
Hari semakin siang, Alina menyuruh kedua anak-anaknya untuk istirahat di kamar mereka yang sudah di siapkan oleh nenek mereka, iya sebelum Alina membawa kedua anaknya ke rumah orang tuanya, Alina memang sudah mengabari mamanya lebih dulu, hanya saja Alina tidak menceritakan kenapa? Ia hanya bilang kalau anak-anaknya sedang liburan sekolah.
Di saat kedua anaknya sedang istirahat di kamar mereka, Alina duduk di ruang tengah sendirian dengan tatapan kosong dan tentunya karena itu banyak pikiran, ia memikirkan bagaimana cara ia menjelaskan pada kedua anaknya nanti jika ia akan bercerai dengan papa mereka?
"Lin...." panggil Heslin, ia merasa anaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja, melihat wajah cantik Alina yang tidak sebahagia biasanya membuat Heslin menduga-duga pasti ada sesuatu yang terjadi. "Entah kenapa dia dengan Vino?" batin Heslin dalam hatinya.
"Mama, kenapa?" tanya Alina pada mamanya, matanya Alina terlihat sedih, membuat Heslin cukup kawatir.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Heslin, ia duduk di sebelah Alina. Sebagai seorang ibu, Heslin tahu kalau anaknya ini sedang tidak baik-baik saja.
"Semuanya baik-baik saja ma," jawab Alina berusaha tegar dan kuat, ia terpaksa bohong pada mamanya karena tidak mau kalau mamanya ikut sedih, dan pastinya jika mamanya tahu, pasti mamanya tidak akan diam saja melihat Alina seperti ini.
"Kenapa Vino tidak ikut ke rumah? Lalu, kenapa kalian datang mengunakan taksi?" tanya Heslin penuh selidik.
Dalam hati Heslin, Alina mama tahu, kalau saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari mama.
"Mas Vino sedang ada rapat penting ma, lagian anak-anak sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nenek tersayangnya ma, makanya Alina naik taksi saja daripada nungguin Mas Vino, pasti dia rapatnya pasti lama ma," tutur Alina yang berusaha menyakinkan mamanya.
Heslin mengangguk, iya walaupun dalam hatinya masih tidak percaya, tapi Heslin juga tidak bisa memaksa Alina bercerita tentang masalah yang sedang Alina hadapi saat ini.
__ADS_1
"Ma, ayo kita masak bareng," ajak Alina dengan senyum pura-pura bahagia, karena ia tidak mau kalau mamanya tahu kalau saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ayo nak....!!" sahut Heslin, dan mereka berdua langsung berlalu pergi menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur, mereka sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka masak dan di bantu oleh kedua Art nya Heslin.
*****
Di saat Alina berusaha tegar dan kuat, tapi tidak dengan Vino, ia tampak bahagia bersama dengan Jessy bahkan mereka asik belanja di mall.
Jessy juga benar-benar tidak punya hati, ia mendengar kabar perceraian Alina dan Vino, baginya itu suatu kebahagiaan karena dirinya akhirnya akan menjadi wanita satu-satunya dalam hatinya Vino, dalam hidup Vino.
"Mass...." panggilnya dengan manja, membuat Vino menoleh gemas dan ingin sekali mencubit bibir mungil Jessy dengan bibirnya.
"Kenapa sayangku?" tanya Vino dengan nada lembut.
"Aku sudah membeli dua tas, apakah aku boleh pergi perawatan ke salon?" Jessy berglendotan manja di pundak Vino, padahal banyak pengunjung lain yang menyaksikan kemesraan mereka tapi Jessy percaya diri saja.
Dasar pelakor itu memang tidak ada malunya, muka tembok, tidak punya hati dan tentunya tidak perasaan juga karena sudah tega menghancurkan rumah tangga wanita lain.
__ADS_1
"Tentu saja boleh sayang, lagian dua tas itu hanya 100 juta, itu tidak ada apa-apanya buat mas," jawab Vino dengan bangga.
Seketika Jessy tersenyum senang, sudah mendapatkan dua tas branded dan boleh pergi ke salon juga. "Sungguh aku tidak salah memilih laki-laki," batin Jessy dalam hatinya.
"Ayo kita ke salon, terus setelah ke salon kita makan sayangku..." seru Jessy dengan antusias, dan Vino mengangguk semangat.
Akhirnya mereka pergi ke salon, setelah selesai dari salon, mereka berdua pergi makan berdua dan setelah mereka selesai makan berdua.
Vino langsung mengajak Jessy pulang ke rumahnya.
"Sayang, aku sudah menuruti semua keinginanmu, sekarang kamu juga harus memberikan aku kepuasan yang luar biasa," bisik Vino dengan mesum di telinga Jessy.
Jessy tersenyum kecil, lalu ia mengangguk ia tahu apa yang harus ia lakukan malam ini dan memberikan kepuasan untuk Vino itu sudah hal biasa yang sering ia lakukan, bahkan Jessy juga sudah tidak malu lagi pada Vino. Telanjang di depan Vino juga sudah sering ia lakukan, biarpun Jessy masih gadis, tapi Jessy itu cukup lincah dalam melakukan ehem-ehem dengan Vino, membuat Vino senang dan sangat menikmatinya.
Kini sesampainya di rumah Vino, Vino tersenyum mesum, apalagi Alina juga sudah pergi dari rumahnya, jadi Vino bisa ehem-ehem kapan saja dengan Jessy.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1