Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 24 - [Kota Mati]


__ADS_3

Begitu menjelang pagi saat ujung matahari mulai nampak, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Sehabis sarapan tentunya.


Semua perlengkapan yang terdiri dari bahan makanan dan pakaian serta senjata-senjata yang diperlukan untuk membela diri, dimasukkan ke dalam inventory buatanku. Sebuah dimensi buatan seperti milik Erlia. Hanya saja dimensi buatanku sedikit lebih sempurna dibanding dengannya. Karena tak hanya dapat dimasuki manusia, tapi juga bisa untuk menyimpan benda. Diperlukan perantara untuk masuk maupun keluar dari inventory. Misalnya tanah. Aku hanya perlu menyentuh tanah tersebut dan memusatkan sedikit aliran mana-ku pada ujung jari. Kemudian, gerbang dimensi pun muncul dengan sendirinya. Untuk menutupnya kembali, aku harus memutus aliran mana-nya. Dengan begitu, dimensi tersebut tertutup.


Nah, untuk saat ini, semua perlengkapan dan persenjataan telah tersimpan. Kecuali senjata khusus kami yang memang digunakan untuk mengantisipasi serangan yang tak terduga. Irie menggunakan senjata andalan yaitu belati ganda. Sedangkan Nia membawa pisau kecil. Dan Marcus, seperti biasa dia memakai pedang hitam besarnya yang sekarang sudah menempel erat di punggungnya. Sementara aku sendiri menyandang pedang perak di pinggang kiriku.


Begitu aku sedikit membuka pedang dari sarungnya untuk memeriksanya sebentar, orang yang berdiri di samping kananku tak sengaja melihat bilah pedangku dan mengomentarinya.


"Sudah berapa lama kau menggunakan pedang itu? Kelihatannya sudah usang dan bergerigi. Ada banyak goresan juga...."


"Daripada sibuk menatap pedang ini, lebih baik kau pikirkan untuk mengasah pedang besarmu itu, Marcus. Sudah lama kuperhatikan kalau pedangmu sudah berkarat dan mulai tumpul."


"Shiki benar, Marcus. Pedang saja yang besar, tapi tak pernah terawat," celetuk Irie.


Jleb!


Perkataan Irie begitu menusuk ulu hatinya. Dengan tubuh gemetar akibat serangan kata sarkastis, dia *** dadanya. Padahal sudah setiap hari seperti itu, tapi hatinya masih tetap tidak kuat menahannya.


"Kuh...! Malah jadi senjata makan tuan...," keluhnya.


Sring. Trak.


Kusarungkan kembali pedangku, tak lupa juga memakai jubah hitam untuk menutupi identitasku.


Meski tak ada yang mengenaliku, kecuali kerajaan Alfreiden, tato jarum ganda di mata kiriku ini akan terlihat aneh dan mencurigakan bila bertemu dengan orang misterius yang kemungkinan adalah suruhan dari negara maupun kerajaan lain.


Kalau tak disembunyikan, maka hal buruk akan terus berdatangan pada kami.


Pasalnya, sekitar sebulan yang lalu, ketika perjalanan kami baru dimulai, beberapa orang berjubah hitam dengan tongkat sihir menghadang kami dan berusaha menahanku dengan sihir pengikat. Namun usaha mereka sia-sia karena aku baru saja menguasai hampir semua sihir pengikat dari Vivera. Selain itu, para penyihir itu tak pandai bertarung. Dengan kata lain, mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memfokuskan dirinya untuk menguasai sihir daripada yang lainnya. Itulah keuntungan kami. Selanjutnya bisa kalian tebak sendiri.


Irie dan Nia memakai jubah putih. Sedangkan Marcus mengenakan jubah berwarna merah.


Setelah semua beres, kami pun angkat kaki dari hutan ini menuju kota berikutnya.


---------------


Perjalanan menuju Rivia terlampau jauh. Kami sudah menghabiskan waktu satu bulan untuk mencapai setengah perjalanan ke sana. Persediaan makanan kami juga mulai menipis. Maka dari itu, kami harus singgah di kota terdekat untuk mengisi ulang persediaan.


Menurut prediksi Irie dan Marcus, ada sebuah kota kecil yang kebetulan dekat dengan hutan ini. Tinggal lurus sampai ujung hutan, tak lama kami akan tiba di sana.


Namun, ketika kami telah mencapai perbatasan kota, apa yang kami lihat tak bisa kami percayai.


Kota ini luluh lantak.


Seperti baru saja diserang badai. Rumah-rumah sudah tak berbentuk lagi. Semuanya hancur berantakan. Kota ini juga sepi. Bahkan angin kecil yang lewat pun dapat terdengar.


Setelah kutelusuri tempat ini dengan kedua mataku, aku menyadari sesuatu. Tak ada tanda-tanda adanya kehidupan lagi di sini.


"Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

__ADS_1


"Ini bencana!"


Irie yang juga melihatnya pun tak sanggup menahannya lagi dan mengeluarkan rasa keingintahuannya mengenai peristiwa yang menimpa tempat ini.


Marcus pun ikutan mengeluarkan keluhannya.


"Kejam sekali...."


Komentar Nia yang sempat terdengar oleh telingaku, aku merasa kalau Nia berpikir bahwa ini adalah perbuatan seseorang. Kata 'kejam' saja sudah jelas merujuk pada arti sebenarnya yakni tindakan tak manusiawi yang dilakukan seseorang.


Tapi mengingat ini bukanlah bumi tempat tinggalku sebelumnya, bukan hanya manusia saja yang memegang kendali atas roda kehidupan di dunia ini. Ada bermacam-macam ras di sini. Dan manusia hanyalah sebagian kecilnya.


Jadi, menyimpulkan bahwa ini adalah perbuatan manusia tidaklah salah, tapi juga tidak benar.


