Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 02 - [Apa Yang Seharusnya Ada?]


__ADS_3

"Selamat datang di Arcore."


Tempat gelap yang dipenuhi obor api di dinding. Akar-akar besar yang meliuk menjulang ke atas dengan pengecualian pada bagian tengah yang lebih seperti menahan bola di dalamnya. Tempat yang dia sebut ... Arcore.


"Kau adalah orang luar pertama yang mengetahui tempat ini. Seharusnya kau bangga akan itu." Arelia tersenyum bangga sambil berkacak pinggang di depanku.


Aku hanya bisa mendesah berat mendengarnya.


"Kenapa harus bangga? Lagipula bukankah kau sendiri yang bilang ini rahasia? Memangnya kau tidak takut dihukum kerajaan karena mengungkap rahasia kepada orang asing? Kalau pihak Kerajaan mengetahui hal ini, mereka pasti juga akan membun-"


"Tenang saja," potong Arelia. "Memang mereka membunuh orang yang mengetahui rahasia ini tanpa izin. Tapi kalau itu dirimu, mereka akan membiarkannya. Dengan kata lain, kau sudah punya izin dari mereka sejak awal."


"Apa maksudmu?"


"Nanti kau akan tahu."


Sudah kuduga. Dia tidak mengatakannya. Ok ... aku semakin penasaran sekarang. Mungkin kau tidak tahu Nona, kau sudah membuat orang di depanmu kini bersabar menunggu jawaban yang jelas darimu.


Pada akhirnya aku hanya bisa mendesah berat karenanya.


—————


Beberapa waktu lalu ....


Hari ini setelah pergi keluar istana untuk menghirup udara segar di hutan, aku tak sengaja menemukan seekor Wolfin besar yang hampir menyerang seorang wanita yang kemungkinan adalah warga setempat. Tanpa pikir panjang aku langsung menebas punggung Wolfin itu. Karena merasa terganggu dia pun pergi meninggalkan wanita yang dari tadi diam terduduk gemetar ketakutan. Aku membantunya bangun dan menyuruhnya pergi ke kota.


Semua monster di dunia ini sangat tertarik pada mana yang besar. Para monster memakan mangsanya dan menghisap habis mananya untuk menambah kekuatannya. Tempat yang penuh dengan energi mana salah satunya adalah Hutan Elden. Mana dari hutan tersebut berasal dari kristal-kristal yang berbentuk bunga. Tidak heran jika banyak monster yang mengincar hutan ini untuk memperkuat dirinya.


Setelah menyuruhnya pergi, aku langsung mengejar Wolfin itu untuk membunuhnya sebelum menjadi ancaman yang lebih besar. Sebagai seorang knight untuk melindungi kerajaan dan Anna, aku harus menyingkirkan apapun yang menjadi ancaman.


Tanpa henti aku terus mengejarnya sampai akhirnya Wolfin itu berhenti dan menatap sesuatu. Aku mengalihkan pandangan ke arah sesuatu yang menjadi alasan dia berhenti mendadak.


Aku terkejut melihat seseorang yang berdiri diam hanya menatap Wolfin. Dia bahkan tidak berusaha lari. Tidak, dia tidak bisa lari.


Tiba-tiba dia mengangkat cakarnya dan mencoba untuk menebas tubuh pemuda tersebut. Refleks, aku melesat dan menahan cakar besarnya dengan pedangku lalu menebas tubuhnya sekali dan akhirnya dia mati.


Aku berbalik melihat pemuda itu untuk memeriksa keadaannya. Dia tidak terluka rupanya, syukurlah.


Tapi setelah itu, pemuda itu membuatku sangat terkejut. Sangat sangat terkejut. Tanda seperti dua jarum atas dan bawah yang menjadikan mata kirinya semacam target. Jarum atas berada di kening sebelah kiri lurus ke bawah dengan sisi runcing menembus alis dan berhenti di kelopak mata kirinya. Sedangkan jarum bawah sepanjang 2 cm berada di pipi kirinya dengan sisi runcing mengarah ke mata kirinya.


