Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 07 - [Pemuda Yang Menyebut Dirinya Sendiri Kesatria Gagal (Part 2)]


__ADS_3

Baru genap 8 hari sejak Hanz menjadi salah satu knight seperti Joan. Hanya saja lebih dari dugaan yang ternyata Hanz diakui sang Raja menjadi knight terkuat dan termuda di kerajaannya karena di hari pengujian Hanz mengalahkan knight terkuat dengan mudah.


Sejak itu juga Hanz menjadi sangat akrab dengan penduduk kerajaan. Tidak hanya itu saja, sang Raja bahkan menganggap Hanz seperti putranya sendiri.


Setiap harinya, Hanz selalu bertugas bersama Joan. Menangkap perampok, membantu anak tersesat, menghibur dan membantu membiayai panti asuhan, dan lain sebagainya, membuat mereka dikenal sebagai ksatria sejati tidak seperti yang lain yang hanya mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas mereka untuk menjaga keamanan kerajaan.


Seperti sebelumnya, Hanz menganggap seluruh penduduk Kerajaan Frelior layaknya keluarga sendiri. Dia menyayangi semuanya. Semua penduduk disana membuatnya lebih banyak tersenyum dan tertawa. Perasaan amarahnya mulai menghilang seiring waktu. Hingga hari itu... tak ada yang bisa mencegahnya....


"Kyaaaa!!!..."


"Penyihir!! Penyihir Kabut datang!!!.... Peny-"


Cruattss!... Brukk!....


"Tolong!!!..."


"TIDAAAK-"


Cruatss!!... Brukk!....


Suara mengerikan bagaikan neraka disertai api yang bergejolak memenuhi seluruh wilayah kerajaan.


"AHAHAHAHA!! TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKANKU! AHAHAHAHA!!..."


Di atas menara tertinggi istana, seorang lelaki berjubah hitam tanpa hoodie yang memperlihatkan rambut coklatnya dan mata merahnya yang menyala. Dengan teriakannya yang menggelegar terdengar di setiap tempat, hingga sudut terkecil sekalipun.


Telinga Hanz menangkap suara yang tak asing lagi baginya, membuat perasaan yang mulai hilang itu muncul kembali.


Hanz kini berada di panti asuhan yang sering dikunjunginya sedang bermain dengan anak-anak yatim piatu mendengar tawa mengerikan yang terus berkoar-koar menunjukkan kepuasan. Tak ada dari mereka yang mengenali suara tersebut, kecuali Hanz yang pernah melihat wajahnya meski hanya sekali.


"Anak-anak, pergilah berlindung!" Hanz menoleh ke arah ibu panti. "Kalyna-san, bawalah anak-anak bersamamu untuk berlindung di tempat yang jauh dari kerajaan ini! Aku mohon...."


Gadis kecil berambut pirang mendekati Hanz dan menarik-narik celananya dengan perasaan takut dan gemetar.


"Kakak, apa yang terjadi?"


Hanz menoleh dan menepuk kepala gadis kecil tersebut lalu mengelusnya dengan lembut disertai senyuman.


"Hanya kecelakaan kecil. Pergilah bersama Bu Kalyna."


"Tapi... bagaimana dengan kakak?" tanya gadis kecil itu dengan wajah polosnya dan hampir menangis.


"Jangan khawatir. Percayalah pada kakak. Sekarang, pergilah bersama saudara-saudaramu, ya?"


Gadis itu berhenti menarik celana Hanz dan berakhir memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepasnya. Pecahlah tangisannya.


"Tidak... aku tidak mau... hiks... aku tidak mau... aku ingin ikut kakak... hiks... hiks... Huaaa!!...."


Seiring waktu tangisannya semakin keras membuat Hanz balas memeluknya dengan lembut.


"Cup, cup. Jangan menangis. Semua saudaramu nanti ikut menangis juga, lho. Kakak tambah kerepotan jadinya."


Tak lama kemudian, anak-anak yang lain ikut menangis dan memeluk Hanz.


"Eeehh... kok semuanya ikut-ikutan?"


"""""""Huaaa!...."""""""


Serentak ketujuh anak yang kini memeluk Hanz menangis sejadi-jadinya sampai berteriak.


"Hahh... Sebentar saja mungkin...," gumam Hanz sambil tersenyum.


Hanz mencuri pandang ke arah Joan yang sedang terdiam melihatnya dipeluk. Hanz merentangkan kedua tangannya bermaksud menyambut Joan kedalam pelukannya seperti anak-anak yang lain.


"Paman Joan tidak ikutan?"


"Jangan samakan aku dengan anak kecil! Dasar...."


----------


"Paman, jaga mereka baik-baik."


"Serahkan padaku. Pastikan kau kembali dengan selamat, Hanz."


Alih-alih menjawab, Hanz hanya mengangguk dan berbalik berlari menuju istana sambil melambaikan tangan kanannya kepada Joan, Kalyna, dan anak-anak panti dengan maksud akan berjumpa lagi.


Namun, Hanz yang sedang berlari menjauh, tidak tahu bahwa seluruh penghuni panti asuhan tak terkecuali Joan yang melindungi mereka atas permintaan Hanz, kini hanya tersisa senyuman tulus di wajah mereka yang dipenuhi cairan merah kental.


"Hahh... hahh... hahh...."


Tap. Tap. Tap. Tap.


Suara derap langkah kaki disertai suara yang terengah-engah bergema di jalanan kota yang sepi. Pemandangan mengerikan di sekitarnya membuatnya merasa mual. Bangunan, jalanan, tanah, dan yang lainnya dipenuhi warna merah gelap. Potongan tubuh manusia dimana-mana.


Berlari. Terus berlari. Perasaan marah, sedih, takut, bercampur dengan sempurna di hatinya. Mencari dengan napas yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Tanpa dia sadari, cairan bening dengan lancar meluncur turun dari matanya dan terbang tertiup angin.


Bulir-bulir bening kecil terlihat beterbangan dan jatuh ke tanah yang dilewatinya.


Tak ada suara apapun lagi disana. Harapannya mendengar suara semua orang, sudah hilang. Tak ada yang tersisa kecuali pemandangan bagai neraka yang menyertainya.


Suara tawa itu terdengar lagi. Lebih keras dari yang ia dengar sebelumnya. Menandakan bahwa ia sudah dekat dengan dalang dibalik kekejaman ini.


Mengetahui arahnya sekarang menuju istana, berarti kemungkinan besar orang itu berada disana.


Tap. Tap. Tap. Tap.


Hanz semakin mempercepat larinya. Melewati jalanan gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama menambah kesan mengerikan.


Kemudian sampailah dirinya di depan gerbang istana yang terbuka lebar.


Sepi... itulah keadaan disini.


Tak ada satupun penjaga yang bertugas.


Hanz melanjutkan larinya ke dalam.


Betapa mengejutkannya, ternyata di dalam bahkan tak berbeda jauh dengan keadaan di luar. Cipratan darah di tanah, rumput, bunga, dinding, dan lainnya. Potongan tubuh manusia dimana-mana.


Rasa mual yang dia tahan akhirnya dia keluarkan.


Dia pun mengusap bekas muntahan di mulutnya dengan lengan bajunya.


Hanz melanjutkan larinya lagi masuk ke dalam istana. Melewati lorong-lorong penuh darah dan mayat yang sudah tidak utuh lagi. Semakin ke dalam. Akhirnya dia sampai di Aula tempat singgasana Raja berada.


Pintu besar aula ternyata sudah terbuka. Tanpa pikir panjang, Hanz melangkahkan kakinya memasuki ruangan.


Baru beberapa langkah, Hanz berhenti. Matanya terbelalak begitu melihat sang Raja tergeletak di sebelah singgasananya. Punggungnya diinjak seseorang yang sekarang tengah duduk di singgasananya. Hanz sedikit mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang duduk tersebut.


Jubah dan baju serba hitam, seringai iblis, mata merah menyala, dan rambut coklat.


Tanpa sadar Hanz mengepalkan tangannya dengan kuat dan menggemeretakkan giginya.


"Penyihir Kabut...," geramnya.


Swing... swing... swing....


