
2 hari sebelum penyerangan....
Setelah keputusan mendadak dari Anna bahwa aku akan tinggal di istananya, aku memilih untuk tetap di dalam kamar raksasa ini. Alasannya adalah aku takut bakal tersesat bila aku berkeliling istana. Pasalnya, istana ini sangat besar dan terlihat berputar. Aku menyadari itu ketika Arelia menuntunku untuk menemui Anna yang pertama kalinya.
Cklek. Krieet....
Saat aku duduk termenung di tepi ranjang, memikirkan apa yang akan kulakukan di istana ini, aku mendengar pintu kamar yang kutempati ini dibuka dari luar oleh seseorang. Dan seseorang tersebut memanggil namaku.
"Shiki-kun,"
Kuarahkan mataku meliriknya untuk melihat siapa pemilik suara lembut tadi.
"Ada yang kau perlukan, Anna?"
Benar. Pemilik suara itu dan sekarang masih berdiri di ambang pintu adalah Anna, putri dari kerajaan besar ini. Dia tidak menjawab pertanyaanku, tapi wajahnya terlihat bingung akan menjawab apa. Karena mungkin tujuannya bukan kunci dari pertanyaanku barusan.
"Masuklah. Jangan hanya berdiri di sana."
Dia pun menapakkan kakinya masuk dengan ragu. Itu terlihat dari langkah kakinya yang sedikit kaku, kedua tangan terkepal di depan dada, dan kepala tertunduk dengan mata yang menatap diriku. Lalu dia berhenti tak jauh di depanku. Mungkin sekitar 2,5 meter.
"Kenapa?" Aku mempertanyakan keragu-raguannya untuk masuk ke kamarku.
"I-ini pertama kalinya aku masuk ke kamar laki-laki...," jawabnya dengan suara pelan namun masih terdengar di telingaku.
Jadi karena itukah dia ragu?
Aku memakluminya. Dia adalah seorang putri. Kerajaan ini hanya memiliki 1 keturunan. Sebagai seorang putri, dia harus menjaga nama baik kerajaan dengan tidak boleh sembarangan masuk ke ruangan orang lain. Apalagi kamar laki-laki. Kecuali dia sudah bertunangan dengan pemilik kamar tersebut.
Dia ragu karena aku laki-laki dan kami tidak bertunangan.
"Kalau memang kau takut menghancurkan nama baik kerajaanmu, sebaiknya kau tidak memaksakan dirimu dengan masuk ke kamarku. Cukup kau mengetuk dan memintaku keluar."
"... Ta-"
Sebelum dia sempat membalasku, berkat suara pelannya, ucapannya terpotong olehku.
"Yah, sudah terlanjur, sih. Selain itu, tidak mungkin kau kemari tanpa adanya alasan, kan? Dengan memaksakan dirimu untuk masuk meskipun tahu kau bisa saja menghancurkan nama baik kerajaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh penguasa sebelumnya. Jadi, katakan, apa maumu, Anna-sama?" tanyaku dengan menutup mata sebelah dan menyilangkan tangan di depan dada.
"Sudah kubilang, kan, jangan terlalu formal? Cukup panggil Anna saja."
Aku berhasil memancingnya ....
Cara bicara sebelumnya sudah hilang. Dia sekarang bisa berbicara dengan normal. Dengan kata lain, keraguan itu sudah lenyap. Terbukti dengan wajahnya yang terlihat kesal dan cemberut. Kupikir dia cocok, dengan ekspresi itu dia lebih terlihat seperti anak kecil yang balonnya direbut teman seusianya. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi ... lupakan saja.
Dia merubah ekspresinya menjadi wajah biasa saja. Tak ada ragu, tak ada kesal, dan tak ada cemberut lagi.
"Kau tidak bosan duduk di sini terus?" tanyanya.
"Tidak juga," jawabku singkat dengan mata terpejam.
"Tidak adakah yang ingin kau lakukan?" tanyanya lagi.
"Memang apa yang bisa kulakukan di sini? Kau tahu sendiri, kan, dunia ini masih asing bagiku."
"Berdiam di sini bukanlah pilihan tepat, lho. Kalau yang kau lakukan hanya itu-itu saja, kau tidak akan pernah bisa mengenal dunia ini."
__ADS_1
"Jika begitu, kau mau mengenalkan'nya' padaku?"
"...."
Dia terdiam. Dari gerak-gerik matanya yang berkedip cepat beberapa kali dan mulutnya yang ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu yang harus dia katakan, bisa dipastikan dia bingung akan menjawab apa.
"Lihat, bahkan kau sendiri tidak tahu."
