
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Alina baru saja selesai menyiapkan sarapan, Arin dan Evan juga sudah duduk di meja makan sambil menikmati makanan yang sudah dibuat oleh mama mereka.
"Mama, papa sudah pulang belum?" tanya Arin dengan nada lembut.
"Sudah nak, tapi papa kamu sedang istirahat, mungkin papa kecapean kerja," jawab Alina dengan nada lembut juga.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki, iya itu adalah langkah kaki Vino yang sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya.
"Papa......" Arin bertriak senang, sedangkan Evan bersikap biasa saja dan memilih untuk menikmati makanan yang ada di hadapannya saat ini.
Vino hanya berjalan, lalu dia duduk di kursi meja makan.
"Papa, papa darimana saja?" tanya Arin, terlihat dari sorot mata Arin kalau Arin sangat merindukan papanya.
"Cari duitlah, memangnya darimana lagi?" Vino menjawab pertanyaan Arin dengan ketus, bahkan Vino tidak melihat Arin sama sekali.
Alina menatap Vino dengan sorot mata yang sulit di artikan, mungkin jika Vino bersikap ketus pada dirinya, Alina tidak apa-apa, tapi kali ini Vino sudah keterlaluan karena bersikap ketus dengan putri kecilnya yang masih polos dan tidak tahu apa-apa.
"Papa galak sekali," kata Arin pelan, mata Arin sudah berkaca-kaca mau menangis.
Alina beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri di belakang Arin sambil mengusap punggung Arin dengan lembut.
__ADS_1
"Arin sayang, ayo mama antar sekolah, nanti mama belikan es krim." Hibur Alina, dalam hati Alina rasanya sangat marah sekali.
"Mas Vino, aku tidak terima kamu bersikap seperti ini pada anakku," batin Alina dalam hatinya.
Alina berusaha sabar karena tidak mungkin jika dirinya berdebat dengan Vino di hadapan kedua anaknya ini, jika itu terjadi pasti mental kedua anaknya akan kena dan tentunya itu juga akan mempengaruhi perkembangan kedua anaknya itu.
"Es krim, memangnya kamu punya duit?" tanya Vino dengan tatapan meremehkan, bahkan Vino melihat Alina lalu menertawai Alina, sungguh Vino ini keterlaluan sekali.
"Iya apa mama punya uang?" tanya Arin, sungguh membuat hati kecil Alina begitu teriris-teriris.
Mendengar pertanyaan Arin, air mata Alina hampir saja terjatuh, tapi Alina berusaha kuat dan menahan air mata itu agar tidak jatuh.
"Arin sayang, tentu saja mama punya uang, papa kamu itu hanya bercanda saja," tutur Alina dengan begitu lembut.
Tidak lupa sebelum berangkat sekolah Alina selalu mengajarkan kepada kedua anaknya untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya, ya Evan dan Arin berpamitan kepada papa mereka, biarpun Alina rasanya tidak rela tapi Alina juga tidak boleh egois karena biar bagaimanapun Vino adalah papa dari kedua anaknya.
Setelah berpamitan, Alina langsung mengajak kedua anak-anaknya berangkat ke sekolah.
Kini setelah beberapa lama akhirnya Alina sampai di sekolahan Evan lebih dulu, lalu baru ke sekolahan Arin. Alina mengatarkan kedua anaknya itu mengunakan motor metic milik nya.
Setelah selesai mengatarkan kedua anaknya ke sekolah, Alina langsung pulang ke rumah karena mau beres-beres dan cucian juga sudah banyak.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Alina melihat mobil milik suaminya itu masih terparkir rapi di halaman rumahnya.
"Mas Vino, belum berangkat." Gumam Alina dengan suara pelan.
Alina mencagak motornya, lalu dia masuk ke dalam rumahnya.
"Sudah pulang?" tanya Vino.
"Sudah, kenapa belum berangkat?" Alina balik bertanya dengan malas.
"Aku ini bos, suka-suka aku lah mau berangkat atau tidak," jawab Vino seenaknya sendiri.
Alina tersenyum kecil, dia tidak bangga memiliki suami seorang bos, dia juga tidak bahagia memiliki seorang suami bos, apalagi hidupnya dan kedua anaknya juga tidak terjamin.
"Iya kamu adalah bos yang tidak bisa di contoh, oh iya gundikmu kabarmu gimana?" Alina tersenyum begitu lembut, bahkan dia tidak takut sama sekali pada Vino.
"Apa yang kamu katakan, jaga mulutmu!" sentak Vino yang langsung marah pada Alina.
"Aku mengatakan yang sesungguhnya, aku bahkan melihatmu dengan gundikmu sedang belanja di sebuah mall, berapa banyak uang yang kamu habiskan mas?" jawab Alina, dia begitu tangguh di hadapan Vino.
"Alinaaa......." Vino mengangkat satu tangannya, dia hendak menampar pipi mulus Alina.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia