
Di tengah Arena, 2 orang berdiri berhadapan. Tentu saja mereka adalah Shiki dan Arelia. Tapi yang terjadi di sini bukanlah hal biasa.
Pancaran cahaya putih menyelimuti tubuh Shiki seluruhnya. Sesuai perintah Shiki atau bisa dibilang permintaan, Erlia melepas setengah aliran mana dalam tubuh Shiki yang sebelumnya dia segel rapat-rapat untuk keamanan dan tak menimbulkan kegencaran.
Awalnya aliran mana yang keluar hanya sedikit, namun tak lama kemudian meledak dan menyebabkan semua yang ada di sekitarnya terlempar jauh dari tempatnya berdiri. Termasuk Arelia. Tapi dia bisa bertahan setelah terdorong mundur beberapa meter jauh dari Shiki berdiri. Akibat angin besar yang dihasilkan dari ledakan mana, dia harus menutup wajahnya dengan kedua lengannya dan mempertahankan kakinya agar tak terlempar.
"Apa-apaan dengan ledakan ini?!" Arelia hanya bisa merutuk dengan keadaan di depannya.
Dengan rasa penasaran, Arelia memutuskan untuk mengintip dari sela-sela kedua lengannya yang tengah menutupi wajahnya. Yang dia lihat sekarang adalah pancaran energi putih yang meledak keluar dan asalnya dari tubuh Shiki yang sekarang masih menutup matanya. Dan energi tersebut terasa tak asing baginya yang merupakan penduduk asli dari Avrion.
"Ini... mana?! Sebesar inikah kekuatan Shiki? Tidak heran dia bisa menggunakan sihir tingkat tinggi yang hanya penyihir Trensent bisa lakukan."
Setelah beberapa saat akhirnya ledakan tersebut mereda dan menyisakan Shiki yang berdiri dengan tubuh yang tak terselimuti mana-nya lagi.
Arelia juga menurunkan kedua tangannya dan menatap lelaki di depannya dengan mata melebar tak percaya sekaligus kagum.
"Benar-benar... luar biasa!" Akhirnya hanya itu yang bisa dia katakan.
Di sisi lain, Shiki membuka kedua matanya. Meskipun tatapannya datar dan tak menunjukkan ekspresi apapun, tetap saja dia terkejut melihat Arelia yang awalnya berada di depannya kini jauh dari tempatnya berdiri. Kira-kira 15 meter. Selain itu puing-puing lantai di sekitarnya sekarang sudah bersih tanpa sisa.
(Erlia, apa benar ini hanya setengahnya? Katakan jika aku salah.)
"Maaf, Shiki. Sayangnya itu benar. Inilah kenyataannya, aku melepas hanya 50% kekuatanmu."
"Hahh... ini terlalu overpower namanya.."
(Ada yang ingin kutanyakan padamu.)
Shiki kembali menggunakan telepati khusus yang hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan Erlia.
(Kalau kau dari awal menyegel mana-ku seluruhnya, bagaimana aku bisa menggunakan sihir itu?)
"Oh, itu karena aku melepas 10% *m*ana untuk sementara lalu menyegelnya lagi."
Sekali lagi Shiki hanya bisa mendesah berat.
"Arelia, mau berapa lama kau tetap menjauh dariku seperti itu?" ucap Shiki dengan sedikit berteriak.
"Ah, maaf!" teriak Arelia yang kemudian berlari mendekat. Hanya berlari biasa.
"Ne, Shiki. Apa itu semua kekuatanmu?" tanya Arelia dengan nada takut.
"...."
Shiki hanya diam sebelum akhirnya dia menjawabnya.
"Sayangnya itu separuhnya. Maaf mengecewakanmu. Kau takut?"
"S-separuh katamu?!" Arelia tak bisa menahan keterkejutannya. "Apa kau bercanda?!"
__ADS_1
"Sayangnya aku tak bercanda. Ini kenyataan. Dan kenyataan juga bahwa aku lebih terkejut darimu."
Meskipun terkejut tapi wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Datar seperti biasa.
"Kekuatanmu itu bahkan bisa menyamai penyihir Trensent, kau tahu? Tidak, mungkin melebihinya!"
"Baiklah, lupakan itu. Lagipula, apa itu 'penyihir Trensent'?"
"Kau tidak tahu?"
"Kau tahu sendiri aku bukan dari dunia ini."
Arelia kembali tenang. "Ah, kau benar. Tentu saja kau tak tahu itu. Baiklah akan kujelaskan."
