
Hari ini adalah hari Selasa yang sangat cerah, burung berkicauan dengan indah seakan membawa perasaan tenang untuk yang merasakanya.
Entah sudah berapa tahun aku tidak pernah merasakan perasaan nyama ini, perasaan yang menenangkan mungkin lima tahun dari sekarang hal ini akan sulit kurasakan karena terlalu larut dalam penyelesaian dungeon.
Benar dongeon bisa di selesaikan atau di musnahkan yaitu dengan cara masuk ke dalam dungeon dan mengalahkan boss yang ada di dalam sana.
[ah kita berpisah di sini aku ingin ke suatu tempat terlebih dahulu, kau bisa ke kelas mu sendiri Rey...] kata Alice yang berada di sebelahku, sekarang kami sedang berada di depan gerbang sekolah.
[emh, baiklah sampai ketemu nanti sepulang sekolah.] selesai aku mengatakan itu Alice dengan riang sambil melambai menuju ke arah barat sekolah yaitu tempat berkumpulnya para hunter untuk berlatih atau sekedar bersosial dengan sesama hunter.
Aku yang sudah tak melihat Alice langsung melangkahkan kakiku ke arah menuju kelas ku, saat ini masih cukup pagi sampai masuk jam pertama di mulai, tapi saat aku ingin memasuki lorong sekolah untuk ke kelasku aku di hadang oleh empat orang, mereka sepertinya kakak kelas aku tak tau namanya namun bila ku ingat-ingat bukanya ini adalah kejadian pertama kali aku di bully, ah kenapa baru hari kedua aku kembali dari masa lalu sudah mendapat kesialan.
[ahhhk ini akan merepotkan...] kata ku mendesah dengan tidak semangat.
[hah! Apa yang kau katakan? Sudah lah apa kau reyhan dari kelas 1A!] kata kakak kelas itu sambil menunjukan wajah songong sok garangnya.
[ahh bukan... Bukan... kalian salah orang aku bukan orang yang kalian maksud.] kata ku sambil enggaruk kepalaku dan dengan senyum yang merekah.
[oh begitukah apa kami salah?, baiklah kau boleh pergi...] kata kakak kelas itu, ehh apa begitu aja aku bisa terlepas dari masalah? Ah seharusya aku dari dulu menggunakan cara ini dulu kenapa baru kepikiran sekarang yah.
Saat aku sudah melewati kakak kelas tadi seseorang menghampiri mereka dan berbisik pada orang itu, melihat itu aku langsung ngibrit karena tau kelanjutan dari adegan selanjutnya.
[tung- hey kenapa kau lari! Kejarrrrrr!!!!] saat kakak kelas itu berteriak selanjutnya empat ratus pasukan pengejar berlari dengan cepat, setidaknya bila begitu adeganya akan menjadi seru, namun pada kenyataanya hanya ada lima orang yang mengejarku, dan aku tetap berlari kemanapun yang menurutku menuntun ke arah perdamaian yang hakiki.
Asal kalian tau luas sekolahku bukan kaleng kaleng, bahkan dua stadion pun masih belum cukup untuk menggambarkan luasnya sekolah jahanam ini, mungkin bila di tambah dengan luas tempat cukur langanan anda akan sama sama luasnya, aku terus saja berlari melewati tempat yang ada di sekolah, aku terus berlari dan orang yang mengejarku pun sama masih mengejarku dengan membara sambil sesekali mengatakan kata kata sarkas, namun sepertinya mereka mulai merasa cape atau entah memang mereka sudah merasa bosan mengejarku, bukan tanpa alasan mereka seperti itu, alasanya karena sedari tadi mereka mengejarku, tak sesentipun mereka dapat mengejarku yang ada aku semakin jauh karena perbedaan kekuatan, aku dengan status ku yang sekarang mungkin akan sama dengan para hunter rank A, tapi yang kulihat kemungkinan mereka hanya berada di rank e atau f.
Dengan kesenjangan itu sudah jelas apa yang akan terjadi, namun setelah berlarian kesana kemari aku baru sadar aku memasuki wilayah yang bukan seharusnya orang normal kesini, ini adalah kawasan para hunter mencoba skill, berlatih, dan berkumpul, kawasan ini sering di sebut kawasan emas karena peralatan nya yang sangat mewah, padahal beberapa tahun ke belakang sekolah ini hanya sekolah biasa, dengan peralatan seperti biasa, namun sekarang menjadi salah satu sekolah dengan perlengkapan pengajaran yang lengkap sungguh emejing, walau aku bukan salah satu siswa di sini sih.