Sementara Hanz memelototinya, Penyihir Kabut itu dengan tenangnya memainkan pisau dengan tangan kanannya.


"Singkirkan kakimu dari Yang Mulia Raja!" teriak Hanz penuh emosi.


Melihat tingkah Hanz, dia sedikit memainkan kakinya menginjak-injak punggung Raja dengan senyum lebar penuh kepuasan.


"Apa peduliku! Lagipula dia sudah mati! Ahahahaha!!!" ujarnya.


Tidak... Batin Hanz menyangkalnya.


Dia melihat tangan sang Raja masih bergerak walaupun tak terlalu jelas. Dia yakin Rajanya masih hidup.


Hanz mulai berpikir, jika penyihir itu menganggap Raja sudah mati, maka dia tidak perlu khawatir Raja terbunuh. Cukup berpura-pura menganggap Raja sudah mati, dengan begitu meskipun dia tidak bisa menyelamatkan semua orang, setidaknya dia bisa menyelamatkan Rajanya dan orang-orang yang dia sayangi yang saat ini tengah bersembunyi di panti asuhan.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Apa tujuanmu sampai membunuh semua orang disini?" tanya Hanz yang mulai sedikit tenang.


"Tujuanku? Aku hanya mencari orang kuat untuk kujadikan bawahanku. Berbicara tentang hal itu, apakah kau mau bergabung denganku?"


Penyihir Kabut itu berhenti memainkan pisaunya dan mengangkat tangan kirinya untuk menyambut Hanz.


"Aku menolak."


Hening sejenak. Kemudian....


"Kalau begitu...."


Penyihir Kabut pun menjentikkan jarinya seakan memberi sinyal.


Jleb!...


"Akh!" erang Hanz kesakitan.


Sesuatu yang tajam dan dingin menancap di punggungnya.


Hanz melirik ke bawah dan melihat benda itu menembus dada kanannya. Ramping, runcing, berwarna perak, dan panjang. Ciri-ciri yang cocok dengan bilah pedang.


Pedang itu pun ditarik dengan paksa ke belakang hingga membuat Hanz memuntahkan darah segar.


Bruk!..


Kakinya melemas dan akhirnya tubuhnya tumbang ke depan. Darahnya tak henti-hentinya keluar dari dadanya. Rasa sakit terus menyerangnya. Tubuhnya sulit untuk digerakkan. Kehangatan mulai pergi menyingkir memberikan tempat untuk rasa dingin yang sekarang mulai merambati tubuhnya.


Hanz perlahan mendongakkan kepalanya. Tak ada siapapun disana kecuali sang Raja yang mulai bangun dan merangkak mendekatinya. Sepertinya Penyihir Kabut itu telah pergi dengan seseorang yang menusuknya tadi.

__ADS_1


Sang Raja semakin dekat dengannya. Dekat. Semakin dekat. Dan akhirnya sampailah dia di tempat Hanz tergeletak tak berdaya.


"Yang.. Mulia..?" Dengan usahanya untuk berbicara, Hanz hanya mengeluarkan suara serak yang menandakan dia tengah menahan rasa sakitnya.


"Hanz, bertahanlah! Aku akan menyembuhkanmu!"


Sang Raja kemudian membalikkan badan Hanz yang bersimbah darah dan membaringkannya di depannya. Dia merentangkan kedua tangannya ke depan di atas luka Hanz dengan telapak tangannya terbuka.


"T-tapi... bagaima-na dengan... Yang Mu-lia?"


"Aku sudah menyembuhkan diriku sendiri barusan. Jangan banyak bicara, aku akan segera menyembuhkanmu. Jadi, bertahanlah, Hanz," ucap Sang Raja panik sambil tetap berkonsentrasi.


Telapak tangannya mengeluarkan cahaya hijau kemudian menyalur dan menyelimuti seluruh tubuh Hanz.


Beberapa lama kemudian, cahaya itu mulai meredup lalu menghilang.


"Sial! Sihirku tidak cukup...," rutuk sang Raja.


Dia menatap Hanz dengan raut penyesalan.


"Maaf, Hanz. Sihirku habis. Aku tidak bisa menyembuhkanmu lebih dari ini."


Mendengar penyesalan Rajanya, Hanz pun menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.


"Tidak apa, Yang Mulia. Lagipula lukaku sudah tidak sesakit sebelumnya. Terima kasih, Yang Mulia, sudah repot-repot menggunakan sihirmu untukku yang merupakan rakyat biasa."


"Tapi lukamu bahkan belum menutup sepenuhnya. Dan juga, meskipun aku Raja dari kerajaan ini, derajat tidak mempengaruhi kita yang merupakan sesama manusia yang menempati dunia ini. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu."


Setelah selesai, Raja membopong Hanz keluar istana untuk pergi menyusul Joan dan yang lainnya di panti asuhan.


"Aku tidak percaya semua yang ada disini sudah...." Raja menggantungkan kata-katanya.


"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku terlambat... menolong mereka...," ucap Hanz menundukkan kepalanya.


"Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini juga salahku. Aku bahkan tidak bisa melindungi rakyatku sendiri dan keluargaku."


Keheningan pun menyertai mereka. Tak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka tiba di depan panti asuhan. Pintu depan terbuka lebar. Mereka melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Dan yang mereka lihat setelahnya, benar-benar membuat kaki mereka melemas hingga Hanz yang dibopong Raja jatuh berlutut dengan tatapan tak percaya.


Tetes demi tetes air matanya turun dengan derasnya. Orang-orang yang dia sayangi yang seharusnya sekarang menanti kepulangannya, tak ada yang membuka matanya dan tertelan kegelapan abadi.


Di samping kanan dan kirinya, terlihatlah anak-anak yang tergeletak bersimbah darah dengan beberapa bagian tubuh yang sudah tidak lengkap. Kalyna, ibu panti, juga tergeletak penuh darah di tubuhnya yang tidak lengkap.


Tepat di depannya, seseorang yang selama ini telah merawatnya, mengajarinya, membiarkannya tinggal bersamanya, kini berdiri bersandar di dinding dengan sebuah tombak yang menancap di dada kirinya. Kepalanya tertunduk ke bawah. Di ujung bibirnya terdapat darah yang berhenti mengalir. Dan yang membuat Hanz tertegun sekarang adalah....


...kenapa mereka tersenyum?


Tubuhnya bergetar hebat. Semua yang diterimanya terlalu tiba-tiba. Tangannya meremas lantai lalu mengepal dengan erat. Bulir-bulir bening berjatuhan di lantai. Dadanya terasa begitu sesak.


"Kenapa ini terjadi? Kenapa semua yang kusayangi pergi meninggalkanku?" tanya Hanz pada dirinya sendiri dengan suara yang bergetar.


"Aku gagal melindungi mereka... hiks... aku gagal sebagai seorang ksatria yang seharusnya melindungi mereka... hiks... Aku... ksatria yang gagal...."


Dadanya sangat sesak. Sesak sekali. Dia meremas dadanya yang sesak seraya menangis keras.


"AAAAAaaaaaa!!...."


Teriakan pahitnya bergema di bawah bulan purnama yang mulai memancarkan rona cahaya merah yang samar seakan memantulkan yang sekarang telah mendominasi seluruh wilayah kerajaan.


Pecahnya tangis seorang pemuda menjadi akhir dari peristiwa mengerikan yang sampai sekarang semua orang menyebutnya....


... Tragedi Bulan Darah.


.


.


.


.


.


.


.


Di gerbang utara istana, seorang lelaki berambut kelabu bermata hijau zamrud dengan baju hitam bergaris putih yang terselip di dalam zirah peraknya tengah berdiri sambil memandangi langit berbintang.


Dia sedikit mendongakkan kepalanya, mencari keberadaan rembulan dan menemukannya. Dia tersenyum kecut melihat bulan yang bulat sempurna itu.


"Hmph! Masa lalu yang mengerikan...."


Dia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju istana. Kilau hijau zamrudnya tampak di balik bayangan cahaya bulan. Matanya menajam mengingat seseorang yang telah merenggut segalanya dari hidupnya.


"Akan kutemukan kau dan memastikan kau tidak akan ada lagi di dunia ini."

__ADS_1


__ADS_2