
Pantulan sinar mentari membentur langit serta awan menjadi jingga kemerahan. Nyanyian burung berangsur-angsur menghilang digantikan suara serangga malam.
Angin yang semula kencang kini mulai menyapu pelan dedaunan pohon rindang. Hewan-hewan pulang ke rumah mereka untuk berlindung dari binatang buas dan nokturnal.
Matahari menipiskan cahayanya, bersembunyi di balik belahan dunia, menggantikan siang menjadi malam.
Pemandangan senja yang hampir pudar ini memang indah dilihat dari ujung tebing di hutan. Tapi jika berdiam diri di sini, monster mungkin akan menjatuhkanku ke bawah sana.
"Oi, Shiki! Apa yang kau lakukan di sana?! Jangan diam saja! Setidaknya bantulah kami!"
Teriakan seseorang di balik suara dentingan pedang dan benda tajam beradu memasuki telingaku. Segera saja kulirikkan mataku ke belakang guna memeriksa apa yang dilakukannya sampai meneriakiku seperti itu. Namun yang kulihat, dia sepertinya tak butuh bantuanku sama sekali. Malahan musuhnya yang kesulitan menghadapi benturan berat dari pedang miliknya. Apalagi dengan serangan bertubi-tubi dan terkesan brutal khas dirinya. Bisa dibilang, tak lama lagi musuhnya bakal tumbang.
"Kurasa tak perlu, Marcus. Ogre itu saja sudah kuwalahan menghadapimu. Lagipula sebentar lagi dia mati karena serangan brutalmu itu," balasku.
"Iya, aku tahu itu."
"Kalau memang sudah tahu, kenapa kau mengajakku?"
"Diamlah! Bukan itu maksudku! Kau tahu sendiri, kan, ogre yang muncul tidak hanya satu, melainkan tiga! Bagaimana kalau dua ogre lainnya menyerang gadis-gadis itu?!"
Dia tidak sadar, kah.
Sepertinya dia terlalu sibuk dengan lawannya sampai tidak memperhatikan sekitar. Memang fokus diperlukan dalam bertarung. Tapi, terlalu fokus kepada lawan di depan saja bisa meregang nyawamu dengan mudah. Bukan lawan di depanmu yang melakukannya. Namun, apapun di sekitarmu dapat melakukannya. Jadi, fokus pada sekitar juga diperlukan dalam bertarung.
Sudah bertahun-tahun dia belajar teknik bertarung, tapi tak ada kemajuan dalam hal dasar semacam itu. Benar-benar konyol. Lalu, rank S itu dia dapat dari mana? Suap?
"Itu sudah kubereskan. Kau tidak perlu khawatir. Yang harus kau lakukan saat ini adalah bunuh ogre di depanmu."
Crashh!
Dalam sekejap dia langsung membelah ogre itu menjadi dua bagian atas dan bawah. Setelah itu dia mengibaskan pedangnya untuk membersihkan bilahnya dari cipratan darah milik ogre tadi.
"Sejak kapan?!" kagetnya menoleh ke arahku dengan mata melebar tak percaya.
Aku menggerakkan tangan kananku dengan malas menunjuk ke sisi belakang Marcus.
"Lihat saja sendiri," ujarku.
Tanpa banyak bicara, dia memutar kepalanya ke arah yang kutunjuk barusan. Tepat di sana, dua ogre yang sudah tak utuh lagi tergeletak berlumuran darah dengan bekas tebasan dan bekas terbakar yang disiram air pada batang pepohonan di sekitarnya. Kukira dia akan terkejut atau apalah, ternyata dia malah memasang wajah datar seolah mengatakan, "Sudah kuduga."
Dia pun menyarungkan pedangnya di balik punggung lalu kembali menatapku.
"Seperti yang diharapkan dari ahli pedang dan master sihir." Dia mengatakannya sembari tersenyum kecut. "Aku heran, bagaimana kau melakukannya secepat itu?" tanyanya kemudian.
"Mau kuceritakan detailnya?"
Begitu mendengar pertanyaan balik dariku, dia langsung memasang raut wajah seperti sedang menahan sembelit. "Tidak usah, lupakan saja."
