
Keluarga kecil Alina yang begitu bahagia mengarungi kehidupan rumah tangga bersama suami dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil, iya mereka punya dua anak yang satu masih TK dan yang satunya lagi masih SD.
Anak mereka laki-laki dan perempuan, keduanya sangat tampan dan cantik. Ya mirip seperti mama dan papanya, Arin yang menggemaskan, Evan yang tampan, itu membuat kebahagiaan Alina lengkap lah sudah.
Setiap hari kerjaan Alina mengurus anak-anaknya, mengurus pekerjaan rumah dan suaminya, bahkan karena sangking lelahnya Alina juga kadang sampai tidak sempat merawat dirinya sendiri. Baginya anak-anaknya dan suaminya itu jauh lebih penting dari segalanya.
Bayangkan saja pagi-pagi dari bangun tidur, Alina sudah di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya, setelah itu Alina mengantarkan kedua anaknya berangkat sekolah.
Setelah selesai Alina ganti mengurus suaminya untuk berangkat ke kantor, Alina menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, Alina menyiapkan baju kerja suaminya. Pekerjaan Alina itu tidak ada habisnya. Anak-anak dan suaminya selalu di urus dengan baik, tidak ada sedikitpun yang kurang.
Alina pernah meminta pada suaminya agar suaminya memberikan Art untuk dirinya membantu pekerjaan rumah, tapi Alvino selalu menolak dengan alasan yang sama. Ya apalagi kalau bukan pelit uang? Katanya kalau pakai Art itu akan boros pengeluaran, lagian aku nikah kan untuk di urus sama istri, ya semua urusan rumah tangga juga harus di urus sama istrinya.
Alasan yang selalu diberikan Alvino, untuk apa punya Art? Bukankah pekerjaan rumah begitu ringan, sudah deh jangan aneh-aneh!
Alina hanya bisa mengelus dada, agar dirinya bisa terus bersabar menghadapi sang suami yang selalu pelit bahkan begitu egois.
Pagi menunjukkan pukul setengah 7, semuanya sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan pagi bersama.
"Evan, nanti kamu berangkat dengan papa ya nak! Mama anterin Arin dulu," kata Alina pada anak pertamanya.
"Iya ma," jawab Evan dengan raut wajah bahagia.
"Tidak ma, aku hari ini ada meeting penting. Anak-anak kamu yang urus saja!" Tolak Vino, membuat Alina agak kesal tapi Alina berusaha menahan rasa kesalnya.
Sepertinya inilah Vino, dia selalu tidak mau bekerja sama dalam apapun, mengurus anak-anak saja harus aku dan aku, pikiran dia hanya kerja dan cari uang, sedangkan kantornya dan sekolahan Evan satu arah tapi tetap saja Vino tidak mau berangkat bersama Evan.
"Evan, nanti mama yang antar kamu ya nak!" Kata Alina, sambil tersenyum berusaha menghibur Evan yang sudah cemberut karena sang papa tidak mau berangkat bersamanya.
Vino melihat ke arah Evan, tatapan matanya begitu tajam pada Evan.
"Van, kamu kan sudah kelas 5 SD. Kamu berangkat sendiri saja, lagian manja sekali sudah besar sekolah saja di anterin," omel Vino pada Evan membuat Evan seketika menjadi sedih.
Alina menghela nafas panjang, sungguh suaminya ini. Jika tidak mau mengantarkan Evan ya tidak apa-apa, kenapa harus mengomelinya segala?
__ADS_1
"Mas, kamu berangkat kerja saja! Sudah, nanti anak-anak urusan aku!" Kata Alina agak membentak, terlalu sabar juga kadang lelah sendiri.
"Baiklah, aku berangkat dulu! Ingat jangan boros-boros, cari uang itu susah!" Tegas Vino sebelum pergi meninggalkan meja makan.
Lagi-lagi Alina hanya bisa mengelus dada agar selalu sabar, boros bagaimana? Sehari di kasih jatah belanja 50 ribu dan itu termasuk uang jajan untuk anak-anaknya, apa Vino itu tidak keterlaluan? Padahal uangnya banyak, tapi sama istri dan anak-anaknya begitu pelit.
