Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 21 - [Ingatan Samar]


__ADS_3

"Hah? Jangan bercanda! Mana ada yang seperti itu?! Aku yakin dia-"


"Sayang sekali, aku tidak sedang bercanda. Kau pikir aku punya waktu untuk bercanda dalam situasi seperti ini? Mulanya aku juga tak percaya hal semacam itu. Di pertarunganmu dengannya waktu itu, dia bilang kau tepat sasaran, bukan?" potong Irie.


"Tidak, dia berbohong. Ya, dia berbohong padaku. Sejak awal, aku tak pernah bisa melukainya. Mana mungkin serangan terakhirku itu bahkan dapat mencabut nyawanya...," ujar Marcus getir.


"Itu memang kenyataan, Marcus. Akulah yang merawatnya. Aku menyembuhkan luka luarnya. Kau tidak mengerti penderitaannya mengatasi rasa sakit yang tidak pernah sekalipun kau rasakan seumur hidupmu. Kau tahu kondisi jantungnya waktu itu?"


Marcus terdiam mendengar curhatan Irie yang mulai menitikkan bulir bening di kedua matanya.


Irie yang *** dadanya sendiri merasa sakit mengingat penderitaan yang Shiki rasakan. Dia berpikir, bagaimana jika dia yang mengalami semua itu? Menjadi abadi, tidaklah seenak yang dipikirkan. Banyak manusia yang menginginkan keabadian. Mereka menginginkannya karena mereka hanya takut pada kematian. Lari dari kenyataan bahwa manusia itu hidup untuk sementara. Tapi, bagaimana kalau mereka benar-benar mendapatkan keabadian itu? Di masa depan, yang ada hanyalah penderitaan. Ditinggalkan semua orang, dan berakhir sendirian. Kesepian, kehancuran, keputusasaan, tak luput juga dengan penderitaan. Keinginan untuk mati akan muncul, semakin kuat seiring waktu.


Diatas semua itu, kematian masih terus mengikuti.


Dimana ada kematian, maka disitu ada luka. Entah itu secara fisik atau mental. Dan itulah yang membuatmu hancur dalam keputusasaan dan penderitaan yang sesungguhnya.


"Tak ada gunanya melanjutkan pembicaraan ini. Hatiku tambah sakit membicarakan ini di depan orang yang telah menambah penderitaan Shiki." Irie bangkit berdiri dan berbalik menuju penginapan dengan kepala tertunduk.


Sementara Marcus merasa kesal karena Irie yang sengaja menggantungkan ucapannya.


"Hoi! Tunggu! Apa maksud semua itu?!" teriaknya.


Tapi Irie mengacuhkannya. Nia memutuskan untuk mengikuti Irie masuk ke dalam penginapan.


"Cih. Sebenarnya siapa Shiki itu? Menyebalkan. Kenapa juga aku mengikutinya?" rutuk Marcus sembari mencabut pedangnya dan menyarungkannya kembali.


——————————


—sama....


Siapa itu?


—Ouji-sama....


Wanita? Apakah dia memanggilku?


—Rein Ouji-sama....


Huh? Dia tidak memanggilku. Itu juga bukan namaku. Tapi suaranya dekat sekali.


Samar-samar aku melihat bayangan seseorang ketika kucoba untuk membuka kedua mataku yang terasa berat. Suaranya semakin jelas terdengar di sisi telinga kiriku.


"Rein Ouji-sama, Anda sudah bangun?"


Setelah pandanganku cukup jelas, aku melihat seorang wanita berpakaian pelayan berdiri di samping diriku yang sepertinya dalam keadaan terbaring. Rambut pirang sepanjang punggung dan mata biru, sempat terlintas di benakku bahwa aku mengira dia adalah seseorang yang kukenal. Hampir saja aku menyebut namanya, karena wajahnya yang lebih tua. Kalau usianya mundur beberapa tahun, mungkin dia mirip dengan Anna.


Ya, benar. Sudah berapa lama aku meninggalkannya? Kira-kira bagaimana keadaannya di sana? Arelia, Hanz juga....


Hmm... kalau diingat kembali, apakah Hanz masih melakukan 'itu' seperti biasa pada Arelia, ya? Entah kenapa, aku merindukan wajah ketakutan Arelia saat itu....


"Rein Ouji-sama?"


Ah, benar. Bukan saatnya memikirkan hal itu. Kembali pada kenyataan sekarang.


