Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Dasar ikan perek


__ADS_3

Hari ini Alina mengatarkan Evan dan Arin ke rumah kedua orang tuanya, Alina juga tidak meminta izin lebih dulu dari Vino.


Lagian menurut Alina itu tidaklah penting, yang terpenting adalah anak-anaknya jangan sampai kena mental karena perceraiannya nanti dengan papanya mereka.


Alina mengatarkan kedua anaknya menggunakan taksi, lagian jarak rumah kedua orang tua Alina tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam kurang sampai rumah kedua orang tuanya.


Di perjalanan menuju ke rumah orang tuanya Alina lebih banyak bengong, Arin dan Evan sama-sama menatap mamanya, mereka bingung mamanya ini kenapa diam saja?


"Mama, apa ada masalah?" tanya Evan, biarpun dia masih SD tapi dia tahu kalau mamanya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Arin memeluk mamanya, Arin yang masih kecil, dia hanya diam.


"Evan, mama baik-baik saja nak. Mama hanya mengatuk saja nak," jawab Alina sambil tersenyum, Alina berusaha menutupi kesedihannya di hadapan kedua anaknya.

__ADS_1


"Mama, jangan bengong! Sebentar lagi kita sampai rumah nenek dan kakek," pinta Arin dengan suara cempreng.


"Iya nak, oh iya di rumah nenek dan kakek, kalian tidak boleh bandel ya! Ingat kalian harus patuh pada nenek dan kakek," tutur Alina pada kedua anaknya.


"Iya mama," jawab Evan dan Arin dengan kompak.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya Alina dan kedua anaknya sampai di rumah Heslin, yang tidak lain adalah mamanya Alina.


*****


Dasar Jessy itu seperti ikan *****, ia pun tidak punya perasaan sama sekali, mungkin ia belum pernah merasakan mempunyai seorang anak dan suaminya pergi meninggalkan dirinya, entah jika itu terjadi apakah Jessy akan sekuat Alina dan menerima semuanya dengan ikhlas?


"Sayang, malam ini kita pergi jalan yuk, aku pingin shopping, pingin beli tas keluaran yang terbaru," rengek Jessy sambil bergulat mesra di pangkuan Vino.

__ADS_1


"Baiklah, kamu mau tas, bukannya kamu sudah membeli tas baru waktu itu?" tanya Vino dengan nada lembut, bahkan dia tidak risih sama sekali dengan pergulatan manja Jessy di pangkuannya.


"Sudah bosan mas, aku pingin model yang terbaru lagi," dengan manja Jessy merangkul mesra leher Vino.


Sungguh keduanya ini sama-sama tidak punya perasaan, mereka bagaikan iblis yang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi Vino sebagai seorang laki-laki yang sudah punya dua anak, tapi dia sama sekali tidak memikirkan perasaan dan hati kedua anaknya yang ada di otak Vino hanya Jessy dan Jessy yang tidak lain adalah perempuan perusak rumah tangganya tapi Vino tidak pernah menyadari semua itu, bagi Vino Jessy lah yang terbaik, Jessy cantik, Seksi dan tentunya sangat jauh berbeda dengan Alina yang kucel seperti kain lap dapur.


"Baiklah, nanti kita pergi ke mall. Kamu boleh beli apa saja yang penting malam ini kamu harus temanin mas di hotel," kata Vino seraya mengecup bibir mungil Jessy, membuat Jessy merasa sangat senang. "Ternyata mudah sekali mendapatkan laki-laki kaya, yang penting kita mau bersikap murahan saja, yakinlah pasti laki-laki akan keplek-keplek kepada kita," batin Jessy dalam hatinya, bahkan dia tertawa bahagia dalam hatinya dan tidak memikirkan nasib istri Vino dan kedua anak Vino, baginya yang penting adalah dirinya bahagia.


Garis miring ya tidak semua laki-laki seperti Vino, banyak juga laki-laki yang baik dan selalu menyayangi anak istrinya, bahkan mereka selalu berusaha membuat keluarga kecilnya bahagia.


Laki-laki seperti Vino itu adalah laki-laki bodoh sudah di kasih kebahagiaan lengkap tapi malah memilih batu kerikil burik.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2