
Malam menunjukkan pukul 10 malam, Vino belum pulang tapi Alina tidak perduli, biarkan Vino mau melakukan apa saja.
Alina terdiam sambil melihat kedua anaknya yang sudah tertidur nyenyak, kini kedua anak nya sudah terlihat semakin besar.
Alina tersenyum sambil membelai lembut pipi Arin yang tertidur pulas.
"Nak, jika mama memilih berpisah dengan papa kalian, mama hanya berharap kalian bisa menerima keputusan mama dengan baik, kalian juga suatu saat akan tahu kenapa mama ingin memilih jalan perpisahan ini."
"Sungguh, semakin hari papa kalian semakin menjadi, mama sudah cukup sabar selama ini demi kalian berdua."
"Tapi rasa sabar manusia juga ada batasnya nak, mama bukan malaikat, mama hanya seorang wanita yang butuh kasih sayang dan perhatian."
Tanpa sadar air mata Alina menetes begitu saja, rasanya ada rasa sakit yang tidak bisa dia ungkapkan, ingin bicara dengan kedua anaknya juga itu tidak mungkin karena kedua anaknya itu masih terlalu kecil.
Terkadang rasa sakit, rasa sedih, rasa kecewa hanya bisa Alina rasakan sendirian saja.
Alina buru-buru menghapus air matanya yang dari tadi mengalir begitu deras di pipi mulus miliknya.
"Alina, kamu harus menjadi wanita hebat!"
"Jangan pernah menyerah dengan keadaan, percayalah tanpa Vino, kamu juga pasti bisa hidup bahagia!"
Alina menyakinkan hatinya sendiri, tapi Alina juga cukup tahu akan kemampuannya dirinya sendiri dan dia yakin dia bisa menghidupi kedua anaknya nanti setelah berpisah dengan suaminya yang jahat dan tidak punya hati itu.
__ADS_1
Malam semakin larut jarum jam dinding juga terus berputar tapi Vino juga belum pulang juga ke rumah. Alina sudah tidak perduli lagi dan dia memilih untuk tidur di kamar kedua anaknya, Alina menggelar kasur lantai yang ada di kamar anak-anaknya itu lalu dia membaringkan tubuhnya di kasur itu.
"Mas, aku yakin aku bisa bertahan hidup dan aku bisa menghidupi kedua anakku tanpa kamu," batin Alina dalam hatinya.
Alina mulai memejamkan matanya hingga dia terlelap dengan nyeyak.
*****
Di sebuah hotel mewah Vino masih sibuk dengan kegilaannya bersama dengan wanita j*l*ng sewaannya itu.
"Mas, kamu mau lagi?" tawar Siva, padahal mereka sudah melakukannya lebih dari satu kali.
"Sudah cukup! Kamu pergilah, ini bayaran kamu, cepat sebentar lagi kekasihku datang," Vino malah mengusir sih wanita j*l*ng itu dengan kasar dan memberikan beberapa lembar uang pada wanita itu.
Akhirnya Siva langsung bergegas dan dia langsung pergi dari kamar hotel itu.
Setelah Siva pergi Vino kembali memakai pakaiannya yang sudah berserahkan entah kemana saja?
Kini Vino sudah rapi memakai pakaiannya kembali, lalu dia berbaring di atas tempat tidur sambil menunggu Jessy datang ke kamar hotelnya.
Setelah 15 menit telah berlalu tapi Jessy tidak kunjung juga.
"Kemana Jessy itu?"
__ADS_1
"Kenapa, dia lama sekali?"
"Sungguh, susah sekali di hubungi no ponsel dia."
Vino mendengus kesal, kali ini rasanya tidak sabar menunggu Jessy datang.
Hingga beberapa lama akhirnya pintu kamar Vino ada yang mengetuknya.
"Tok...tok...."
Mendengar suara ketukan pintu kamar hotelnya, Vino langsung beranjak dari tempat tidurnya dan dia pergi untuk membukakan pintu kamar hotelnya.
Melihat Jessy datang Vino agak kesal, apalagi Jessy datang agak lama.
"Kemana saja sih kamu sayang?" tanya Vino, terlihat wajahnya sangat kesal.
Jessy tersenyum begitu hangat, haruskah dia bercerita pada Vino kalau dia habis bertemu dengan laki-laki lain?
"Sayangku......"
BERSAMBUNG
terimakasih para pembaca setia
__ADS_1