Tak seperti di Bumi, di Avrion penyihirlah yang mendominasi keseluruhan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Penyihir juga dikategorikan menjadi beberapa tingkatan, yaitu mulai dari tingkat terendah atau F, diatasnya adalah E, D, C, B, A, S, SS, SSS, Master, King, Paladin, dan paling tinggi adalah Trensent. Kebanyakan penyihir di Avrion merupakan penyihir tingkat F-S. Tingkat diatasnya hanya 10% bagiannya. Tak terkecuali tingkat Trensent yang hanya ada 3 orang penyihir di dunia ini. Tingkat Trensent merupakan eksistensi terkuat yang pernah ada dalam sejarah. Bahkan kekuatannya dapat menghancurkan satu negara dengan sekali jurus. Penyihir Trensent kebanyakan memakai sihir tingkat tinggi yang mustahil bagi manusia biasa untuk menguasainya. Bisa dibilang kekuatannya menyamai kekuatan dewa.
"Jadi... apa tingkatmu?" tanya Shiki.
Arelia membusungkan dada dan berkacak pinggang sambil tersenyum bangga. "Fufu... Kau ingin tahu?"
"Kalau kau tak ingin mengatakannya, aku tidak akan memaksa. Aku tak terlalu peduli dengan itu."
Dengan perasaan kecewa setelah mendengar Shiki yang terlihat tak peduli membuatnya menunduk lesu dan menggembungkan pipinya. "Shiki jahat...."
----------
Teka teki itu tak akan pernah terjawab sampai aku mencarinya sendiri. Sampai ujung dunia. Tapi apakah itu mungkin?
Dunia ini sangat besar, dan aku terlalu kecil untuk menelusuri setiap jalannya. Dengan kekuatanku saja itu masih tetap mustahil. Kecuali aku berusaha mencarinya dengan seluruh kemampuanku dan melanggar batas mustahil. Mungkin dengan segera itu akan terjawab. Lalu, kenapa aku disini?
Karena tak ada yang bisa kulakukan dengan ketidaktahuanku mengenai seluk beluk dunia ini.
Sudah seminggu penuh kuisi dengan latihan berbagai macam sihir dengan Arelia sebagai guruku. Meskipun aku sekarang lebih mahir darinya. Berkat latihan yang tidak bisa disebut 'Latihan Biasa' yang penuh kejutan bagi Arelia, dia sampai menarik kesimpulan, "Shiki, kau membuatku tak yakin kalau kau ini manusia. Apakah kau ini 'Demon King' kedua?"
Sebegitu mengerikannya kah kekuatanku sampai dia mengatakan hal semacam itu?
Dalam latihan seminggu itu aku mengetahui bahwa pedang dan sihir tak bisa disatukan. Keduanya memiliki material yang berbeda. Pedang hanya bisa menanggung kekuatan sang pemilik tapi bukan sejenis mana. Lebih mirip kalau itu berasal dari kekuatan alam atau sering disebut 'ki'. Semakin besar 'ki' dalam diri pengguna maka semakin tajam pedang tersebut, dan berlaku sebaliknya. Sedangkan sihir, menggunakan sebagian besar mana dan mengubahnya menjadi serangan maupun pelindung sesuai kemampuan penggunanya.
Selain itu, disini mana dan 'ki' tak bisa sembarangan digabungkan. Ki yang berasal dari energi positif alam sedangkan mana berasal dari energi positif maupun negatif di dalam tubuh. Namun, kebanyakan mana berasal dari energi negatif karena keinginan untuk menjadi kuat bukan untuk kebaikan tapi untuk kepuasan diri. Jarang ada yang memiliki mana positif. Bahkan Arelia memiliki sedikit energi negatif dan banyak energi positif. Walaupun begitu dia tetap kesulitan menyatukan energi ki dan mana.
Itu menambah keterkejutanku bahwa aku bisa dengan mudah menyatukannya. Dan membuat Arelia menarik kesimpulan lagi, "Kau jelas-jelas bukan manusia. Sekarang aku semakin putus asa mengajarimu. Aku yang mempelajari sihir bertahun-tahun sejak aku kecil, kau dengan mudah menguasainya dalam kurun waktu hanya 7 hari. Entah kenapa aku semakin yakin kalau kau adalah 'Demon King'."
Bahkan untuknya menyebutku Demon King, pikirannya terlalu ekstrim. Walau dengan kekuatan yang terbilang overpower ini, aku masihlah tetap manusia. Lagipula aku tidak akan berbuat kejam seperti karakter asli Demon King. Dia adalah iblis dan aku adalah manusia.
Meskipun begitu, aku tidak yakin aku dapat bertahan dari kekuatanku ini.
Mungkin tidak lama lagi aku akan berhenti menjadi manusia. Tinggal menghitung waktu hingga itu terjadi....
