Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 16 - [Keinginan Untuk Terus Hidup (Part 1)]


__ADS_3

Di dunia ini, yang namanya perbudakan adalah hal sepele dan dibutuhkan. Itu menurut para bangsawan yang memiliki nafsu besar untuk dirinya sendiri. Perbudakan dengan konsep jual beli selayaknya barang. Diskriminasi menjadi suatu yang normal bagi para budak. Budak yang telah dibeli, harus menuruti segala perintah tuannya. Tak peduli tubuhnya yang tuannya inginkan untuk kepuasan. Jadi, tak mengherankan kalau kebanyakan budak menjadi pasrah dan putus asa terhadap kehidupan mereka. Lalu, apa jadinya jika budak-budak tersebut memberontak?


Apa akan ada perubahan pada perlakuan terhadap mereka?


Sayangnya, aturan dalam pasar gelap berlaku mutlak untuk mereka. Kalau pun bisa kabur, mereka tidak akan pernah bisa meninggalkan tempat tuan yang sudah membeli mereka. Kabur kemana pun tak akan berpengaruh pada kehidupan budak itu sendiri. Karena mantera pengikat budak yang telah terikat di tubuh mereka sejak pembelian. Sebuah mantera sihir yang memungkinkan bagi penggunanya untuk memiliki budak yang tak bisa menolak perintahnya atau melukainya sekalipun. Meski budak tersebut memiliki keinginan tersendiri untuk menolak perintah tuannya, tubuhnya akan tergerak dengan sendirinya untuk menerima perintah.


Perintah apapun. Budak akan beruntung sekali jika mereka menerima perintah untuk melakukan pekerjaan rumah atau semacamnya. Tapi, bagaimana jika budak mendapat perintah untuk tidak menolak siksaan?


Maka... kehancuranlah yang akan melanda hati mereka.


Contohnya adalah gadis kecil ini.


Semenjak dia dibeli oleh saudagar kaya dari kota bagian Timur, dia terus menerus disiksa dengan bermacam-macam cara. Setiap hari, air matanya mengalir deras. Luka lebam di seluruh tubuhnya. Baju yang sudah tak layak pakai. Kotor dan robek di sana-sini. Padahal usianya masih belum genap 12 tahun. Tindakan semena-mena dari tuannya telah menghancurkan hatinya. Dia pikir hanya ada keputusasaan di depannya.


Suatu ketika, tersebarnya berita akan adanya duel pertarungan antara Marcus sang petualang rank S dengan petualang pemula yang baru saja datang ke kerajaan ini beberapa hari lalu, terdengar hingga kediaman saudagar kaya tersebut.


Gadis itu tak sengaja mendengar pembicaraan tuannya dengan pengawalnya bahwa tuannya akan pergi untuk menonton duel yang menjadi perbincangan hangat di seluruh kerajaan. Tentu saja tidak termasuk budaknya.


Dia berpikir memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur selagi tuannya pergi.


Dan saat saudagar itu pergi, dia pun melancarkan rencananya.


———————————


(Hee~ Benarkah?)


(Iya. Apapun yang terjadi, tak peduli dia dalam bahaya atau semacamnya, wajahnya tetap seperti itu! Tak berubah! Kau menyadarinya, kan, saat kau tatap matanya setajam apapun dia tetap seperti itu. Kadang itu membuatku kesal.)


(Fufufu~ Memang mengesalkan. Untuk pertama kalinya aku setuju denganmu, Erlia.)


Suara mereka ini....


Rasanya sangat aneh dibanding saat hanya Erlia saja di dalam tubuhku. Entah kenapa, aku merasa kepalaku seperti ada pasarnya. Mereka mengganggu istirahatku saja. Apa mereka lupa kalau aku masih terluka? Apalagi di titik vitalku, pemulihannya tak secepat luka biasa. Walaupun aku ini abadi, kalau terluka pun aku masih selayaknya manusia biasa. Berkat rasa sakit yang gila ini, aku tak bisa bangkit dari tidurku. Dan mereka berisik di kepalaku.


"Bisakah kalian diam? Gara-gara kalian berisik, kepalaku jadi sakit. Selain itu, kalian membuat dadaku berdenyut-denyut," celetukku sembari memandang kosong atap gelap di atasku.


