Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 17 - [Keinginan Untuk Terus Hidup (Part 2)]


__ADS_3

Pemandangan yang sungguh tidak mengenakkan hati. Seorang gadis kecil dipukuli, diinjak-injak tanpa belas kasihan oleh seorang pria buncit berambut coklat keriting yang tingginya hanya sampai leherku. Dia berpakaian mewah khalayak bangsawan, berkebalikan dengan si gadis yang pakaiannya sudah lusuh.


Setelah pria buncit itu menendang wajah gadis itu sampai tersungkur dan dia tertawa puas, aku pun mengeluarkan suaraku karena sudah tak tahan melihat penyiksaan itu.


"Hei, hentikan. Kau tidak lihat? Dia bahkan sampai tak mampu berdiri. Atau mungkin, kau memang ingin dia cepat dijemput ajalnya?"


Dia merasa tersinggung dengan ucapanku yang ikut campur dalam urusannya dan mengalihkan pandangannya lalu melototiku.


"Hah?! Apa peduliku? Terserah aku, mau berhenti atau menyiksanya lagi sampai hancur. Dia adalah budakku!" ujarnya marah sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya.


"Meskipun dia budak, dia punya alasan untuk terus hidup. Hidupnya adalah miliknya sendiri, bukan milikmu."


"Shiki benar! Berhentilah menyiksanya! Kalau kau jadi dia, kau pasti juga tidak ingin terus disiksa, bukan?! Walau dia budakmu, pikirkan juga perasaannya. Dia juga manusia, sama sepertimu! Tidakkah kau pikir ini keterlaluan?! Dia masih kecil! Kau ini sama saja dengan iblis!" sergah Irie dengan emosi yang meledak-ledak.


Plakk!


Pengawal kekar pria buncit itu pun langsung menampar pipi Irie dengan keras sampai memerah.


"Beraninya kau mengatai Tuanku seperti itu!" teriak pengawal itu sambil mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Irie lagi.


Namun sebelum tangannya mencapai pipi Irie, aku menarik Irie ke belakangku dan langsung menepis tangan pengawal itu.


"Shiki?"


"Hooh... Tak hanya kau saja tapi pengawalmu juga bersikap begini. Memang, apa yang dikatakan gadis di belakangku ini tidak salah sama sekali."


Mereka berdua menggeram setelah mendengar ucapanku.


"Kalian memang iblis berwujud manusia," lanjutku sarkastis.


"Irie, bantu anak itu dan lindungi dia," bisikku pada gadis yang kusembunyikan di balik punggungku.


"Tunggu, apa yang mau kau lakukan? Jangan bilang kalau kau akan melawan mereka? Dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Irie juga berbisik.


"Tenanglah. Mereka tidak sekuat perkiraanmu. Aku bisa membereskan mereka dalam sekejap. Sekarang, lakukan yang kuminta."


"Baiklah. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri."


Sesuai permintaanku, dia pun menghampiri gadis kecil itu lalu merapalkan sihir penyembuhnya.


"Hei! Apa yang kau lakukan pada budakku?!" Pria buncit itu langsung berteriak marah ketika Irie mendekati gadis itu dan menyembuhkannya.


Sekarang giliranku untuk membereskan mereka. Semoga tubuhku tahan melawan mereka, khususnya pengawal kekar itu.


"Kenapa? Kau takut budakmu dibawa orang lain? Dan kau tidak bisa melakukan kebiasaanmu menyiksanya lagi?"


"Diam!!" bentaknya terhadapku. "Gillian, habisi dia!" titahnya kepada pengawal kekarnya.


Tanpa pikir panjang, aku maju dan langsung memukul tengkuk leher si pengawal dengan keras sebelum dia menyerangku. Akibatnya dia tak sadarkan diri dan jatuh terjerembab ke tanah.

__ADS_1


"Refleks yang lambat," komentarku atas tak adanya perlawanan dari pengawal kekar tadi.


Kini tinggal pria buncit itu yang memekik ketakutan ketika aku meregangkan otot jari jemariku hingga berbunyi. Dia yang kudekati perlahan dengan sedikit demi sedikit memancarkan hawa membunuh sembari memberikan tatapan tajamku, akhirnya terjatuh dengan pantat yang mendarat lebih dulu lalu merangkak mundur. Wajahnya bahkan sampai membiru.


