
Pada pukul 15.00 aku tiba di rumah. Sebelum aku melangkahkan kaki memasuki rumah, tiba-tiba ibu menghampiri.
"Ra, kamu baru pulang?" Tanya ibu
"Iya Bu" Jawab Amara
"Tumben pulangnya lama?" Ucap Ibu
"Rara tadi ikut pendaftaran OSIS bu, makanya telat sampai rumah" Jawab Amara
"Oh, gitu? Bener nih?"
"Iya bu, percaya deh sama Rara"
"Palingan dia ke rumah temannya, Bu" Lanjut Nara
"Apaan sih Nar, kalau ngomong tuh jangan asal dong" Ucap Amara
"Nggak boleh gitu dek ibu tau kok, kakak itu nggak pernah bohong sama ibu"
"Dengar tuh Nar, ibu aja percaya masa kamu nggak" (sambil berjalan menuju kamar)
Aku masuk ke kamar mengganti seragam sekolah. Setelah aku mengganti seragam sekolah, Ibu menyuruh aku untuk makan dan istirahat. Ibu adalah orang yang paling mengerti tentang keadaan aku setiap hari.
Hari ini aku sangat lelah. Setiap pulang dari sekolah, ibu selalu bertanya tentang hal yang aku lakukan selama di sekolah. Aku adalah orang yang paling dekat dengan ibu dan juga aku anggap sebagai teman curhat terbaik yang pernah aku temui. Meskipun aku memiliki adik perempuan, tetapi ibu adalah teman curhat yang terbaik menurut aku.
Setelah aku selesai makan dan ganti pakaian seragam sekolah, aku duduk di teras bermain handphone.
"Ra...kamu udah makan?"(Sambil berjalan dari arah dalam rumah menuju teras) Tanya Ibu
"Udah bu" (Dengan wajah yang cemberut dan tidak semangat) Jawab Amara
"Kamu kok keliatan cemberut gitu? Kamu kenapa? Ayo dong cerita ke ibu?" Ucap Ibu
"Rara nggak apa-apa, Bu" Jawab Amara
"Yang bener nih kamu nggak mau cerita ke ibu, ibu tau loh dari raut wajah kamu sepertinya kamu menyimpan sesuatu" ( Ibu menggoda Amara ) Ucap Ibu
"Nggak ada apa-apa bu" ( Amara tetap menolak untuk membicarakan keadaannya ) Jawab Amara
"Ayo cerita dong, ibu penasaran nih" ( Ibu terus menggoda Amara ) Ucap Ibu
"Iya deh aku cerita" Ucap Amara
"Nah gitu dong" Ucap Ibu
"Jadi gini bu, aku tuh tadi terlambat terus guru fisika itu nggak ngizinin aku ikut mata pelajarannya" Jawab Amara
"Kamu nggak jelasin ke ibu gurunya?" Tanya Ibu
"Aku udah jelasin bu, tapi dia nggak terima alasan" Jawab Amara
"Kamu jangan mikirin itu terus, jadikan itu sebagai pelajaran tanamkan pada diri kamu bahwa kamu tidak akan terlambat yang kedua kalinya" (memberi pengertian) Ucap Ibu
"Iya Bu, aku tau tapi.... Ucap Amara
Omongan aku terhenti, karena ibu melanjutkan pembicaraannya.
"Jadikan saja Nak, sebagai pembelajaran. Karena orang yang sabar akan selalu di balas kesabarannya kok sama Allah" Ucap Ibu
"Makasih bu, selalu menjadi penyemangat Rara, Rara makin sayang deh sama ibu" ( Sambil memeluk ibunya ) Ucap Amara
"Sama-sama sayang" ( Sambil mencium kepala Amara) Ucap Ibu
Aku sangat beruntung punya ibu yang sangat menyayangi diriku. Selain ibu, ada ayah yang juga menyayangi aku, akan tetapi kasih sayang ayah sangat berbeda dengan ibu. Kasih sayang seorang ayah tidak memperlihatkan sayangnya dengan cara memberikan perkataan yang lemah lembut. Tetapi, dia memperlihatkan kasih sayangnya dengan cara memberikan biaya sekolah, mencari nafkah untuk anggota keluarganya.
Selain ayah dan ibu, juga ada seseorang gadis yang sangat aku sayang, begitu pun dia sangat menyayangi diriku. Dia adalah adik aku yang cuek dan keras kepala tapi penyayang. Dia bernama Nara.
Karena mereka, aku terus berusaha untuk menjadi orang kuat, untuk meraih cita-cita yang aku impikan. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang dokter.
