Alfreiden Core

Alfreiden Core
Core 04 - [Kekuatan Yang Tak Seharusnya Bangkit]


__ADS_3

Hari dimana aku tidak ingin mengalaminya lagi, itu mengingatkanku akan kematianku sebelumnya hanya karena 3 orang berandalan meminta uang. Mungkin lebih tepatnya merampas. Aku benar-benar tidak habis pikir bisa mati ditangan orang semacam itu.


Tapi takdirku tak hanya sebatas itu. Entah kenapa takdirku seolah ditambah dan lebih buruk dari sebelumnya.


Namun pemikiran itu ditepis oleh perasaan aneh yang menyelimutiku sejak penyerangan itu. Perasaan ingin melindungi yang penting bagiku itu mulai muncul dan memutar pikiranku 180 derajat.


Tidak seperti sebelumnya yang hanya mengikuti arus dan menyerah pada takdir yang akan membawaku.


Aku ingin kuat..


Agar bisa melindungi siapapun yang kuanggap penting bagiku.


Aku tidak peduli jika harus menjual jiwaku pada iblis.


Hanya seorang wanita yang merubahku.


Anna.


Sejak pertama kali melihat wajahnya, mendengar suaranya, menyentuh kulitnya yang lembut dan sehalus sutra, perasaan aneh mengumpul dalam hatiku. Apakah aku jatuh cinta?


Pertanyaan pertama akan keraguanku. Awalnya aku ragu, namun hari ini untuk kesekian kalinya melihat wajahnya dan mendengarnya berbicara membuatku yakin...


Aku mencintainya...


Bukan karena dia seorang Putri kerajaan besar. Tapi sebagai lawan jenis yang tak pandang status ataupun pangkat.


Mungkin itulah yang mengerakkan kakiku untuk melindunginya dari orang yang ingin melukainya.


"Ano... Shiki...-kun?"


Suara lembutnya menyadarkanku dari lamunan.


"Kenapa?"


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu memerah lho...."


"...eh? Benarka-"


Tiba-tiba suara pintu diketuk memotong pertanyaanku.


Sosok gadis rambut panjang karamel memakai armor perak membuka pintu dan memasuki ruangan dengan sedikit tergesa-gesa.


"Anna, akhirnya penjahat itu buka mulut. Dia mengatakan bahwa kelom...pok-- Shiki?"


Dia membelalakkan matanya dan menatapku dengan tatapan terkejut. Tak lama dia mulai melebarkan senyumnya dengan raut wajah senang.


"Ugh!"


Langsung saja tanpa memperhatikan sekitar dia melompat dan memeluk tubuhku yang masih terbaring di kasur. Dia melingkarkan kedua lengannya di leherku dan menekan tubuhnya seakan tak ingin melepasku.


"Shiki! Kau sudah sadar!"


"Arelia?"


"Aku mencemaskanmu, Shiki!"


"Iya, maaf sudah membuatmu cemas tapi... kalau begini terus kau bisa membunuhku, Arelia," ucapku dengan suara sesak.


"Ah.. maaf.."


Arelia melepas pelukannya dan berdiri kembali ke posisi sebelumnya. Wajahnya pun terlihat memerah, bahkan semerah tomat matang.


Hening. Tak ada yang mulai pembicaraan. Suasana canggung apa ini?!


"Arelia."


Wajahnya yang sebelumnya merah kini kembali tersadar setelah mendengar panggilanku yang memulai pembicaraan untuk memecah keheningan sekaligus kecanggungan. Alih-alih menjawab dia hanya menoleh dan menatapku dengan wajah polosnya.


"Kau... pandai berpedang ,kan? Aku melihatmu membunuh monster itu sekali tebas. Kalau manusia biasa yang hanya bisa memegang pedang saja tidak akan bisa menebasnya sekali untuk membunuhnya. Aku yakin untuk membunuh monster sebesar itu butuh usaha besar untuk membunuhnya. Dan kau dengan mudah melakukannya bahkan hanya sendirian."


"Hah.. Shiki, menurutmu kenapa aku bisa menjadi pengawal pribadi Anna? Kau pasti tahu kan, butuh lebih dari sekedar seorang ahli berpedang untuk menjaga Putri Kerajaan dari ancaman pembunuh."


Aku lupa itu. Kurasa dengan banyaknya informasi yang dijejalkan ke otakku telah menjadikanku pelupa.


"Arelia, selain berpedang, apa kau bisa sihir?"


