Alina Wanita Hebat

Alina Wanita Hebat
Berusaha kuat


__ADS_3

Alina lagi-lagi hanya bisa menahan air matanya.


"Evan, Arin...."


Alina menarik nafasnya dengan pelan, sungguh tidak sampai hati melihat kedua anaknya harus hidup malang, padahal bapaknya orang kaya. Tapi makan saja setiap hari keseringan lauk telur dan tempe, jajan saja terbatas karena bapaknya hanya memberikan uang 50 ribu untuk belanja sayuran dan uang jajan anak-anaknya.


Vino ini kebangetan bahkan dia begitu tega kepada kedua anaknya, mungkin jika hanya Alina saja, Alina pasti tidak apa-apa tapi ini anak-anaknya, rasanya Alina hanya bisa air matanya dan Alina berusaha kuat menghadapi semuanya.


Jika Alina tidak pandai-pandai mengatur uang 50 ribu itu, maka Alina tidak tahu akan seperti apa hidupnya kelak?


"Anak-anak mama, kalian makan ini saja ya dulu ya nak! Nanti, kalau ada rejeki banyak pasti mama belikan lauk enak," tutur Alina dengan nada lembut. Padahal dalam hatinya menangis melihat kedua anaknya yang begitu malang.


Evan dan Arin sama-sama mengangguk, membuat Alina merasa sangat bersyukur karena punya anak-anak yang begitu baik dan sangat patuh pada dirinya.


Evan dan Arin, akhirnya mau memakan makanan yang ada di hadapannya. Ya biarpun hanya lauk tempe dan telur, Evan dan Arin tetap memakannya dengan lahap.


Setelah selesai makan, Alina membereskan piring kotor bekas makan anak-anaknya.


"Kalian tidur siang dulu ya nak!" Kata Alina, Arin dan Evan mengangguk lalu mereka langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Evan dan Arin sama-sama tidur siang, karena Alina selalu menyuruh kedua anaknya untuk tidur siang dan kadang melarang Evan dan Arin bermain karena diluar panas, takut kalau mereka sakit.


Alina duduk di sofa, kali ini dia bengong memikirkan akan seperti apa hidupnya selanjutnya?

__ADS_1


"Mas Vino, kenapa kamu begitu berbeda? Bahkan kamu tega ngasih uang belanja 50 ribu, kamu tidak mikirin anak-anak kamu, jika aku kerja lagi. Siapa yang mengurus anak-anak nanti?" Alina berbicara sendiri, rasanya pingin nangis tapi dia harus kuat.


Mungkin jika dirinya ada uang banyak, pasti dia akan memakai baby sitter untuk anak-anaknya. Tapi sayangnya uang simpanannya selama ini sudah di pakai oleh Vino, waktu itu Vino janji bakal balikin semuanya, tapi sampai sekarang Vino tidak mengembalikan uang simpanan Alina.


"Apa aku titip anak-anak ke mama saja ya?" Pikir Alina, dia sangat ingin bisa bekerja agar anak-anaknya tidak sampai kekurangan apapun.


Karena merasa lelah, Alina berbaring di atas sofa hingga terlelap tidur.


*****


Di kantor Vino, bukannya sibuk dengan pekerjaannya tapi Vino malah sibuk dengan Jessy.


Iya mereka berpangkuan mesra di kursi kerja Vino.


"Tenang saja, istri mas urusan gampang!" Vino membelai-belai mesra rambut panjang Jessy.


Jessy senyam-senyum penuh kemenangan. "Akhirnya, kelak aku bisa hidup enak, aku juga menikmati uang Mas Vino." Jessy senyam-senyum dalam hatinya.


Detik demi detik berlalu, jam demi jam juga telah berlalu, Jessy bersiap-siap untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia datang ke ruangan Vino.


"Kamu mau pulang?" Tanya Vino sambil menatap Jessy dengan tatapan mesra.


"Iya mas, aku mau pulang. Mas mau menginap di rumahku?" Tanya Jessy, dia berjalan ke Vino berdiri lalu memeluk Vino dari belakang.

__ADS_1


Vino agak kaget, tapi dia berusaha menikmati pelukan dari Jessy.


"Kenapa mas harus menginap di rumah kamu?" Tanya Vino, dia membalikkan tubuhnya hingga akhirnya mereka saling berhadapan satu sama lain.


Jessy senyam-senyum mesum, tatapan matanya juga begitu nakal.


"Kenapa? Masa mas tidak tahu? Mas, aku butuh kehangatan!" Bisik Jessy dengan nada menggoda.


Seketika Vino ingat dengan Alina, tapi Vino buru-buru membuang Alina dari pikirannya, lagian Alina juga tidak secantik dulu, itu yang selalu di pikiran oleh Vino.


"Apa tidak apa-apa? Kamu ini seorang gadis muda, sedangkan aku ini seorang suami yang sudah punya dua anak," tanya Vino memastikan.


Bagi Jessy biarpun dirinya masih muda, yang penting dapat uang lancar, apalagi kalau sama om-om itu bagi Jessy lebih mudah untuk memorottinya.


"Bukankah gadis muda itu lebih nikmat mas, kamu tidak ingin mencobanya?" Jessy terus menggoda Vino.


Sebagai seorang laki-laki, pasti hasrat Vino bergejolak apalagi dengan gadis muda seperti Jessy yang tumbuhnya begitu mulus.


"Baiklah, malam ini mas akan menginap di rumah kamu," kata Vino membuat Jessy tersenyum senang.


Kini mereka langsung pulang menuju ke rumah Jessy.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2