Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Arin minta es krim


__ADS_3

"Ahh..... saya," desah Jessy yang merasakan sentuhan tangan Vino dengan lembut.


"Pak, nanti saja! Kita sarapan dulu ya, saya lapar." Kata Jessy dengan manja.


Vino mengangguk, lalu langsung mengajak Jessy ke sebuah restoran untuk sarapan. Padahal anak dan istrinya hampir setiap hari makan telur dan tempe, tapi demi wanita cantik ini yang tidak lain adalah sekretarisnya Vino rela menghabiskan banyak uang.


Sesampainya di sebuah restoran mewah, Vino mengandeng tangan Jessy dengan mesra, mereka duduk di sebuah kursi.


Alina yang malang punya suami bag Vino yang sukanya selingkuh, padahal Alina juga cantik hanya saja tubuhnya tidak terawat bukan karena Alina tidak mau merawat tubuhnya tapi karena Vino tidak pernah memberikan uang untuk ke salon atau hanya sekedar membeli baju baru, setiap hari Alina lebih sering memakai daster yang sudah robek-robek, ya sangking tidak bisanya membeli daster baru, mau beli yang baru uang darimana? Jatah aja cuma 50 ribu sedangkan kebutuhan begitu banyak, itu 50 ribu untuk belanja dan jajan kedua anaknya, kadang saja kekurangan tapi Vino tidak pernah peduli ia selalu menyuruh Alina untuk berhemat tapi sendirinya sering kali makan di restoran mahal dengan Jessy, dasar suami luknut, berharap Tuhan akan memberikan karma yang setimpal.


"Kamu, mau pesan apa?" tanya Vino sambil menatap Jessy dengan tatapan genit.


"Apa saja pak," jawab Jessy dengan manja.


Akhirnya Vino memesan dua makanan dan dua minuman untuk dirinya dan Jessy.


Mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan begitu mesra, bahkan Vino lupa dengan anak-anak dan istrinya yang dia jarang kasih makan enak dengan alasan harus mengirit, cari uang itu susah.


"Pak, saya takut istri bapak marah." Kata Jessy tiba-tiba.


Tiba-tiba menghentikan makannya, lalu meraih tangan Jessy dengan mesra.


"Tidak usah takut, Jess!" Tutur Vino meyakinkan Jessy.


"Apa istri bapak galak?" Tanya Jessy lagi, kali ini semakin genit.


Vino tertawa kecil, mengingat Alina yang begitu kucel dan tidak sebening Jessy.


"Jika dia galak, itu urusan aku. Lagian dia itu terlalu sibuk mengurusi anak-anak, bahkan dia saja tidak pandai merawat tubuhnya, laki-laki mana yang mau dengan wanita seperti itu?" Vino meremehkan istrinya sendiri, di hadapan wanita lain.


Dia tidak sadar dulu juga Alina seorang wanita karir yang begitu cantik, tapi karena harus mengurus kedua anaknya dan suaminya, akhirnya Alina memilih berhenti bekerja, karena Vino berjanji akan mencukupi dirinya dan kedua anak mereka.

__ADS_1


Alina percaya, karena Vino adalah bos besar di salah satu perusahaan ternama jadi Alina yakin kalau Vino itu akan membuat dirinya bahagia, tapi ternyata semua itu salah karena Vino tidak menepati janjinya dan mengabaikan tanggung jawab dia sebagai suami dan seorang papa beranak dua.


"Buktinya kamu pak," sambung Jessy sambil tersenyum kecil.


Vino hanya tersenyum, kali ini tatapannya begitu dalam pada Jessy.


"Buktinya bapak saja masih mempertahankan pernikahan bapak," cetus Jessy dengan sengaja.


"Itu karena ada anak-anak saja, tapi ya tidak tahu nanti. Apalagi, aku bertemu dengan gadis secantik kamu," kata Vino. Tanpa rasa sadar dia sudah punya istri dan dua orang anak.


Jessy semakin senyam-senyum, mendapatkan pujian dari Vino itu adalah suatu kelebihan.


Biarpun Vino sudah berusia 30 tahunan dan beranak dua, tapi Vino masih terlihat gagah dan tampan.


Setelah selesai makan mereka berdua kembali ke kantor.


*****


"Nak, kita jemput Kak Evan dulu ya!" Tutur Alina dengan nada lembut.


"Iya mama, mama Arin mau beli es krim." Jawab Arin, sambil melihat mata sang mama dengan tatapan begitu polos.


Rasanya Alina ingin sekali menangis, uang belanja yang Vino kasih hanya sisa 20 jika dia gunakan untuk membeli es krim Arin, nanti mau masak apa? Tapi jika Arin tidak di belikan es krim, Alina juga tidak tega.


"Rasanya, aku ingin menjadi wanita karir lagi. Agar anak-anakku tidak sengsara, punya suami kaya tapi pelitnya kebangetan, dulu perasaan sebelum nikah Mas Vino begitu baik dan tidak perhitungan, tapi sekarang semua itu hanya akal-akalan dia saja." Batin Alina dalam hatinya.


"Arin sayang, jangan beli es krim ya nak. Nanti kamu flu, kan besok ada ulangan," bujuk Alina pada Arin.


Arin mengangguk pelan, membuat Alina langsung memeluknya.


"Mama janji, setelah ulangan besok, mama belikan Arin es krim!" Kata Alina, agar Arin tidak sedih.

__ADS_1


"Sungguh mama, ayo kita janji jari kelingking dulu!" Arin melepaskan dirinya dari pelukan sang mama, dengan polosnya Arin menjulurkan jari kelingkingnya, Alina juga melakukan hal sama.


Akhirnya mereka saling mengaitkan jari kelingkingnya, mata Alina sungguh berkaca-kaca. Tapi Alina berusaha menahannya.


Alina mengajak Arin pulang, tapi sebelum mereka pulang. Alina mengajak Arin menjemput Evan ke sekolahnya.


Sesampainya di sekolah Evan, Evan sudah berdiri menunggu sang mama di depan pintu gerbang.


Kini Evan naik di belakang, sedangkan Arin naik di depan.


Alina dan kedua anaknya akhirnya sampai di rumah, kedua anaknya langsung masuk ke dalam kamar mereka untuk berganti pakaian. Setelah selesai berganti pakaian, Evan dan Arin sama-sama keluar dari dalam kamar mereka.


"Mama, Evan lapar....." kata Evan sambil memegang perutnya.


"Arin, juga lapar ma." Rengek Arin, raut wajahnya terlihat menggemaskan.


Alina tersenyum, lalu membawa ke meja makan.


Kini mereka sudah berada di meja makan, tapi Arin dan Evan hanya diam sambil memandangi makanan yang ada di hadapannya.


"Mama, apa tidak ada lauk lain?" tanya Evan.


"Iya ma, Arin juga bosen lauk telur terus," keluh Arin.


Alina lagi-lagi hanya bisa menahan air matanya.


"Evan, Arin....."


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2