Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Nasib malang Alina


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, kedekatan Vino dan Jessy semakin hari semakin panas, bahkan mereka sudah berani mempertontonkan hubungan mereka di kantor.


Bahkan Jessy sekarang di kantor selalu bergaya dan dia selalu menganggap dirinya punya kekuasaan yang kuat di kantornya itu, apalagi statusnya selain sebagai sekretaris Vino, sekarang Jessy sudah naik jabatan baru yaitu menjadi calon istrinya Vino.


"Jessy, nanti kita makan siang bareng yuk!" ajak salah satu rekan kantor.


Bukannya menjawab ajakan rekan kantornya itu, Jessy malah menatapnya malas dan menganggap seolah-olah mereka itu hanya ingin mendekatinya agar bisa minta tolong di naikan jabatan, sungguh keji pikiran Jessy padahal rekan kerjanya ini tulus mengajak dirinya makan siang bareng. Tapi Jessy malah bersikap seperti itu dan berlalu pergi begitu saja.


"Lina, ngapain sih kamu mengajak dia makan siang bareng?"


"Kan biasanya juga kita pergi makan siang bareng Tik."


Tika mengangguk-anggukan kepalanya, memang benar biasanya kita makan siang bareng, namun itu dulu waktu Jessy belum masih berada di bawah, kalau sekarang Jessy sudah berada di atas, jadi mana mau makan bareng dengan karyawan rendahan seperti Lina dan Tika?


Akhirnya Lina dan Tika pergi ke kantin kantor hanya berdua, lain kali tidak akan mengajak Jessy lagi, jika akhirnya ajakan mereka di abaikan oleh Jessy.


"Hay Jessy."


"Jessy, kamu semakin cantik."


"Dasar sombong sekali dia sekarang."


Jessy berjalan bagaikan model, ia berjalan dengan gaya songongnya bahkan saat di sapa oleh rekan-rekan kerjanya yang lain, Jessy sama sekali tidak menanggapi atau menyautinya.

__ADS_1


"Lihat sekarang sih Jessy sombong sekali."


"Hasil ngerebut saja bangga, nanti paling juga kena karmanya, kita tunggu saja!"


"Heran sekali, kenapa Pak Vino mau dengan wanita itu?"


"Dan tega meninggalkan Nyonya Alina dan kedua anaknya, padahal Nyonya Alina begitu baik."


Para rekan kerja Jessy hanya bisa saling geleng-geleng kepala, apalagi semakin hari Jessy semakin sombong.


Sesampainya di ruangan Vino, Jessy langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sayang, kamu kok mukanya tidak senang sekali?" tanya Vino, saat melihat Jessy masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah manyun.


"Mas, karyawan mas banyak yang mengatakan kalau aku ini sombong," dengan manja Jessy mengadu pada Vino.


"Katakan siapa? Apa perlu mas memecat mereka semua?" tanya Vino, terlihat sorot matanya tampak marah.


Jessy senyam-senyum dalam hatinya, secinta inikah Vino pada dirinya? Di suruh bercerai dengan istrinya mau, lalu sekarang demi aku dia bahkan rela memecat karyawan yang sudah mengatakan aku sombong.


"Tidak perlu mas, biarkan saja mas!" tutur Jessy dengan manja.


"Oh iya mas, kapan kamu akan menikahiku?" tanyanya, sambil membelai pipi lembut milik Vino, Jessy memainkan bibir Vino dengan jari-jari lentiknya.

__ADS_1


"Minggu depan kita menikah, kamu jangan seperti ini, inikan di kantor," pinta Vino, karena rasanya tidak kuat dengan godaan Jessy dan miliknya di bawah sana juga sudah meronta-ronta tegang, jika ini terus berlanjut entah apa yang akan terjadi?


"Baiklah, minggu depan kita harus menikah," goda Jessy dengan tatapan lembut, bibirnya mulai menyentuh bibir tebal milik Vino.


Seketika yang di bawah sana kembali meronta-ronta dengan kuat, hingga Vino tidak sabar dan ia langsung membopong Jessy ke sofa, dan tidak lupa Vino juga mengunci ruangan kerjanya karena ingin bersenang-senang dengan Jessy dengan tenang.


Jessy memang sangat pintar dalam urusan goda menggoda, hingga akhirnya di sofa yang ada di dalam ruangan kerjanya Vino terjadilah adegan yang cukup panas, karena saat ini Vino dan Jessy sedang bercinta.


*


*


*


Jam menunjukkan pukul 3 sore, Alina tampak kelelahan duduk di kursi taman sambil membawa map yang berisi surat lamaran kerja, dengan pakaian setelan celana hitam dan kemeja putih lengan panjang, ia cukup frustasi karena seharian ini mencari kerja tapi belum juga menemukan perkerjaan.


"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan, rasanya lelah sekali," keluh Alina, namun ia terus memikirkan kedua anaknya, jika ia tidak bekerja bagaimana nasib kedua anaknya?


"Aku harus lebih semangat mencari kerjanya!" sambung Alina, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan kembali mencari kerjaan entah kemana?


Sungguh nasib Alina yang begitu malang, di saat dia yang seharusnya bahagia, namun kebahagiaan itu sudah di rebut oleh wanita lain yang sungguh kejam.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2