
Mereka masih membelalak tak percaya dengan yang barusan kuberitahu mengenai kaitan pangeran dari kerajaan besar dengan diriku. Griollate, kerajaan terbesar pertama yang telah berdiri sejak sebelum dimulainya perang dahsyat dengan Demon King. Kerajaan yang juga melahirkan salah satu dari penyihir tertinggi Trensent. Dengan keturunan ke-7, Rein Van Griollate, seorang pangeran yang menyandang gelar "4 Pahlawan" dan meninggal dunia dalam usia muda seusai peperangan.
"Pfft!" Suara Arelia yang terlihat menahan tawa itu mengawali pecahnya tawa semua orang di ruangan ini. Bahkan termasuk Marcus yang mengeluarkan tawa paling keras.
"Aku tak ingat telah mengatakan sesuatu hal yang lucu."
"Ucapanmu, Shiki," jawabnya dengan sedikit sisa tertawa. Terdengar dia akan menghentikan tawanya, namun, mungkin karena dia mengingat perkataanku yang dia anggap lucu, dia pun kembali tertawa keras.
"Ahahaha! haha... Tak bisa dipercaya," lanjut Arelia sembari mengusap air mata yang sedikit keluar karena tawa yang tak kunjung henti sebelum akhirnya dia berhenti tertawa. "Pangeran Rein, katamu? Asal kau tau saja, Shiki, Pangeran Rein itu sudah mati-"
"Aku tahu," potongku cepat tidak membiarkan Arelia untuk melanjutkan.
Aku tahu kalian takkan percaya semudah itu. Aku tahu lebih baik mengenai Rein dari kalian semua.
"Menurut kalian, Rein itu orang macam apa?"
Seperti sebelumnya, suaraku lah yang mendominasi ruangan ini dan kembali dipenuhi suasana ketegangan. Dua orang di hadapanku ini berkeringat karena kesulitan menjawab pertanyaanku yang sederhana namun sulit untuk menjawabnya bila kau tidak mengenal baik orang yang dipertanyakan. Sudah kuduga, semua orang yang ada di sini, dalam satu ruangan denganku, mereka....
"Pa-Pangeran Rein itu... D-dia...."
"Kalian tak mengenalnya, bukan?" Pertanyaan yang kulontarkan langsung mendiamkan Arelia yang terbata-bata sibuk berpikir sekaligus membekukan pikirannya yang susah ia putar untuk mencari jawabannya.
"Hah... sudahlah. Lupakan itu dulu. Yang terpenting, aku sudah mengatakan mengenai diriku yang bahkan sulit untuk kupercayai juga."
Bersamaan dengan yang kuucapkan, ketegangan di tempat ini mulai sedikit mereda.
"Tapi, apa hubungannya dengan dinding pembatas itu?" tanya Hanz serius.
Hubungan, kah....
Baiklah. Kebetulan sekali, akan kugunakan seorang lagi yang sengaja tidak menampakkan dirinya di ruangan ini dari awal.
"Hoi, aku tahu kau di sini. Tunjukkan dirimu. Jangan bersembunyi."
Arah pandanganku tetap sama, tapi tujuan dari kata-kataku berada di suatu sisi ruangan ini.
Krak. Krieet....
Suara kayu berderak terdengar tepat di atasku. Semua yang mendengarnya lantas mendongak, melihat ke langit-langit. Tepat di waktu yang sama, sekelebat bayangan hitam melesat turun dan mendarat di samping kiriku.
Dengan cepat aku berdiri dan mundur selangkah. Bersamaan dengan itu, sebilah pedang sudah membelah lantai tempat aku duduk sebelumnya.
"Hihihi... Sudah lama tidak berjumpa,"
Dia memperlihatkan sosoknya. Rambut biru kelamnya masih tetap sama dan matanya melirik ke arahku.
"...Pangeran Rein." Kedua ujung bibirnya secara sempurna menaik ke atas membentuk seringai iblis disertai tawa mengerikan khas miliknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku tanpa menghiraukan semua orang yang terkejut dan mulai was-was.
Pedang yang masih menancap di lantai tadi dia cabut kembali lalu menebaskannya ke arah kepalaku. Kumundurkan kaki kiriku dan menarik tubuh bagian atas ke belakang.
Swoosh...!
Bilah tajamnya berhasil melintas melewati wajahku.
Bila tubuhku tak kurendahkan, mungkin ujung hidungku bakal hilang ditebasnya.
Tak membiarkanku berdiri tegak kembali, dia layangkan kakinya untuk menjagal kakiku. Langsung saja kujatuhkan kedua tanganku ke lantai kemudian mengangkat kedua kakiku dan mencoba menendang dagunya ke atas.
Duagh!
Ujung kakiku berhasil mencapainya. Layaknya seorang akrobatik, kupegaskan di ujung jariku untuk mendorong tubuhku dan kembali berdiri tegak dengan kedua kakiku.
Selama dagunya terangkat, dia melepas pedangnya. Kedua tangannya merogoh celana bagian belakang lalu melemparkan benda yang diambilnya.
__ADS_1
Swiing. Swing. Swing.
Tiga buah belati.
Kujepit bilah tipis ketiga belati tersebut dengan jari jemariku sebelum ujungnya menyentuh wajahku.
"Sebegitu inginnya kah kau dengan kepalaku?" tanyaku mengingat serangan mematikannya yang daritadi hanya mengincar kepalaku saja. Kalau dia mau, dia bisa menembak jantungku atau memotong nadiku. Tapi tak dia lakukan.
"Aku harus mempersembahkan kepalamu pada Tuan Putri yang saat ini masih setia menunggumu, Pangeran." Dia menjawabnya tanpa menghapus seringainya itu. "Tentu saja aku tak akan membiarkan siapapun mencurimu. Hihihi...," lanjutnya.
"Ini, kukembalikan." Kulempar balik 3 belati itu padanya, tiada niat untuk menyerangnya.
Dia pun menangkapnya dengan mudah. Kemudian dia mengembalikkannya ke tempat semula.
"Untuk sekarang, aku ingin gencatan senjata. Baru setelah selesai, kau bisa lakukan apapun semaumu. Tapi tentunya aku juga takkan membiarkanmu dengan mudah mendapatkan kepalaku."
"Terserah kau saja. Aku tak keberatan selama kau ada dalam jarak pandangku." Dia pun mengambil dan menyarungkan kembali pedangnya di pinggang kirinya.
Kuedarkan mataku ke seluruh penjuru ruangan. Tidak kuduga, mereka semua berdiri menjauhi kami berdua dengan memasang ekspresi khawatir, takut, dan waspada.
Yah, aku mengerti kenapa mereka begitu. Orang asing baru saja masuk ruangan ini dari atap, tiba-tiba menyerangku setelah turun, dan pembicaraan kami sepenuhnya terdengar olehnya.
Tapi, aku tidak merasa seperti itu, karena aku mengenal orang ini dan sudah merencanakannya dari awal. Sebenarnya aku tak menduga bahwa dia akan datang dengan sendirinya. Yah, kupikir ini sungguh kebetulan yang bagus.
"Jadi... Apa yang mau kau bicarakan?" tanyanya yang membuatku sedikit tersentak dan kembali mengalihkan pandanganku padanya.
"Ah, benar juga. Karena kau kebetulan ada di sini, kenapa tidak kau kenalkan dirimu pada yang lain?" usulku.
"Hah...? Untuk apa memangnya?"
"Sudah, lakukan saja. Kau akan tahu sendiri nanti."
Dia tampak terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu, namun kemudian dia pun membuka mulutnya.
"Aku Noir. Seseorang yang akan membawa kepala Pangeran Rein dalam waktu dekat," ungkapnya sembari menunjuk dirinya sendiri dengan penuh kebanggaan, dan tentu saja seringai iblisnya itu dia sertakan.