Bisa saja yang menyerang kota ini adalah ras ogre, ras beast, atau ras lainnya. Atau bisa juga ras iblis.


Tanpa pikir panjang, aku melangkahkan kakiku memasuki kota kecil yang hampir tak berbentuk lagi.


Dari yang kulihat, sepertinya sudah terjadi baru-baru ini. Tak ada mayat, tapi ada bekas noda darah yang mulai menghitam. Selain itu, ada bekas gesekan di tanah dan banyak bekas tebasan pada bangunan maupun kayu di sekitar.


Kemungkinan besar sempat terjadi semacam perlawanan di sini sebelum akhirnya diluluh-lantakkan.


"Sebaiknya kita mencari yang masih selamat," usul Marcus yang sudah berada di sampingku bersama Irie dan Nia, mengikuti arah jalanku.


"Itu tidak perlu," timpalku singkat.


"Sesukamu saja."


Tak jauh di depan, aku melihat seorang pria yang mungkin sudah mencapai usia kepala tiga, berjongkok di tumpukan sebuah rumah yang roboh, sedang menggeledahnya untuk mencari sesuatu. Aku menghampirinya dan bertanya.


"Sudah berapa lama?"


"Hm?" Dia menoleh dan menghentikan aktivitasnya. Namun tampaknya dia tidak mengerti maksud pertanyaanku barusan.


"Sudah berapa lama kota ini kosong?" ulangku.


"Oh, kurasa sejak 3 hari lalu. Apa kalian pengembara?"


"Sebut saja begitu. Kota ini hancur dan sepi. Pasti ada penyebabnya, kan? Yang kumaksud bukan faktor alam tentunya."


"Benar sekali, nak. Kota kami diserang sekelompok orang dari ras iblis. Mereka menghancurkan semuanya. Membunuh orang-orang. Para petualang yang kebetulan singgah di sini membantu kami melawan mereka. Namun, mereka terlalu kuat. Kami tak bisa melawan mereka lebih lama dan akhirnya kalah. Terpaksa kami melarikan diri dengan sisa hanya beberapa puluh orang saja. Sebagian besar penduduk kota telah dibantai oleh mereka. Kami bersembunyi di tempat lain untuk beberapa saat sampai mereka pergi. Setelah itu barulah kami memutuskan untuk memakamkan semua yang tewas di sebelah kota ini. Termasuk para petualang yang gugur akibat melawan iblis-iblis itu," jelasnya panjang lebar.


Suasana di sini menjadi berat karena cerita menyedihkan itu.


"Kau dengar itu, Marcus? Masih mau mencari?" tanyaku bermaksud mengejek walaupun tertutupi oleh wajah datarku yang seperti biasanya.


"Yah, kalau seperti itu, sudah tak ada gunanya lagi, kan?" ucapnya sembari menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Masih ingin memakiku yang tidak punya hati ini?"

__ADS_1


"Tidak, master!" tegasnya setelah tercekik oleh tatapan intimidasiku.


Sekarang aku tahu bagaimana cara mengendalikan manusia yang hanya mengandalkan otak otot ini. Bila kutatap tajam dan memancarkan hawa membunuh, dia akan lebih penurut. Daripada dibilang penurut, yang paling tepat sebetulnya dia hanya takut.


"Lalu, jika memang sudah berlalu 3 hari, apa yang sebenarnya Anda cari-cari dari tadi?"


Pria itu kembali menggeledah rongsokan dan menemukan sesuatu di dalamnya lalu mengeluarkannya. Benda yang panjang dan ramping. Serta berwarna hitam dengan sebuah loceng kecil emas menggantung di salah satu ujungnya.


Cring.


Lonceng itu berbunyi ketika pria tersebut membuka benda itu. Terlihatlah logam putih tipis mengkilap di dalamnya. Tepiannya tampak tajam seakan-akan dapat memotong tanganku sekali ayunan.


Dan benda tersebut yang ternyata merupakan sebuah pedang.


Pedang semacam ini sudah tidak asing lagi bagiku. Keluargaku bahkan memilikinya.


Lalu, bagaimana bisa itu ada di dunia ini?


"Katana?" Tanpa sadar bibirku bergerak menyebutkannya.


Sementara itu, pria di depanku ini malah tersenyum senang.


"Oh... Jadi, kau sudah mengetahuinya. Baguslah."


Apa maksudnya? Mungkinkah katana di dunia ini sama dengan yang ada di bumi?


"Ini, untukmu," ucapnya sambil menyodorkan katana itu kepadaku.


"...."


"Tidak usah ragu, ambillah." Dia tetap menyodorkan katana tersebut seolah memaksaku untuk mengambilnya.


"Bukankah itu berharga bagimu?" tanyaku.


"Jangan khawatir. Aku memang berniat memberikan ini kepada siapapun yang bisa kupercaya untuk menjaganya. Karena aku sudah tak punya siapa-siapa lagi yang bisa kuandalkan untuk pedang ini. Jadi, kuharap kau bisa menjaganya dan menggunakannya sebaik mungkin. Terimalah."


Dengan keterpaksaan aku pun menerimanya. Ada sedikit rasa senang di hatiku.


Setelah itu, kami bertanya mengenai kota terdekat yang bisa kami singgahi secepatnya.


Aku memutuskan untuk menggunakan katana dan menyimpan pedang perak lamaku.


Ketika aku selesai memasukkan pedangku ke dalam inventory melalui perantara tanah, Marcus bertanya sesuatu padaku.


"Hei, Shiki. Sudah lama aku ingin mengatakan ini. Kau itu serba guna, ya?"


"Jangan samakan aku dengan barang."


Dan dengan begitu, kami berangkat menuju kota berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2