__ADS_1
"Yah, kau masih tidak berubah. Otakmu memang tak bisa mengikuti penjelasan Shiki yang menurutku sangat jelas dan tidak berbelit-belit," celetuk Irie yang sudah berdiri di sampingku bersama Nia yang mengikutinya.
"Berisik! Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi, kan?"
"Shiki, sebaiknya kita berhenti dulu di sini. Malam hari akan sangat berbahaya jika kita melanjutkan perjalanan," lanjut Irie mengabaikan Marcus yang masih kesal dengan ucapan Irie yang sedikit sarkastis.
"Hm... memang itu rencanaku. Baiklah, kita bersihkan dulu kotoran-kotoran ini," balasku.
"Bukannya kau bisa sendiri?" tanya Marcus dengan nada yang menggambarkan ketidaksetujuan.
"Marcus, mana milikku itu terbatas. Kalau digunakan untuk hal sepele semacam ini, dan mana-ku habis, terbunuh oleh monster seperti ogre tadi di tengah perjalanan tidak lagi mustahil. Kau mau itu terjadi? Apa perlu kuingatkan sekali lagi?" jelasku.
Dia terdiam. Otaknya tengah mencerna kata-kataku dengan paksa. Tapi setelah itu, dia kembali membantahnya.
"Selain sihir, kau bisa bertarung, kan? Lalu untuk apa sebutan ahli pedang itu?"
Dia ini menganggapku seperti robot, ya... Atau di sini disebut golem.
Walaupun dia pikir aku ini sangat kuat, namun tak merubah kenyataan bahwa aku ini manusia juga.
"Kau ada benarnya. Tapi, bagaimana kalau aku tidak bisa melawan lagi? Meski begitu, aku ini masih manusia sepertimu. Tenagaku juga terbatas, kau tahu? Dan julukan itu, kau yang membuatnya sendiri." Tak kalah, aku memberikan alasan yang logis.
"Geh...! Kau benar juga...." Dia tersentak dengan jawabanku dan akhirnya kehabisan kata-kata. "Ah! Sudahlah!" rutuknya sambil mengacak kesal rambut merahnya.
"Seperti yang diharapkan dari ahli debat Shiki," celetuk Irie seraya tersenyum.
Tapi balasanku hanya senyum senang darinya.
Dengan begitu, kami pun membuang mayat tiga ogre ke jurang dan membersihkan bercak darah dengan sentuhan sedikit sihir dariku. Setelah itu kami membuat api unggun yang tidak terlalu besar untuk menghangatkan diri. Tanpa kami sadari, senja yang sedikit hangat telah tergantikan dengan malam yang dingin.
Suara ranting-ranting yang retak akibat terkikis api terdengar jelas dalam keheningan di antara kami berempat.
Seperti biasa, Irie menyisiri rambut biru panjang milik Nia menggunakan jari jemarinya. Sedangkan Nia hanya diam menikmatinya.
Sementara itu, Marcus terus-terusan memandangi bilah pedang hitamnya yang berukuran besar itu dengan intens. Memangnya dia tidak punya kegiatan lain?
Dan aku sendiri, duduk termenung menatap kosong kayu dan ranting yang mulai keropos oleh api yang kemudian pecahan kecilnya terbang ke atas bersama percikan api lalu menjadi abu dan diterbangkan angin.
"Hei, Shiki, kau yakin akan pergi ke Rivia?" Marcus akhirnya unjuk suara untuk memecah keheningan yang kupikir membuatnya bosan dan canggung.
"Bagian terdalam diriku mengatakan kalau aku harus ke benua iblis itu," jawabku karena pertanyaan itu diajukan untukku.
Entah kenapa aku merasa bahwa aku harus ke sana. Seiring waktu, dorongan untuk pergi ke Rivia semakin kuat dan pikiranku sempat teralihkan. Aku juga jarang berkomunikasi dengan Erlia dan Vivera. Suara mereka yang biasanya ribut seperti pasar sudah tidak pernah terdengar lagi kalau bukan aku yang memancingnya. Memangnya, apa yang sebenarnya dilakukan dua roh suci itu sekarang?
Kalau penting, aku tak akan mencampuri urusan mereka.
Tak terasa 6 hari lagi bulan merah itu muncul. Itu mengingatkanku soal Tragedi Bulan Darah. Kira-kira, apa yang dirasakan Hanz setiap kali bulan merah muncul?
