Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Kata hati Jessy


__ADS_3

Pagi yang cerah Alina sudah terbangun dari tidurnya dan tentunya sudah mandi dan siap mengantarkan kedua anaknya berangkat sekolah.


Pagi ini di meja makan Evan dan Arin terlihat kurang bahagia, apalagi tidak melihat papa mereka berada di meja makan. Padahal hal ini sudah sering terjadi tapi yang namanya anak pasti ingin sarapan bersama dengan keluarga yang lengkap dan penuh kebahagiaan.


"Mama, papa mana?" tanya Arin, raut wajahnya yang begitu polos.


Alina tersenyum sambil melihat Arin, Alina berusaha kuat dan tentunya dia harus bisa memberikan jawaban yang masuk akal untuk kedua anaknya yang masih kecil-kecil ini.


"Nak, papa sudah berangkat ke kantor dari pagi-pagi sekali, papa kalian ada meeting penting pagi ini," jawab Alina dalam hatinya rasanya merasa bersalah sekali karena harus berbohong pada kedua anaknya ini.


Evan mendengus kesal, seperti inilah papanya tapi Evan sudah terbiasa, Evan juga jarang sekali menanyakan papanya dia tidak sebawel Arin yang masih kecil, mungkin Evan sudah mengerti jika papanya sering tidak pulang ke rumah tapi Evan berusaha pura-pura tidak tahu karena tidak mau melihat mamanya semakin sedih.


Evan terdiam sambil menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Mama, Evan tahu mama sedang berbohong bahkan semalam mama tidur di kamar kita Evan juga tahu ma, papa jika Evan sudah besar nanti Evan akan membuat mama selalu bahagia," batin Evan dalam hatinya.

__ADS_1


"Arin, jangan disini kan ada mama buat apa juga kamu menanyakan papa? Lagian ada papa juga kita berangkat sekolah di anterin sama mama," celetuk Evan. Ya memang seperti itulah biasanya, adanya Vino juga tidak akan mau mengatarkan kedua anaknya berangkat sekolah.


Alina mendekati Arin, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Arin sayang, kamu makan ya! Nanti pulang sekolah mama belikan es krim," hibur Alina yang melihat mata anaknya terlihat sedih.


Seketika senyum manis langsung terpancar di sudut bibir Arin. "Sungguh mama?" tanya Arin dengan begitu antusias.


"Sungguh anak mama, tapi Arin jangan bertanya papa lagi ya!" pinta Alina, sambil mengulurkan jari kelingkingnya Alina menatap Arin dengan lembut.


Setelah selesai sarapan Alina langsung mengantarkan kedua anaknya berangkat sekolah.


Setelah mengatarkan kedua anaknya sekolah, Alina pulang ke rumah untuk beres-beres rumah dan melihat suaminya sudah pulang atau belum?


Sesampainya di rumah Alina hanya bisa menghela nafas berat karena mobil suaminya tidak ada di garasi rumahnya, maka Alina tahu kalau suaminya ini belum pulang padahal hari sudah semakin siang, Alina yang tidak mau terlalu memikirkan suaminya dia memilih untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang masih berantakan seperti kapal pecah.

__ADS_1


*****


Disebuah hotel Vino dan Jessy masih berada di dalam selimut dengan tubuhnya mereka yang sepolos toples.


Bahkan Jessy masih bergulat manja di dada bidang Vino, sungguh Jessy ini seorang gadis tapi dia begitu murahan dan tentunya melebihi wanita j*l*ng.


"Mas, kamu tidak pulang?" tanya Jessy, suaranya terdengar begitu manja-manja genit.


"Sayang, untuk apa aku pulang? Istriku juga tidak pernah berdandan cantik, bahkan dia kucel sekali seperti kain lap dapur," jawab Vino sambil mengecup pucuk kepala Jessy.


Dalam hati Jessy begitu bahagia, begitu nasib jadi istri sah sungguh tidak ada harga dirinya sama sekali di mata suaminya, Jessy kamu memang wanita hebat, kamu bisa mengambil hati Vino yang kaya raya ini. Aku yakin kalau aku bisa menikah dengan Mas Vino, aku pasti akan bahagia dan hidupku akan bergelimang harta, tentunya aku akan menjadi seorang Nyonya. Lihat saja sebentar lagi pasti Mas Vino akan bercerai dengan istrinya dan aku akan menjadi satu-satunya untuk Mas Vino.


Jessy memang tidak punya hati, lihat saja akan bagaimana nasib Jessy ke depannya? Akankah indah seperti harapannya?


Bersambung

__ADS_1


terimakasih para pembaca setia


__ADS_2