Aku malam ini tidur pukul 20.00 karena harus pagi berangkat ke sekolah. Sebab ayah belum bisa mengantarku ke sekolah. Jadi aku masih naik angkot yang kedua kalinya.
Beberapa jam kemudian. Tak terasa waktu begitu cepat, terdengarlah kokok ayam yang memecah kesunyian, pertanda waktu subuh telah tiba. Aku bangun menunaikan shalat subuh. Setelah selesai shalat, aku bergegas mandi dan sarapan untuk persiapan ke sekolah, karena aku tidak ingin terlambat yang kedua kalinya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Kemudian aku berjalan menuju kamar untuk memakai seragam sekolah.
__ADS_1
"Ra, kamu udah sarapan? " Tanya Ibu
"Udah bu" (Sambil berjalan menuju kamar) Jawab Amara
"Cepetan siap-siap nanti kamu terlambat lagi" Ucap Ibu
"Iya Bu" Ucap Amara
Setiap pagi ibu selalu mempersiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
Setelah aku selesai memakai seragam, aku kemudian pamit ke ibu dan ayah untuk berangkat ke sekolah. Aku berangkat ke sekolah sendiri. Sedangkan adik aku berangkat ke sekolah di jemput oleh beberapa temannya.
" Ayah, ibu, aku ke sekolah dulu" Ucap Amara (sambil salam dan mencium tangan ayah dan ibunya)
"Hati-hati di jalan ya nak" Ucap ayah dan ibu
"Maafkan ayah, belum bisa anterin kamu ke sekolah" Lanjut ayah
"Nggak apa-apa kok Yah, Rara bisa sendiri " Ucap Amara
Selama 15 menit aku di dalam angkot akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Aku berjalan menuju ruang kelas. Aku orang pertama sampai di kelas. Aku hari ini mempunyai jadwal piket di kelas. Jadi aku bertugas menyapu ruangan kelas. Tiba-tiba Mentari masuk ke kelas. Dia orang kedua tiba kemudian di susul oleh teman lainnya.
"Tumben nggak terlambat?" (Tiba-tiba Tari bertanya dari arah pintu kelas) Tanya Mentari
"Nggak lah, gue kan anak rajin" Jawab Amara
"Ra, lu udah isi formulir?" Lanjut Mentari
"Belum sih" Jawab Amara
"Kita kembalikan besok aja ya" Kata Mentari
"Oke deh" Ucap Amara
Tanpa Amara sadar, ternyata Afdal berdiri di pintu.
"Ra, yang bener dong caranya nyapu"
"Apaan sih Dal, orang kamu nggak kena sampahnya"
"Lu udah kumpul formulirnya?"
"Nanya aja, nggak boleh ya?"
"Lu pindah Dal, gue mau sapu tuh sampah"
"Siap ibu Amara"
Bel berbunyi waktunya mata pelajaran pertama dimulai. Afdal berjalan menuju ruang guru, memanggil pak Daus. Pak Daus adalah guru penjas SMA mekar sari kelas 10 IPA.
"Ra, lu tau nggak kakak kelas yang membagi formulir kemarin?" Tanya Mentari
"Yang mana tuh? Setau aku panitia kemarin tuh banyak" ( Amara tersenyum mendengar pertanyaan Mentari)
Tiba-tiba Afdal masuk ke ruang kelas dan memotong pembicaraan aku dan Mentari.
Semenjak aku mengenal Mentari, baru kali ini dia bertanya mengenai cowok. Biasanya Mentari cuek dan diam-diam menyukai seseorang. Tetapi kali ini Mentari berbeda dengan Mentari yang aku kenal sebelumnya. Dia begitu penasaran dengan sosok kakak kelas kemarin.
Apakah Mentari kagum dengan ketampanan Kak Ari?🤔.
"Teman-teman kata pak Daus, tolong ganti baju seragam putih abu-abu kalian, kita olahraga hari ini, katanya kita tuh di tungguin di lapangan" Ucap Afdal ( ketua kelas ).
"Siap pak ketua" Ucap semua teman di kelas
Hari ini mata pelajaran penjas jadi semua siswa dan siswi di arahkan untuk mengganti seragam putih abu-abu. Aku dan Mentari memutuskan untuk ganti baju di kantin. Setelah ganti baju, aku berjalan menuju lapangan dan di perjalanan aku berpapasan dengan kak Ari bersama dengan dua orang temannya.
Dia menatap aku dan tersenyum. Lagi dan lagi dia membuat aku tersipu malu di hadapan dua orang temannya. Aku hanya melirik dia dan membalas senyumannya.