"Aku bisa. Tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Sudah kuduga," gumamku sembari menyunggingkan senyum tipis dengan kepala menunduk.


"Hm? Kau mengatakan sesuatu?"


"Arelia, maukah kau mengajariku sihir?"


"....eh?"


----------


"Kau yakin benar itu dia?"


Di suatu ruangan gelap yang hanya diselingi cahaya lilin di meja, seorang gadis berambut panjang merah darah ponytail dengan bibir merah mudanya tengah memasang seringai lebar seakan menemukan mangsa yang telah lama diincarnya.

__ADS_1


"Apa perlu aku meyakinkanmu?"


Di sampingnya berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi memakai jubah hitam dengan hoodie yang menutupi kepalanya hingga setengah wajahnya menyunggingkan seringai yang tak jauh beda dengan gadis yang duduk di depan meja itu.


"Mendengar itu darimu kurasa tak perlu lagi aku meragukanmu, Nino. Kalau begitu, awasi dia. Jangan sampai ada yang mendapatkannya. Bunuh siapapun yang mengincarnya. Sampai waktunya tiba, kita akan mengajaknya untuk bergabung dengan kita. Kalau bisa dengan cara paksa kita akan mendapatkannya. Kau mengerti?" ucap sang gadis.


"Kupastikan tak ada yang akan menghalangi. Sebaiknya persiapkan dirimu sebelum dia tiba, Maya," ucap lelaki yang bernama Nino sebelum menghilang di balik kegelapan.


"Tentu saja aku sudah siap. Sampai waktunya tiba, tunggulah aku... Pangeranku."


----------


Lapangan luas melingkar yang dikelilingi bangku yang dibuat untuk penonton dan batas luar dengan tembok tebal nan tinggi. Mirip dengan Colosseum hanya saja ukurannya 2 kali lebih besar. Tempat yang sering disebut Arena. Dengan letaknya yang tepat di tengah-tengah kota dalam wilayah Kerajaan Alfreiden sering digunakan sebagai pelaksanaan turnamen antar kerajaan maupun 5 negara.


Dalam Arena, berdiri dua orang yang saling berhadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Lelaki dan perempuan.


Sang gadis memakai armor perak dengan ukiran indah disertai rok putih selutut membawa pedang bergagang emas berbilah putih bersih di tangan kanan. Rambut lurus karamel sepanjang lutut diikat kebelakang agar tak mengganggu pergerakan. Kulit putih mulus merona ditambah mata yang berwarna sama dengan rambutnya.


Di depannya, pemuda tanpa perlengkapan armor atau apapun yang hanya memakai kaos hitam polos di balik jaket hoodie ungu tua dan celana hitam. Rambut hitam kelam dengan mata sayu dan tajam berpupil ungu cerah. Membawa pedang perak biasa di tangan kanannya.


Yang tak lain keduanya adalah Arelia dan Shiki.


"Kau belum mengatakan alasanmu melakukan ini, Arelia. Bukankah aku memintamu mengajariku sihir? Sebelumnya kau menerimanya, apa sekarang kau berubah pikiran sehingga menyuruhku bertarung denganmu," ucap Shiki dengan wajah datar.


Arelia mengibaskan pedangnya lalu mengangkatnya ke depan sejajar dada dengan satu tangan.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," ucap Arelia sambil tersenyum simpul.


"Apa itu?"


"Kau akan tahu jawabannya."


Setelah mengatakan itu Arelia menghentakkan kakinya dan melesat mengarahkan pedangnya ke samping lalu menebas ke kepala Shiki secara horizontal. Shiki sedikit merendahkan tubuhnya dan berhasil menghindari serangan mematikan tadi yang sempat memotong ujung beberapa helai rambutnya.


Seolah tak memberikan kesempatan menyerang balik, Arelia kembali menyerang Shiki dengan mengayunkan pedangnya secara vertikal seakan ingin membelah tubuhnya menjadi dua. Dengan gerakan halus dan minimalis Shiki menghindarinya dengan berkelak ke kanan. Alhasil, pedang Arelia langsung menghantam lantai Arena tempat Shiki sebelumnya berdiri menghancurkannya dan menyisakan lubang kecil penuh serpihan lantai.


"Itu berbahaya," ucap Shiki datar memandang lubang dari serangan yang jika tidak menghindarinya maka hanya akan menyisakan tubuh terbelah yang tak bernyawa.


