
Aku mengedipkan mataku beberapa kali setelah terbangun dari kegelapan yang kutakutkan akan menelanku selamanya. Sepanjang mata memandang, di sini aku hanya melihat kekosongan. Aku merasa tidak asing dengan tempat ini. Kurasa dibilang tempat juga tidak benar. Tak ada dinding di mana pun aku menengokkan kepalaku. Dan aku tak merasakan sedang menapak di tanah atau semacamnya. Bisa dibilang aku dalam keadaan melayang dengan berdiri di lantai tak terlihat. Warna keseluruhannya putih, tak ada warna lain yang menghiasinya.
Sudah kuduga, ini sebuah dimensi buatan yang tak sempurna.
Dan aku tahu siapa pemilik dimensi putih ini.
"Erlia, aku tahu kau di sini."
Merespon perkataanku tadi, seorang gadis berambut putih panjang dengan manik hitamnya dan gaun putih selutut yang dipakainya, muncul dengan angin puyuh kecil yang mengitari tubuhnya sebagai pembukaan dalam pertunjukan.
"Kelihatannya, secara tak terduga kita bertemu lagi, Master," ucapnya dengan nada halus sembari mengembangkan senyum kecilnya yang terlihat manis, menurutku.
"Yah, sepertinya begitu. Tapi, apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sakit begitu tiba di depan gua itu?"
"Sebenarnya, aku juga tidak mengerti, Master. Seharusnya Master tidak merasa tersiksa seperti itu saat beresonansi dengan roh."
"Roh? Maksudmu... ada roh lain di dalam gua itu?"
Alih-alih menjawab, dia menganggukkan kepalanya satu kali.
"Bukan roh biasa, tapi salah satu roh suci."
"Berarti, dia sama sepertimu. Lalu... soal 'Vivera' yang kau sebutkan sebelumnya itu, sebenarnya siapa?"
"Vivera Listhe Serenia. Roh suci yang sama sepertiku. Dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Termasuk dua lainnya."
Dia berhenti sejenak dan mengganti wajah seriusnya tadi dengan senyum kecil.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita lanjutkan saja di luar? Irie pasti menunggumu dengan khawatir."
Bersamaan dengan itu, dia pun menjentikkan jarinya dan keadaan di sini mulai berubah gelap kembali seperti sebelumnya.
Disaat aku membuka mataku, seorang gadis berambut sebahu yang seirama dengan mata merah mudanya menatapku dengan cemas. Aku bangkit untuk segera meminta penjelasan dari Erlia mengenai gua misterius itu.
Tunggu, sepertinya dadaku tidak terasa sakit lagi.
Tapi, setelah mengedarkan pandanganku pada lingkungan sekitar, ternyata aku tidak lagi berada dekat dengan gua. Melihat suasana di sini yang masih tetap sama ditambah adanya pepohonan, aku yakin saat ini aku masih di dalam hutan.
"Apa kau yang-"
"Ya, aku menyeretmu ke sini untuk menjauhkanmu dari gua itu," potongnya sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku. Tapi baguslah meski tidak selesai sekalipun dia menjawabnya sesuai yang kuharapkan. Hanya saja....
"Menyeret?"
Dia mengangguk dengan wajah takut.
"Bukankah wajar kalau aku tidak bisa mengangkat tubuhmu karena aku perempuan?"
Hmm, begitu.
Yah, itu wajar. Fisik perempuan memang lebih lemah jika dibandingkan dengan laki-laki. Namun tidak selalu perempuan itu lemah. Bisa jadi perempuan itu lebih kuat daripada laki-laki, bukan?
Terutama kalau berhubungan dengan emosi. Perempuan kalau marah tidak bisa diredakan begitu saja. Perlu proses yang panjang untuk membuatnya tenang. Apalagi jika sifatnya yang sudah dari lahir memang pemarah.
Selain itu, perempuan juga lebih kuat hatinya alias penyabar.
Jadi, aku tidak heran jika Irie menyeretku.
"Lalu, apa yang membuatmu harus menjauhkanku dari gua itu?" tanyaku sembari mengulurkan tanganku dan membantunya berdiri.
__ADS_1
"Melihatmu yang tiba-tiba kesakitan begitu saat di dekat gua, aku jadi berpikir untuk menjauhkanmu. Siapa tahu kalau kau di dekat gua itu kau bisa kesakitan lagi seperti tadi."
"Masuk akal juga."
Kalau aku jadi dirinya, mungkin aku akan lakukan hal yang sama.
Dan juga, aku butuh penjelasan mengenai semua ini.
Kulangkahkan kakiku mendekat ke arah gua misterius itu lagi. Namun, baru selangkah, Irie menarik pergelangan tangan kananku. Akibatnya, aku terpaksa berhenti dan mencari tahu mengapa dia menghentikanku.
"Tunggu dulu. Apa yang kau pikirkan?" tanyanya khawatir.
"Hanya ingin tahu," jawabku seraya melepaskan tanganku darinya lalu meninggalkannya yang masih terbengong.
"Hah? Apa maksudnya?"
----------
"Erlia, jelaskan padaku, semuanya."
Gua yang dililit rantai emas dan tanaman merambat bermacam warna itu sudah di depan mataku. Tak hanya itu, sakit di dadaku yang sebelumnya tidak terasa kembali. Harusnya aku bersyukur tidak merasakannya lagi. Karena rasa sakitnya bisa membuatku gila walaupun aku tidak bisa mati gara-gara hal itu.
Aku memang sudah tahu kalau Erlia termasuk dalam 4 roh suci. Namun aku sendiri belum mengetahui 4 roh suci itu apa.
"Master tahu kan, aku adalah roh suci? Sebenarnya, roh yang sekarang berada di dalam gua itu juga termasuk roh suci seperti diriku. Dan 4 roh suci itu berbeda-beda. Aku, roh suci yang telah Master kontrak sekaligus pelindung Kerajaan Alfreiden, merupakan roh khusus yang telah ditugaskan untuk melindungi apa yang para dewa anggap baik. Oleh karena itu, aku disebut sebagai roh pelindung. Sedangkan roh di dalam gua itu, Vivera Listhe Serenia, merupakan roh khusus yang ditugaskan untuk mengikat atau menyegel yang para dewa anggap eksistensi ancaman. Dia disebut sebagai, roh pengikat," jelasnya lewat telepati.
"Lalu, rantai emas itu... adalah perbuatannya?"
"Tepat. Meskipun sebelumnya masih berwarna perak."
Masih? Mungkinkah yang dia maksud itu....
"Benar. Semua roh suci seperti kami bisa berevolusi guna meningkatkan keefektifan dari tugas utama kami. Contoh lainnya adalah aku. Akar penghubung di Arcore itu merupakan bentuk evolusiku. Dengan bantuan dari akar itu aku dapat menyalurkan energi pelindung luar kerajaan ke tanah, dengan begitu aku bisa melindungi kerajaan dari serangan bawah tanah."
"Bisa disimpulkan kalau kerajaan Alfreiden berada di dalam sebuah bola. Memang secara logika itu akan efektif. Serangan dari manapun tidak akan mengenai bagian dalam kerajaan. Tapi konsekuensinya kau harus menetap di akar penghubung itu. Dan sekarang kau sudah keluar dari sana. Kini kerajaan Alfreiden tidak memiliki pertahanan sekuat dirimu."
Kalau sekarang kerajaan itu tidak memiliki pertahanan kuat seperti Erlia, lalu bagaimana mereka bertahan dari kemungkinan adanya invasi kerajaan lain?