"T-tapi ... Kalau begitu, ayo pergi! Akan kuajak kau berkeliling kerajaan ini sebagai permulaan," ajaknya tiba-tiba.
Dengan begitu, petualangan kecil kami pun dimulai.
——————————
Tepat di depanku kini adalah gerbang Utara istana. Gerbang yang tersambung langsung dengan gerbang utama dari keempat gerbang kerajaan Alfreiden. Gerbang ini digunakan sebagai pintu masuk untuk tamu dari kerajaan lain ataupun kelima negara. Di luar gerbang ini terdapat rumah tempat para bangsawan kerajaan ini tinggal. Bangunan tinggi, besar nan mewah khas bangsawan.
Setelah keluar dari gerbang, kami berkeliling di jalan utama melewati rumah-rumah megah itu. Di sini sepi dibanding jalan yang kulewati bersama Arelia.
Begitu dia selesai mengenalkan sisi ini, dia beralih mengajakku menuju gerbang Timur. Dia menjelaskan banyak hal mengenai tempat ini. Jika kusingkat, ini adalah tempat para knight dan prajurit tinggal. Di sini tidak begitu ramai. Selain itu, beberapa prajurit yang berpapasan dengan kami menunduk hormat kepada Anna lalu pamit pergi.
Setelah itu, kami menuju gerbang Selatan, tempat para penduduk tinggal. Jalur yang kulewati ketika masuk dari hutan Elden ke kerajaan. Dan sisi ini dibarikade dengan tembok raksasa paling tebal untuk menghindari adanya bahaya monster yang masuk.
Selain itu, orang-orang di tempat ini masih saja memandangiku dan berbisik-bisik. Memang ada masalah apa denganku?
Sesaat aku bertanya pada Anna,
"Kenapa mereka semua memandangi kita?"
"Itu karena ketampananmu telah melelehkan mereka. Aku sudah melihatnya lewat kemampuan mataku."
Alasan macam apa itu?
Aku tidak bisa menolak kenyataannya karena kemampuan mata milik Anna yang bisa melihat apapun di balik kebohongan. Tak ada yang bisa membohongi Anna. Sekarang aku percaya akan ucapan Arelia saat itu. Anna mengetahui identitasku yang sebenarnya. Tapi dia menyembunyikannya guna menghindari kegemparan atas berita besar mengenai diriku. Dan dia juga tahu soal aku bertemu Erlia sebelum aku memberitahunya, meskipun aku sama sekali tak berniat melakukannya.
Selesai berkeliling di sini, kami melanjutkan petualangan terakhir hari ini ke gerbang Barat. Tempat dimana berbagai macam perdagangan di kerajaan Alfreiden.
Sepanjang jalan pasar yang ramai ini, Anna terus menyunggingkan senyuman sembari menarik tanganku untuk menuntunku. Semua orang yang kami lewati juga menundukkan kepala sebentar seperti yang dilakukan para prajurit sebelumnya kepada Anna.
Kami berhenti sebentar karena Anna berhadapan dengan banyak orang yang berbincang ria dengannya. Sementara itu, aku melihat kios penjual apel di sebelah kananku. Buah apel yang menumpuk dalam keranjang-keranjang berukuran besar itu tampak berkilau dan merah. Bukti kalau apel-apel tersebut telah matang. Matang berarti manis.
Menyadari pandanganku, penjual apel tersebut menawarkannya padaku.
"Anak muda, kau mau membeli apel ini? Kujamin rasanya manis, lho~ Aku yakin, kau akan senang memakannya," tawar pria itu sambil tersenyum.
Memang apel yang dia jual terlihat menggiurkan. Tapi sayangnya aku tidak punya uang dunia ini. Yang pasti mata uang di dunia ini sangat berbeda dengan mata uang di Bumi. Lagipula, aku tak membawa uang sepeser pun.
"Tidak, terima kasih," tolakku dengan halus.
"Shiki-kun, ayo! Kutunjukkan tempat paling menakjubkan di kerajaan ini!" Ucapnya semangat setelah selesai berbincang.
Tanpa memedulikan jawabanku, dia kembali menarik tanganku melewati gang kecil yang letaknya tak jauh dari tempat kami berdiri tadi. Mendengar nada bicaranya saja aku sudah sangat yakin bahwa dia senang sekali dan antusias mengajakku ke tempat yang ingin dia tunjukkan ini.
Kami terus berjalan melintasi gang sempit ini. Sampai di ujung...
...apa yang ada di depanku tak pernah ada di dunia tempat tinggalku sebelumnya.
__ADS_1
Air terjun besar nan tinggi di kiri, ladang bunga lavender di bawahnya, area rerumputan luas di tengah, dan danau biru di kanan kami. Kini kami berdua tengah berdiri di ujung tebing yang menjadi pembatas antara kerajaan Alfreiden dan kanvas berpanorama luar biasa ini. Cahaya senja melengkapi semua itu dengan matahari yang mulai tenggelam di balik bukit yang jauh di depan kami. Pemandangan ini jauh lebih indah daripada pemandangan matahari terbenam di pantai.
Inikah tempat yang ingin Anna tunjukkan padaku?
"Huuft... hahh..." Anna menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan kepuasan.
Anna berdiri di depanku setelah melepas pegangannya dari tangan kiriku dan menikmati pemandangan.
"Jadi, ini tempat yang kau maksud.."
"Bagaimana? Menakjubkan, bukan?"
Kalau boleh jujur, ini lebih dari kata itu. Aku akan menyebutnya luar biasa. Karena ini pertama kali aku melihat pemandangan seperti ini. Di Bumi, pemandangan semacam ini sudah langka. Bahkan kebanyakan, pemandangan dipakai untuk bisnis. Dengan kata lain, dijual. Manusia memang tak luput dari yang namanya "uang". Hidup tanpa uang adalah dosa, seakan mereka mengatakan itu.
Kembali ke situasi sekarang.
"Ne, Shiki-kun, apa kau pernah merasa selalu dikejar kematian?"
"Tidak. Kau sendiri?" tanyaku balik. Dari pertanyaannya, aku tahu kalau pertanyaannya bukan tanpa alasan. Apalagi dengan yang berhubungan dengan kematian. Mungkin dengan bertanyanya yang seperti itu, dia pasti pernah merasakannya.
"Semenjak ibuku meninggal, kesedihan terus melandaku dan menjerumuskanku hingga aku pun berpikir aku ingin mati saja. Sampai saat itu, aku tak pernah tahu bakal mewarisi kemampuan leluhurku. God Eyes, merupakan salah satu kemampuan milik penguasa pertama kerajaan Alfreiden." Dia mulai bercerita.
Pandangan matanya tak lagi menunjukkan adanya kesenangan. Senyumnya pudar digantikan wajah murung yang penuh kesedihan.
"Kau tahu? God Eyes tak hanya bisa melihat kebohongan ataupun segalanya tentang seseorang. Kemampuan ini bagaikan dewa. Bila aku meningkatkan kemampuan ini, aku yakin akan menemukan kebenaran dunia. Di awal perayaan ketika aku menginjak usia 10 tahun, seorang raja dari kerajaan yang aku tak ingat namanya, mendatangiku untuk mengucapkan selamat. Saat itulah kemampuan mataku aktif. Aku melihat semuanya yang dilakukan orang itu. Termasuk rencana busuknya," lanjutnya.
"Dia merencanakan apa?" tanyaku.
"Setelah pestanya selesai, dia berencana untuk membunuh ayahku lalu menguasai kerajaan ini dengan menyatakan bahwa ayahku sendiri yang mewariskannya. Dan seketika itu aku membeberkannya pada semua orang. Gadis kecil yang hanya berusia 10 tahun bisa membahayakan nyawa seorang raja dari kerajaan seberang. Saat itu juga, ayahku langsung mengusirnya. Tentu saja ayah takkan membunuhnya. Sejak hari itu, semua orang dari kerajaan lain mulai was-was padaku. Bahkan ada yang berencana ingin membunuhku. Karena tak ingin kebohongannya diketahui oleh umum," lanjutnya lagi.
Keheningan sempat menyerbak antara kami berdua. Tapi itu ditepis Anna yang menoleh padaku sambil tersenyum.
"Tentu saja itu tak akan membuat aku menyerah pada kehidupan."
Deg.
Perasaan apa ini?
Memang senyum itu terlihat manis bagiku, tapi perasaan apa yang hangat ini?
Deg.
Bibir merah mudanya.. Mata birunya yang berkilau bagai permata..
Entah kenapa jantungku berdegup kencang. Dadaku terasa sesak.
Apa yang terjadi padaku?
Tangan kami sebelumnya bergandengan, kan?
"Shiki-kun? Ada apa? Wajahmu merah, lho.. Kau sakit?" tanyanya sedikit khawatir.
Merah? Mungkin dia benar, aku sakit. Tapi aku tak merasa lelah atau tubuhku terasa sakit. Hanya saja, dadaku sesak dan jantungku tak mau berhenti berdetak kencang. Seakan-akan jantungku dapat berhenti kapan saja.
Apa yang terjadi padaku hari ini?
__ADS_1