Dia memandang bingung aku yang tak kunjung menjawabnya. Aku tak menjawabnya karena aku juga bingung, siapa yang dia maksud? Matanya tertuju padaku, tapi nama yang dia panggil bukanlah namaku.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menuju kemari.


Aku ingin mengetahui dimana aku berada saat ini. Tapi ketika aku mencoba untuk bangun, tangan dan kakiku tak bisa digerakkan. Rasanya seperti terkunci oleh benda keras.


Kuarahkan mataku melirik pada tangan kananku, kemudian beralih ke kakiku. Dilihat dari keadaan dan posisiku sekarang, lebih tepat dikatakan kalau aku terbaring dengan kedua tangan dan kaki terikat borgol besi yang mempersulit untukku mengangkat kepala.

__ADS_1


Pelayan itu memusatkan pandangannya ke arah pintu yang mulai terbuka. Menampakkan seorang lelaki berambut biru gelap dengan mata merahnya yang menatap tajam diriku.


"Bagaimana?" Dia berhenti di ambang pintu tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dariku.


Pelayan wanita tadi menunduk hormat sebentar kemudian menjawab pertanyaan yang ternyata ditujukan untuknya.


"Rein Ouji-sama masih terdiam."


Lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman penuh makna di bibirnya.


"Dia mungkin masih shock karena aku memutus kepalanya."


Hah? Memutus... kepala?


Aku tidak terkejut kalau aku masih hidup meski jantungku hancur. Tapi, yang ini... aku bahkan tidak yakin kalau aku masih hidup.


Menyadari keterkejutanku, dia mendekat sambil memainkan 2 bilah belati yang dia ambil dari kantong senjata yang melingkar di pinggang kanannya.


"Tenang saja, Pangeran. Aku bercanda, bercanda... Aku baru akan melakukannya."


"Tak merubah kenyataan kalau kau ingin membunuhku."


Dia duduk di tepi batang besi raksasa ini alih-alih ranjang tempatku terikat.


"Akhirnya kau berbicara, Pangeran. Aku takut kau bakal bisu, karena aku telah menggorok lehermu."


Dia bercanda lagi? Apa dia berniat mempermainkanku sebelum membunuhku, begitukah?


"Kalau yang itu aku tidak bercanda, Pangeran. Kau bisa tanyakan pada pelayan di sebelahmu itu kalau tidak percaya."


Dia ini... mengesalkan.


Kurasa tak ada pilihan lain selain mempercayainya. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit di leherku. Apa dia berbohong?


Baiklah, aku tak bisa berkomentar lebih soal ini.


Tunggu dulu, kukira awalnya....


"Bukankah kau hanya ingin menyapa? Lalu, kenapa kau lakukan semua ini? Lagipula, tidak ada untungnya juga kau memperlakukanku seperti ini."


"Ya... memang itu tujuanku. Tapi bukannya itu tidak berguna kalau bahkan orang yang kusapa tidak mengenaliku? Jadi tak ada salahnya, kan, aku mencoba membantumu untuk mengingatku. Hihihi...."


Dia selalu tertawa seperti itu. Tawa yang aneh dan... mengerikan.


Lalu, apa yang akan dia lakukan untuk membantu? Aku lahir di Bumi. Mana mungkin aku mengenal mereka yang dari dunia seberang. Mereka pasti salah orang.


Dia berhenti memainkan kedua belatinya dan mengangkat tinggi salah satunya. Tapi ada yang aneh, dia dan pelayan wanita di sebelahku malah menyingkir dan menyaksikanku dari jauh. Seringai iblis lelaki itu kembali mengembang.


"Kau siap, Pangeran?"


Apanya? Apa maksudnya 'siap'?


Tangan yang terangkat tadi mulai mengayun seperti hendak memotong. Sekilas aku melihat pantulan cahaya dari seutas benang terputus di jalur potong belati itu.


Sementara aku dilanda rasa bingung, aku tak menurunkan kewaspadaanku atas apa yang dilakukannya barusan.


Tapi yang selanjutnya, aku tak pernah menduga ini bakal terjadi.


Kilatan cahaya di atasku menjawab kebingunganku. Dari atap gelap, puluhan belati mulai menjatuhiku. Dengan tangan dan kaki terikat begini, sulit untukku menghindar. Terpaksa aku harus menerimanya.


Apa yang dia rencanakan sebenarnya?

__ADS_1


———————————


Bunyi gemeletuk jari tangan mengiringi keheningan di antara mereka bertiga.


"Bisa kau hentikan itu, Marcus?" pinta Irie yang sekarang duduk di tepi ranjangnya, memangku kepala Nia sambil mengelus lembut rambut birunya.


"Diamlah. Aku kesal," tolak Marcus, tetap melanjutkan aktivitasnya mengetuk meja yang dia gunakan untuk menopang dagu.


"Lihat, sifat aslimu kembali," sindir Irie.


"Kau mengharapkan apa memangnya? Aku memang sudah mengakui kesombonganku. Tapi bukan berarti sifat asliku itu menghilang," balas Marcus. "Ini sudah sore... Dia masih belum kembali," gumamnya.


"Kita tunggu saja. Kalau sampai malam ini dia belum kembali juga, kita akan mencari-"


Ucapan Irie terpotong karena mendengar suara pintu diketuk dari luar kamar. Dengan tergesa-gesa Irie berlari kecil menuju pintu dan membukanya. Seseorang berdiri sempoyongan di depan pintu, menyambut Irie dengan menjatuhkan tubuhnya yang lemas ke pelukan gadis berambut merah muda itu yang mulai panik.


Cipratan cairan merah kental memenuhi pakaian dan wajahnya yang kemudian menular ke beberapa bagian pakaian Irie.


Kakinya tak bisa menahan keseimbangan dan akhirnya Irie jatuh ke belakang dengan pantat yang mendarat lebih dulu membuatnya meringis kesakitan. Seorang lelaki berambut hitam di pelukannya itu tetap menutup matanya.


Dia mengenalnya. Orang yang selama ini mereka tunggu dengan rasa kecemasan.


"S-Shiki? Shiki! Shiki, bangunlah!" Irie mengguncang tubuh lelaki itu, tapi matanya tak kunjung terbuka.


Marcus tak tinggal diam, dia langsung menghampiri mereka.


"Sebaiknya kita baringkan dia," usul Marcus yang mulai mengangkat Shiki lalu membopongnya menuju ranjang.


Dengan perlahan tapi pasti, Marcus pun membaringkannya.


Nia tak kalah paniknya dengan mereka. Dia segera turun dari ranjang dan menghampiri Shiki yang terkulai lemas tak berdaya.


"Mustahil...."


Marcus menatap tak percaya dengan keadaan Shiki yang penuh luka. Apalagi dia melihat beberapa luka tusukan di titik vitalnya. Selain itu, dia masih menghembuskan napasnya yang merupakan tanda bahwa dia masihlah hidup.


Disaat Marcus terdiam dengan mata melebar, Irie dan Nia tidak menyia-nyiakan waktunya untuk meratapi seseorang di hadapan mereka dan segera merapalkan mantera penyembuh. Cahaya hijau berpendar dari masing-masing tangan mereka.


——————————


Aku membuka mataku perlahan. Memang terasa sedikit berat, namun kupaksakan untuk melihat kelanjutannya. Tapi ternyata, atap di atasku bukan atap yang sama seperti sebelumnya. Langit-langit ruangan yang tak asing lagi bagiku.


Mungkinkah... aku sudah kembali?


"Akhirnya, kau bangun juga."


Terdengar suara serak pria tak jauh dariku. Membuatku harus mengalihkan perhatianku padanya.


"Mar... cus...?"


Benar. Pria itu tengah berdiri menyandar dinding di sebelahku sambil bersedekap.


"Kau berhutang penjelasan kepadaku."


Hah? Apa maksud dia?


Jangan-jangan... Irie itu, mulutnya tak bisa bungkam, ya? Kurasa aku harus menghukumnya nanti.


Sebelumnya, penglihatan itu, bayangan seorang lelaki yang mirip denganku. Hanya saja, warna rambutnya coklat dan panjang. Tak sama dengan milikku yang berwarna hitam. Warna yang umum di Asia. Lelaki itu juga merupakan seorang Pangeran. Seseorang yang disebut-sebut oleh lelaki misterius yang membawaku itu dan pelayan wanitanya. Rein.


Penglihatan itu terlalu cepat sehingga aku tak terlalu mengerti garis besarnya. Yang pasti, Pangeran Rein itu meninggal setelah perang besar dengan Demon King. Penyebab kematiannya tidak diketahui. Tapi yang kulihat disana, sepasang mata merah itu dan sekilas pantulan cahaya dari benda tajam. Setelah itu tak ada lagi, semuanya hitam dan gelap.

__ADS_1


Sesungguhnya, itu mimpi ataukah... ingatan? Semuanya terasa begitu nyata.


Tak hanya itu, seolah aku sendiri yang mengalaminya.


__ADS_2