"Arelia," Shiki melirik Arelia di depannya yang sekarang berhenti menyerang dan kembali memegang pedang tersebut sejajar dada yang di arahkannya kepada Shiki. "..kau tak berniat membunuhku, kan? Katakan kalau pikiranku salah."


"Tenang saja, Shiki. Aku tak berniat seperti itu. Lagipula kau menghindarinya dengan mudah, bukan? Aku salah?" ucap Arelia dengan sedikit penekanan pada dua kalimat akhir.


"Tidak, kau benar. Sebenarnya ini kecepatan normalku di duniaku sebelumnya."


"Jadi benar kau bukan asli dari dunia ini." Arelia melepas kuda-kudanya dan berdiri dengan menurunkan pedangnya.


"Sudah kuduga kau mengetahuinya. Biar kutebak, kau tahu dari pakaianku. Aku salah?"


Shiki mendesah berat. Aku tak bisa berkomentar.


"Jadi, kau mau lanjut?" ajak Shiki.


Arelia yang sebelumnya wajahnya sempat memerah kini menatap Shiki dengan serius disertai seringai kecil.


"Tak ada kata 'tidak' menghadapimu, Shiki."


Arelia kembali mengayunkan pedangnya berkali-kali dan Shiki menghindar dan menangkis serangan bertubi-tubi tersebut dengan gerakan halus seperti sebelumnya. Keduanya bergerak dengan kecepatan di luar batas normal mengingat mereka hanyalah manusia biasa. Mungkin.


Akibat pertarungan mereka, Arena sepenuhnya dipenuhi goresan, retakan dan lubang yang cukup besar. Seakan Arena tersebut bisa hancur kapan saja.


Percikan bunga api yang berasal dari dua pedang yang beradu terlihat di berbagai tempat di sepanjang Arena. Gerakan mereka bahkan tak bisa dilihat dengan hanya mata telanjang.


Di tengah-tengah pertarungan, mereka bahkan sempat berbincang-bincang seolah pertarungan mereka hanyalah penghibur diri.


"Dengan kecepatanmu ini seharusnya kau bisa menghindari serangannya, bukan menerimanya."


"Kau benar. Hanya saja saat itu aku tak bisa memikirkan apapun karena kejadian itu terlalu mendadak dan membuatku tak bisa berpikir panjang. Yang kupikirkan saat itu hanyalah untuk menyelamatkan Anna."


"Kau aneh, Shiki."


"Bagian mana dari diriku yang bisa membuatmu berpikir aku aneh?"


"Tak ada. Aku hanya berpikir kau aneh, itu saja."


"Dengan kata lain, kau menyebutku aneh itu tanpa alasan. Bukankah karena itu kau yang seharusnya aneh, Arelia?"


"Umph... Ahahahaha!...."


Mendengar pernyataan Shiki akhirnya membuat Arelia tertawa lepas dan berhenti di tengah Arena.


"Aku tidak mengerti ucapanku yang mana hingga membuatmu tertawa seperti itu. Pikiranku soal kau wanita terhormat hancur begitu saja."


Arelia memegangi perutnya yang sakit akibat tawanya yang tak terhentikan. Beberapa lama kemudian Arelia bisa menghentikan tawanya.


"Kau ingin tahu alasan aku beradu pedang denganmu? Sebenarnya jawabannya cukup sederhana. Aku hanya ingin menge-tes kecepatanmu. Itu saja."


"Seharusnya kau tidak perlu menggunakan pedang untuk menge-tes kecepatanku, bukan? Kau hanya perlu mengejarku dengan kecepatanmu."


"Kau benar. Tapi aku menggunakan pedang dan bertarung denganmu itu untuk menambah keseruan saja."


"...."

__ADS_1


Sekali lagi, Shiki hanya terdiam mendengar alasan dari Arelia. Aku tak bisa berkata apa-apa.


Arelia menyarungkan pedangnya dan memperhatikan sekitar. Sesekali matanya melebar begitu melihat kerusakan yang mereka sebabkan. Setelah puas matanya berkeliling, dia kembali mencuri pandang ke arah Shiki.


"Aku tidak menyangka bertarung denganmu meskipun hanya sebentar sudah menghasilkan kerusakan diluar perkiraanku."


"Memangnya kenapa dengan itu? Kau masih belum puas?" tanya Shiki dengan nada mengintimidasi.


"Mouu..." Arelia menggembungkan pipinya karena kesal. "Shiki bodoh!"


Entah mengapa aku merasa deja vu. Dimana kira-kira aku pernah mendengarnya?


Itulah yang Shiki pikirkan.


