
"Pak Vino sedang apa dengan Jessy?" tanya orang itu, membuat Vino semakin gugup dan tentunya expressi wajahnya terlihat tidak bisa di artikan.
"Kita sedang..." Vino terlihat gusar.
Jessy menatap seseorang itu dengan tatapan tidak suka. "Kita ini di mall, tentu saja kita di sini kita mau belanja, kepo sekali." sambung Jessy dengan tatapan sinis, terlihat Jessy itu tidak suka melihat seorang wanita yang baru saja menegur Vino.
"Nesya kita duluan ya," pamit Vino dan dia buru-buru pergi dari hadapan Nesya.
Vino merasa tidak tenang, Nesya itu salah satu teman dekat Alina, Vino juga mengenal Nesya karena Nesya sering datang ke rumah Vino dan Alina saat anak-anak mereka mengejarkan tugas kelompok.
Melihat Vino terlihat gusar, Jessy menghela nafas panjang. "Mas, kamu itu kenapa sih?" tanya Jessy agak ngedumel dalam hatinya.
"Itu tadi Nesya, dia adalah teman istriku," jelas Vino, kini hati Vino semakin tidak tenang.
"Apa aku salah? Lagian aku sampai bermain di luar itu karena salah Alina tidak mau membuat dirinya cantik, setiap hari hanya memakai daster, kalau aku pulang kerja tidak ada wangi-wangiannya, kadang masih kucel," batin Vino dalam hatinya.
"Sudahlah mas, ayo aku mau belanja!" ajak Jessy, dia enggan mendengarkan cerita lebih lanjut lagi dari Vino.
Jessy langsung mengajak ke toko tas langganannya, Vino juga hanya menurut dan segera melupakan masalah Nesya.
Sambil berjalan Nesya terus berpikir, Vino kok bisa jalan berdua dengan wanita dan dengan begitu mesra?
"Tunggu, apa jangan-jangan Pak Vino berselingkuh di belakang Alina?"
"Kasian Alina, jika itu memang benar?"
"Haruskah aku memberitahukan pada Alina? Tapi aku takut di bilang ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka."
Nesya buru-buru menepis pikirannya, dia ingin memberitahukan pada Alina kalau suaminya jalan berdua dengan wanita lain, tapi Nesya juga tidak punya bukti yang kuat, Nesya juga takut dikira menyebar fitnah.
__ADS_1
Alina adalah wanita yang begitu bijaksana, dia juga tidak pernah menceritakan suaminya itu seperti apa pada teman-temannya?
Alina juga selalu menutupi aib rumah tangganya dengan rapat-rapat, karena tidak mau sampai orang lain terutama keluarganya mendengar tentang masalah rumah tangga Alina dan Vino.
Jessy terlihat bahagia, bahkan dia membeli apa saja yang dia mau, membeli tas, sepatu, alat-alat make-up, baju baru dan keperluan Jessy yang lainnya.
Vino juga tidak ambil pusing, walaupun harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk Jessy tapi Vino begitu santai bahkan raut wajahnya begitu tenang.
"Kamu beli ini, untuk nanti malam!" Vino menunjukkan baju tidur seksi untuk Jessy.
Jessy tersenyum dia juga langsung mengangguk, yang penting apapun yang Jessy inginkan keturutan.
Setelah selesai berbelanja, Jessy mengajak Vino untuk makan berdua di restoran yang ada di mall itu.
Vino dan Jessy makan enak, tapi Vino tidak pernah ingat istrinya dan kedua anaknya. Arin meminta makan pakai lauk ayam goreng saja, Vino marah dan bilang makan itu seadanya cari uang itu susah!
Alina baru saja menjemput kedua anaknya dari sekolahan. Kini mereka sedang duduk sambil menikmati makan siang mereka, ya dengan lauk sayur bayam dan tempe goreng.
Bersyukur Arin hari ini tidak melakukan protes, dia juga begitu lahap memakan makannya membuat Alina juga tersenyum senang.
"Aku tahu uang kamu banyak mas, tapi kamu tega memberikan lauk untuk anak-anak kamu setiap hari seperti ini," batin Alina dalam hatinya.
"Mama, tadi Bu guru bilang, besok Evan bayar uang bulanan sekolah," kata Evan sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya nak, besok mama bayar ya." Jawab Alina sambil tersenyum.
Arin sudah selesai makan, dia melihat ke arah mamanya.
"Ada apa anak mama?" tanya Alina pada Arin dengan nada lembut.
__ADS_1
"Mama, katanya mama kalau habis ulangan Arin mau di belikan es krim, Arin mau es krim cup yang besar mama," jawab Arin dengan raut wajah yang begitu polos seperti biasa.
Alina mengingat janjinya beberapa hari yang lalu pada putri kecilnya, tapi kali ini hatinya hanya bisa menangis.
"Es krim cup besar pasti harganya mahal, sedangkan uang hari ini saja sisa 12 ribu, pasti tidak akan cukup untuk membeli es krim yang Arin mau," batin Alina dalam hatinya.
"Arin sayang, nanti mama belikan ya tapi tidak sekarang nak," tutur Alina sambil berusaha menahan air matanya.
Hati Alina meronta-ronta dia ingin sekali kembali menjadi wanita karir lagi seperti waktu dia muda, tapi dia bingung dengan kedua anaknya.
Arin mengangguk, tapi dia juga memanyunkan bibirnya, Evan mengacak-acak rambut Arin dengan pelan.
"Sudah jangan manyun! Ayo kakak ajak kamu bermain saja!" hibur Evan, akhirnya Arin mau tersenyum dan pergi bermain dengan Evan.
Alina tersenyum, beruntung dia punya anak sebaik Evan biarpun dia masih kelas 5 SD tapi Evan selalu mengerti kondisi sang mama.
Evan dan Arin asik bermain sedangkan Alina membereskan piring-piring kotor bekas kedua anaknya makan.
Alina mencuci piring, tapi saat sedang sibuk mencuci piring tiba-tiba bel rumahnya bunyi dan Alina buru-buru pergi ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Iya tunggu sebentar!" teriak Alina dari dalam rumahnya.
"Ceklek....." Alina membuka pintu rumahnya, melihat siapa yang datang, Alina tersenyum bahagia.
"Alina sayang......"
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1