
Satu minggu telah berlalu, akhirnya Alina menemukan perkerjaan di sebuah Supermarket besar, mau tidak mau Alina menerima pekerjaan itu dengan senang hati.
Kedua anaknya yang butuh untuk uang pembayaran sekolah dan kebutuhan lainnya, Alina kini sudah sah menyandang status janda dua anak.
Hari ini Alina mulai bekerja dan saat ini Alina dan kedua anaknya juga masih menginap di rumah kedua orang tuanya Alina. Heslin dan suaminya memang tidak mengizinkan Alina untuk pergi dari rumahnya, apalagi Alina hanya anak satu-satunya.
Alina bekerja dengan semangat di awal dia bekerja. Setelah selesai bekerja dan waktunya pulang, Alina bergegas untuk pulang karena minggu ini ia akan datang ke acara pernikahan Vino yang tidak lain adalah mantan suaminya.
"Mas, aku akan memberikan kejutan yang indah untuk kamu dan wanita gelapmu itu, aku yakin kamu pasti tidak akan percaya dengan semuanya," lirih Alina dalam hatinya.
Sesampainya di rumahnya, Alina bergegas untuk mandi. Lalu siap-siap untuk pergi ke acara pernikahan Vino dan Jessy.
"Alin, kamu serius akan datang ke acara nikahan manta suami kamu itu?" Heslin kawatir, ia takut putrinya akan semakin terluka nantinya.
Alina mengangguk mantap, apalagi ia sekarang terlihat begitu cantik karena Heslin menyuruhnya melakukan perawatan dan memberikan uang kepada Alina. Awalnya Alina menolak tapi Heslin memaksanya, Heslin tidak ingin Alina di rendahkan oleh mantan suaminya.
"Yakin Ma, aku mau menunjukkan sesuatu kepada Mas Vino. Anak-anak tidak aku ajak Ma, aku takut mereka akan sedih saat melihat Papa mereka bersanding dengan wanita lain," jawab Alina mantap, ia tampak cantik dengan balutan dress berwarna biru dongker, rambut panjang di cepol agak berantakan, lalu ia memberikan jepitan bunga untuk hiasan rambutnya.
Sebuah kotak kado yang entah isinya apa sudah Alina siapkan, ia menatap kotak kado itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Jessy, kamu sudah menghancurkan kebahagiaan kedua anakku, maka jangan salah jika aku juga akan menghancurkan kebahagiaanmu dengan mantan suamiku," batin Alina dalam hati.
Alina berpamitan kepada Mamanya, sedangkan papanya sedang menemani kedua anaknya belajar di dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Kamu di antar supir saja! Mama tidak mau kalau kamu pergi naik taksi, ini sudah malam," ujar Heslin karena kawatir.
Alina mengangguk, lalu ia pergi berlalu keluar dari dalam kamar.
Malam ini Alina datang ke pesta pernikahan Vino dan Jessy di antar oleh supir pribadi mamanya. Vino yang bodoh, dia sudah menyia-nyiakan Alina hanya demi batu kerikil. Alina itu anak orang kaya, ia yang dulunya glowing namun setelah menikah dengan Vino semuanya berubah, Vino yang pelit itu tak pernah memperhatikan penampilannya, bahkan uang belanja saja pas-pasan. Sungguh tidak beruntung menjadi istri Vino di masa lalu.
Sesampainya di tempat tujuan, Alina turun dari dalam mobil.
Saat Alina melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung, mata para pengusaha muda terpanah akan kecantikan Alina yang sekarang.
"Cantik sekali," puji seseorang laki-laki berparas tampan.
"Ehh tunggu, itu sepertinya mantan istrinya Vino," ujar yang lainnya, yang mengenal Alina.
Mereka semua saat itu datang ke rumah Vino, akhirnya mau tidak mau Vino mengenalkan Alina kepada para rekan bisnisnya.
"Jandanya Vino cantik juga," sambung yang lainnya lagi.
Alina hanya melempar senyum manis kepada semuanya, para laki-laki itu juga membalas senyum Alina dengan senang hati.
"Mas, kamu mengundang mantan istrimu?" tanya Jessy, ia tampak cantik dengan balutan gaun pengantin warna putih bersih, tapi tetap saja masih jauh cantikan Alina yang begitu manis, semanis madu.
"Biarkan saja dia datang, biarkan dia melihat kebahagiaan kita sayangku," jawab Vino dengan entengnya, saat melihat Alina yang begitu cantik Vino tidak berkedip sama sekali. "Alina cantik sekali," gumam Vino yang di dengar oleh Jessy.
__ADS_1
"Mas, kamu berani memuji mantan istrimu cantik di depan aku," sorot mata Jessy begitu marah.
"Emm tidak sayang, maksud Mas, kamu yang paling cantik," kilah Vino gugup.
Alina sudah menaruh kadonya di meja penerima tamu, lalu ia berjalan ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mantan suaminya dan istri barunya.
"Selamat ya Mas," saat Alina hendak menyalami tangan Vino dengan sigap Jessy menepis tangan Alina.
"Jangan sentuh suamiku!" titah Jessy dengan kasar.
"Jessy, kamu itu apa-apaan sih? Inikan banyak orang," omel Vino saat Jessy menepis tangan Alina dengan kasar.
Alina tersenyum kecil, sukurin di marahin.
"Selamat ya untuk kalian berdua," kata Alina lalu berlalu pergi begitu saja.
Tatapan Jessy begitu tidak suka pada Alina.
Untuk menghormati pernikahan suaminya dan istri barunya, Alina menikmati makanan yang ada di acara itu. "Lihat saja besok, aku yakin semuanya akan hancur," batin Alina dalam hati.
Entah kado apa yang di berikan Alina kepada Vino dan Jessy?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia