikit meringis kesakitan. Tekanan yang dirasakannya semakin menguatkan pegangannya di lengan Shiki.


"Ouch! Jangan meremas tanganku! Kau bisa membuatnya remuk!" Meski terdengar marah, namun ekspresinya yang datar tak bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya merasakan sakit mulai menjalar di lengannya.


"Tolong aku, Shiki! Huaaa!!... Hanz jahat!! Huaaa!!...."


5 menit yang lalu....


Aku berjalan di lorong kerajaan. Tapi aku tersesat dan bingung dengan jalan yang bercabang. Lalu aku mendengar teriakan tangis seorang gadis di ruangan yang tak jauh dari tempatku berdiri. Itu suara Arelia.


Aku melangkahkan kakiku mengikuti arah suara tersebut yang menuntunku sampai di depan pintu besar dengan daun pintu ganda. Kubuka perlahan, kemudian yang kulihat adalah Arelia yang berlari berputar-putar sambil menangis histeris dan berteriak di sepanjang ruangan ini tengah dikejar seseorang yang membawa cambuk di tangan kanannya. Orang itu adalah Hanz.


Hanya ada mereka berdua disini. Selebihnya, ruangan ini benar-benar kosong namun bersih seolah ruangan ini memang dibiarkan kosong dan terawat.


Setelah itu yang kudapatkan adalah Arelia yang tiba-tiba menyambar tangan kananku dan memohon kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca.


Saat ini....


"Tidak!!... Lepaskan aku~~"


"Lepaskan tanganku, Arelia. Tanganku benar-benar akan remuk sekarang."


"Sebaiknya lepaskan tangan Shiki-sama. Atau hukumanmu akan lebih dari ini...."


Seringai iblis, bayangan gelap wajahnya, dan mata tajam yang bersinar, membuat Arelia semakin bergidik ketakutan sampai pegangannya pada tangan Shiki melonggar.


"J-jangan... ti-tidak... Tolong aku, Shiki... Tarik tanganku! Jangan lepaskan aku, Shiki!!"


Arelia sampai berkeringat dingin dibuatnya. Dia juga semakin histeris dan tidak mau melepaskan tangannya meski sudah diujung jari. Air matanya semakin deras keluar. Wajahnya memucat. Tubuhnya bergetar hebat.


Hingga pegangannya pun terlepas....


"Hehehehe...." Hanz tak segan-segan mengeluarkan tawa iblisnya.


Arelia ditarik menjauh dari Shiki. Dia meronta-ronta tapi terseret juga.


"Hehehehe...."


Hanz mengangkat tangannya yang memegang cambuk ke atas mengarahkannya pada Arelia.


Shuuut....


"KYAAAAAA!!!"


Ctass!

__ADS_1


Dan begitulah akhirnya.


__ADS_2