
Setelah selesai makan siang seperti biasanya Alina menyuruh kedua anaknya tidur siang dan Alina juga mulai sibuk dengan pekerjaan rumah yang sudah menumpuk.
Bayangkan saja setiap hari Alina harus mencuci pakaian, menyapu, ngepel, mengurus suami, mengurus kedua anaknya dan masih banyak hal lainnya yang harus Alina urus.
Tapi tidak sedikitpun Alina mendapatkan ucapan terimakasih dari Vino atau sekedar hadiah kecil agar Alina bahagia, Vino hampir setiap hari memarahi Alina bahkan karena Alina tidak cantik lagi itu yang selalu Vino debatkan padahal Vino tahu kalau Alina dirumah sudah seperti pembantu, tapi bagi Vino pekerjaan rumah ya tugas istri jadi Vino tidak mau ambil pusing tapi Vino menuntut Alina untuk cantik setiap hari.
Padahal Vino saja tidak pernah membelikan baju baru, make up ataupun skincare, Vino itu hanya bisa marah-marah dan selalu menyalahkan Alina saja.
Kasian nasib Alina bayangan Alina setelah menikah itu hidupnya akan bahagia, apalagi dulu Vino sangat menyayanginya bahkan Vino sangat memanjakan Alina.
Tapi perlahan-lahan semua itu hilang, apalagi ketika Alina sudah punya anak dan bentuk tubuh Alina juga berubah dratis itu membuat Vino semakin kesini semakin sulit di mengerti dan tentunya Vino berubah jauh.
Setelah selesai dengan pekerjaan rumah yang begitu banyak, Alina merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Mama, jika aku pulang membawa kedua anak-anakku pasti mama akan kepikiran dan aku takut mama sakit."
"Tapi Mas Vino sekarang sangat berbeda dengan Mas Vino yang dulu, aku berusaha kuat dan sabar tapi aku tahu rasa sabar itu ada batasannya."
"Anak-anak masih butuh kasih sayang dari kedua orang tua yang lengkap."
"Kedua anakku adalah penyemangat aku, mudah-mudahan aku bisa sabar menghadapi semua ini."
Alina terus berbicara dalam hatinya, hanya hatinya yang mengerti perasaannya saat ini. Apalagi anak-anaknya masih kecil, mereka belum bisa diajak berkeluh kesah.
Detik demi detik berlalu, Alina sudah mandi, hari ini dia berusaha berdandan cantik bahkan Alina memoles sedikit wajahnya dengan riasan tipis tapi terlihat elegan.
Kedua anaknya juga sudah mandi, mereka sudah wangi kini kedua anaknya sedang main PS berdua.
__ADS_1
"Mama, papa belum pulang?" tanya Arin, Arin paling suka menanyakan papanya.
"Papa lembur mungkin nak," jawab Alina dengan nada lembut, tapi matanya terlihat begitu sedih. "Semalam saja papa kalian tidak pulang nak, kelak kalian harus menjadi anak-anak yang hebat ya nak! Mama akan berusaha yang terbaik untuk kalian," batin Alina dalam hatinya.
"Arin, papa sibuk kerja dek, biar bisa membeli ayam goreng untuk Arin dan es krim nanti," kata Evan dengan tatapan mata begitu polosnya.
Seketika hati Alina seperti bawang yang sedang diiris-iris, rasanya matanya sudah mulai mengembun karena lagi-lagi anak-anaknya membuat Alina merasa sedih dan rasanya tidak berguna sekali sebagai seorang mama.
"Apa seorang papa itu harus sibuk kerja terus ya kak? Padahal papa teman-teman Arin tidak, kadang juga Arin sering melihat papa nya Nissa menjemput Nissa sekolah, mereka juga sering pergi jalan-jalan ke mall bareng kak, tapi papa kita begitu sibuk kerja," celoteh Arin dengan begitu menggemaskan.
Alina beranjak dari tempat duduknya, lalu dia menghampiri kedua anaknya dan dengan erat Alina memeluk keduanya lalu mencium kening mereka secara bergantian.
"Anak-anak mama, kalau mama punya rejeki lebih nanti kita jalan-jalan ke mall ya!" kata Alin, sungguh Evan dan Arin mengangguk penuh semangat.
"Janji ya ma!" Arin mengulurkan jari kelingkingnya, kini Arin dan Alina mengaitkan kedua jari kelingking mereka sebagai tanda perjanjian di antara mereka.
Evan tersenyum bahagia, lalu memeluk Arin dengan erat.
*****
Dirumah Jessy, Vino dan Jessy masih bergulat mesra di atas ranjang tempat tidur Jessy.
Bahkan Vino tidak ingat pulang, dia malah tiduran sambil memeluk Jessy dengan mesra.
"Mas, kita ke mall yuk! Aku pingin beli tas keluaran terbaru," ajak Jessy dengan begitu manja.
"Ayo sayang, tapi nanti malam mas minta jatah lebih ya!" Vino tersenyum nakal, lalu mencium bibir Jessy dengan lembut.
__ADS_1
Kini setelah beberapa lama Vino melepaskan ciumannya itu.
"Mas mau menginap dirumah aku lagi? Tapi pakai peng*m*n ya mas!" jawab Jessy sambil tersenyum genit.
Vino mengangguk, lagian bagus juga kalau Jessy selalu meminta dirinya memakai alat peng*m*n itu tandanya Vino tidak takut kalau Jessy akan hamil.
"Sekarang kita siap-siap! Aku mau minta di belanjain sama mas, baju aku juga sudah mulai ketinggalan jaman mas, kita beli keluaran terbaru ya mas!" rengek Jessy dengan manja.
"Iya sayang, kamu boleh membeli apa saja yang kamu mau," sahut Vino dengan senang hati.
Padahal Alina saja tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh Vino, kasian wanita sebaik Alina tapi Vino tega menghiatinnya hanya karena Alina tidak cantik lagi menurutnya.
Setelah selesai siap-siap Jessy dan Vino langsung berangkat ke mall menggunakan mobil baru milik Jessy.
Belum lama dengan Vino sudah dapat mobil baru, entah apalagi yang akan di berikan oleh Vino pada Jessy setelah mobil baru itu?
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh akhirnya mereka sampai di mall yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Jessy.
Mereka langsung masuk ke dalam mall sambil bergandengan mesra, layaknya sepasang suami dan istri.
"Pak Vino....." sapa seseorang, yang membuat Vino dan Jessy buru-buru melepaskan tangan mereka dengan cepat.
"Ehh kamu...." Vino terlihat gugup di hadapan orang itu.
"Pak Vino sedang apa dengan Jessy?" tanya orang itu, membuat Vino semakin gugup dan tentunya expressi wajahnya terlihat tidak bisa di artikan.
"Kita sedang..."
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia