Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Sabar ada batasanya


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Alina terdiam sendirian di ruang tengah sedangkan kedua anaknya tidur siang.


Alina mencoba menghubungi Vino tapi lagi-lagi tidak di angkat oleh Vino.


Alina menghela nafas panjang, dia berusaha untuk sabar demi kedua anaknya.


"Apa mau Mas Vino ini? Kenapa dia seperti ini? Kalau bukan demi anak-anak aku pasti akan memilih berpisah dengan Mas Vino," batin Alina dalam hatinya.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, Alina beranjak dari tempat duduknya dan pergi membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek......"


Alina melihat Vino terlihat begitu lelah, bahkan sedikitpun Vino tidak tersenyum pada Alina.


"Minggir! Kenapa kamu menghalangi jalanku?" ketus Vino, terdengar begitu kasar seketika hati Alina menangis tapi Alina tetap berusaha kuat.


Alina menyingkir dari pintu, lalu Vino masuk begitu saja ke dalam rumahnya tanpa melihat raut wajah Alina yang begitu menghawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Mas, kamu darimana saja? Semalaman tidak pulang," tanya Alina ketika Vino sudah duduk di sofa.


"Alina, kenapa kamu ini bawel sekali, aku itu kerja kalau aku tidak pulang ya aku lembur dan kamu itu tidak usah bawel!" Vino malah menyentak Alina dengan kasar.


Sungguh hati Alina begitu geram, haruskah dia menghormati suami yang seperti ini? Haruskah Alina mengkhawatirkanya setiap Vino tidak pulang ke rumah? Sedangkan Vino sendiri tidak bisa berbicara lembut pada Alina.


"Mas, aku melihat kamu bersama wanita lain di mall, wanita itu siapa?" tanya Alina dengan tatapan meminta jawaban.


"Kamu ke mall, apa kamu punya uang? Uang darimana kamu? Apa kamu bermain dengan laki-laki lain?" cecer Vino, bukannya menjawab Vino malah mencurigai Alina dan menuduh Alina yang tidak-tidak.


Seketika Vino terdiam, Alina melihatku dengan Jessy? Apakah mama juga melihatnya? Aduh kalau mama melihatnya bisa ngamuk nanti mama.


"Oh, dia hanya rekan kerjaku, kebetulan kita baru saja selesai meeting dan ya wajar saja kalau aku antarkan dia belanja," sahut Vino dengan begitu santai.


"Hanya rekan kerja, kamu itu bos mas, haruskah kamu melakukan itu?" tanya Alina lagi, kali ini Alina tidak habis pikir.


Vino menatap Alina dengan tatapan tajam, sungguh aturan Alina yang marah tapi Vino malah marah pada Alina.

__ADS_1


"Hey kamu, urus diri kamu biar cantik! Jangan setiap hari bau keringat dan pakai daster saja jadi suami betah dirumah, beli skincare dan apalah itu agar kamu itu terawat!" Vino menunjuk Alina dengan jari telunjuknya, sungguh Alina semakin tidak habis pikir.


Vino menyuruh Alina cantik, beli skincare dan ini dan itu sedangkan Vino sendiri dia tidak mau memberikan uang lebih untuk Alina, uang 50 ribu saja harus buat ini dan itu boro-boro mau beli alat kecantikan, anaknya bisa makan dan jajan setiap hari saja Alina sudah sangat bersyukur.


"Mas mikir tidak saat mas berkata seperti itu, uang belanja 50 ribu, itu tidak akan cukup mas, punya suami kaya saja pelitnya minta ampun," jawab Alina, sungguh sudah tidak tahan dengan sikap Vino selama ini.


Vino menatap tajam Alina bahkan dia terlihat begitu marah.


"Apa kamu sudah berani melawan mas?" tanya Vino sorot matanya begitu penuh amarah.


"Mas yang keterlaluan, sabar juga ada batasnya mas!" tegas Alina, dia memilih pergi ke kamar dan meninggalkan Vino sendirian di ruang tengah.


Vino geleng-geleng kepala, kali ini Alina sudah berani melawan dirinya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya?


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2