(Maaf, maaf, Shiki. Tapi... bukannya kau bisa sihir penyembuh, ya? Erlia memberitahuku sebelumnya, kalau sihir penyembuhmu itu hebat.)


"Hahh... memang benar. Hanya saja...."


(??)


"Aku tidak bisa menyembuhkan organ dalam. Cara kerja sihir penyembuhku itu hanya berlaku pada luka luar. Meski Irie membantuku dengan sihir penyembuh miliknya, kurasa jantungku tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Memang ini terasa sangat menyakitkan, setidaknya aku mencoba untuk bertahan dan terbiasa dengan ini."


Cklek. Krieett....

__ADS_1


Aku langsung mengalihkan pandanganku begitu mendengar pintu ruangan ini dibuka seseorang dari luar. Dia adalah Irie. Dia membawa mangkuk di tangan kanannya dan segelas air di tangan satunya.


"Shiki, ini kubawakan makanan untukmu," ujarnya dengan senyum yang agak dipaksakan dengan wajah sedikit pucat.


Ah, benar. Setelah duelku kemarin, dia terkejut dengan lukaku yang tidak wajar. Kalau orang lain yang mendapatkannya pasti langsung mati di tempat. Namun, aku masih hidup dengan jantung yang sudah berlubang. Itu mengerikan, bukan? Aku juga berpikir seperti itu.


Dia yang melihatku begitu langsung shock, sampai sekarang. Irie yang merupakan manusia biasa tidak akan mudah untuk percaya hal ini. Dengan kata lain, dia menghindari kenyataan namun akhirnya tak bisa. Dan dipaksa menelannya bulat-bulat.


Jadi, beginilah keadaan dia.


"Tak perlu berpikir keras soal itu. Aku tahu kau menahannya selama ini. Kemarilah, keluarkan semuanya. Dengan begitu, aku jamin, kau akan baik-baik saja."


Dia yang mendengarkan perkataanku barusan langsung menjatuhkan makanan dan minuman yang dia bawa, berlari ke arahku lalu memelukku. Kemudian dia menangis keras.


"AAAaaaa...hiks...AaaaAAaa...hiks..hiks.. Aku takut! Hiks... Aku takut... Aku tidak bisa... memikirkan apapun... hiks.. Aku pikir kau mati! Tapi... tapi kau... Kenapa... hiks...."


"Kau sudah berjanji denganku sebelumnya, kan? Bahwa kau kularang memberitahukan orang lain soal diriku saat kau mengetahuinya."


"Um. Hiks...," angguknya.


"Kalau kubilang abadi, kau akan mempercayainya?"


Tak ada respon. Dia masih memelukku dalam diam. Tangisannya juga sudah berhenti. Pasti dia ragu untuk menjawabnya. Tak lama kemudian, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku. Masih ada sisa air matanya yang belum turun.


"Hah?"


"Ceritakan semuanya padaku!"


Oh, aku mengerti. Dia meminta penjelasan yang logis agar dia bisa menerima semuanya dengan tenang. Dengan kata "semuanya" itu cukup membuatku mengerti kalau dia ingin aku menceritakan soal diriku dengan detail. Tidak meninggalkan sisa yang akan membuatnya tak mengerti lagi.


"Baiklah, kalau kau memaksa. Akan tetapi, sebelum itu... bisakah kau menyingkir dariku? Aku tahu kau masih belum tenang, tapi kalau kau terus seperti ini, yang ada lukaku malah tambah parah. Karena kau **** dada kiriku dengan menekan tanganmu. Dan pelukanmu terlalu erat."


"Ah! Maaf!" kagetnya lalu melepas pelukannya.


Wajahnya bahkan memerah sampai ujung telinga. Selain itu, aku juga melihat ada sedikit asap yang keluar dari kepalanya.


Dia pun memposisikan diri dengan duduk di tepi ranjang tempat aku terbaring. Siap untuk mendengar hal yang mungkin sulit untuk dia percayai nanti. Tapi yang pasti, dia yakin akan percaya segala yang kukatakan padanya. Itulah yang kulihat darinya sebelum aku menceritakan dari awal penyebab diriku memiliki berbagai macam hal yang sulit untuk dia percayai dalam satu waktu.


——————————


"...Sampai saat itulah aku bertemu denganmu."


"A-aku masih sulit mempercayai apa yang terjadi padamu."


