Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 25 - [Keputusasaan Dan Harapan]


__ADS_3

Gadis ini terus melamun. Menatap kosong cangkir di depannya sambil mengaduk pelan isinya. Rambut pirangnya sengaja dia kepang satu dan menggantungkannya pada bahu kanannya, dengan setelan khas petualang, dia menyamarkan statusnya yang tinggi dari orang lain.


"Anna."


Suara gadis masuk ke telinga kirinya, dia lirikkan mata birunya ke samping untuk merespon panggilan itu.


"Mau sampai kapan kau memandangi cangkir itu?" tanya gadis di sebelahnya itu dengan memasang wajah cemas.


Suara keramaian orang di tempat yang kedua gadis ini singgahi yang disebut kedai, menggantikan keheningan yang sempat terjadi di antara mereka berdua.


"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkannya. Tapi jangan putus asa dulu. Masih banyak kesempatan yang kita miliki untuk bertemu dia dan membawanya kembali." Gadis bersurai coklat karamel itu berusaha meyakinkan gadis di sampingnya yang sebelumnya dia panggil Anna.


Dimanapun kau melihat, dunia tetaplah luas. Meskipun kau memejamkan mata dan berpikir dunia itu sempit, begitu kau membuka mata, semua yang ada di depanmu akan menjelaskan dan seolah mengatakan bahwa dunia itu luas.


Mencari satu orang yang berbanding jutaan orang adalah suatu kemustahilan di dunia ini. Suatu usaha memang bisa mematahkan hal yang mustahil itu. Tapi tetap saja, butuh usaha besar untuk melakukannya.


Memutari dunia merupakan salah satu usahanya. Namun, bisakah kau mempertahankan pikiran warasmu saat menjalaninya?


Perlu diingat, dunia itu luas.


Dibutuhkan biaya bila memang kau tidak ingin kakimu kelelahan. Biaya transportasi bisa menguras sebanyak apapun uang yang kau miliki selama kau bersikeras untuk mengelilingi dunia. Apalagi demi mencari seseorang.


Mengelilingi dunia saja tidak akan membuahkan hasil. Kecuali kau bertemu dengan orang yang kau cari secara "tidak sengaja". Kalau itu tidak terjadi?


Itu akan menjadi kesia-siaan belaka.


Bila tidak ingin menjadi semacam itu, kau perlu koneksi semua orang.


Tidak usah jauh-jauh memikirkan bahwa koneksi yang dimaksud adalah dengan berbicara pada semua orang di dunia ini. Sama saja itu akan membuang-buang waktu yang lebih banyak.


Yang sederhana saja, yaitu menyebar poster. Sudah tentu kalau kau mencari orang yang ingin kau temukan, kau pasti sudah mengenal wajahnya. Sebarlah poster wajah orang tersebut.


Memang kalau kau sendirian, tetap saja itu hal yang mustahil mengingat begitu banyak daerah yang harus kau kunjungi untuk menempelkan posternya.


Tapi gadis ini berbeda. Anna merupakan putri kerajaan. Dia punya koneksi dengan semua penghuni kerajaan. Dengan bantuan dari ayahnya, menyebar poster bukanlah hal yang sulit. Kemustahilan itu bisa ditepisnya.


Melalui perintah langsung sang raja, ayah kandung Anna, para prajurit yang ditugaskan pun menyebar sebanyak mungkin posternya dan menggapai hampir seluruh wilayah.


Meskipun dibutuhkan waktu berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu, itu lebih baik daripada mengelilingi dunia. Jadi tinggal menunggu waktu hingga orang yang mereka cari terdengar kabarnya.


Namun, harapan mereka segera ditepis. Sampai hampir 2 bulan mereka masih belum mendengar kabarnya sekali pun.


Anna benar-benar tidak bisa menahan kesabarannya lagi untuk menunggu. Saat baru 1 bulan setelah menghilangnya orang yang dia cari, dia memutuskan untuk mencarinya sendiri dengan mengunjungi setiap wilayah di dunia meski dia tahu itu hal yang mustahil untuk segera menemukannya. Awalnya raja tak mengizinkannya. Tapi Anna yang saat itu dalam mode keras kepala akhirnya berhasil membujuk ayahnya tersebut.


Perjalanannya yang ditemani sekaligus dikawal oleh 2 knight kerajaan yaitu Arelia dan Hanz, setelah menempuhnya selama sebulan, mereka pun tiba di ujung benua ini. Selangkah lagi kaki mereka akan menapak di tanah terlarang, benua iblis yang disebut Rivia.


Dunia ini terbagi menjadi 2 benua. Huraria dan Rivia. Huraria merupakan benua yang dihuni berbagai macam ras. Sedangkan Rivia dihuni oleh satu ras. Ras yang tak tergabung dalam benua Huraria. Ras iblis.


Kedua benua ini benar-benar terpisah. Sejak kekalahan ras iblis dan kematian misterius keempat pahlawan, perjanjian frontal pun dimulai.


Pimpinan ras yang paling berpengaruh di Huraria, yakni manusia, berhadapan langsung dengan pemimpin ras iblis.


Setelah keduanya menandatangani perjanjian yang mereka namakan Drangar ini, tempat berlangsungnya perjanjian tersebut telah disepakati akan dipisah menjadi 2. Tanah yang dipijak wakil Huraria akan menjadi benua milik Huraria sendiri. Begitu juga dengan wakil ras iblis.


Dengan begitu, tanpa adanya perjanjian ulang, dunia ini pun terbelah dua.


Sesuai perjanjian, pemisah antara 2 benua tersebut adalah dinding besi yang sudah dimanipulasi sihir. Siapapun yang melanggarnya akan mati secara perlahan. Tapi bila perjanjian tersebut dibatalkan, secara otomatis dinding besi pemisah itu takkan berfungsi kembali.


Jadi, jika ingin mengunjungi benua Rivia maupun Huraria, kau perlu membatalkan perjanjiannya terlebih dahulu. Tapi, bisakah kau melakukannya bila yang harus membatalkannya adalah yang menandatangani perjanjiannya?


Perlu diumumkan bahwa wakil Huraria yang ikut menandatangani perjanjian Drangar telah meninggal.


Kalau wakil dari ras iblis juga meninggal, maka mustahil bisa membatalkan perjanjiannya.


Kembali ke persoalan sebelumnya.

__ADS_1


Sampai ujung pun Anna, Arelia, dan Hanz belum juga menemukan orang tersebut.


Wajar saja kalau saat ini dia merasa putus asa.


"Sebegitu putus asanya kah kau dalam usaha menemukan Shiki? Kita bahkan belum mencarinya ke seluruh pelosok benua. Hanya ujung utara saja kau sudah putus asa begini. Bagaimana dengan ujung lainnya? Hahh..." Arelia mendesah berat melihat tuan putrinya ini menyerah sebelum mencapai akhir.


"Omong-omong, kemana saja Hanz ini? Lama sekali mencari penginapannya." Arelia berniat mengeluh pada Anna. Akan tetapi, Anna yang tetap tak meresponnya itu membuat keluhan Arelia menjadi gumaman yang disimpan dirinya sendiri.


----------


Matahari sudah meninggi di atas ubun-ubun. Udaranya tak begitu panas dibanding udara di Bumi. Itu karena lebih banyak tumbuhan lebat di sini.


Kami akhirnya sampai di perbatasan kota. Untungnya kota ini tidak bernasib sama dengan kota yang kami datangi sebelumnya. Tragis memang. Tapi tak ada yang bisa kulakukan untuk mereka. Membalas dendam pun takkan bisa mengembalikan orang-orang yang telah mati. Lagipula, kami juga tidak tahu seperti apa makhluk yang menyerang kota itu.


Tanpa basa-basi, kami langsung memasuki kota.


Kami disambut keramaian orang yang berlalu lalang, kios-kios, dan perumahan warga. Senang rasanya menemukan kota sebelum kami mati kelaparan.


Namun, ketika kami mau berbelok menuju kios di depan untuk segera mengisi persediaan makanan, seseorang mencegat kami-, tidak, lebih tepatnya aku.


Sial. Kenapa dia ada di sini? Batinku begitu memperhatikan baik-baik orang di depanku ini.


Dia orang yang kukenal dan ingin kujauhi. Bukan karena aku benci atau apa, tapi karena aku tidak ingin mengusik kehidupan damai pas-pasannya.


Aku hanya diam dan berharap dia tidak akan mengenaliku. Kepalaku sudah tertutup hoodie dari jubahku dan wajahku tidak mudah dikenali karena tertutup bayangan.


Saat dia hampir berbalik yang membuatku berpikir mungkin dia tidak mengenaliku....


"Shiki? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Panggilan Irie mengejutkannya dan dia pun menghentikan langkahnya seraya berbalik kembali dengan memasang wajah terkejut.


"Shi... ki? Aku tidak salah dengar, kan? Benarkah kau adalah... Shiki?" tanyanya.


Mengelak pun tidak akan mungkin. Dia pastinya akan memaksaku untuk membuka penutup kepala ini dan menunjukkan wajahku padanya.


"Tidak ada pilihan lain," gumamku seraya menaikkan sedikit tudung kepalaku agar wajahku terlihat.


Melihat wajahku, dia langsung menggerakkan tubuhnya sambil berkata dengan sedikit keras, "Shiki-sama, kami sudah mencari Anda lama se-"


"Eits! Jangan membongkar identitasku di sini," cegahku sembari memegang bahunya menghentikannya membungkukkan badan di depanku seperti yang biasa dia lakukan pada rajanya.


"Oh? Ba... Baiklah...." Dia pun kembali berdiri tegak.


Dia sendirian, kah? Tidak. Mungkin dia tidak sendirian saja. Mana mungkin dia pergi sejauh ini sendirian.


"Dimana yang lain?" tanyaku.


"Ah, Anna-ojou dan Arelia ada di kedai sana," jawabnya sembari mengarahkan ibu jari kirinya menunjukkan kalau letak kedai yang dia bicarakan berada tak jauh di belakangnya.


Dia bersama Anna dan Arelia? Memangnya tidak apa-apa jika putri kerajaan berkeliaran begitu?


"Anda sebaiknya-"


"Jangan formal," potongku.


"Baiklah. Kau sebaiknya kembali bersama kami. Anna-ojou sekarang depresi karena tak kunjung menemukanmu. Sebetulnya aku juga hampir merasa seperti itu."


"Tunjukkan jalannya."


Sesuai kehendakku, dia mengerti ucapanku lalu mengantarkan kami menuju kedai tersebut.


Tak lama kemudian, kami sampai di depan sebuah restoran kecil atau disini sering disebut kedai.


Tanpa ragu, dia menuntun kami untuk masuk ke dalam. Sebelum kami berempat masuk menyusul, Irie yang sebelumnya telah mengacaukan penyamaran, bertanya padaku.


"Ne, ne, kau mengenalnya? Siapa dia?"

__ADS_1


"Tentu saja. Katamu kau penggemar beratnya. Bagaimana bisa kau tidak mengenalinya? Hahh... ya ampun. Lelaki tadi adalah Hanz."


"Eh? EEEEEEEEEHHHH!!!" kejutnya begitu mendengar sesi kalimat terakhirku barusan.


"Ssstt!!... Pelankan suaramu," tegurku setelah menyadari teriakan Irie membuat kami menjadi pusat perhatian.


Hening sejenak, dan akhirnya orang-orang pun kembali melanjutkan aktivitas mereka.


"Usahakan untuk tetap diam kecuali memang sangat perlu. Kuharap kalian bisa mengerti," ujarku kepada Irie, Marcus, dan Nia.


"Baiklah kalau itu maumu."


"Baik, kak Shiki."


Marcus dan Nia langsung menjawab. Berbeda dengan Irie yang hanya menganggukkan kepalanya dengan gugup alih-alih menjawab. Mungkin itu efek dari keterkejutannya yang tadi....


Kami berempat pun memutuskan untuk masuk menyusul Hanz.


----------


"Anna~ Bicaralah sesuatu...."


Hanya ada mereka berdua di meja itu. Jadi Arelia bebas memanjangkan kedua tangannya ke atas meja lalu mendaratkan wajahnya ke sana seperti baru saja dikalahkan seseorang dan menyerah.


"Aku... merasa mengoceh sendiri...."


Wajar dia seperti itu. Anna tetap diam tak merespon apapun darinya.


"Baru kutinggal 5 menit kau sudah terkapar begitu, Arelia."


Telinganya berkedut begitu suara itu muncul di belakangnya dan memanggil namanya. Dia memutar kepalanya untuk memastikan bahwa perkiraannya tidak salah.


"Hanz?! Darimana saja kau? Kami menunggu laaaama, lho..." Dia memberi penekanan pada kata 'laaaama' dengan memasang ekspresi datar.


"Mau sampai kapan kau akan depresi begitu, Anna-ojou?"


"Cih! Mengabaikanku juga...."


"Kau mengatakan sesuatu, Arelia?"


"Ah, tidak, bukan apa-apa. Kau pasti salah dengar... Ahahaha... haha...."


Arelia tersentak kaget ketika mendengar gumamannya telah disadari Hanz. Dia berkeringat dingin meskipun wajah Hanz terlihat polos saat bertanya. Tapi yang membuatnya begitu adalah hawa membunuh yang terpancar langsung dari Hanz dan menusuk ulu hatinya.


"Percuma saja. Sudah sejauh ini kita masih belum menemukannya." Akhirnya Anna mengutarakannya setelah sekian lama bibirnya mengatup rapat.


"Kalau Yang Mulia Raja dan Ratu melihat putrinya seperti ini, mungkin mereka akan sangat kecewa."


"Ibuku sudah tahu sejak lama. Ayahku takkan tahu dan aku tidak peduli. Kau tahu sendiri ibuku sudah tiada. Jangan libatkan dia dalam setiap ucapanmu yang menyindirku, Hanz."


"Aku tidak menyindirmu. Aku hanya mengingatkanmu saja."


Baru kali ini Hanz ditegur oleh Anna seperti itu. Suasana hatinya sedang buruk dan membuatnya sedikit sensitif saat ini. Pemilihan waktu Hanz untuk menyadarkan Anna lewat ucapannya yang melibatkan kedua orang tua Anna sungguh tidak tepat. Memang sudah tak ada cara lain lagi selain menyerahkan sisanya kepada seseorang yang kini berdiri di belakangnya.


"Hoo... Jadi ini maksudmu...."


Suara yang tak asing lagi baginya, membuat Anna berdiri dan berbalik dengan cepat untuk memastikan kebenarannya. Begitu juga dengan Arelia yang sekarang telah membeku di tempat ketika mengetahui wajah pemilik suara yang mereka dengar tadi.


Meskipun kepalanya tertutup hoodie dari jubah hitam, mereka masih bisa melihat jelas wajahnya.


Pantas saja mereka berdua terkejut bukan main, orang yang mereka cari kini sudah di depan mata.


"Shi... Shiki...-kun?"


Refleks, Anna mengucap namanya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2