Baru kali ini aku mendengar orang berkenalan semacam itu. Cuma "nama" dan "ambisi". Tak ada lainnya lagi yang dia cantumkan. Selain itu, ambisi semacam itu dia ucapkan dengan penuh percaya diri. Berarti dia yakin dalam waktu dekat itu dia bakal merebut kepalaku.
"Hanya itu?" tanyaku memastikan kalau dia tidak akan mengatakan yang lainnya lagi.
Dia mengangguk. "Hanya itu."
"Tak ada lagi?"
Dia menggeleng. "Sudah pasti tak ada lagi yang harus kukatakan."
Hening....
Dia benar-benar tak memberitahukan hal lain selain nama dan ambisinya itu.
Sekilas, aku mendengar sesuatu yang sangat kukenal. Memang aku menyadari dia melakukan sesuatu. Tangan kanannya terus dia sembunyikan di belakang. Dilihat dari gerak-geriknya yang mencurigakan, sepertinya aku tahu apa yang akan dia lakukan.
Kupusatkan aliran mana ke kedua kakiku dan menyalurkannya ke lantai. Memfokuskan pikiran akan tujuanku tanpa sekalipun mengalihkan tatapan datarku darinya agar dia tidak menyadarinya seperti yang dia lakukan padaku sekarang. Setelah yakin akan keputusanku, kuucapkan dalam hati mantera itu.
"[Invisible Shield Protector]"
Di saat bersamaan....
Trak. Trek. Prang. Trak. Tring. Trak. Tring. Tring.
Suara benturan dan logam jatuh terdengar nyaring, menggema di ruangan ini.
"Tidak usah menyerang yang lain," ujarku pada Noir yang hanya tersenyum penuh arti di hadapanku.
"Ara~ Ketahuan, ya? Padahal kukira dengan menyerang mereka, kau akan melindungi mereka dengan tubuhmu lalu sekarat," ucapnya dengan memasang ekspresi cemberut yang terkesan dibuat-buat sambil menendang pelan udara berkali-kali.
__ADS_1
Oh, jadi dia berencana melakukannya seperti terakhir kali. Tapi sekarang dia menggunakan orang lain yang mestinya bakal kulindungi. Pintar juga....
Hanya saja, dia terlalu meremehkanku. Aku sekarang takkan sembarangan menjadikan tubuhku sebagai tameng hidup. Kalau memang begitu, lalu, apa gunanya sihir?
Ilmu sihir tidak untuk disia-siakan atau digunakan secara serampangan yang tak memiliki tujuan. Lebih baik sihir dipakai untuk hal berguna. Seperti yang kulakukan barusan.
Memanfaatkan sihir untuk hal semacam itu tidak akan merugikanku. Meskipun kerugian hanya bertaruh pada kapasitas mana yang kumiliki, itu tak seberapa jika aku memakai tubuhku sebagai tameng hidup seperti yang dia harapkan.
Walau aku punya senjata, aku takkan menggunakannya di ruangan sempit ini. Karena itu bisa menghancurkannya dalam sekejap. Dan kemungkinan besar, kami disuruh mengganti kerugiannya atas kerusakan yang ditimbulkan.
Jadi, daripada menangkis semua serangannya di seluruh penjuru ruangan atau berpindah ke sana kemari dan menjadikan tubuhku sebagai perisai manusia, lebih baik menggunakan sihir yang kubisa.
Selain itu, dalam 1 bulan ini, posisiku sekarang jadi lebih menguntungkan dari saat pertama aku bertemu Noir.
"Lakukan apa yang kuminta, Noir. Selain namamu, sebutkan juga asalmu dan yang lainnya."
"Baik, baik." Dia menjawab dengan santai. "Aku Noir. Kerajaan Ziagro adalah tempat tinggalku. Kalau kalian tanya yang lainnya, tidak akan kujawab. Kalian tahu 'privasi', kan? Sekian," lanjutnya.
"Sudah, itu cukup. Terima kasih, Noir," ucapku.
Kualihkan pandanganku pada mereka, menatap serius pada ketiga orang yang sebelumnya akan mencegahku pergi karena adanya dinding pembatas antara Huraria dan Rivia. Seperti yang kupikirkan, Arelia, Hanz, dan Anna menatap tak percaya pada Noir yang kini diam sembari memainkan 2 belati merah di tangannya.
"Lihat, dari rumor yang beredar, Kerajaan Ziagro adalah kerajaan iblis, kan? Kalian dengar sendiri dari orang ini yang memang tinggal di sana. Apa sekarang kalian mengerti keadaan dinding pembatas?" tanyaku.
Mereka terdiam. Seakan ingin menjawab tapi tak tahu harus menjawab apa.
"Mungkinkah... Noir ini melewati dinding itu?" Akhirnya Hanz lah yang mengajukan pertanyaan mewakili semuanya.
"Ya, aku memang melewatinya. Berdasarkan perjanjian Dra- apalah namanya itu, siapapun yang melangkahi dinding itu bakal mati, kan? Tapi aku masih utuh jasmani dan rohani. Aku masih bernapas. Aku juga sedang berdiri di depan kalian," sahut Noir.
"Kalau begitu... dindingnya...." Hanz tampak sulit mengatakannya karena jika itu terjadi, maka kehancuran sulit untuk dihindari lagi. Penyerangan pada kerajaan dan desa yang kami kunjungi sebelumnya menjadi bukti nyata akan seberapa bahaya yang ditimbulkan bila dinding itu tak berfungsi.
"Dengan kata lain, kalian tak bisa menghentikanku untuk pergi," ujarku berniat menutup pembicaraan ini.
"Shiki," panggil Marcus.
Terpaksa kutolehkan kepalaku untuk mendengar alasan dirinya memanggilku dengan keseriusan.
"Kenapa kau tak mengatakan semuanya dari awal pada kami? Soal Pangeran Rein yang kalian sebut itu, kau juga tak pernah sekalipun memberitahukannya pada kami. Sebenarnya, kau ini tidak percaya pada kami?"
Tidak. Kau salah, Marcus. Aku mempercayai kalian. Aku tak memberitahu yang sebenarnya karena aku belum siap dan aku ragu kalian bakal mempercayai ucapanku. Jadi aku memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya.
Aku ingin sekali mengatakan semua itu, tapi dia seolah tak membiarkanku menjawabnya lebih dulu.
"Noir pernah menculikmu sebulan yang lalu. Aku tahu. Irie dan Nia juga tahu lelaki itu. Kami melihat dengan jelas wajahnya saat itu. Yang membuatmu sekarat penuh luka adalah dia. Kenapa kau bisa sesantai itu? Memangnya apa hubungan dia denganmu?" lanjutnya, kini dibumbui sedikit rasa kesal di dalamnya.
"Tidak ada alasan khusus," jawabku.
"Dia adalah calon suami Tuan Putri Maya," celetuk Noir dengan senyum yang berbeda dari biasanya. Seolah senyumnya kali ini menggambarkan kebahagian miliknya.
"Ya, benar. Aku adalah calon suami- Tidak, bukan." Entah kenapa aku malah mengulangi ucapan Noir barusan dan baru menyadarinya.
Dengan perasaan sedikit kesal, aku menatap dingin Noir.
"Kenapa kau mengatakan itu?"
"Takdir, mungkin...?" Dia mengalihkan matanya ke atas, memalingkan wajahnya dariku untuk menghindari tatapan dinginku dan menjawab asal-asalan tanpa memberitahukan alasan sebenarnya.
Hmm... Dia belum menjawab pertanyanku sebelumnya....
"Untuk apa kau kemari?"
Begitu mendengar aku bertanya hal lain, dia kembali menatap mataku dan seringai iblisnya dia pasang kembali.
"Aku rindu ingin melubangi tubuhmu, Pangeran. Hihi...."
__ADS_1
Dia ini...
....psikopat?