[hey berhenti! Baji.ngan ini kenapa bisa berlari lebih cepat dari ku? Kalian bilang dia bukan hunter bukan!?] kata pemimpin pasukan itu.
[tapi itu benar boss dia terdaftar menjadi murid biasa di sekolah ini dia bukan hunter...] kata temanya yang satunya.
[kalau begitu kenapa dia bisa berlari sekencang ini, apa kau ingin mengatakan kecepatan kita yang seorang calon hunter lebih lambat dari normie seperti dia...] timpal pemimpin grup itu dengan jengkel.
Aksi kejar mengejar itu masih terus berlanjut sudah banyak pasang mata memerhatikan kami,ini wajar karena waktu kami berjalan jalan sudah cukup lama, jadi tak heran bila sudah banyak siswa yang berada di area sekolah.
[aduh mereka ini sungguh keras kepala, apa segitu niatnya mereka ingin menghajarku hingga tetap mengejarku seperti ini?] gumamku sambil terus berlari, dan saat aku melihat sekeliling aku menemukan sebuah harapan, yaitu di sebuah gedung yang berisi beberapa orang yang aku tak tau itu siapa namun dari yang ku lihat salah satu orang itu pastilah Alice.
Dengan sedikit keraguan, aku mulai melancarkan cara untuk lepas dari kawanan babon liar ini, mungkin hanya ini satu satu nya cara yang bisa aku lakukan bila ingin rahasia kemampuanku tetap terjaga.
Aku akhirnya sedikit menurunkan tempo berlari ku, para babon liar yang melihat itu menjadi semangat karena akhirnya pengejaran mereka sedikit lagi berakhir, ah memang berakhir namun tentu tak sesuai dengan yang mereka harapkan. Saat aku sudah cukup dekat dengan tempat alice aku langsung...
[aaaaaahhhkkk tolong ada yang ingin menghajarku tolongggggg!!!!!] teriak ku dengan keras.
[kau! Kenapa kau baru berteriak sekarang! Hah sudahlah ini sudah telat ikuti kami akan kami beri kau pelajaran!] kata pemimpin grup babon itu.
Tapi saat tangan dari orang itu menggapai pundak ku tiba tiba pukulan telak di terima pria berbadan bongsor itu dan pada akhirnya dia terhempas beberapa meter kebelakang dan memuntahkan isi perutnya, ugh itu pasti sangat sakit.
Orang yang menolongku kupikir adalah Alice ternyata bukan, dia..... siapa? Aku tak mengenal orang ini, dan beberapa saat kemudian Alice datang ke arahku menanyakan keadaanku dan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
[aku... aku pun tak tau, tiba tiba saja aku di jegat oleh mereka, karena aku tak mengenal mereka, aku berpikir mereka akan menyakitiku, akhirnya aku lari, eh pas aku lari malah di kejar kejar sampai sini, makanya aku langsung berteriak, karena aku berpikir akan di keroyok sama mereka.] aku menjelaskanya dengan cepat ala repper gadungan.
__ADS_1
[baiklah kau aman di sini walau aku sebenarnya agak tak paham dengan apa yang kau katakan...] kata Alice dengan nada yang sepertinya tak begitu mengerti dengan apa yang terjadi.
[huhuhu untunglah kau ada di sini.... aku kira aku akan mati hari ini huhuhuhu] aku pura pura menangis, sambil mencoba memeluk alice namun aku di sentil di keningku oleh Alice, membuatku mengurungkan niatku.
[apa kau teman dari Alice?] kata orang yang menyelamatkan ku.
[yah dia sahabatku dari kecil, terima kasih ketua delvina telah menyelamatkanya, dia bukan seorang calon hunter bila benar mereka ingin membullynya mungkin dia sekarang ada di rumah sakit.] kata Alice sambil berterimakasih pada gadis yang seperinya lebih tua dari pada ku dan alice.
[hey apa kau pikir aku selemah itu? setidaknya kalau pun mereka memukulku paling hanya memar saja, mungkin.....] kata ku dengan ketus.
[hahaha tak apa, lagian aku sebenarnya sudah cukup muak dengan kelakuan mereka, jadi ini bisa jadi alasan aku untuk menghajar mereka..] kata gadis itu kembali.