"Ne, Shiki...." Wajah Arelia kembali seperti semula. "Dari mana kau belajar ilmu seni pedang?"


"Kenapa kau menanyakannya?"


"Tidak... Aku merasa pernah melihat gaya berpedang sepertimu. Perasaan itu juga sama."


"Kakekku," jawab Shiki tiba-tiba.


"Hah?" tanya Arelia meminta pengulangan.


"Aku belajar dari kakekku. Perasaan apa yang kau maksud?"


"Perasaan takut menghadapimu," jawab Arelia dengan kepala menunduk dan gelisah.


"Tapi kau tak terlihat takut sama sekali sepanjang pertarungan."


"Itu karena aku menyembunyikannya! Kau tidak tahu apa yang kurasakan saat melawanmu dari awal sampai sekarang aku masih merasakan tekanan itu."


"Kau benar, aku memang tidak tahu yang kau rasakan. Jadi jangan berharap aku akan mengerti."


Arelia sempat kesal mendengar ucapan yang Shiki lontarkan padanya.


"Baiklah, lupakan itu. Sekarang, kau sebaiknya tak lupa tujuan kita kemari, bukan?"


"Tujuan? Apa?" tanya Arelia dengan wajah polos.


Shiki yang sudah menduganya hanya bisa mendesah berat karenanya.


"Latihan sihir. Aku tak menyangka kau dengan mudahnya melupakan tujuan kita sebenarnya karena terlalu menikmati pertarungan."


Seperti baru mendapat pencerahan, Arelia tersenyum dan mendekat pada Shiki.


"Kau benar. Jadi, Shiki, ada yang ingin kubicarakan padamu."


"Apa itu?" Seperti biasa Shiki hanya meresponnya dengan datar.


"Sebenarnya... aku menyesal mengatakan ini tapi... aku tak merasakan adanya mana dalam dirimu," ucap Arelia dengan raut wajah kecewa.


"Shiki, aku lupa mengatakan satu hal lagi padamu."


Tiba-tiba suara seorang gadis terdengar dalam pikiran Shiki. Suara yang menurutnya ia kenal.


(Erlia?)


Tidak seperti sebelumnya, kini Shiki berbicara pada Erlia dengan pikirannya. Bisa dibilang telepati. Dia tidak ingin dianggap gila karena berbicara sendiri.


"Sebenarnya aku mengunci mana-mu untuk menyembunyikannya. Kau ingat monster yang hampir membunuhmu waktu itu, kan? Jika aku tidak mengunci mana-mu dari awal, aku yakin banyak monster yang lebih kuat dan para iblis akan mengincarmu dan membunuhmu."


(Kau bisa menguncinya seharusnya kau juga bisa melepasnya.)


"Shiki, maksudmu..."


(Aa, aku ingin kau melepasnya sekarang.)


"Tapi..."


(Lakukan saja, Erlia. Percayakan padaku. Kau pernah bilang kalau mana ku besar, bukan? Setidaknya untuk mencegah kegencaran akibat mana-ku, lepaskan setengahnya saja. Sisanya kau kunci.)


"Ehmm... apa kau yakin? Walaupun hanya setengahnya mana mu itu terlalu..."


(Aku yakin. Jadi lakukan sekarang, Erlia.)


"Baiklah, my master."


Master? Apa aku tidak salah dengar?


Itulah yang sempat terlintas dalam benak Shiki setelah mengakhiri percakapannya dengan Erlia.


Setelah itu, Shiki mulai menutup matanya.


----------


Seorang gadis tengah berdiri di sebuah ruangan putih tanpa batas dinding. Jika tanpa dinding maka bukan disebut ruangan tapi dimensi.


Beberapa pola yang disebut rune membentuk sebuah lingkaran sihir merah di bawah kakinya. Rambut putih panjang yang terurai, berkibar akibat angin di bawah kakinya yang muncul dari lingkaran sihir tersebut. Mata hitamnya mulai berubah warna menjadi merah darah yang diselingi 2 lingkaran besar diluar dan kecil di dalamnya yang berwarna hitam di tengah pupil matanya.


"Sesuai kehendakmu. Aku akan melepas setengah kekuatanmu dan menyegel setengah kekuatanmu yang lain. Aku harap, kekuatan gelapmu juga tidak muncul, Shiki," gumamnya sebelum akhirnya lingkaran sihir merah memancarkan cahaya merah terang dan berputar seperti rotasi bumi dan bulan.

__ADS_1


__ADS_2