
"Kemana saja sih kamu sayang?" tanya Vino, terlihat wajahnya sangat kesal.
Jessy tersenyum begitu hangat, haruskah dia bercerita pada Vino kalau dia habis bertemu dengan laki-laki lain?
"Sayangku......"
Jessy terlihat gusar tapi dia berusaha tenang agar Vino tidak sampai tahu kalau dirinya tadi pergi dengan laki-laki lain.
Dengan manja Jessy menyadarkan kepalanya di dada bidang Vino, jari-jari lentiknya mulai bermain-main di setiap lekuk tubuh Vino.
"Maaf ya sayangku, kamu harus menunggu lama tadi aku habis menjenguk teman aku yang sedang di rumah sakit," kata Jessy nada bicaranya begitu lembut. "Aku yakin Mas Vino itu mudah sekali di kelebui," gumam Jessy di dalam hatinya.
"Apakah harus malam-malam seperti ini? Apakah tidak bisa menunggu pagi?" tanya Vino, membuat Jessy terdiam sejenak.
"Emmm....dia sudah tidak punya keluarga mas, jadi tadi aku sempatin jengkuk dulu," jelas Jessy masih berusaha tenang agar Vino percaya pada dirinya.
__ADS_1
Jessy mengangkat kepalanya, lalu matanya mengarah ke atas melihat wajah kesal Vino. Dengan lihai Jessy menyusupkan tangannya masuk ke dalam baju Vino.
"Sayang, jangan kesal! Bagaimana kalau malam ini kita bermain-main sampai puas?" Jessy berusaha membujuk Vino dengan rayuan mautnya.
Kini bibir mungil Jessy dengan nakal mengecup bibir Vino, sungguh Jessy ini memang lebih dari j*l*ng bahkan bukan hanya dengan Vino dia melakukan hubungan suami istri tapi sudah beberapa laki-laki menikmati tubuh mulusnya termasuk para mantan kekasihnya di masa lalu.
Vino yang tadinya merasa kesal kini rasa kesal itu seketika hilang dan Vino langsung membalas ciuman bibir Jessy dengan panas.
Sungguh Vino itu seorang suami yang tidak punya hati bahkan dia melakukan hal seperti ini dengan wanita lain itu baginya hal yang wajar, bahkan tidak sedikitpun Vino mekirin Alina dan kedua anaknya.
Malam yang begitu dingin menemani pergulatan panas mereka malam ini, Vino juga sudah tidak ingat pulang lagi yang paling penting dirinya bahagia dan tentunya puas dengan wanita cantik.
Angin malam yang begitu dingin merasuki tubuh Alina yang sedang tertidur nyenyak bersama kedua anaknya.
Perlahan-lahan Alina membuka matanya untuk mencari selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah kedinginan dari tadi.
__ADS_1
Sekilas Alina melihat jam dinding berwarna pink yang ada di dalam kamar anaknya. Alina tercengang melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
"Sudah jam 2 pagi, Mas Vino sudah pulang belum ya?" Alina berbicara sendiri, sebagai seorang istri tetap saja Alina memikirkan suaminya yang masih berada diluar sana.
Alina terdiam, lalu dia mengingat kejadian waktu di mall benda waktu lalu saat Alina pergi ke mall bersama mamanya dan kedua anaknya.
"Sudahlah Alin, untuk apa juga kamu memikirkan suamimu itu? Lebih baik kamu fokus mengurus kedua anak kamu dan jika kamu sudah tidak tahan lagi, maka pergilah dari hidup Vino.....!!" hati Alina berbicara.
"Iya untuk apa juga aku memikirkan Mas Vino," Alina menyahuti kata hatinya sendiri.
Alina kembali membaringkan tubuhnya, dia melihat kedua anaknya yang tidur begitu pulas dan tenang.
"Anak-anak, jika mama harus berpisah dengan papa kalian, mama harap kalian mengerti ya nak!" Alina mengusap pucuk kepala anak-anaknya secara bergantian.
Sebagai orang tua Alina sebenarnya tidak mau membuat anak-ananya jauh dari papa mereka, Alina juga kadang berpikir agar bisa mempertahankan pernikahannya tapi semua itu sulit untuk Alina lakukan, entah Alina akan bertahan atau pergi dari kehidupan Vino?
__ADS_1
Bersambung
terimakasih para pembaca setia