Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Menahan kesedihan


__ADS_3

Alina duduk di dekat Vino.


"Mas, baju kamu kok bau parfum cewek?" Tanya Alina, dengan tatapan lembut.


Seketika Vino langsung menatap Alina dengan tatapan penuh amarah, Alina menghela nafas pelan, sungguh suaminya ini kenapa tidak bisa selembut waktu masih pacaran?


"Alin, aku kerja, aku lembur, hampir setiap hari aku bertemu dengan klien wanita, ya wajarlah kalau aku bau parfum cewek. Kamu tahu pasti parfum mereka bukan parfum murahan maka nya parfumnya baunya begitu wangi bahkan sampai dirumah juga masih wangi," oleh Vino sambil menatap Alina dengan tatapan kesal.


Alina mengangguk, dia tidak melawan karena tidak mau terjadi perdebatan, kali ini Alina tetap sabar.


"Kamu juga suami pulang bukannya berpenampilan cantik, ini malah pakai setelan kulot seperti ini, ini itu buat tidur, bukan buat menyambut suami pulang, rambutmu juga berantakan." Vino terus mengoceh, melihat Alina Vino hanya bisa geleng-geleng kepala.


Dalam hati Vino, dulu waktu masih pacaran dengan Alina, dia begitu cantik bahkan anggun tapi sekarang boro-boro cantik, setiap hari dia kerjaannya ngurus anak-anak bahkan dia lupa merawat tubuhnya.


"Mas, aku tadi baru saja pulang mengantarkan anak-anak sekolah, ini saja mau beli sayuran ke depan," jawab Alina dengan nada lembut, Alina masih berusaha sabar.


Vino memilih diam, dia mengambil secangkir teh yang sudah di siapkan oleh Alina lalu Vino menyeruput teh itu dengan hati-hati.


Alina melihat Vino, dia mengingat Arin yang meminta beli es krim beberapa hari yang lalu.


"Mas, aku boleh meminta uang belanja aku di lebihi tidak? Kasian mas anak-anak makan telur dan tempe setiap hari, aku pingin mereka makan ayam mas sama Arin juga minta beli es krim," kata Alina dengan nada lembut.


Bayangkan saja uang 50 ribu untuk belanja sehari dan jajan kedua anaknya. Kadang juga ada keperluan lain seperti infak di sekolahan Arin dan Evan, beli bensin dan kadang ada kebutuhan mendadak yang membuat Alina harus pintar membagi uang 50 ribu itu biar cukup.


Vino langsung menatap Alina dengan tatapan kasar. "Alin, kamu itu seorang istri pintar-pintar lah kamu membagi uang, masa uang 50 ribu tidak cukup? Ingat ya, tidak usah terlalu manjain Evan dan Arin! Arin minta es krim bilang saja tidak punya uang, terus makan itu seadaanya tidak usah protes!" Vino malah marah-marah dengan suara menggema.


Lagi-lagi Alina hanya bisa mengelus dadanya dengan sabar, sungguh ingin sekali berpisah dengan Vino tapi Alina memikirkan kedua anak-anaknya yang masih terlalu kecil dan tentunya masih membutuhkan sosok seorang papa.


"Sudahlah pusing aku dirumah, kamu itu kerjaannya duit-duit mulu, terus penampilan kamu juga semakin hari semakin kucel dan kamu itu malas sekali merawat diri," oceh Vino dan dia lebih memilih pergi meninggalkan rumah karena merasa pusing.

__ADS_1


Padahal Vino jika di luaran sana biasa makan enak bahkan dia juga suka membelanjakan wanita lain yang menurut dirinya cantik.


Vino tidak pernah sayang mengeluarkan uang banyak untuk bersenang-senang, tapi dia tega memberikan uang belanja sehari 50 ribu pada istrinya.


Vino langsung melajukan mobilnya, dia bergegas menuju ke rumah Jessy, karena Vino tahu pasti Jessy sedang bahagia dengan mobil baru yang Vino kirimkan pada dirinya.