__ADS_1
Perasaan kehilangan antara Hanz dan aku sangat berbeda. Dia kehilangan orang-orang yang berharga baginya. Sedangkan aku kehilangan sebagian diriku yang dulunya membuatku sama seperti manusia lainnya. Yaitu hidup. Sekarang ini aku tampak layaknya mayat hidup. Tidak bisa mati dan tak memiliki emosi.
Aku tidak tahu penyebab hilangnya emosiku. Tapi yang pasti hingga saat ini, emosiku hilang seluruhnya. Kali ini perasaanku sudah tinggal setengahnya. Itu membuat aku berpikir, kalau perasaanku menghilang, apakah aku akan meninggalkan mereka bertiga seperti aku meninggalkan Anna, Hanz, dan Arelia?
Kalau pelengkap utama manusia itu menghilang, bukankah aku jadi lebih mirip wadah kosong?
Lalu, apa yang harus kulakukan setelah itu?
Memikirkan semua itu membuat hatiku sakit. Ini jauh lebih sakit daripada kehidupanku sebelumnya.
Kukira penderitaanku hanya sebatas rasa sakit dari luka fisik. Ternyata ini lebih dari itu.
"Kau takut?"
Pertanyaan mendadak dari Marcus menyadarkan lamunanku. Apa maksudnya? Takut dari apa memangnya?
"Kau takut bila suatu saat nanti kau akan meninggalkan kami?" ulangnya begitu menyadari kebingunganku atas pertanyaannya sebelumnya.
Jika diperhatikan baik-baik, selain Marcus, Irie dan Nia juga menatapku penuh keseriusan. Sepertinya mereka memikirkan hal itu jauh-jauh hari. Setelah mereka menyadari keanehan yang terjadi padaku, dibalik wajah senang mereka menyembunyikan kekhawatiran juga. Itu yang kurasakan selama ini.
Jika aku menjawab "iya" dan mengatakan kalau aku takkan pernah meninggalkan mereka, sama saja aku menyatakan janji kosong pada mereka. Kalau kujawab "tidak", maka itu berarti aku berbohong.
Lalu, apa yang harus aku jawab?
Sementara aku bingung dengan jawabanku, raut serius Marcus berubah menjadi wajah senang dengan senyum merekah di bibirnya.
"Tenang saja. Selama kami masih ada, tak akan kubiarkan kau meninggalkan kami begitu saja."
"Tunggu! Kenapa hanya kau saja?! Aku dan Nia juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" sergah Irie menambahi.
Ditengah-tengah pembicaraan kami, tiba-tiba Nia berdiri di samping Irie menghadapku dengan kedua tangan terkepal kuat. Manik biru toskanya berkaca-kaca seakan air matanya dapat keluar kapan saja.
"Kalau hari dimana kak Shiki meninggalkan kami tiba, aku akan memaksa kak Shiki untuk tetap tinggal bersama kami. Walau bagaimana pun juga, kita bukan hanya partner, tapi kita adalah keluarga! Aku tak akan rela kak Shiki pergi. Jadi, jangan pergi kemana pun, kakak!"
Ucapan Nia membuatku tersentak. Diriku ini yang bukan siapa-siapa dan hanya sebagai partner serta pemimpin kelompok mereka, dia anggap seperti keluarga. Awalnya aku meragukan kata-kata mereka. Namun setelah melihat keteguhan dari mata mereka yang menatapku dengan penuh harap, kurasa bergantung pada mereka sesekali tidak masalah. Sama halnya seperti keluarga sungguhan. Bergantung pada satu sama lain.
Terima kasih sudah menyadarkanku, semuanya.
"Mau kubantu tersenyum?" tanya Marcus, iseng.
Apa-apaan dia itu?
"Tidak perlu. Jangan memanfaatkan kekuranganku sebagai bahan candaan. Seperti biasa, kau selalu sembarangan, Marcus."
Mendengar jawabanku tadi, Marcus pun tak bisa menahannya lagi dan akhirnya melepaskannya.
"Buahahahahahaha!!..."
__ADS_1
Tawa kerasnya itu sungguh menyakiti telingaku.