Jika diperhatikan, itu mirip simbol pada bola inti di Arcore yang sekarang telah menghilang entah kemana. Hanya saja ada tanda dua lingkaran di antara dua jarum tersebut.


Aku tidak menyangka telah melihatnya lagi setelah 3 tahun terakhir.


Selain itu, dia pemuda yang tampan dengan rambut hitamnya yang terlihat halus dan mata ungunya yang indah. Aku tidak pernah bertemu dengan seseorang yang semenarik dia. Aku yakin Anna akan terkejut melihat pemuda ini dan tertarik dengannya sama sepertiku.


Kembali ke topik.


Kuputuskan untuk mengajaknya ke Arcore untuk memastikan kalau tebakanku tidak salah.


Aku juga menjelaskan soal mana. Tapi tampaknya dia tidak pernah merasakan mana. Itu aneh mengingat orang biasa bahkan bisa merasakan mana walaupun sedikit.


Entah kenapa aku berpikir dia bukan berasal dari dunia ini.


—————


Saat ini ....


Dia terus membusungkan dadanya yang besar di balik bajunya yang sedikit terbuka di bagian itu sambil tersenyum. Dia seolah menunjukkan 'mereka' padaku. Kau pikir aku akan tergoda? Sayang sekali kau tidak berhasil, Nona.


Apakah dia benar-benar knight?


"Arelia-san, berhentilah melakukan itu. Sebaiknya kau mulai menjelaskan tujuanmu membawaku kemari," ucapku datar.


"Hah ... kau benar."


Kenapa kau terlihat kecewa?


"Kupikir kau akan tergoda ...."


Sudah kuduga kau memang berniat menggodaku.


Dia berbalik dan berjalan mendekati salah satu akar. Wajahnya berubah murung dan sedih. Sepertinya dia mengingat hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu. Dia menoleh padaku sambil tersenyum yang dipaksakan.


"Boleh aku memanggilmu Shiki?"


"Terserah. Aku tidak terlalu peduli."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu ... Shiki, kemarilah dan sentuh akar ini. Yang manapun terserah padamu."


Mengikuti ajakannya aku juga mendekati akar di sebelahnya dan menyentuhnya dengan tangan kiriku. Awalnya tak ada apapun yang terjadi. Namun tak lama kemudian tubuhku terasa panas dan nyeri, kepalaku juga sakit. Mataku mulai buram dan kakiku lemas seakan aku bisa jatuh kapan saja. Dan begitulah aku pun kehilangan kesadaranku.


—————


Putih. Tak ada apapun selain putih. Lantai yang kupijak juga berwarna putih. Tak jauh di depanku, seorang gadis berambut putih bermata hitam tengah berdiri sambil tersenyum padaku. Dia memakai gaun putih selutut tanpa lengan. Jika boleh kukatakan, kecantikannya menandingi seorang dewi.


"Sepertinya kau telah mencapai tempatku."


Suara berwibawa dan lembut bergema di telingaku.


"Tempatmu? Maksudmu Arcore?"


Dia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, dari sini aku akan menjelaskan semuanya."


"...."


"Namaku Erlia Kyrinia Cier. Kau bisa memanggilku Erlia."


"...."


"Rakyat dan keluarga Kerajaan Alfreiden menyebutku inti. Di dunia manusia aku berbentuk bola. Kau pasti melihatnya 'kan akar yang terpisah di tengah, itu tempatku berada. Yang di hadapanmu kini adalah wujud asliku."


"Kau bilang di tengah akar itu adalah tempatmu, kan? Tapi tidak ada apapun disana yang mirip bola. Lalu sebenarnya dimana kau saat ini?"


"Aku selama ini berada dalam dirimu, Shiki."


Mendengar ucapannya, aku menajamkan tatapanku padanya.


"Darimana kau tahu namaku?"


"Aku berada dalam dirimu selama 3 tahun mana mungkin aku tak tahu namamu."


Dia benar. Dalam waktu selama itu tidak mungkin dia tidak mengetahui apapun soal diriku. Hanya saja yang membuatku heran adalah ....


