
"Maka aku yang akan melepaskanmu suamiku yang terhormat....."
Terdengar suara Alina begitu lemah lembut tapi sangat ngena di hati Vino.
"Alina, kamu sungguh berani pada suamimu, entah kemana Alina yang dulu?" Vino masih tidak percaya, apalagi Alina sampai berbicara seperti itu.
"Aku hanya bersikap tegas, jika kamu bertanya aku yang dulu kemana? Lalu kamu sendiri, kamu yang dulu kemana?" Alina malah berbalik tanya pada Vino, biarkan saja Vino introspeksi diri.
"Aku tahu kamu punya wanita lain mas, bahkan kamu lebih memilih membahagiakan wanita lain daripada istri dan kedua anak kamu mas, aku sudah cukup sabar selama ini mas, kamu memberikan aku setiap hari hanya 50 ribu, tapi kamu bisa membelikan apa saja untuk gundikmu itu," tutur Alina sambil terus menahan air matanya agar tidak keluar.
Bayangkan saja dulu Vino begitu mencintainya, tapi semakin lama semua itu berubah, Alina masih sabar, Alina berusaha kuat bahkan di kasih uang belanja setiap hari 50 ribu saja Alina menerimanya dengan iklhas.
Saat Alina merasa tidak kuat Alina selalu melihat kedua anaknya, jika mereka tidak punya figur seorang papa takutnya kedua anaknya tidak bahagia.
Apalagi Arin yang masih TK, dia juga yang paling manja pada papanya dan sering kali menanyakan papanya, kadang yang paling Alina pikirkan adalah Arin. Jika Evan, mungkin Evan sudah mengerti dan Evan juga tidak terlalu dekat dengan papanya karena Evan sering kali di marahin papanya dan di bentak oleh papanya.
__ADS_1
Tapi kesabaran manusia itu ada batasannya, jika terus-terusan di sakiti juga Alina tidak mau, apalagi dengan datangnya orang ketiga bukannya hanya Alina yang tersakiti, tapi kedua anaknya juga pasti akan tersakiti, Alina juga selalu memikirkan mental kedua anaknya beda sekali dengan Bumi yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri saja.
"Makanya kamu itu rawat dirimu, dulu awal kita menikah, kamu itu begitu cantik tapi lihat sekarang kamu berubah, tubuhmu sudah tidak cantik lagi, kamu juga kucel seperti kain lap dan perlu kamu tahu gundikku jauh lebih cantik dan seksi darimu," teter Vino dengan tatapan meremehkan Alina.
"Aku juga tidak mau punya istri jelek, aku malu mengenalkan kamu pada para rekan bisnisku, nanti mereka pasti akan menertawaiku, masa seorang bos istrinya kucel sekali," lagi-lagi Vino meremehkan Alina sambil tertawa.
Mungkin Vino lupa, dulu Alina adalah seorang wanita karir dan tentunya gajian Alina lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan, Alina juga sering pergi ke salon dan tentunya melakukan perawatan yang lainnya juga.
Tapi di saat menikah dengan Vino, Alina akhirnya berhenti kerja dan hanya di rumah saja.
"Aku juga tidak tahan punya suami seperti kamu mas," jelas Alina dengan tegas.
"Mari kita berpisah mas, kamu bisa menikah dengan gundikmu yang cantik dan seksi itu, aku harap kamu tidak di tinggalkan di saat kamu jatuh miskin," kata Alina dengan tegas.
"Ini adalah jalan terbaik, maafkan mama ya anak-anakku, mama memilih berpisah dengan papa kalian tapi mama janji mama akan membuat kalian bahagia," batin Alina dalam hatinya.
__ADS_1
"Alina, aku tidak akan jatuh miskin..."
"Baiklah jika kamu ingin berpisah denganku, aku yakin kamu tidak akan bisa hidup tanpa aku."
Vino tersenyum, dia yakin Alina mengucapkan hal seperti ini hanya bercanda saja.
"Tidak usah pikiran hidupku mas, secepatnya kita urus perceraian kita!" pinta Alina dengan tegas.
"Alina, apa kamu serius?" tanya Vino.
"Aku...."
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1