Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Menginap dirumah Jessy


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah Jessy, Vino langsung menghentikan mobilnya.


Sungguh Vino ini keterlaluan bahkan dia tidak sadar kalau dia bukanlah laki-laki bujangan lagi.


Vino turun dari mobil lebih dulu, lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Jessy.


"Hati-hati sayang!" Kata Vino dengan mesra, bahkan Vino sudah berani memanggil Jessy dengan sebutan sayang.


Jessy tersenyum, lalu dia mengandeng tangan Vino dengan mesra ke dalam rumahnya.


"Sayang, kamu tidak punya mobil?" Tanya Vino, yang melihat di halaman rumah Jessy tidak ada mobil.


"Ceklek." Jessy membuka pintu rumahnya. "Aku tidak punya mobil pak, aku biasa naik taksi atau ojek online ke kantor," jawab Jessy dan kini mereka sudah duduk di sofa.


Vino membelai-belai rambut Jessy dengan penuh kemesraan, Jessy juga menyandarkan kepalanya di dada bidang Vino sambil memainkan dada bidang Vino dengan jari-jari lentiknya.


"Sayang, jangan panggil pak! Panggil mas saja! Lagian kan kita sedang berduaan ini," tutur Vino dengan begitu romantis.


Kemesraan yang Vino berikan pada Jessy begitu mesra, padahal dengan Alina yang istri sah nya tidak sehmesra ini, entahlah Vino yang dulu begitu mencintai Alina tiba-tiba berubah hanya karena Alina sekarang tidak cantik lagi.


"Iya mas, kamu lapar tidak mas? Biar aku buatkan makanan," kata Jessy dengan nada manja.


"Lapar sayang, memangnya kamu bisa masak? Nanti kulit mulus kamu rusak sayang," jawab Vino yang terlihat kawatir.


Perasaan pada Alina, Vino tidak seperti ini bahkan Vino lebih sering marah-marah pada Alina.


"Bisa mas, aku inikan calon istri yang baik." Jawab Jessy membuat Vino tersenyum, lalu dengan lembut mencubit hidung mancung Jessy.


Akhirnya Jessy memasak, setelah selesai mereka menikmati makan malam berdua dengan romantis.


"Sayang, kok kamu tidak pakai Art saja? Nanti tangan mulus kamu rusak jika kamu sering-sering masak atau kalau tidak kmu bisa pesan makanan saja, nanti aku yang bayar!" Kata Vino sambil tersenyum lembut.


Jessy terus tersenyum, kali ini dia yakin. Kalau dirinya itu bisa mendapatkan Vino dan memiliki Vino seutuhnya. "Lihat saja, aku berharap Mas Vino akan menceraikan istri sahnya!" Batin Jessy dalam hatinya.


"Tidak usah mas, aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri," jawab Jessy dengan sengaja. Tentu saja Jessy berharap Vino semakin kagum pada dirinya.


"Baiklah, oh iya kamu tidak ingin membeli mobil?" Tawar Vino, kali ini tatapan mata Vino penuh arti.


"Mau mas," jawab Jessy.

__ADS_1


"Kamu cukup layani mas dengan baik, besok pagi mobil baru sudah ada di depan rumah kamu sayang," kata Vino dan Jessy mengangguk pelan.


Bagi Jessy yang penting uang dan kemewahan yang selama ini dia inginkan, bisa terwujud. Agar Jessy bisa pamer dengan teman-temannya yang sudah meremehkannya selama ini.


"Siap mas, tapi pakai pengaman ya mas! Aku tidak mau sampai hamil, apalagi mas masih punya istri," tutur Jessy dan di anggukin oleh Vino.


Bagi Vino daun muda yang ada di hadapannya ini begitu menggugah hasratnya sebagai seorang laki-laki normal.


Jessy langsung mengajak Vino masuk ke dalam kamarnya, sebelum melakukannya Jessy dan Vino mandi bersama layaknya pengantin baru.


Setelah selesai mandi, Vino dan Jessy sudah berada di atas tempat tidur dengan keadaan tanpa sehelai benang apapun.


Vino mulai membelai-belai mesra, mencium bibir Jessy dengan lembut, hingga mereka berdua sama-sama menikmatinya dengan nikmat.


Belaian demi belaian, tanda merah dimana-mana karena ulah Vino, hingga pergulatan panas lainnya, membuat keduanya akhirnya sama-sama mencapai puncaknya.


Setelah melakukannya, Vino terlihat tidak bahagia, padahal awalnya dia begitu antusias.


"Mas kamu kenapa? Apa masih kurang? Ayo kita lakukan lagi! Aku masih kuat mas," kata Jessy dengan nada menggoda.


"Kamu sudah tidak perawan ya Jess?" Tanya Vino dengan tatapan agak kesal.


Jessy mengangguk pelan, memang benar dirinya sudah tidak perawan lagi, apalagi dia sering membawa laki-laki pulang ke rumahnya, bahkan kekasihnya saja Jessy berikan dengan gratis setiap kali kekasihnya minta.


"Tidak apa-apa sayang, sudah lupakan saja! Lagian mas juga sangat menikmati permainan kamu," kata Vino dan langsung memeluk Jessy dengan pelukan hangat.


"Apa mas puas? Kalau mas mau lagi, aku masih kuat alat pengaman juga masih banyak," goda Jessy dengan tatapan manja.


Vino akhirnya tergoda, mereka kembali melakukan pergulatan panas di atas kasur yang empuk itu.


Hingga beberapa jam berlalu dan keduanya sama-sama benar puas, akhirnya keduanya sama-sama tidur tanpa membersihkan tubuh keduanya lebih dulu.


******


Jam menunjukkan pukul 2 malam, Alina masih terjaga karena suaminya belum pulang juga padahal jam sudah hampir pagi.


Alina terlihat begitu kawatir, apalagi ponsel suaminya tidak aktif, Alina takut suaminya kenapa-kenapa di jalan.


"Mas Vino, kok belum pulang. Padahal sudah selarut ini," keluh Alina.

__ADS_1


Alina berjalan ke jendela, dia melihat ke bawah halaman rumahnya, tapi mobil Vino belum juga terlihat.


"Tidak mungkinkan, Mas Vino lembur? Tapi dia tidak bilang padaku," Alina semakin kawatir.


Dia berusaha menelpon suaminya lagi, tapi masih tidak aktif juga.


Alina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, malam ini dia begitu gelisah, menghawatirkan suaminya, bahkan Alina Sampai tidak bisa tidur nyenyak malam ini.


Alina terus gulang-guling, hingga detik demi detik berlalu, jam demi jam berlalu, tapi Alina masih tidak bisa tidur juga.


"Sudah jam 4 pagi, tapi Mas Vino belum pulang, dia juga tidak memberikan kabar padaku," Alina mulai menangis karena sangat kawatir pada suaminya.


15 menit kemudian, akhirnya Alina tertidur nyenyak.


Jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Alina bangun dari tidurnya, dia buru-buru mencuci mukanya, lalu dia bergegas pergi ke dapur.


Alina menyiapkan sarapan untuk kedua anak-anaknya, setelah selesai Alina langsung membangun kedua anaknya untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.


Setelah selesai semuanya, Alina menemani kedua anaknya sarapan.


Setelah selesai sarapan, Alina mengantarkan kedua anaknya ke sekolah. Alina mengantarkan Evan lebih dulu, setelah mengantar Evan baru Alina mengantarkan Arin ke sekolahnya.


Setelah Arin masuk ke dalam kelas, Alina menitipkan Arin pada gurunya, karena Alina mau dulu ke rumah.


Sesampainya di rumah, Alina melihat mobil suaminya sudah terparkir rapi di garasi rumahnya.


Alina masuk ke dalam rumahnya, dia melihat suaminya tampak lelah dan sangat ini sedang menyandarkan kepalanya di sofa.


"Mas, kamu kenapa semalam tidak pulang? Kenapa tidak memberikan kabar padaku?" Tanya Alina yang terlihat begitu kawatir.


Tapi Vino malah menatapnya dengan kesal.


"Kamu suami pulang, bukannya buatkan minum tapi ini malah di interogasi tidak jelas, jelas-jelas aku kerja, aku lembur di kantor!" Jawab Vino dengan nada membentak.


Alina hanya diam, dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk suaminya, setelah membuatkan teh untuk suaminya, Alina membawa teh itu ke suaminya, lalu menaruhnya di atas meja.


Alina duduk di dekat Vino.


"Mas, baju kamu kok bau parfum cewek?" Tanya Alina, dengan tatapan lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2