"Master tidak perlu khawatir mengenai nasib kerajaan Alfreiden. Kerajaan lain tidak akan menyerang selama aku tidak ada di sana. Karena akulah penyebab invasi yang kerajaan lain lakukan. Mereka semua memperebutkanku untuk memanfaatkanku sebagai dinding pelindung. Ah! Aku ingat sesuatu!"
"Hm?"
"Coba Master sentuhkan tangan Master pada rantai emas itu. Entah akan berhasil atau tidak. Tapi sebelumnya bisa dengan Master. Seharusnya berhasil."
Aku mendekat dan melakukan sesuai dengan yang dia katakan.
Ketika salah satu rantai emas yang dekat dengan lubang gua kusentuh, saat itu juga suatu getaran aneh kurasakan pada jariku yang menyentuhnya. Seperti energi listrik menyetrumku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Bersamaan dengan itu, tanganku terlepas seolah ada penolakan dari rantai emas itu.
Namun, sebelum kuutarakan pertanyaanku sebab penolakan itu, kesadaranku kembali ditarik seperti yang terjadi padaku dengan Erlia sebelumnya di Arcore.
----------
Krincing. Cring. Criring.
Suara apa itu?
Tangan dan kakiku terasa dingin. Tekanan ini seperti besi. Tubuhku rasanya ditarik gravitasi seperti di dunia pada umumnya. Hanya saja, kakiku tidak merasakan adanya lantai atau tanah di bawahku. Rasanya bagai tersangkut di atas lubang jurang yang dalam.
Kubuka mataku untuk melihat apa yang sebenarnya kurasakan ini.
__ADS_1
Gelap. Meskipun aku berusaha untuk menajamkan pandanganku, hanya kesia-siaan yang kudapatkan. Walau mataku kini terbuka, tetap saja seperti ada lapisan lagi di mataku yang membuatku tak bisa melihat lebih lagi.
Cring. Krincriring.
Suara itu terdengar lagi begitu kugerakkan sedikit tubuhku. Suara yang familiar. Aku memang pernah mendengar suara semacam ini di film-film maupun anime bergenre fantasi. Mereka menyebut benda ini 'rantai'. Suaranya sama. Walau aku tidak pernah memegangnya, aku yakin dengan mendengar suaranya saja ini adalah rantai.
"Siapa kau?! Beraninya menodai tempatku dengan tangan kotormu itu!"
Tiba-tiba, suara seorang gadis terdengar hampir memecahkan gendang telingaku. Sepertinya dia marah. Apa maksudnya menodai tempatnya dengan tangan kotor? Mungkinkah dia membicarakanku?
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Siapa kau sebenarnya? Tunjukkan wujudmu."
Seakan merespon ucapanku, sesosok bayangan yang lebih gelap dari tempat ini menampakkan dirinya tak jauh di depanku.
Bagaikan terhempas angin kencang, seluruh tempat gelap ini berubah menjadi ruangan putih. Menampakkan seorang gadis berambut ungu sepanjang tengkuk lehernya dengan rambut di depan telinga sedikit lebih panjang dari rambut belakangnya. Selain itu, ada tambahan rambut seperti tanaman layu di atas kepalanya memanjang ke dahi. (Seperti di anime 'Ch**nibyou d*mo k*i ga sh*tai)
Mata ungu gelapnya menatapku tajam. Seakan tak ingin melepas pandangannya dariku. Gaun hitam berenda selutut dan sebuah... payung hitam?
"Walaupun sudah kutatap seperti ini, kau tetap tak bergeming. Biasanya orang lain akan ketakutan jika kutatap begini. Yah, tapi aku tak pernah pergi keluar dengan wujud manusiaku. Kau pasti pengontrak Erlia, kan?" Dia tetap menatapku sambil memutar-mutar payungnya yang dia sandarkan di bahunya dalam keadaan terbuka.
"'Bagaimana kau tahu?' Kurasa pertanyaan itu terlalu klise. Akan kuubah pertanyaanku. Apakah kau roh yang bernama 'Vivera' itu? Roh yang sekarang mendiami sebuah gua misterius dengan rantai emas di sekelilingnya?"
