
Setelah selesai acara pernikahan Vino langsung mengajak Jessy ke hotel. Terus besok pagi niatnya akan pergi liburan untuk bulan madu.
Karena merasa sangat lelah sekali hari ini Vino langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, Jessy juga melakukan hal yang sama.
"Mas, kok sih Alin datang sih ke acara pernikahan kita," ujar Jessy tidak suka.
"Aku yang mengundangnya, biar bagaimanapun dia adalah ibu dari anak-anakku," sahut Vino.
"Tapi dia kan hanya mantan istrimu," cetus Jessy geram.
"Jessy, acaranya kan sudah selesai, lagian Alina juga tidak macam-macam, dia hanya datang untuk memberikan selamat saja," pungkas Vino. Tubuhku merasa sakit semua, ini bukannya di pijitin apa di urut gitu malah diajak ribut.
Jessy masih misu-misu dia tetap saja kesal, apapun alasan Vino. Dari hati yang paling dalam Jessy tetap saja tidak rela kalau Alin datang ke acara pernikahan dirinya dan Vino.
Karena sangat lelah dan enggan mendengarkan Jessy yang terus mengoceh panjang, Vino memilih untuk tidur, bahkan malam pertamanya dengan Jessy ia lalui. Ya mungkin besok saja setelah lelahku hilang baru aku garap Jessy bolak-balik.
Melihat Vino malah tidur, Jessy semakin kesal bukannya diajak ehem-ehem, ini malah di tinggal tidur. Karena kesal, akhirnya Jessy ikut tidur juga.
***
Alina terdiam sendirian di ruang tengah ia baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya dan anaknya. Heslin datang lalu menghampiri Alina, ia menepuk bahu anaknya dengan lembut.
"Lin, kok bengong, ada apa?" tanya Heslin dengan nada lembut, ia duduk di sebelah Alina.
__ADS_1
"Ibu, Alin hanya bingung mau melakukan apa? Semuanya sudah Alin kerjakan, cuci baju dan yang lainnya juga sudah," kata Alina membuat Heslin menghela nafas pelan.
"Nak, kan ada Art, aturan kamu tinggal duduk saja, mama tidak mau kamu capek, kamu kan juga harus kerja," tutur Heslin dengan nada lembut.
Alina mengulas senyum semanis mungkin, ia tidak merasakan lelah sama sekali, karena di rumah kedua orang tuanya ini tingkat kewarasannya jauh lebih baik daripada di rumah mantan suaminya dulu.
"Mba aku suruh libur Ma, aku juga berikan uang untuk Mba jalan-jalan sama anak-anaknya," kata Alina dengan nada lembut.
Hati Alina yang begitu baik, sifat Alina yang begitu mulia, sungguh membuat Heslin sangat bangga punya anak seperti Alina, hanya saja nasib Alina yang begitu malang yang membuat Heslin sedih. Tapi Heslin selalu mendoakan mudah-mudahan setelah semua ini berlalu, Alina akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Agar Alina dan kedua anaknya selalu hidup dengan bahagia.
"Kamu juga sepertinya butuh jalan-jalan Nak, hari ini kamu cutti kan? Bagiamana kalau kita ajak Arin dan Evan jalan-jalan, pasti meraka akan senang," ujar Heslin penuh semangat.
"Boleh Ma, aku siap-siap dulu Ma," kata Alina semangat.
Alina langsung masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap, Heslin juga langsung ke kamar kedua cucunya untuk menyuruh mereka bersiap-siap juga.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka semua siap, mereka langsung berangkat jalan-jalan, sedangkan papanya Alina tidak ikut karena ingin menonton televisi saja di rumah.
***
Di saat Alina begitu bahagia menjalani hidupnya dengan kedua anaknya, di sisi lain Vino dan Jessy sedang asik membuka kado pernikahan mereka.
"Alina," Vino membaca surat kecil yang bertulisan Alina.
__ADS_1
Saat melihat kado dari Alina kedua mata Vino langsung berapi-api.
"Jessy, dasar wanita murahan!!" teriak Vino dengan suara lantang, membuat Jessy kaget.
"Kenapa sih Mas?" tanya Jessy begitu marah.
"Ini apa?" sebuah foto Jessy sedang berciuman bibir dengan seorang laki-laki di taman, sungguh ini membuat hati Vino sangat panas.
"Mas, kamu dapat darimana?" Jessy langsung gemetaran. Kok ada yang mengirim foto itu, siapa orangnya?
Tatapan Vino semakin garang, ia melempar beberapa foto-foto tak senonoh di wajah cantik Jessy.
"Aku jijik!!"
"Mas, aku bisa jelaskan," kata Jessy ketakutan.
"Mau jelaskan apalagi?" sentak Vino dengan nada tinggi.
Entah apa yang akan terjadi pada Jessy?
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1