Seperti janji Vino pada Jessy, kalau pagi hari nanti sudah ada mobil baru di halaman rumah Jessy dan itu benar.


*****


Jessy terlihat bahagia, dia sedang mencoba mobil yang dikirimkan oleh Vino tadi pagi.


"Baru semalam, tapi Mas Vino sungguh mengirimkan mobil baru."


"Ini tidak bisa di lepaskan, aku harus buat Mas Vino menceraikan istri sahnya!"


Jessy terus senyam-senyum, kali ini dia begitu bahagia karena mendapatkan mobil baru dari Vino.


"Terimakasih mas," kata Jessy dengan bahagia.


"Sama-sama sayang, apa kamu suka?" Vino mengusap rambut Jessy, lalu mencium kening Jessy dengan mesra.


Mereka layaknya sepasang suami istri padahal mereka hanyalah bos dan sekretarisnya saja.


"Suka mas, suka banget." Jawab Jessy yang lagi-lagi terlihat begitu bahagia.


Vino memang tidak punya hati, istri sendiri tidak diurusin tapi sekretaris pribadinya di buat hidupnya enak, entah bagaimana jika Alina tahu akankah Alina sakit hati dengan semua ini?


"Mas tidak mau kamu kepanasan, mas juga tidak mau kehujanan, jadi kamu harus pakai mobil ini setiap kali pergi kemana-mana!" tutur Vino, terlihat nada bicaranya begitu lembut berbeda saat bersama Alina.

__ADS_1


Jessy mengajak Vino masuk ke dalam rumahnya, ya seperti biasa mereka langsung masuk ke dalam kamar dan bersenang-senang di dalam kamar Jessy.


*****


Jam menunjukkan pukul 11, Alina baru saja menjemput Arin, lalu dia menjemput Evan.


Sesampainya di rumah seperti biasanya, Arin dan Evan masuk ke kamar masing-masing lalu mereka berganti pakaian, setelah berganti pakaian Evan dan Arin langsung pergi menuju ke meja makan karena sudah merasa sangat lapar sekali.


Lagi-lagi di meja makan Evan dan Arin hanya diam, apalagi melihat lauk di atas meja makan lagi-lagi hanya ada telur dan tempe.


"Mama, apa tidak ada lauk lain?" tanya Arin dengan kepolosannya.


Lagi-lagi Alina berusaha menahan air matanya, rasanya ingin sekali kembali menjadi wanita karir agar anak-anaknya meminta apapun bisa dia turuti.


"Arin, untuk sementara kita makan pakai ini dulu ya nak! Arin tahu, banyak orang di luaran sana yang tidak bisa makan semua ini karena mereka tidak punya uang, jadi Arin tidak boleh ngeluh dan Arin harus makan." Tutur Alina dengan nada lembut, matanya berusaha menahan air matanya agar tidak sampai pecah.


Evan tersenyum, lalu dia melihat ke Arin sambil tersenyum.


"Dek, benar kata mama. Kita makan yang ada dulu ya dek, ini saja enak dek." Kata Evan, dia tahu mamanya sedang menyembunyikan kesedihannya.


Alina tersenyum pada Evan, mungkin karena Evan sudah agak besar jadi Evan lebih paham akan keadaan mamanya.


"Baiklah kak, mama telpon papa dong, bilang papa belikan Arin ayam goreng!" Arin akhirnya mau makan, tapi lagi-lagi Arin meminta makan ayam goreng.


Alina hanya diam, percuma jika dirinya menelpon suaminya pasti suaminya yang ada akan marah-marah seperti tadi.


"Papa kerja lembur nak, mungkin malam ini papa tidak pulang," jawab Alina berharap Arin akan percaya.


Arin mengangguk, dia memakan makannya dengan lahap Evan juga melakukan hal yang sama, sedangkan Alina hanya bisa menahan kesedihannya dalam hatinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2