Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Janji Vino semua bohong


__ADS_3

Malam yang indah telah datang, Alina malam ini masih berada dirumah kedua orang tuanya.


Alina terdiam di saung bambu yang berada di depan rumah orang tuanya, ia termenung sendirian di saat kedua anaknya sudah tertidur nyenyak.


Malam yang dingin cukup menyelimuti tubuhnya yang mungil, pikirannya terus terngiang-ngiang akan kehidupannya selanjutnya akan bagaimana?


"Laki-laki itu kadang tidak memikirkan hati dan perasaan anak-anaknya."


"Aku tahu masalah perceraianku ini tidak bisa aku sembunyikan terus-terusan dari kedua anakku dan kedua orang tuaku."


Alina kembali termenung meratapi nasibnya, namun ia harus kuat dan tidak boleh lemah, ia harus berjuang untuk kedua anaknya yang masih kecil-kecil dan butuh biaya untuk jajan dan sekolah mereka.


Heslin memperhatikan Alina dari jendela rumahnya, perasaannya sebagai seorang ibu semakin kuat kalau saat ini putrinya ini sedang tidak baik-baik saja.


Heslin melangkahkan kakinya keluar untuk nyamperin Alina yang duduk sendirian di saung depan rumahnya.


"Alin...."


Mendengar suara lembut sang mama, Alina menoleh pelan.


"Mama, kok belum tidur?" tanya Alina, di hadapan sang mama Alina selalu berusaha kuat dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Mama belum mengatuk, Alina apa kamu ada masalah?" Heslin duduk di sebelah Alina, sebagai seorang ibu yang baik Heslin akan selalu melindungi anaknya dan mendengar cerita anaknya dengan baik, itupun kalau anaknya mau bercerita akan masalahnya.


"Mama, Alina mau tanya, jika seorang laki-laki yang sudah menikah, tapi dia punya wanita lain lagi di belakang istrinya, apakah sebagai seorang istri boleh kita meminta cerai?" tanya Alina, tatapan matanya terlihat senduh, hati dan perasaan Heslin juga semakin tidak enak.


Heslin tersenyum, lalu menatap lembut wajah cantik Alina.


"Tentu saja boleh nak, daripada kita terus bertahan tapi hati kita sakit, mungkin cerai itu jalan terbaik," jawab Heslin dengan nada lembut.


Tiba-tiba Alina meneteskan air matanya, sungguh ia ingin terus menahan tangisnya tapi air matanya pecah begitu saja.


Heslin langsung menggenggam erat tangan Alina, ia tahu anaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Heslin langsung memeluk sang mama, ia menangis di pelukan mamanya, Heslin hanya diam seraya mengusap-usap punggung Alina berharap Alina bisa sedikit tenang.


"Mama, Alina minta maaf, Alina tidak bisa mempertahankan pernikahan Alina dengan Mas Vino, Mas Vino lebih mencintai wanita lain yang lebih cantik dari Alina ma," cerita Alina, sambil memeluk sang mama Alina menceritakan semuanya.


"Tidak apa-apa nak, mungkin ini sudah takdirmu, mama akan selalu ada buat kamu apapun yang terjadi nak," tutur Heslin, lalu ia melepaskan Alina dari pelukannya.


Heslin memegang kedua pipi Alina dengan kedua tangannya, ia mengusap air mata sang putri yang kini sudah banjir membasahi pipi mulusnya.


"Untuk apa kamu tangisi nak? Kamu buktikan pada sih Vino brengsek itu! Kalau kamu bisa hidup tanpa dia, kalau kamu bisa menjadi Alina Wanita Hebat!" dengan tutur kata yang lembut, Heslin memberikan nasehat untuk putrinya.

__ADS_1


Bagi Heslin tangisan itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi bukti nyata yang harus Alina lakukan untuk membuat Vino kecewa karena sudah menyia-nyiakan dirinya dan kedua anaknya.


"Mama, Alina sekali lagi minta maaf," sebagai seorang anak Alina merasa bersalah pada mamanya, apalagi sampai melakukan perceraian dengan suaminya.


Dulu waktu awal pernikahan Vino berjanji akan menjadi suami yang baik dan setia untuk Alina, ia juga berjanji pada kedua orang tua Alina akan menjaga Alina dan tidak akan menyakiti hatinya, namun apa janji Vino semua itu bohong, sekarang Alina di selingkuhi, disakiti hatinya, wanita mana yang mau melihat suaminya punya wanita lain? Sungguh tidak ada wanita yang rela melihat semua itu, sesabar-sabarnya wanita, sekuat-kuatnya wanita jika ia merasa dirinya sudah tidak kuat lagi pasti akan menyerah.


"Tidak apa-apa nak, kamu harus tata hidupmu kembali, untuk masalah anak-anak kamu tidak usah kawatir, untuk masalah biaya sekolah dan yang lainnya untuk sementara mama yang akan menanggungnya. Tidak usah berharap dari Vino brengsek itu! Kedua cucu mama akan baik-baik saja tanpa papa mereka, jadi kamu tidak usah kawatir ya nak!" Heslin kembali memeluk Alina, sebagai seorang ibu hanya sebuah pelukan yang bisa Heslin berikan pada Alina.


"Terimakasih ma," jawab Alina yang diiringi isak tangis, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata. Mamanya memang sangat baik, baginya mamanya adalah wanita yang hebat.


Karena malam semakin larut, dan cuaca sangat dingin, Heslin membawa Alina masuk ke dalam rumah, ia menyuruh Alina untuk istirahat karena takut Alina sakit.


*****


Di saat Alina meratapi nasibnya dan kesedihannya, lagi-lagi Vino malah bersenang-senang dengan Jessy, bahkan mereka merencanakan pernikahan mereka secepatnya.


Sebagai sesama wanita Jessy memang tidak punya hati, dia belum merasakan saja rasanya jadi Alina seperti apa?


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2