----------
__ADS_1
Dari balik kegelapan bayangan pohon besar yang tertutupi cahaya bulan, seorang berjubah hitam menutupi seluruh tubuhnya kecuali batang hidungnya dan bibirnya yang menyunggingkan senyuman iblis.
"Tidak lama lagi. Jantungmu adalah milik Ojou-sama. Sampai bulan purnama merah selanjutnya, kau adalah miliknya seutuhnya... Pangeran Rein."
Itu adalah Nino yang sedang memandangi lelaki bermata ungu dan berambut hitam kelam segelap malam yang tengah berdiri di balkon istana sambil menatap bintang di langit malam.
Nino melangkah mundur dan kembali tertelan kegelapan.
----------
Aku membuka mataku yang berat. Semalam aku tak bisa tidur memikirkan kekuatanku yang sebanding Demon King dan bisa membuatku terkejut setengah mati.
Aku mencoba untuk bangkit tapi tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali. Tangan kanan dan kiriku terasa hangat dan... empuk? Apa ini?
Dengan hati penasaran, aku menolehkan kepalaku ke samping kiriku. Rambut karamel panjang terurai dengan beberapa helai tergerai di atas perutku. Kedua lengan mulus seputih salju melingkari tangan kiriku dengan erat sampai aku tidak yakin apakah nadiku akan bisa bertahan.
Bibir merah muda itu mengalirkan sedikit air liur yang menetes ke tanganku. Dengan tubuhnya yang hanya berbalut gaun malam berwarna putih yang sedikit transparan hingga dadanya yang tengah menempel di tanganku terekspos sempurna.
Aku menolehkan kepalaku ke sisi yang lain. Rambut pirang keemasan yang panjang terurai juga dengan beberapa helai rambutnya menutupi setengah wajahnya yang putih merona dan manis seperti boneka manekin. Bibir merah muda kecilnya dan tipis tertutup rapat. Tubuhnya dibalut dengan gaun malam sepanjang lutut berwarna biru muda. Seperti di sisi kiriku, kedua tangannya juga memeluk erat sampai dada yang hampir tidak berisi itu menempel di tangan kananku.
Aku dapat masalah yang lebih besar kali ini. Batinku seraya menghela napas berat.
"Mhmm.. Selamat pagi, Shiki-kun...," ucap Anna setelah mengucek matanya dan melemparkan senyum indah.
"Selawat hagi... Shiki...," ucap Arelia seraya mengucek matanya dan menguap.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Aku berusaha bangkit lagi tapi tubuhku tetap tak bisa kugerakkan. Dan juga kenapa rasanya menjadi lebih sakit dan sesak?
"Apa yang kalian lakukan padaku? Lepaskan aku!"
"Fufufu~ Shiki tidak mau dipeluk gadis-gadis cantik~" Nada bicara Arelia menjadi sedikit aneh dan menggoda.
"Aku tidak suka. Lagipula kalian tidak merencanakan kedepannya. Kalian pikir ini bukan apa-apa? Kalian berdua membuatku dirundung masalah. Kalian tidak sadar, dari tadi seseorang mengawasi kita dari pintu. Sepertinya dia marah. Aku mulai merasakan hawa membunuh darinya. Kalian ingin membuatku terbunuh dengan perilaku kalian yang tidak pantas seperti ini?"
Suara decitan pintu terbuka terdengar dan disertai suara lelaki dari balik pintu tersebut lalu menyandarkan tubuhnya di daun pintu yang terbuka sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Hoo... Menarik juga. Kau masih bisa mengetahui keberadaanku meski sudah sepenuhnya kusembunyikan sampai partnerku tidak merasakan hawa keberadaanku."
Lelaki berambut kelabu dan bermata hijau berzirah perak yang menutupi baju hitam bergaris putih di dalamnya dilengkapi dengan kain biru yang menempel di bahu kanannya. Lelaki yang kulihat setelah penyerangan itu yang datang bersama Anna dan Arelia. Sudah seminggu ini aku tidak melihatnya.
Setelah mendengar suara lelaki yang familiar, kedua gadis di sebelahku terperanjat dan wajahnya memucat bagaikan orang mati.
"Anna-ojou, aku penasaran apa yang akan dilakukan Yang Mulia Raja dan Ratu begitu melihat putri kesayangannya melakukan hal 'itu'? Dan Arelia, kupikir kau tahu hukuman apa yang kau dapat setelah ini, bukan?" ucapnya dengan nada mengintimidasi.
Seakan tersambar petir, keduanya langsung bangkit dan menjauh dariku yang masih berbaring.
Dilihat dari tingkah laku kedua gadis ini sepertinya lelaki itu memiliki pengaruh besar hingga membuat mereka ketakutan. Siapa sebenarnya lelaki ini?
__ADS_1