Dari awal sampai akhir mendengar ceritaku, dia menunjukkan ekspresi kagum, sedih, terkejut, senang, aneh, marah, dan lain sebagainya yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Sejak aku mulai mendengar di pertengahan ceritamu, aku sudah merasa heran. Kalau memang kemampuan bertarungmu bisa menyamai knight kerajaan, kenapa kau tidak melawan 3 orang brengsek itu? Dengan begitu, kau tidak akan mati dan terkirim ke dunia ini, kan?"


Dia sudah menggunakan kata itu. Kata kasar di duniaku. Apa karena kesalnya aku pada 3 berandalan brengsek tak tahu diri itu sampai menyebut kata itu tanpa sadar ketika kuceritakan padanya? Dan dia menyaringnya begitu saja tanpa tahu kalau kata itu kasar? Aku juga tak pernah mendengar kata itu di dunia ini. Dengan kata lain, tak ada kata kasar semacam itu di sini. Seperti zaman kuno.


"Bukannya aku tidak mau melawan mereka, tapi entah kenapa kebiasaan takut melukai orang masih melekat di hatiku. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku untuk menghajar mereka dan menerima serangan mereka begitu saja. Namun, saat dia berani menghunuskan pisaunya padaku, perasaan ingin membunuh keluar begitu saja. Hanya saja, kondisiku tidak memungkinkan untuk membalas mereka. Tapi aku puas dapat menghentikan aksi mereka selamanya."


Begitu mendengar alasanku dari pertanyaannya, dia tersenyum padaku. Aku ingin membalas senyuman tulusnya, tapi bibirku sama sekali tak tergerak sesuai keinginanku saat ini. Kenapa tidak bisa? Bukankah sebelumnya sudah kulakukan 3 kali dengan mudah pada mereka?


"Aku tahu dari nada bicaramu tadi kalau kau sebenarnya sekarang senang sekali menceritakan itu. Kuyakin kalau kau tersenyum, mungkin akan terlihat lebih sempurna. Tapi yang kulihat, wajahmu terasa kosong. Bagai tanpa emosi."


Tanpa... EMOSI?!


Yah, entah mengapa aku merasa belakangan ini aku tak pernah tersenyum atau yang lainnya. Saat aku seharusnya marah, yang keluar hanya wajah biasa saja. Semua terjadi ketika seharusnya emosi seseorang tampak. Tapi seperti yang Erlia katakan sebelumnya, wajahku datar dan mataku seperti mata ikan mati. Lalu Irie mengatakannya barusan, bagai tanpa emosi.


"Mau kemana kau, hah?!"


Tiba-tiba, terdengar suara seorang pria yang sedang memarahi seseorang di luar.


"Tidak!! Aku tidak mau kembali ke neraka itu lagi!! Lepaskan aku! Tolong! Siapapun tolong aku!!"


Dan diikuti dengan suara gadis kecil yang terdengar ketakutan.


Suara mereka kurasa tak jauh dari sini. Di depan, kah....


Aku langsung bangkit duduk dari semula aku berbaring. Tapi yang kudapat, aku tercekat dengan rasa sakit menyengat di jantungku hingga membuatku batuk darah.


"Apa yang kau lakukan?! Luka dalammu masih belum pulih!" bentak Irie yang mencegahku untuk melakukan pergerakan lebih lanjut.


"Kau dengar itu?" tanyaku dengan suara sesak akibat masih merasakan sakit di jantungku.


"'Dengar' apa maksud-!"


"Aku tidak mau!! LEPASKAN!! KYAAA!...."


Pertanyaan Irie terpotong karena teriakan dari gadis kecil yang sebelumnya kudengar. Dia menunjukkan keterkejutannya sejenak. Namun kemudian berubah serius.


"Biar aku saja. Kau berbaringlah dulu sampai lukamu pulih. Oke?" ujarnya sambil melemparkan senyum dan mengacungkan jempol.


"Tidak, ajak aku. Aku memaksa."


Kukira dia akan langsung menolak dan melenggang pergi begitu saja. Ternyata dia terdiam melongo dengan respon terakhir 'Huh?'.


Namun akhirnya Irie mau membopongku sampai ke pintu keluar penginapan untuk melihat apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dan yang kami lihat di jalan tepat di depan kami merupakan bukti adanya suatu hal normal di dunia ini yang dinamakan....


"Perbudakan"

__ADS_1


__ADS_2