
"Ceklek....." Alina membuka pintu rumahnya, melihat siapa yang datang, Alina tersenyum bahagia.
"Alina sayang......"
Mata itu berbinar-binar melihat Alina kini sudah berdiri di hadapannya. Alina tersenyum lalu wanita itu langsung memeluk Alina dengan erat.
"Mama...." Alina menyapa sang mama, dia juga membalas pelukan sang mama dengan erat.
"Mama, Alina sangat merindukan mama," batin Alina dalam hatinya.
"Papa mana, ma?" tanya Alina sambil melepaskan mamanya dari pelukannya, Alina heran karena mamanya hanya datang sendirian padahal biasanya bersama papanya.
"Papa kamu sedang ada kerjaan di luar kota, kamu tidak menyuruh mama masuk?" tanya Heslin, lalu Alina tersenyum dan langsung mengajak mamanya masuk ke dalam rumah nya.
Heslin adalah mamanya Alina, dia orang yang sangat baik dan ramah pada siapapun, ibunya Alina juga terhitung orang yang berada, papa Alina juga salah pemilik perusahaan besar di kotanya, hanya saja Alina tidak mau hidup dengan menghadalkan kekayaan orang tuanya, apalagi Alina juga punya suami kaya raya tapi suaminya Alina ini begitu pelit, Alina juga tidak pernah menceritakan tentang suaminya pada kedua orang tuanya.
Yang orang tua Alina tahu Vino adalah laki-laki baik dan sangat menyayangi Alina, Vino juga sangat pandai bersandiwara di hadapan kedua orang tua Alina.
Itu yang membuat Alina ragu jika dia bekerja lagi, lalu dia menitipkan kedua anaknya kepada sang mama pasti mamanya akan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi? Jika Alina juga tiba-tiba berpisah pasti kedua orang tuanya juga akan kaget, karena mereka selalu menganggap kalau Alina dan Vino adalah keluarga yang begitu harmonis.
"Mama, duduklah! Alina panggilkan anak-anak dulu, mereka tadi baru saja Alina suruh tidur siang," kata Alina dan Heslin duduk di ruang tamu sedangkan Alina berlalu pergi ke kamar anak-anaknya.
Sesampainya di kamar anak-anaknya, Alina membuka pintu kamar anak-anaknya dengan pelan.
Alina mendekati ke tepi ranjang, lalu dia membangunkan kedua anak-anaknya.
"Anak-anak bangun! Ada nenek di depan," kata Alina, Evan dan Arin sama-sama membuka mata mereka.
__ADS_1
"Nenek..."
"Nenek datang mama?"
Kedua bocah kecil itu terlihat antusias, mereka terlihat bahagia mendengar neneknya datang.
"Arin, Evan, jangan pernah bilang kalau kalian hanya makan telur, tempe dan sayur bayam setiap hari pada nenek ya nak," tutur Alina, sedih dalam hatinya karena harus mengajari kedua anaknya berbohong, tapi Alina juga tidak mau membuka aib rumah tangganya apalagi pada mamanya.
Keduanya sama-sama mengangguk dengan begitu polosnya, kini Alina mengajak kedua anaknya keluar dari dalam kamarnya untuk bertemu dengan nenek mereka.
"Nenek......"
"Arin kangen nenek....."
Kedua bocah kecil itu langsung memeluk neneknya dengan erat.
Arin tersenyum bahagia, Evan juga tersenyum bahagia. "Terimakasih nenek....!" Kata mereka dengan kompak.
"Nenek, nenek tahu dari kemarin-kemarin Arin ingin sekali makan es krim, tapi kata mam..." Arin
"Kata mama apa?" sambung Heslin, dia melihat ke arah Alina.
"Mama, Arin kemarin batuk jadi Alina larang dia untuk makan es krim," alasan Alina dan Arin mengangguk.
Untung kedua anaknya mau diajak kerja sama, kini Evan dan Arin menikmati makanan yang neneknya bawain.
Alina pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk mamanya, setelah beberapa lama Alina kembali membawa minuman untuk sang mama.
__ADS_1
"Ma, minum dulu!" Kata Alina dengan nada lembut.
"Vino belum pulang?" tanya Heslin.
"Mas Vino masih di kantor ma, mungkin sedang banyak bekerja." Jawab Alina, padahal Vino tadi sudah pulang tapi entah dia tiba-tiba pergi lagi.
Heslin melihat Alina, kini dia merasa Alina begitu berbeda dengan Alina yang dulu, tubuh Alina begitu kurang terawat, bahkan baju daster yang Alina pakai juga sudah sobek-sobek.
"Alin, apa kamu jarang pergi ke salon nak? Lalu baju daster kamu, kenapa kamu tidak membeli yang baru? Aturan itu buat lap saja!" Heslin terus menatap Alina dengan tatapan sulit di artikan.
Rasanya air mata Alina hampir pecah, tapi Alina berusaha menahan air matanya di hadapan sang mama.
"Mama, Alina tidak ada waktu, apalagi sibuk mengurusi anak-anak," jawab Alina masih berusaha tersenyum manis di hadapan sang mama.
Heslin mengangguk, mungkin benar kata Alina namanya seorang istri pasti sangat sibuk, apalagi anak-anaknya Alina juga masih kecil-kecil.
Disini Heslin memmaklumi keadaan Alina, Heslin juga tidak bertanya lebih lanjut lagi.
"Bagiamana kalau hari ini maka ajak kamu dan anak-anak kamu jalan-jalan?" tanya Heslin yang di dengar oleh Arin dan Evan.
"Jalan-jalan...."
"Nenek, aku mau jalan-jalan."
Arin dan Evan begitu antusias, akhirnya Alina dan kedua anaknya bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama Heslin.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia