Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Kemarahan Alina


__ADS_3

Vino berjalan menyusul Alina ke dalam kamarnya, Vino membuka pintu kamarnya dengan kasar tapi Alina berusaha tenang.


"Apalagi?" ketus Alina, sorot matanya begitu garang pada Vino. Sebagai wanita Alina juga bisa marah.


Seketika Vino kembali menatap Alina dengan tatapan tajam."Sudah berani kamu melawan aku, kamu pikir kamu siapa?" tanya Vino dan dia berjalan mendekati Alina.


"Haruskah, aku selalu mengalah?"


"Ingat mas, tanpa tabungan aku yang ratusan juta itu kamu tidak akan bisa seperti sekarang ini, jangan lupa kamu!"


"Sekarang, kamu bersikap seenaknya sendiri padaku dan kedua anakku, sungguh laki-laki tidak ada akhlak."


Alina menatap tegas Vino, dia tidak takut pada Vino, lagian kalau di suruh mengalah terus juga Alina tidak tahan.


"Alina.....kurang ajar kamu!" Vino hampir saja men*mp*r pipi mulus Alina, tapi dengan kuat Alina menahan tangan kekar Vino. "Jangan harap kamu bisa menyakiti aku, mas!" tandas Alina dengan tegas.


Seketika amarah Vino semakin memuncak tapi Alina tidak perduli dan enggan terus-terusan menurut atau patuh suaminya yang tidak punya akhlak itu.


"Aku lelah jika harus seperti ini terus, kalau kamu menceraikan aku, aku juga tidak takut mas, justru aku akan sangat bahagia," batin Alina dalam hatinya.

__ADS_1


"Dasar istri kurang ajar!"


"Istri tidak tahu di untung!"


"Sudah jelek, bukannya merawat diri untuk suami ini malah semakin jelek!"


Terdengar suara Vino begitu menggema, beruntung kamar mereka itu kedap suara jadi anak-anak tidak akan mendengar jika mereka sedang bertengkar.


"Hey, kalau bicara, kamu pikirkan dulu mas! Apakah kamu sendiri sudah benar menjadi seorang suami?"


"Apakah kamu mencukupi aku secara lahir dan batin? Bukan aku yang kamu cukupi melainkan j*l*ng diluar sana!"


"Dengarkan aku mas!"


"Kamu adalah suami kurang ajar, kamu lupa akan kewajiban kamu sebagai seorang suami."


"Tapi kamu ingin istrimu benar, kamu benarkan saja dulu aklak kamu mas!"


Alina berlalu pergi, hari ini pertama kalinya Alina melawan Vino, kerena jika di biarkan pasti Vino akan kemana-mana dan tentunya akan menyakiti Alina secara fisik.

__ADS_1


Alina langsung pergi ke kamar kedua anaknya, Alina melihat kedua anaknya masih nyenyak tidur.


Alina duduk di tepi ranjang, kini tangannya membelai lembut rambut panjang Arin.


"Mama tahu kalian masih kecil-kecil, mama juga tahu kalian masih membutuhkan kasih dan sayang dari papa kalian."


"Tapi anak-anak, jika mama sudah tidak kuat menghadapi papa kalian, jangan marah pada mama ya nak!"


"Mama janji, walaupun kalian nanti hidup tanpa papa kalian pasti mama akan memberikan kebahagiaan untuk kalian."


Alina terus berbicara dalam hatinya, kini air matanya menetes membasahi pipi mulusnya. Melihat anaknya yang masih kecil-kecil harus kah dia berpisah dengan suaminya?


"Jika Mas Vino semakin keterlaluan, aku yang mengalah aku akan pergi dan aku akan pergi membawa anak-anakku, aku yakin aku bisa membesarkan mereka tanpa Mas Vino," batin Alina dalam hatinya.


Alina membaringkan tubuhnya di samping Arin, dia memilih untuk tidur, dia juga tidak perduli dengan Vino, mau dia sudah makan atau belum bagi Alina itu tidak penting.


Vino terdiam di tepi ranjang, rasanya sangat marah pada Alina tapi Vino berusaha tenang dan akhirnya memilih pergi entah kemana?


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2