Sementara aku, selama menakuti dia sampai celananya basah saking takutnya, aku tak menyia-nyiakan waktu luang itu dan melakukan telepati dengan Vivera. Aku menanyakan soal cara melepas atau menghapus sihir pengikat. Karena aku tahu, saat aku di kerajaan, aku pernah membaca sekilas tentang perbudakan di sini. Tak lupa juga mengenai sihir pengikat untuk mengikat budak dalam aturan menuruti segala perintah tuan yang memberinya mantera sihir tersebut pada tubuhnya. Untungnya sebagai roh pengikat, Vivera mengetahui sihir pelepas. Suatu sihir yang bisa melepas mantera sihir lain atau menghapusnya.


Untuk melakukannya, aku hanya perlu menyentuh tubuh pria buncit ini dan mengucapkannya.


Karena dia habis jatuh dan sekarang merangkak mundur sampai menabrak dinding di belakangnya, aku harus membungkukkan badanku lalu menyentuh kepalanya yang merupakan puncak tertinggi yang dapat kugapai.


"[Release]"


Setelah itu, di bawah telapak tanganku, tepatnya di atas kepala pria buncit ini muncul cahaya putih pertanda bahwa sihir pengikatnya terlepas. Tak hanya itu, tubuh gadis kecil itu juga sempat bercahaya lalu menghilang.


Akhirnya selesai juga.


Setelah itu aku, Irie, dan gadis kecil itu masuk ke dalam penginapan.


Aku langsung membaringkan tubuhku ke ranjang meski tidak merasa lelah. Aku sedikit memaksakan diri. Dadaku terasa sangat sakit sampai aku meremasnya dan mengerang kecil. Irie yang melihatku kesakitan pun menghampiriku dengan ekspresi khawatir.


"Ini akibatnya kalau kau memaksakan diri seperti itu. Sihirku tidak bisa menyembuhkan luka dalammu, lalu apa yang harus kulakukan?"


"Kau sudah menyembuhkan gadis itu?" tanyaku.


"Hah?! Kau kesakitan begini malah mengkhawatirkan orang lain. Jangan pikirkan itu! Aku sudah melakukannya. Bukankah kau melihatnya sendiri?"


"Memang," jawabku singkat. "Aku akan tidur. Kau hiburlah dia sampai tenang," lanjutku.


Dengan begitu, aku pun memejamkan mataku.


——————————


"A-ano... kakak, t-terima.. kasih," ucapnya gugup dibalas senyuman Irie yang membuatnya ikut tersenyum.


Setelah Shiki tertidur, Irie memutuskan untuk membelikan gadis itu pakaian menggunakan uang yang dia kumpulkan sebelum bertemu Shiki. Kini mereka duduk berhadapan sambil makan makanan yang Irie belikan setelah membeli baju. Tentu saja mereka menyisakan makanan itu untuk Shiki yang tidur pulas di ranjang tak jauh dari mereka.


"Kak Irie, kakak di sebelah sana itu... kenapa?" tanya gadis itu sambil menunjuk Shiki.


"Oh, maksudmu Shiki? Dia terluka, jadi perlu istirahat agar cepat pulih," jawab Irie.


"B-boleh aku me-melihatnya?" tanya gadis itu gugup.


"Kurasa boleh. Tapi, memangnya apa yang akan kau lakukan, Nia?"


"Mu-mungkin aku... b-bisa membantu...," jawab gadis bernama Nia itu.


Dia bisa bantu apa, ya? Batin Irie.


"Hmm. Baiklah, ayo."

__ADS_1


Setelah beberapa saat Nia memeriksa Shiki dengan hanya menyentuhkan tangannya di atas luka Shiki, Nia berbalik menampakkan raut kebingungan dan rasa takut.


"Di-dia... bukan manusia, kan?"


Irie tersentak mendengar hal itu dari bibir kecil Nia. Kata-kata itu bertolak belakang dengan kebenaran dari kisah yang diceritakan Shiki.


"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Irie.


"Seharusnya... dia sudah mati, bukan?"


"Eh? Oh... Tenanglah dulu, Nia. Akan kujelaskan semuanya. Tapi berjanjilah padaku, jangan beritahukan orang lain soal ini. Mengerti?" ujar Irie sambil tersenyum dibalas anggukan dari Nia yang masih bingung dan terlihat takut.


"Baiklah, akan kumulai. Pertama-tama, dia dulunya manusia dan masih tetap manusia sampai sekarang. Dia pernah mati terbunuh kemudian dibangkitkan kembali dengan kutukan. Tapi ada untung dan ruginya. Dia abadi. Jadi luka seperti tadi bukan masalah besar. Hanya saja, luka apapun yang dia terima, pemulihannya lama sama seperti manusia biasa. Namun, rasa sakit itu yang membuatnya menderita. Kau lihat tadi kan, dia *** dadanya dan kesakitan. Aku tahu luka itu sangat menyakitkan," jelas Irie menatap nanar Shiki yang masih tertidur.


"Oh... begitu. Maaf, aku sudah salah paham," ucap Nia sembari menundukkan kepalanya menyesal.


"Tidak apa-apa, Nia." Irie mengibas-kibaskan tangan kanannya. "Awalnya aku juga berpikir begitu. Lagipula dia tidak akan marah," ucapnya seraya memberikan senyum termanisnya kepada Nia.


"Waktu itu..." Nia mulai bercerita walau Irie tidak memintanya. "Aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku saja. Siksaan itu seakan mendorongku untuk segera memutus hidup. Tapi, saat tuan pergi untuk menyaksikan pertarungan di Arena Rand, aku melarikan diri dari rumah karena dia tidak mengajak budaknya. Aku berhasil kabur dari mereka dan sangat senang karenanya. Namun, ternyata tuan bisa menemukanku dan akhirnya menyiksaku di depan umum untuk melampiaskan kemarahannya. Kukira memang tak ada kesempatan untuk aku bebas dari siksaan dia," terang Nia menundukkan kepalanya dengan raut penuh keputusasaan.


"Sampai kalian datang dan menolongku. Bahkan membebaskanku dari mereka selamanya. Aku rasa sekarang aku bisa hidup tanpa penderitaan itu lagi. Karena kalian, aku punya keinginan untuk terus hidup dan menjalaninya dengan tenang," lanjutnya, kini dengan senyum tulus yang mengembang.


Irie yang mendengarkan dengan saksama pun juga memberikan senyuman tulusnya kepada Nia.


"Kalau begitu, kau bisa katakan itu pada dia?" tanya Irie sembari mengalihkan pandangannya pada Shiki.


Nia bingung dengan pertanyaan Irie yang dilontarkan padanya.


"Dialah yang membebaskanmu. Kalau saja dia tidak memberitahuku bahwa ada suaramu yang berteriak dan berniat bangun untuk melihat keadaan, mungkin kau sudah dibawa mereka. Walaupun kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan, dia tetap melakukannya seminimal mungkin dan secepatnya. Tapi aku terkejut kalau dia bisa sihir pelepas mantera sihir lain dengan begitu mudahnya," jelas Irie seakan tahu Nia tidak mengerti maksud dari pertanyaan sebelumnya.


"Aku sudah melakukannya. Bukan ucapan," ujar Nia tiba-tiba membuat Irie harus terkejut dan terpaksa menoleh dengan cepat. "Aku sudah menyembuhkannya. Jadi kalian tak perlu khawatir akan lamanya kak Shiki untuk pulih," lanjutnya sembari tersenyum lebar.


"Terima kasih, Nia."


Bibir mereka berdua masih terkatup saat ucapan itu terdengar. Dengan kata lain, seseorang di dekat mereka yang mengucapkannya. Benar, seseorang....


Mata Irie melebar sedangkan Nia masih mengembangkan senyumnya seolah dia tahu siapa yang mengatakan itu. Irie menoleh mengikuti arah suara itu berasal dengan gerakan terputus-putus seperti robot.


"Terima kasih juga sudah memberitahu dia meski tidak semuanya, Irie."


Ucapan itu lagi membuat Irie harus menelan ludah dengan tubuh yang menggigil. Bukan karena dingin tentunya.


"S-Shiki... Ka-kau sudah b-b-bangun, ya?"


Ya, itu benar. Ucapan itu berasal dari Shiki yang kini sudah duduk di tepi ranjangnya menatap datar Irie yang masih menggigil dengan suara bergetar.


"M-m-maaf... aku memberitahunya... Ahahaha... haha... ha..." Dia berniat untuk meminta maaf tapi malah berakhir dengan tertawa kering. Namun, tawanya mulai berkurang seiring waktu karena tekanan hawa membunuh yang membuatnya harus menelan ludah sekali lagi. Hawa membunuh itu terpancar dari Shiki meskipun dia menatap datar Irie seolah tekanan itu bukan berasal darinya. Tapi itu cukup mengintimidasi menurut Irie.


Malam itu berakhir dengan nyawa Irie yang melayang keluar dari tubuhnya akibat hawa membunuh kuat yang dia rasakan selama di ruangan tempat mereka tinggal untuk sementara.

__ADS_1


Akhir yang cukup tragis bagi orang yang telah melanggar janjinya.


__ADS_2