Setelah Vino pergi, Alina mendekati Evan yang terlihat sedih.
"Mama, apa papa tidak sayang pada anak-anaknya? tanya Evan, terdengar sedih suaranya membuat Alina ingin menangis tapi berusaha menahannya.
"Nak, papa sayang kok pada kita. Kan tadi papa bilang, papa buru-buru pergi ke kantor, karena ada meeting penting. Dan papa mencari uang untuk kita nak, kamu jangan masukan hati ya nak apa yang di katakan oleh papa!" Alina berusaha memberikan pengertian pada Evan.
Arin yang masih TK dia hanya diam sambil menikmati makanannya.
"Sekarang Evan, lanjutkan makannya. Nanti mama anterin Evan ke sekolah," kata Alina sambil memberikan pelukan penuh kasih sayang pada Evan.
Bagi Alina, Evan dan Arin adalah kekuatan untuk dirinya selama ini. Alina bertahan dengan suaminya, itu juga karena kedua anaknya yang masih sangat membutuhkan sosok seorang papa.
Hari-hari Alina di lalui menjadi ibu rumah tangga, tapi suaminya tidak pernah memberikan kasih sayang penuh tapi Alina selalu sabar.
Di kantor Vino, sesampainya di kantor Vino bertemu dengan sekertaris yang cantik.
Tatapan Vino terlihat mesum. "Ini namanya wanita cantik, tidak seperti istriku setiap hari hanya dasterran, bahkan setiap aku pulang masih kucel tidak karuan," batin Vino dalam hatinya.
Jessy berjalan menuju ke Vino sedang berdiri, belahan rok nya yang memperlihatkan pahanya dan bajunya yang begitu ketat, membuat penampilannya terlihat sexy, Vino sebagai laki-laki tentu saja mendambakan wanita yang seperti ini.
Padahal istrinya juga cantik, hanya saja kurang perawatan bagaimana mau melakukan perawatan, uang belanja dan uang jajan anak-anaknya saja hanya 50 ribu setiap, makan aja setiap hari keseringan lauk tempe dan telur.
Jadi istri orang kaya, tapi hidup Alina begitu malang.
"Pak Vino, sudah datang?" tanya Jessy dengan tatapan genit.
"Sudah, kamu sudah sarapan?" Vino menatap Jessy dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"Belum pak," jawab Jessy dengan begitu lembut.
Vino tersenyum senang, ini kesempatannya untuk mendekati Jessy.
"Bagaimana, kalau kita sarapan bersama?" tawar Vino sambil memegang paha Jessy yang agak terlihat.
Jessy menatap Vino dengan tatapan genit, lalu dia tersenyum.
"Pak, jangan menyentuhku seperti ini. Bagaimana, kalau ada yang melihatnya?" tanya Jessy tapi Vino malah tersenyum begitu mesum.
"Tidak ada, ayo sarapan berdua. Tadi sarapan di rumah, istriku hanya masak itu-itu saja setiap hari," ajak Vino. Tangannya agak menyusup masuk ke paha Jessy.
Tapi Jessy tidak risih sama sekali, dia malah senyam-senyum seperti perempuan nakal yang butuh kepuasan dari seorang laki-laki.
"Ayo pak, jika bapak meminta lebih dari sarapan, saya juga mau pak." Kata Jessy, dia malah agak membuka belahan pahanya.
Sebagai seorang laki-laki hasrat Vino tiba-tiba bergejolak begitu saja.
"Maksudnya?" tanya Vino dengan tatapan bingung.
"Masa bapak tidak tahu?" Jawab Jessy dengan nada semakin menggoda.
Vino tersenyum semakin mesum.
"Memangnya kamu mau?" tanya Vino dengan nada menggoda juga.
Jessy senyam-senyum, siapa yang tidak mau jika bersama laki-laki kaya seperti Vino ini?
"Ahh...saya," desah Jessy yang merasakan sentuhan tangan Vino dengan lembut.
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1