"Lu kenal dengan tuh cowok?" Ucap Mentari
"Iya aku kenal, tapi sekedar say hai doang sih" Ucap Amara
"Oh gitu, kenal dari mana lu? Tumben nggak pernah cerita?" Ucap Mentari
"Kenalnya seminggu yang lalu...pada saat...." Ucap Amara
__ADS_1
Pembicaraan aku terputus karena teriakan Afdal. Aku dan Mentari berlari menuju lapangan.
"Woi guys...cepetan jalannya" teriak Afdal
Setelah tiba di lapangan semua siswa dan siswi di arahkan untuk berbaris oleh pak Daus, dan juga lari mengelilingi lapangan basket sebanyak lima kali putaran. Di putaran pertama dan kedua aku masih sanggup untuk berlari. Tetapi di putaran ketiga kaki aku nyeri dan ngilu. Aku tidak sanggup lari. Akhirnya aku terjatuh. Dari arah belakang suara Afdal berteriak.
"Ra, lu kenapa?" (Menghampiri Amara yang terjatuh)
"Pakai tanya, tolongin dong"
"Kaki lu kenapa? Tanya salah satu temannya
"Kaki gue tiba-tiba nyeri dan nggak bisa bertumpu"
"Dal, tolongin dong, gue nggak bisa berdiri" Ucap Amara dengan nada lembut
"Kalau bukan lu gue nggak akan bantu, sini tangan lu" (meraih tangan Amara dan memegangnya)
"Gue nggak bisa jalan Dal, kaki gue nyeri"
Tanpa basa-basi akhirnya Afdal memutuskan untuk menggendong Amara ke tepi lapangan. Setelah Amara tiba di lapangan, semua teman-teman Amara berhenti berlari dan berkerumun menghampiri Amara.
"Ra, sini aku yang pijit" Kata Mentari
"Nggak usah Tar"
"Makanya kalau nggak bisa ikut, istirahat aja" Lanjut Mentari
"Denger tuh Ra, kata sahabat lu" Lanjut Afdal
Amara tidak menanggapi perkataan temannya.
Pak Daus berjalan cepat dari tengah lapangan menuju Amara.
"Amara sakit pak" Kata salah satu temannya
"Amara, kamu kenapa?" Tanya pak Daus
"Kaki aku pak nyeri dan nggak bisa bertumpu" Jawab Amara
"Coba bapak liat, kamu istirahat aja" Ucap Pak Daus
"Yang lain lanjutkan berlari, 2 kali putaran lagi" Lanjut Pak Daus
"Siap pak" Jawab sebagian muridnya
Setelah selesai berlari. Di arahkan untuk perenggangan yang di pimpin oleh ketua kelas. Amara tidak mengikuti perenggangan dan bermain voly karena kakinya masih sedikit nyeri.
"Baiklah hari ini kita bermain voly, tolong kontrol teman-temannya ya, Dal. Bapak liatin dari arah pos sana dan Amara kamu istirahat aja" ( Sambil menunjuk arah pos security ) Ucap pak Daus ( Guru Penjas )
"Siap pak" Jawab Afdal ( Ketua kelas )
"Iya pak" Lanjut Amara
Semua siswa dan siswi bermain voly di lapangan, kecuali Amara
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00, mata pelajaran berikutnya akan segera di mulai, semua siswa dan siswi bergegas untuk mengganti baju kaos olahraga menjadi seragam putih abu-abu.
Mata pelajaran berikutnya adalah bahasa Indonesia tetapi guru bahasa Indonesia aku kali ini berhalangan masuk. Aku dan semua teman-teman hanya di arahkan ke perpustakaan membaca buku. Di perpustakaan aku menghampiri Afdal yang duduk.
"Dal, makasih ya udah nolongin" Ucap Amara
"Sama-sama Ra, kaki lu udah nggak sakit?" Kata Afdal
"Udah mendingan nih, makasih ya Dal" Jawab Amara
"Santai aja Ra" (Dengan wajah cuek) Ucap Afdal
"Ra, lu nggak mau ke kantin?" Teriak Mentari
"Mau Tar, aku duluan ya Dal" Ucap Amara
"Oke" Kata Afdal
Lalu bel istirahat berbunyi. Aku hari ini memutuskan bersama Mentari ke kantin. Aku baru saja memasukkan suapan makanan yang kedua ke dalam mulut. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan bahwa hari ini di adakan rapat oleh semua guru. Jadi, siswa dan siswi di arahkan pulang lebih awal. Aku buru-buru menghabiskan makanan bersama Mentari. Takutnya pintu kelas di tutup sedangkan tas aku dan Mentari ada di dalam.
__ADS_1
...Happy reading🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaitu like dan comment ya🥰...