Amara Dan Kebahagiaan

Amara Dan Kebahagiaan
BAB 1 Mengenalmu


__ADS_3

Pagi ini langit begitu cerah. Tidak menampakkan awan sedikit pun. Aku bangun dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Tak lupa aku melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 06.00.


Hari ini adalah hari pertama aku sebagai siswa kelas 10 di SMA mekar sari. Aku segera sarapan. Sarapan aku pagi ini, tidak jauh beda dengan sarapan kemarin pada masa MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yaitu telur dadar dan nasi goreng kesukaanku. Sehabis sarapan aku mandi dan juga gosok gigi.


Setelah itu aku berjalan menuju kamar, di dalam kamar aku memakai seragam putih abu-abu yang baru kemarin ibu beli di pasar. Ini adalah hari pertama aku sebagai siswi di SMA mekar sari. Aku sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bergabung di SMA mekar sari.


Tanpa aku sadar, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 ayah mengantar aku ke sekolah. Di perjalanan ayah memberikan nasihat agar belajar yang giat dan meraih apa yang aku cita-citakan di hari esok. Ayah juga menjelaskan bahwa dirinya tidak muda lagi dan tidak senantiasa bekerja terus menerus. Dengan begitu banyak nasihat yang ayah berikan, aku sampai lupa bahwa aku sudah tiba di depan gerbang sekolah.


"Makasih Yah, udah antar aku ke sekolah" (berdiri di depan ayah sambil berjabat tangan).


"Sama-sama sayang" (sambil mengusap kepala Amara).


Aku pun berjalan cepat, menuju ruang kelas. Upacara bendera akan segera dilaksanakan. Semua siswa dan siswi sudah bersiap menuju lapangan. Semua petugas upacara sudah berada di lapangan.


Dari kejauhan, aku melihat Mentari berdiri di depan kelas.


Mentari adalah sahabat aku. Aku menyapa dia dengan sebutan Tari. Dia memiliki paras yang cantik. Aku mengenal dia sejak aku duduk di bangku SMP. Aku menganggap dia melebihi sahabat yaitu sebagai saudara sendiri. Akan tetapi, pada masa pendaftaran SMA, Tari sakit. Akhirnya, aku memutuskan mendaftar sendiri. Semua rencana aku dan Tari tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.


Aku dipertemukan kembali hari ini. Aku sangat bersyukur.


Aku mendekat dari Tari. Jarak aku dan Tari satu meter, aku tersenyum dan langsung memeluknya.


"Aku kangen kamu, Tar " (Amara berlari menghampiri Mentari dan langsung memeluknya)


"Aku juga, akhirnya kita di pertemukan lagi di sekolah ini, Ra"


"Iya Tar, aku nggak mengira kalau kita masih di pertemukan kembali. Maaf ya Tar, aku nggak pernah jenguk kamu selama masa pendaftaran kemarin "


"Nggak apa-apa kok Ra, kan kita bertemu sekarang"


"Iya Tar, Allah maha mengetahui apa yang di inginkan hambanya. Seperti saat ini yang kita rasakan"


"Iya Ra"


Amara adalah nama aku. Orang memanggil aku Rara. Aku gadis yang biasa saja, jauh dari kata cantik.


Tari menunggu aku di depan kelas. Aku masuk kelas menyimpan tas. Aku belum ada waktu untuk menanyakan kondisi Tari. Di dalam kelas, aku melihat Tari dari arah jendela. Dia menyuruh ku meletakkan tas milik aku di samping tas miliknya.


"Ra, tas kamu simpan di situ aja ( sambil menunjuk meja kedua dari depan ), Ayo cepatan Ra, sebentar lagi ucapara akan segera di mulai".

__ADS_1


"Iya bentar Tar, aku ambil topi " (sambil tergesa-gesa membuka tas).


Upacara pertama aku sebagai siswi SMA mekar sari berjalan dengan lancar.


Setelah upacara selesai, aku dan Tari berjalan menuju kelas. Hari ini adalah pertemuan pertama dengan teman kelas maupun guru di kelas.


Pelajaran aku adalah matematika. Sebelum masuk materi, guru terlebih dahulu memperkenalkan diri. Semua murid yang ada di kelas juga di perintahkan untuk memperkenalkan diri. Karena ada pepatah yang mengatakan tak kenal, maka tak sayang jadi kita semua di wajibkan untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.


Matematika adalah pelajaran yang sulit bagi aku dan sedikit aku benci, sebab aku malas mengerjakan soal berhitung, berkurang, berbagi apalagi perkalian. Tetapi pelajaran yang lain aku suka. Hanya saja pelajaran matematika yang membuat nilai aku rendah. Namun, ada faedahnya berteman dengan Tari karena dia terbilang anak yang rajin dan pintar dalam mengerjakan soal matematika.


Setelah guru menjelaskan, dia pun memberikan soal sebanyak lima nomor. Untuk mengecek kemampuan dan pemahaman muridnya.


Setelah 30 menit mengerjakan soal matematika. Akhirnya bel berbunyi, yang menandakan istirahat. Tugas matematika yang aku kerjakan tadi, di jadikan PR (Pekerjaan Rumah). Aku di ajak ke kantin oleh Tari dan beberapa teman lainnya.


"Ke kantin yuk " ajak Tari dan beberapa teman lainnya.


"Nggak deh, aku malas " Jawab Amara


"Kamu nggak laper? " Tanya Tari


"Aku laper sih, tapi aku kurang sehat Tar, tiba-tiba perut aku nyeri " Jawab Amara


Aku tidak ke kantin. Perut aku nyeri. Aku hanya menyuruh Tari membeli roti dan air mineral untuk aku. Aku menunggu Tari di kelas. Selepas makan roti dan minum air mineral, perut aku bertambah sakit.


Akhirnya aku dan Tari memutuskan untuk pamit ke UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Tari yang akan mengantar aku ke UKS, tidak di beri izin. Hanya satu orang saja yang di beri izin yaitu aku. Aku berjalan keluar ruangan tanpa basa basi. Di perjalanan menuju UKS, aku tidak kuat menahan perut aku yang sakit. Kepala aku pusing dan mata aku berkunang-kunang. Tanpa sengaja aku terjatuh. Aku hanya melihat sekilas wajah seseorang yang membantu. Aku tidak sadarkan diri. Aku di bawa ke ruangan UKS ( Usaha Kesehatan Sekolah ).


"Dek...dek....dek.....bangun dek" Kata seseorang


"Dia sakit apa Ri? " (Dengan wajah panik) Tanya seorang guru


"Aku nggak tau bu. Yang aku liat, dia tiba-tiba terjatuh di depan kelas. Lalu aku membawa ke ruangan ini bersama dengan beberapa teman aku"


"Tolong ambilkan ibu minyak kayu putih di kotak itu Ri"( sambil menunjuk kotak di atas meja ) Perintah seorang guru


"Kotak yang ini, Bu?" ( berjalan menuju kotak di atas meja sambil memperlihatkan kotak itu ke guru tersebut)


"Iya"


Minyak kayu putih yang Ari ambil di kotak tersebut, di oleskan setetes ke hidung dan kening Amara.

__ADS_1


Aku lima menit tidak sadarkan diri. Setelah lima menit, aku mendengar sekejap suara tapi mata aku belum bisa terbuka. Melihat orang yang memanggil aku dengan sebutan Dek. Aku membuka mata sedikit demi sedikit dan yang pertama kali aku liat adalah wajah seseorang. Aku mengenal wajah dan nama dia berawal dari MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah ) yang dilaksanakan di sekolah satu hari yang lalu.


Dia bernama Ari Waldana. Dia anak yang pintar dan merupakan anggota OSIS. Guru mengenal dia berkat kepintarannya. Dia berkulit sawo matang, tinggi dan memiliki tubuh yang ideal. Bisa di bilang 98% mendekati sempurna. Dia banyak di kagumi oleh kaum hawa.


"Kamu udah sadar dek?" Ucap Ari


"Kamu sudah sadar? " (Berjalan mendekati Amara) Ucap Seorang guru


"Iya bu"


"I...i...iya kak"


"Nama kamu siapa dan kelas berapa?" Tanya seorang guru


"Nama aku Dwi Amara kelas 10 IPA dua, Bu" Jawab Amara


"Kamu sakit apa? Kok tiba-tiba pingsan?" Tanya guru


"Aku sakit perut, Bu"


"Apa perut kamu masih sakit?"


"Udah sedikit membaik, Bu" (Amara bergegas bangun dari baringnya melihat dua orang itu di sampingnya)


"Kamu istirahat aja" (Berjalan menuju arah meja yang ada di depan tempat Amara terbaring)


"Iya bu"


"Salam kenal Amara, nama aku Ari kelas 11 IPA satu " Ucap Ari


"Oh iya kak salam kenal juga, makasih ya kak udah nolongin aku"


"Iya (Sambil tersenyum) Kalau gitu aku ke kelas ya, kalau kamu ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuan aku" Ucap Ari


"Iya kak" (Sambil tersenyum)


Aku menatap kepergian kak Ari dari arah belakang.


Yang ada di pikiran aku mengenai Ari Waldana pada masa pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), aku kira dia orang yang sombong. Karena dari sekian banyak panitia di ruangan itu, dia yang paling cuek. Akan tetapi, setelah dia menolong aku sepertinya dia orang yang baik, ramah dan perhatian.

__ADS_1


...Happy reading🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaitu like dan comment ya🥰...


__ADS_2