Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Alina berusaha kuat


__ADS_3

"Alina, apa kamu serius?" tanya Vino.


"Aku...."


Alina berusaha menahan air matanya, dia mengingat masa lalunya bersama Vino yang begitu bahagia tapi sayangnya kebahagiaan itu sudah di rusak oleh orang ketiga.


"Aku serius mas, mari kita berpisah....!!" Alina menjawab pertanyaan Vino dengan tegas.


"Baiklah mari kita berpisah, aku akan segera mengurus surat perceraian kita," terang Vino.


Vino begitu tenang, bahkan di raut wajahnya tidak menunjukkan kesedihan sama sekali.


"Uruslah secepatnya mas!!" pinta Alina dengan senyum penuh semangat.


Alina berlalu pergi meninggalkan Vino pergi ke dapur, saat sampai di dapur Alina terdiam sambil duduk.


"Apa aku salah meminta berpisah dari Mas Vino?"


"Arin dan Evan pasti akan merasa sedih, bagaimana cara aku menjelaskan pada mereka berdua?"


"Maafkan mama nak, mama tidak bermaksud bersikap egois."


Alina akhirnya meneteskan air matanya, beberapa tahun ini Alina selalu sabar dan tentunya berusaha kuat untuk kedua anaknya tapi seiring berjalannya waktu kesabaran Alina juga akhirnya habis dan akhirnya Alina memilih berpisah dengan Vino.


Alina yang tidak mau terus-terusan merasa sedih, akhirnya Alina memilih membereskan semua pekerjaan rumah, setelah semuanya selesai Alina pergi menjemput kedua anaknya ke sekolahan.


Setelah menjemput anak-anaknya dari sekolah, Alina menyiapkan makan siang untuk kedua anaknya.


"Evan, Arin, untuk beberapa hari ini kalian tinggal di rumah nenek kalian dulu ya, kalian liburan disana!" ujar Alina, sambil menemani kedua anaknya makan siang, Alina berusaha tidak sedih di hadapan kedua anaknya.


"Liburan mama?" sorak Arin, bocah kecil ini terlihat begitu bahagia, bahkan mendengar kata liburan hatinya sangatlah senang.


"Iya Arin, liburan di rumah nenek," jelas Alina dengan nada lembut.

__ADS_1


"Tapi ma, mama ikut tidak?" tanya Evan.


"Evan, setelah urusan mama selesai, nanti mama langsung menyusul kalian ke rumah nenek," jawab Alina dengan nada lembut.


Alina terpaksa mengambilkan cutti sekolah untuk kedua anaknya, Alina juga memikirkan untuk memindahkan sekolah kedua anaknya ke sekolah lain.


Evan dan Arin sama-sama mengangguk, mereka hanya bisa menurut kepada mama mereka.


"Setelah selesai makan siang, kalian kemas pakaian kalian ya nak!" pinta Alina dengan nada lembut.


"Iya ma," jawab Arin dan Evan secara bersamaan.


Kini setelah selesai makan siang, Evan dan Arin langsung masuk ke dalam kamar mereka untuk mengemas pakaian mereka.


Alina menelpon mamanya sebelum datang kesana, karena takutnya mamanya akan kaget dan kawatir padanya.


Mendengar telpon rumahnya berbunyi, Heslin langsung mengangkatnya.


"Hallo...."


"Alina sayang, ada apa nak?"


"Mama, Alina mau menitipkan Evan dan Arin di rumah mama, apa boleh ma?"


Padahal dengan mamanya sendiri, Alina juga merasa tidak enak.


"Alina tentu saja boleh nak, bawah Evan dan Arin ke rumah saja! Biar mama juga tidak kesepian di rumah."


Mendengar sang mama menjawab dengan jawaban yang seperti itu, hati Alina begitu lega dan tentunya sangat bahagia, karena beruntung sekali mempunyai mamanya sebaik Heslin.


"Iya ma, nanti Alina antarkan mereka berdua ke rumah mama."


"Iya nak, tapi Alin kamu baik-baik saja kan nak? Kamu tidak sedang bertengkar dengan Vino?"

__ADS_1


Sebagai orang tua Heslin tentunya merasa sangat kawatir, apalagi tidak biasanya Alina sampai menitipkan kedua anaknya pada dirinya.


"Aku baik-baik saja ma, aku juga tidak sedang bertengkar dengan Mas Vino."


Alina berusaha menyembunyikan kesedihannya dan masalahnya, Alina juga tidak mau kalau mamanya sampai kawatir berlebihan dan akhirnya sakit.


"Katakan pada mama, jika terjadi sesuatu!"


"Tidak ma, semuanya baik-baik saja ma. Mama Alina tutup dulu telponnya, nanti Alina antarkan anak-anak ke rumah mama."


"Iya nak, kamu hati-hati di jalan!"


"Iya mama."


Alina menutup saluran telponnya, rasanya lega sekali, mungkin menitipkan Evan dan Arin dirumah mamanya adalah jalan yang terbaik, karena Alina tidak mau kalau kedua anaknya melihat dirinya bertengkar dengan papa mereka.


Setelah beberapa lama akhirnya Evan dan Arin selesai menyiapkan keperluan mereka untuk di rumah nenek dan kakeknya nanti.


Alina dengan berat hati mengatarkan kedua anaknya ke rumah kedua orang tuanya.


Saat Alina berusaha kuat karena harus menitipkan kedua anaknya di rumah kedua orang tuanya, di sisi lain Vino malah sedang bersenang-senang dengan Jessy di kantornya, bahkan mereka melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan di dalam ruangan Vino.


"Mas...."


"Bagaimana, kamu dan istrimu?"


Jessy begitu manja seraya mengelus-elus dada Vino dengan lembut, bahkan Vino saja sudah sepolos toples karena bajunya sudah entah berserahkan kemana-mana, ya tentu saja semua itu karena ulah nakal Jessy.


"Aku akan segera berpisah dengannya sayang," jawab Vino dengan nada lembut.


"Sungguh mas?! Maka aku akan menjadi Nyonya satu-satunya di rumah kamu mas," terlihat Jessy begitu bahagia. Bahkan dia tidak memikirkan hati dan perasaan Alina, padahal mereka sama-sama wanita.


Begitulah para pelakor mereka kadang tidak punya hati dan perasaan, bahkan mereka tega menghancurkan kebahagiaan keluarga orang lain dan tentunya anak-anaklah yang menjadi korban.

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2