Amara Dan Kebahagiaan

Amara Dan Kebahagiaan
BAB 6 Foto Untuk Kak Ari


__ADS_3

Siang ini matahari tidak menampakkan cahaya terang melainkan tertutupi oleh awan. Aku tiba di rumah tepat waktu, tidak seperti hari kemarin yang biasanya terlambat di karenakan aktivitas di sekolah yang padat.


Aku berjalan dari arah pintu depan menuju kamar.


"Ra, udah pulang?" (Dari arah ruang keluarga) Tanya Ibu


"Iya Bu, aku udah pulang" (Dari arah ruang tamu tiba-tiba terhenti mendengar suara ibu) Jawab Amara


"Nara mana Bu?" Lanjut Amara


"Nara lagi keluar" Jawab Ibu


"Oh, aku ke kamar dulu ya Bu" (Sambil berjalan menuju kamar) Ucap Amara


"Iya, sesudah ganti baju langsung makan ya" Ucap Ibu


"Iya Bu" Ucap Amara


Di dalam kamar aku mengganti pakaian, selepas mengganti pakaian, aku melemparkan badan ke arah kasur dengan posisi telentang sambil menatap langit-langit kamar. Aku cukup lelah hari ini. Meskipun aku hari ini tidak banyak kegiatan, tapi badan aku terasa lelah dan perlu istirahat.


Aku masih terus menatap langit-langit kamar, tiba-tiba terlintas di kepala aku nama kak Ari. Aku bergegas mencari keberadaan handphone aku, setelah aku memegang handphone itu, aku membuka tas mencari kertas tadi yang berisi nomor WhatsApp. Setelah aku menemukan, aku buru-buru masukkan nomor WhatsApp itu ke dalam handphone aku. Tetapi sebelum aku mengirim, terlebih dahulu aku mencari foto itu di handphone.


Aku terus mencari foto di handphone, tapi foto itu tidak terlihat. Kemudian aku cek berulang kali galery handphone tetapi masih belum terlihat. Aku yang tadinya duduk di kasur segera bangkit dan melangkahkan kaki menuju lemari yang terletak di samping aku. Perlahan membuka lemari dan mengeluarkan laptop yang bermerek Toshiba. Jadi laptop ini pemberian dari paman aku yang berprofesi sebagai dokter gigi. Dia memberikan laptop ini agar aku dan Nara lebih semangat lagi belajar hingga mencapai cita-cita.


Aku membuka dan menyalakan laptop. Akhirnya aku menemukan foto itu. Aku mengirim foto tersebut via kabel data ke handphone.


Aku mengirim foto dan menulis beberapa kata, lalu aku tekan yang bertuliskan kirim. Sesudah aku menekan kirim, pembaruan itu terlihat dengan muncul dua ceklis biru sebagai penanda bahwa pesan sudah dibaca oleh orang yang dituju. Begitu cepat kak Ari melihat pesan aku.


"Tok.....tok.....tok....


"Ra....Ra......kamu tidur?" (Mengetuk pintu dan memanggil nama Amara) Tanya ibu


"Nggak bu, Rara nggak tidur" Ucap Amara


"Kamu udah makan?" Tanya Ibu


"Belum Bu, Rara lagi kirim foto bentar" Jawab Amara


"Nanti aja kirim fotonya, kamu makan aja dulu" Perintah Ibu


"Iya Bu, ini sebentar lagi selesai" Ucap Amara


10 menit aku menunggu balasan dari kak Ari.


"Kok dia nggak balas ya?" Pinta ku dalam hati


Aku memilih keluar kamar dan menuju meja makan. Aku sangat menikmati masakan buatan ibu. Aku meletakkan handphone di atas meja makan, aku terus menerus menunggu balasan dari kak Ari tetapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kak Ari ingin membalasnya.


Ibu berjalan menghampiri aku.


"Ra, bagaimana sekolahnya hari ini?" Tanya Ibu


"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar seperti biasa, Bu" Jawab Amara


"Alhamdulillah kalau gitu, kamu yang rajin belajarnya" Ucap Ibu


"Siap ibu" Ucap Amara

__ADS_1


Belum selesai pembicaraan antara aku dan ibu handphone aku berbunyi pertanda seseorang menelpon.


"Aku angkat telpon dulu ya, Bu" Lanjut Amara


"Iya angkat aja, ibu ke depan dulu" Ucap ibu


Ternyata yang menelpon adalah Mentari, padahal aku mengira yang menelpon adalah kak Ari.


"Halo Tar, tumben lu nelpon jam segini?" Tanya Amara


"Biasa aja kali, Ra" Jawab Mentari


"Eh, lu udah kerja tugas penjas belum?" Lanjut Mentari


"Emang ada tugas penjas, perasaan gue nggak ada" Ucap Amara


"Lu nggak liat, kiriman tugas dari pak Daus 5 menit yang lalu di grup penjas" Ucap Mentari


"Gue liat anak-anak ribut di grup penjas, tapi gue belum sempat baca" Ucap Amara


"Emang tugas apa?" Lanjut Amara


"Jadi kita tuh di suruh buat ringkasan, materi voly sebanyak 15 halaman pakai tulisan tangan" Ucap Mentari


"Banyak juga tuh" Ucap Amara


"Kalau gitu gue tutup dulu ya telponnya" Ucap Mentari


"Eh Tar, batas pengerjaannya sampai kapan?" Tanya Amara


"Matilah diri ini" Ucap Amara


"Gue tutup ya telponnya" Ucap Mentari


"Oke" Ucap Amara


Aku buru-buru melanjutkan makan, kemudian bergegas ke kamar.


Di dalam kamar aku membuka dan membaca pesan grup penjas. Sesudah itu aku mengunci handphone dan meletakkan di atas meja belajar, kemudian aku membuka tas lalu mengambil pulpen dan mengambil kertas HVS di atas meja, untuk memulai menulis ringkasan materi voly.


Setelah aku ingin memulai menulis, terdengar suara handphone di samping aku bergetar pertanda notifikasi WhatsApp masuk. Aku masih melanjutkan menulis, tapi karena rasa penasaran aku semakin tinggi akhirnya aku membuka notifikasi WhatsApp itu. Aku melihat dari layar depan ternyata notifikasi itu dari kak Ari. Aku membuka WhatsApp. Terpampang jelas nama kak Ari yang memiliki satu pemberitahuan yang belum di baca. Lalu aku buka.


Isi pesan WhatsApp Kak Ari


"Dek, berkas kamu udah lengkap. Kamu nyiapin diri aja untuk tes wawancaranya"


"Kok jantung aku berdebar kencang ya saat membaca isi pesan ini, padahal cuma pesan WhatsApp yang biasa-biasa aja" Pinta ku dalam hati


Aku membalas pesan WhatsApp kak Ari cukup singkat.


"Makasih kak, udah bantuin aku"


"Sama-sama dek"


"Iya kak"


Setelah itu dia tidak membalas pesan aku lagi, pesan WhatsApp yang aku kirim hanya ceklis dua abu-abu.

__ADS_1


Aku melanjutkan mengerjakan ringkasan materi voly, dan juga mencari materi tambahan. Sebab, materi yang aku dapatkan sebelumnya belum cukup.


"Tok....tok....tok....


"Kak Rara....kak......buka pintunya" (Nara memanggil Amara) Ucap Nara


"Iya Nar, ada apa?" (Berjalan mendekati pintu dan membuka) Tanya Amara


"Mama pusing di dapur kak" Ucap Nara


"Apa? Mama pusing?" Ucap Amara


"Iya kak" Ucap Nara


Aku berlari bersama Nara menuju dapur.


"ibu.....ibu...." Ucap Amara


"Ra, tolong telpon ayah, ibu pusing" Ucap ibu


"Iya Bu, Nar cepetan telpon ayah" Ucap Amara


"Iya ini sementara di telpon kak" Ucap Nara


"Halo yah, ibu pusing"


"Iya, kenapa Nar?"


"Ibu pusing, Yah"


"Apa? ibu pusing? tunggu ayah segera pulang"


"Iya Yah, cepetan"


"Tut....Tut...(sambungan telpon mati)


"Nar, ambilkan kakak minyak kayu putih di kamar" (Raut wajah gelisah) Ucap Amara


"Iya kak" (Nara berlari ke arah kamar Amara untuk mengambil minyak kayu putih) Ucap Nara


"Bu....ibu....ibu nggak apa-apa kan?" Tanya Amara


"Ibu cuman pusing, Nak" Jawab Ibu


"Ini kak minyak kayu putihnya" (sambil memberikan minyak kayu putih itu ke Amara) Ucap Nara


Aku mengusap alis ibu dengan minyak kayu putih. Sambil menunggu ayah yang masih dalam perjalanan. Aku menyuruh ibu duduk di kursi dan terus memegang tangannya. Kemudian Nara berada di samping ibu dan terus menelpon ayah.


.


.


.


...Happy reading🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaitu like dan comment ya🥰...

__ADS_1


__ADS_2