Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Wanita itu lebih cantik


__ADS_3

Arin dan Evan langsung pergi ke dapur untuk menaruh es krim mereka dan snack-snack yang mereka beli di kulkas.


Alina juga sibuk dengan belanjaannya, dia menata belanjaan ke dalam kulkas saja hanya saja di kulkas yang berbeda dengan kedua anaknya.


Setelah selesai kini mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Mama, kapan-kapan kita menginap dirumah nenek ya, Arin senang kalau dirumah nenek," celoteh Arin dengan begitu bawel.


Arin bocah kecil berambut panjang lurus itu memang menggemaskan, celotehnya begitu bawel, wajahnya begitu cantik persis seperti Alina.


"Iya nak, tunggu kalian libur sekolah dulu tapi ya!" jawab Alina, Evan dan Arin mengangguk dengan penuh semangat.


Alina mengerti pasti kedua anaknya ini lebih suka dirumah sang nenek, apalagi neneknya juga begitu menyayangi mereka, disana juga kedua bocah itu tidak akan kekurangan mau jajan apa saja pasti neneknya belikan.


"Anak-anak kalian belum membereskan baju baru kalian, bereskan dulu gih!" suruh Alina dengan nada lembut.


Arin dan Evan mengangguk, mereka langsung membawa paper-bag yang berisi baju baru mereka ke dalam kamar mereka.


Setelah anak-anaknya masuk ke dalam kamar mereka, Alina terdiam dia mengingat wanita yang tadi bersama dengan suaminya di mall.


"Aku yakin, aku tidak salah lihat."


"Tapi wanita yang bersama Mas Vino itu siapa? Wanita itu begitu cantik, mereka juga terlihat sangat akrab."

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Mas Vino selingkuh?"


"Alina, jangan berpikir seperti itu, mungkin dia hanya rekan kerjanya saja," hati Alina berbicara.


Alina terdiam, dia membandingkan dirinya dan wanita itu dalam hatinya, memang Alina itu tidak secantik wanita yang bersama suaminya tadi. Itu juga karena Alina sibuk dan kadang tidak sempat merawat dirinya sendiri, di tambah uang belanja saja pas-pasan kadang juga kurang, boro-boro mau beli skincare, bedak saja Alina jarang membelinya dan kadang Alina memilih pakai bedak Arin, tapi jika Alina kembali wanita karir yakinlah kalau Alina akan kembali menjadi cantik dan tentunya Alina juga bisa kembali merawat dirinya sendiri.


"Sebaiknya aku tunggu Mas Vino pulang, nanti aku akan tanyakan langsung pada Mas Vino saja." Alina berusaha menepis pikirannya yang tidak baik.


Alina kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan rumah yang harus dia urus, apalagi tadi di tinggal jalan-jalan jadi pekerjaan rumah masih numpuk.


Alina mulai beras-beras, lalu cuci piring, hingga semuanya selesai.


Alina duduk sebentar untuk beristirahat, kini kedua anaknya sudah bangun, tapi mereka pintar sekali karena sudah mandi dan memakai baju baru yang di belikan oleh nenek mereka tadi.


Alina tersenyum, kini kedua anaknya belajar di ruang tengah sedangkan Alina bergegas untuk ke dapur untuk memasak.


Arin dan Evan belajar sambil ngemil naget, Alina bersyukur sekali karena akhirnya kedua anaknya bisa makan enak malam ini.


Detik demi detik berlalu, masakan Alina akhirnya sudah matang, Alina menyiapkan semua masakannya di atas meja.


Kini kedua anaknya juga sudah tidak sabar ingin sekali makan, tapi Alina meminta pada kedua anaknya untuk menunggu papanya lebih dulu.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Vino belum juga pulang, Alina menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Mama, Arin lapar...." rengek Arin, sambil memegangi perutnya yang terus berbunyi.


"Evan juga sudah lapar mama, kapan papa akan pulang?" tanya Evan, perutnya juga terus berbunyi.


Alina tersenyum pada kedua anaknya, dia juga berpikir kalau suaminya mungkin lembur kerja.


"Kalian makan dulu ya nak!" kata Alina dengan nada lembut.


Akhirnya Alina mengambilkan makanan untuk kedua anaknya, malam ini kedua bocah kecil itu makan dengan begitu lahap.


"Nak, nanti kalau mama sudah mulai kerja lagi, mama janji mama pasti akan selalu memberikan kalian makan enak," batin Alina dalam hatinya.


Setelah beberapa lama akhirnya Arin dan Evan selesai makan malam, mereka juga langsung berpamitan pada mamanya untuk masuk ke dalam kamar.


Kini di meja makan, Alina hanya sendirian sambil menunggu suaminya yang masih belum pulang juga.


"Mas Vino, tumben belum pulang?" Alina mulai gelisah, pikirannya tidak tenang sekali.


Alina mencoba menelpon suaminya tapi tidak di angkat, Alina mengirim pesan juga tidak di balas oleh Vino.


"Kemana Mas Vino ini?" tanya Alina pada dirinya sendiri.


Hingga jam menunjukkan pukul 11 malam Vino belum juga pulang, rasanya Alina tidak tenang, dia juga begitu kawatir pada suaminya tapi Alina juga tidak tahu harus bagaimana?

__ADS_1


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2