"Hoo~ Erlia yang memberitahumu? Tapi tidak aneh juga dia memberitahumu semuanya," ucapnya dengan menyunggingkan senyum sinis.
"Kau salah paham. Meskipun dia selama ini 'hidup' di dalam diriku, dia tak memberitahuku segalanya. Aku hanya tahu kalau dia itu roh pelindung dan kau adalah roh pengikat yang telah diberikan tugas utama sesuai gelar kalian oleh dewa."
"Hmm... begitu." Dia menampakkan raut kekecewaan. "Aku tidak tahu kau ini sebenarnya apa sampai membuat roh kuat seperti Erlia mau berkontrak denganmu. Yang pasti, kekuatan gelap yang tersembunyi dalam dirimu itu cukup mengancam. Kalau sampai kekuatan itu keluar, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi aku yakin, kehancuranlah yang akan datang. Erlia sudah menyegel sebagian besar kekuatanmu bersama kekuatan gelap itu-"
"Tunggu. Apa yang kau maksud kekuatan gelap di dalam diriku?"
Ya, benar. Aku tidak pernah tahu soal kekuatan gelap itu dari siapapun. Bahkan Erlia tidak pernah memberitahuku atau menjelaskannya soal itu. Kekuatanku sendiri itu saja sudah cukup mencengangkanku. Lalu, apa sebenarnya kekuatan gelap itu?
"Aku juga tidak tahu. Erlia pastinya tidak tahu mengenai hal ini, maka dari itu dia tak memberitahumu karena tidak yakin darimana kekuatan itu berasal. Bagaimana kalau aku membuat kontrak denganmu?"
"Apakah itu memungkinkan? Satu roh suci seperti kalian saja sulit membuat kontrak dengan manusia biasa, bukan? Ini merupakan keajaiban aku bisa membuat kontrak dengan salah satu dari kalian."
"Sebenarnya, sebelum dirimu ada 4 orang yang membuat kontrak dengan masing-masing dari kami. Memang kekuatan mereka diatas manusia pada umumya. Tapi berbeda kasus dengan dirimu. Tak mustahil kau berkontrak dengan kami semua. Namun, aku tidak yakin kau bisa menampung kekuatan kami di tubuhmu."
"Jadi, ini hanya masalah tubuhku mampu atau tidak, kah...."
"Benar. Demi menyegel sesuatu yang lain itu...," gumamnya yang tidak cukup untuk kudengar dengan jelas.
"Apa yang kau bilang barusan?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Pokoknya, kita harus berkontrak sekarang."
"Yah, kurasa tidak ada salahnya kalau katamu begitu. Baiklah."
Dia mengangkat tangan kanannya ke depan, sejajar bahu, ke arahku. Seketika itu, rantai besi yang sebelumnya mengikat tangan dan kakiku pun terlepas lalu menghilang.
"Kemarilah, sejajarkan tanganmu dan satukan dengan tanganku. Seperti ini."
Aku berjalan mendekatinya dan mengangkat tangan kiriku untuk menyejajarkan dengan tangan kanannya.
Hm? Apa karena dia loli, tangannya lebih kecil dariku, ya?
Saat tangannya menyatu dengan tanganku, ada semacam gelombang sonic kecil di antara kami. Ketika mulutnya berkomat-kamit mengucapkan mantra yang tidak bisa kumengerti, lingkaran sihir emas muncul di bawah kami, terus melebar sampai berukuran 3 meter.
Bersamaan dengan tangan kami yang terpisah, suatu energi yang cukup besar, merasuk ke dalam tubuhku.
__ADS_1
Perasaan hangat dan sedikit sakit. Tapi aku mengabaikannya karena hanya sebentar. Setelah itu, ruang putih ini menghilang dari pandanganku yang menggelap.