Amara Dan Kebahagiaan

Amara Dan Kebahagiaan
BAB 20 Kecewa


__ADS_3

Di sisi Mentari dan Amara.


Amara yang berdiri di parkiran menunggu Mentari mengeluarkan motornya dari parkiran.


Kring kring kring (suara ponsel Amara berbunyi)


๐Ÿ“ž"Amara: Halo, Assalamualaikum kak"


๐Ÿ“ž"Ari: Waalaikumsalam, kamu dimana?"


๐Ÿ“ž"Amara: aku udah mau pulang kak, aku bareng Mentari pulangnya"


๐Ÿ“ž"Ari: tungguin aku di parkiran"


Tut Tut Tut (Ari memutuskan panggilannya)


Aku yang masih stay berdiri sedangkan Mentari sudah berada di atas motornya dan menuju ke arah ku.


Ari berjalan dari arah belakang Amara.


"Ra, kamu nggak pulang bareng aku?" (Dengan nada lembut) Tanya Ari


Mentari melihat Ari di belakang Amara. Aku langsung membalikkan badan ke arah kak Ari.


"Lain kali aja kak" Ucap Amara


"Ra, ayo cepetan" Ucap Mentari


Belum sempat Amara menjawab perkataan Mentari, Ari mendahului Amara membalas perkataan Mentari.


"Amara bareng aku, Tar" Ucap Ari


"Nggak Tar, gue bareng lu aja" Ucap Amara


"Kamu kok gitu Ra, tadi katanya bareng aku" Ucap Ari


"Kamu duluan aja Tar, biar Amara bareng aku" Lanjut Ari


"Oh gitu kak, aku duluan ya" (Dengan raut wajah kesal dan cemburu melihat Ari bersama Amara) Ucap Mentari


Amara hanya mematung melihat tingkah Ari.


"Iya hati-hati" Ucap Ari


Aku berjalan ke pos tempat security duduk. Aku merasa bersalah kepada Mentari.


Ari melihat Amara berjalan menuju pos tempat security, Ari mengikuti Amara dari arah belakang. Amara duduk di pos security dan diam. Kemudian Ari menghampirinya.


"Kamu kok diam, Ra?" Tanya Ari


"Siapa yang diam kak?" Ucap Amara


"Kamu kok nanya balik?" (Dengan raut wajah bercanda) Ucap Ari


"Kamu marah ya dek?" Lanjut Ari


"Nggak ada yang marah kak" (Dengan raut wajah kesal) Ucap Amara


"Yang bener?" (Dengan nada bercanda) Ucap Ari


"Hmmm" Ucap Amara berdehem


"Tunggu di situ, aku ambil motor dulu" Ucap Ari


"Mmm" Ucap Amara


Ari berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


Di sisi Mentari.


Mentari terus memikirkan Amara dan Ari. Mentari semakin yakin kalau Ari menyukai Amara. Sedangkan Mentari belum ada keberanian untuk mengechat Ari lebih dahulu. Mentari semakin cemburu melihat tingkah Ari di depan Amara. Akan tetapi di depan Amara, Mentari tidak bisa mengeluarkan amarahnya. Di atas motor, Mentari terus memikirkan Ari.


Di sisi Amara dan Ari.


Ari menghampiri Amara dengan mengendarai motor.


"Ra, ayo dek" Ucap Ari


Amara diam dan langsung naik ke motor Ari.


Sepanjang perjalanan menuju bengkel, Amara terus diam. Tetapi Ari terus bertanya dan memulai pembicaraan.


"Amara, kamu marah?" Tanya Ari


"Amara, kamu marah karena aku mencegah kamu tadi?" Lanjut Ari


"Nggak kak" Jawab Amara


"Kalau nggak marah, kenapa kamu diam?" (Dengan nada suara lemah lembut) Ucap Ari


"Nggak ada yang diam kak" (Dengan raut wajah kecewa) Ucap Amara


20 menit kemudian aku tiba di bengkel.


Ari menghentikan motornya di depan gerbang tempat bengkel itu. Amara turun dari motor tanpa basa basi. Kemudian Ari tetap menunggu Amara di atas motor. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya Amara keluar dengan mengendarai motor. Amara menghentikan motornya di depan motor Ari.


"Kak, makasih ya udah anterin aku hari ini" (Dengan raut wajah cemberut) Ucap Amara


Meskipun Amara masih marah dengan tingkah Ari tadi, ia tetap berterima kasih.


"Sama-sama dek" Ucap Ari


"Ra, kamu jujur sama aku. Kamu marah karena tadi?" (Dengan raut wajah bersalah) Lanjut Ari


"Nggak ada yang marah kak, cuman aku merasa bersalah aja sama si Tari" Ucap Amara


"Aku jelasin yang kak, aku itu nggak marah sama kakak cuman sedikit kesal aja" Ucap Amara


"Ra, aku minta maaf ya" Ucap Ari


"Nggak usah di pikirin kak. Aku duluan ya soalnya udah pukul 17.00" Ucap Amara


"Iya, kamu hati-hati bawa motornya" Ucap Ari


Amara pergi meninggalkan Ari.


Di sisi Ibu.


Ibu mencari Nara.


"Nar, Nar" Teriak ibu


"Iya Bu, aku di kamar" Ucap Nara


"Ada apa, Bu?" (Berjalan menghampiri ibu) Tanya Nara


"Si kakak belum balik ya?" Tanya ibu


"Belum Bu" Jawab Nara


Nara berjalan menghampiri ibu.


"Tuh anak ke mana sih? Coba telpon" Ucap Ibu


Nara mencoba menelpon Amara, akan tetapi Amara tidak menjawab.

__ADS_1


"Si kakak nggak menjawab, Bu" Ucap Nara


"Si kakak ke mana sih, ini udah pukul 17.00" Ucap Ibu


"Siapa tau udah di jalan, Bu" Ucap Nara


Setelah Nara selesai berbicara, sontak terdengar suara motor yang masuk ke garasi rumah. Nara dan ibu keluar mengecek suara motor itu dan dugaan itu benar, dia adalah Amara.


"Itu si kakak, Bu" Ucap Nara


"Iya" Ucap Ibu


Amara berjalan menghampiri Nara dan ibu.


"Lama amat, Ra?" Tanya ibu


"Rapatnya lama, Bu. Jadinya lambat pulangnya" Jawab Amara


"Oh" Ucap ibu


"Cieee di jemput, aku juga mau dong di jemput" (Dengan nada bercanda dan mengejek Amara) Ucap Nara


"Apaan sih, Nar?" Ucap Amara


"Kalau gitu kamu masuk ganti pakaian dulu dan langsung makan" Ucap ibu


"Iya Bu" Ucap Amara


Di sisi Ari.


Ari tiba di rumah. Dia terus memikirkan Amara. Ari merasa bersalah karena telah mencegah Amara, yang ingin pulang bersama dengan Mentari yaitu sahabatnya. Dia terus terusan memikirkan Amara. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba mengirim pesan melalui WhatsApp kepada Amara.


"Dek, aku minta maaf ya. Karena telah mencegah kamu pulang bareng sahabatmu" From Ari


Pesan yang Ari kirim melalui WhatsApp, terlihat hanya ceklis satu abu-abu. Sepertinya Amara tidak aktif.


Ari hanya menunggu balasan pesan yang ia kirim. Ari tidak ingin mengganggu Amara saat ini. Ia sadar bahwa Amara saat ini merasa sangat lelah.


Di sisi Mentari.


Di dalam kamar, Mentari kembali membayangkan yang terjadi tadi antara dia, Ari dan Amara.


"Bisa-bisanya kak Ari lebih memilih Amara di bandingkan aku" Ucapnya dalam hati


"Aku harus berani berbicara ke dia, kalau aku itu sayang sama dia" Lanjutnya dalam hati


Di sisi Amara


Amara sangat merasa bersalah kepada sahabatnya. Amara mengambil ponselnya dia atas meja belajar. Dia mencoba menghubungi Mentari. Tapi sebelum menghubungi Mentari, Amara membaca pesan WhatsApp Ari sekilas. Amara belum membuka pesan itu. Amara mencari nomor Mentari dan mencoba menghubunginya. Amara menghubungi Mentari berulang kali. Tetapi sepertinya Mentari masih tetap tidak aktif. Akhirnya dia memilih untuk mengirim pesan WhatsApp saja.


"Maafkan aku ya Tar, karena membuatmu kecewa dan aku memilih pulang bersama kak Ari" From Amara


Setelah aku mengirim pesan itu, aku membalas pesan dari kak Ari.


"Nggak usah minta maaf kak, karena ini semua sudah terjadi. Mungkin ini juga kesalahanku karena nggak tegas dalam mengambil keputusan" From Amara


"Nggak usah saling menyalahkan dek, pokoknya aku minta maaf ya" From Ari


"Aku janji, aku nggak bakalan mengulangi semua yang aku lakuin tadi ke sahabat mu itu" From Ari


"Nggak usah minta maaf kak, aku udah maafin kok" From Amara


.


.


...Happy reading๐ŸŒน...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaitu like dan comment ya๐Ÿฅฐ...


...Makasih banyak ya guys๐Ÿ™ udah like dan comment karya aku...


__ADS_2