"Bagaimana bisa kau berada dalam diriku? Apa kau semacam roh yang memakai tubuh manusia untuk dijadikan inang?"


"Ahahaha ... Sama saja bohong bila aku berkata tidak. Aku adalah roh. Tapi bukan roh manusia yang dulunya hidup seperti di bumi. Di Avrion aku adalah salah satu dari 4 roh suci."


"Benar. Avrion, sisi lain bumi yang tidak diketahui oleh manusia bumi maupun di dunia ini sendiri. Semua yang hidup di Avrion hanya menganggap ada dunia selain Avrion dan tidak mengetahui keberadaannya. Dengan begitu tak ada yang bisa keluar masuk di antara 2 dunia tersebut."


"Hmm ... Lalu kenapa aku bisa sampai disini?"


"Itu karena aku adalah roh suci."


"Kau sudah mengatakan itu sebelumnya."


"Eh! Benarkah?" Tanyanya sambil memasang wajah polos. Yah, memang itu cocok dengannya.


Entah kenapa tapi urat di kepalaku berkedut. Meskipun dia roh suci, dia sedikit menyebalkan.


"Jadi ... apa hubungannya dengan aku sampai disini dengan mudah? Tidak, kurasa bukan hal mudah. Aku yakin aku sudah mati tidak lama ini. Dan aku menyerah menerima apapun yang terjadi jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan semua yang ada disini ..."


Aku bertanya pada Erlia tapi berakhir dengan bergumam sendiri.


"Kau benar, melintasi antara 2 dunia tidaklah semudah yang kau bayangkan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu."


"...."


"Meski tidak banyak namun syarat-syarat ini tidak sembarangan orang bisa memenuhinya. Kau mungkin tidak sadar kalau jumlah mana dalam tubuhmu terlalu banyak untuk seorang manusia. Kau mungkin heran mengapa hanya dirimu saja yang tidak seperti pria normal pada umumnya yang tertarik pada keindahan tubuh wanita."


"Kau benar dengan hal itu. Tapi setidaknya malu lah sedikit karena menyebut itu padahal kau juga termasuk wanita. Kau pikir aku tidak menyadarinya kalau dari tadi kau terus menunjukkan 'mereka' padaku dengan terus bergerak hingga membuat 'mereka' berayun. Aku tahu milikmu itu besar, tapi jangan melakukan itu di depanku. Entah kenapa aku merasa kesal."


Entah perkataanku yang mana hingga membuat wajahnya memerah seperti tomat matang.


"AKU TAHU ITU DAN JANGAN MENGATAKAN HAL ITU DENGAN SANTAI!"


Ini dia sisi lain dirinya yang awalnya lemah lembut dengan suara berwibawa yang berubah drastis menjadi kebalikannya.


"Dasar tidak peka! Shiki bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


"...."


"Kenapa kau menatapku seperti itu?! Ini yang tidak kusuka darimu dengan menganggap santai apapun di depanmu dengan memasang ekspresi datar itu di wajahmu. Dasar mata ikan mati!"

__ADS_1


"Kau menyebutku tidak peka, bodoh, dan sekarang mata ikan mati. Kemana sifat lemah lembut dan berwibawa itu pergi?"


Dia membuang muka sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Dia sekali melirikku dan akhirnya dia kembali memperhatikanku dan menurunkan tangannya kembali. Dia mendesah berat.


"Hah ... sudahlah. Tidak ada gunanya meneruskan ini. Aku akan melanjutkan penjelasanku dan menjawab pertanyaanmu sebelumnya."


Dia berganti mode serius.


"Itu benar bahwa alasan kau kemari adalah karena aku salah satu dari 4 roh suci. Kau merasa kalau dirimu sudah mati, itu salah. Keadaanmu yang sekarang tidak bisa dikatakan mati juga tidak bisa dikatakan hidup."


"Apa artinya itu?" Tanyaku tidak mengerti.


"Kau abadi tapi juga bisa mati. Itulah maksudku. Untuk menghidupkanmu kembali tentu tidak mudah."


"Jadi, aku memang sudah mati, ya."


"Untuk menghidupkan orang tidak semudah yang dibayangkan. Aku perlu memberimu kutukan yang sesuai untuk membuatmu hidup meski tidak sepenuhnya. Memang sejak awal membangkitkan orang mati itu dilarang."


"Tidak heran abadi bisa mati itu menjadi kutukan. Lagipula tidak ada yang namanya abadi bisa mati. Bukankah sama saja itu dengan tidak abadi?"


"Alasan kutukan abadi bisa mati itu adalah karena pemberi kutukan bisa menghilangkannya semudah bernafas. Jika kutukan itu kuhilangkan darimu. Kau bisa mati di tempat, kau tahu ...."


Mendengar dia mengatakan itu membuatku merinding.


"Dengan kata lain, aku tidak bisa mati seperti manusia lainnya tapi bisa mati di tanganmu, begitu? Itu berarti sama saja kau yang memegang nyawaku."


Dia mengangguk membenarkan dengan wajah puas.


"Kau bisa menyebutnya begitu. Tapi tetap saja semua itu kau yang memutuskan. Jika suatu hari kau menyerah dengan hidupmu, aku bisa melakukannya untukmu. Kau cukup memintanya padaku."


Dia menunduk. Mungkin dia tidak benar-benar ingin mengatakan hal seperti itu padaku.


"Tapi kuharap kau tidak melakukannya."


Hei, hei, ternyata kau bisa menangis juga ....


Hah ... tidak ada pilihan lain.


Aku mendekatinya lalu menepuk kepalanya dan mengelusnya dengan perlahan untuk menenangkannya. Tingginya hanya mencapai bahuku jadi aku bisa melakukannya dengan mudah.


"Kalau kau bilang begitu, aku tidak akan melakukannya."


Dia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata berbinar. Dia manis ....


"Benarkah? Janji?"


Aku menganguk.


"Tapi kalau aku berbuat jahat atau kejam pada orang lain, kuharap kau bisa melakukannya dengan cepat. Aku mengandalkanmu."


Erlia mengangguk menyetujuinya. Dia mengusap air matanya dan kembali menatapku.


"Shiki, kurasa aku belum mengatakannya, sebenarnya aku sudah membuat kontrak denganmu 3 tahun lalu. Aku tidak yakin kau mengingatnya tapi ...."


Dia tersenyum dengan lembut lalu berjalan sedikit mundur untuk memberiku ruang.


"Aku berjanji sebagai roh yang berkontrak denganmu akan sepenuhnya melindungimu dan mengambil nyawamu jika saatnya tiba, sampai saat itu aku akan bersumpah setia padamu. Ah, kurasa waktunya sudah habis. Lain kali aku akan menjelaskan semuanya padamu."


Setelah itu, semuanya perlahan menghilang dari pandanganku dan berganti di sebuah ruangan sebelumnya. Kalau tidak salah, dia menyebutnya Arcore.


"Oh, kau akhirnya bangun."


Suara yang tidak asing dan wajah di depanku menatapku dengan wajah senang. Rambut karamelnya tergulai di kakiku.


Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas. Duduk di depanku tidak lain adalah Arelia. Selama aku tidak sadar mungkin dia menyandarkan tubuhku di salah satu akar.


"Berapa lama aku pingsan?"


"Sekitar 15 menit. Oh iya, aku bilang padamu setelah ini kupertemukan kau pada Putri Anna, kau ingat?"


"Arelia-san, jangan dipikir kalau aku bisa dengan mudah melupakan yang tidak lama ini terjadi."


"Kalau begitu, ayo, kuantar kau pada Putri Anna dan memperkenalkanmu padanya."


Arelia menarik tanganku dan keluar dari ruangan ini melalui lorong yang dilewati sebelumnya.

__ADS_1


Aku baru ingat sesuatu. Erlia tidak menjelaskan bagaimana dia bisa berada dalam diriku. Padahal sudah 3 tahun lamanya dan aku tidak menyadarinya.


Ah, sudahlah. Aku yakin nanti dia akan menjelaskannya padaku.


__ADS_2