Aku yang melihat itu hanya tersenyum kecut walau kecantikan dari gadis ini sangat memukau untuk kebanyakan pria, namun sepertinya dia memiliki sifat yang tersembunyi dalam dirinya...
[uhuk uhuk Delvina! Apa yang kau lakukan! Ini bukan masalahmu menyingkir dari bocah itu...] teriak pemimpin grup babon itu sepertinya dia sudah lupa akan tujuanya awal dia menemuiku deh.
[yah mungkin benar awalya ini bukan urusanku, tapi melihat gelagatmu sepertinya kau tak punya niatan baik pada orang ini, jadi ini sudah menjadi tugasku sebagai ketua keamanan siswa, untuk melindungi yang lemah.] kata perempuan yang di sebut Delvina itu, sepertina aku tau siapa dia, kalau tak salah dia adalah kakak kelas sekaligus ketua keamanan seperti yang di katakanya, namun tak hanya itu dia pun kalo tak salah mempunyai julukan Pricess Strom atau putri badai atau apa pun itu.
kemampuan bertarungnya pun di gadang lebih hebat dari siapapun di angkatanya yang membuat dia di takuti sebagian banyak orang di sekolah, tidak ada orang yang sekonyong konyong ingin berurusan dengan wanita ini.
Apa lagi dengan sifat keras yang memang sudah menjadi sifatnya, di tambah jiwa keadilanya yang tinggi membuat dia semakin di takuti oleh orang orang sering berprilaku seenaknya sendiri, bagai badai yang menyapu kejahatan, di sanalah asal muasal julukanya.
[kau...] saat sang pemimpin ingin memuntahkan hal memuakan lainya, tapi sebelum sempat bicara lebih banyak dia di tahan oleh teman temanya.
[tenanglah Garus, kau tidak ingin berurusan dengan dewan keamanan sekolahkan?, sebaiknya kita mundur terlebih dahulu dan mencari kesempatan lainya.] kata orang yang ikut mengejar ku.
[huh sialan awas saja bila ada kesempatan kau akan tamat...] ehhh apa segitunya dia membenciku? Padahal dulu dia hanya mempermainkan ku seperti mainanya, sepertinya aku telah menyulut sesuatu yang seharusnya tak kusulut deh.
Saat mereka akan pergi garus atau pemimpin mereka mendelik kearah ku dan aku timpal dengan senyuman paling tulus, hahaha biarlah yang sudah terjadi terjadilah, aku hanya perlu bersiap dengan kelakuan absurd mereka nantinya.
[ah benar, terimakasih telah menyelamatkan ku dari para babon liar itu.] kata ku sambil sedikit menunduk.
[babon? Hahaha kau bisa saja, sudah lah tak perlu berterima kasih seperti itu, mau bagaimanapun ini sudah mejadi tugas ku sebagai dewan keamanan sekolah.] kata Delvina dengan tersenyum manis.
[begitu kah, oh iya Alice kenapa kau ada di sini?] kata ku penasaran, ya sebenarnya aku sudah tau sih kenapa dia ada di sini.
[ahh apa aku belum menceritakanya, aku disini karena ketua mengajakku bergabung dengan dewan osis] kata Alice sambil tersenyum.
[osis? Bukan Dewan Keamanan?] kataku dengan sedikit terheran.
[begitulah... , kami sekarang sedang latihan gabungan dengan Dewan Keamanan, makanya ketua Delvina juga ada di sini.] kata alice menerangkan.
[emh naruhodo... jadi kau masuk OSIS, Alice?] kata ku.
[emh... aku merasa ingin mencoba hal yang baru.] kata Alice dengan semangat.
[hoo begitukah... semoga beruntung.] kataku datar.
[kenapa? Apa apaan ekspresi seolah aku tak mempercayai omongan ku itu.] kata Alice dengan memicingkan matanya.
[eh? Tidak mungkin, itu hanya perasaanmu saja, ha ha ha ha...] kata ku dengan sedikit gugup.
__ADS_1
[hemmmmm......] gumam Alice sambil menatapku cukup tajam.
[ha ha ha aku serius, aku selalu mendoakan mu semoga sukses.] kata ku, dengan kikuk.
[Rey... jawab dengan jujur kau tak menganggap aku tidak akan bisa menjalani tugas OSIS kan?] kata Alice dengan wajah yang seram.
[gluk... hahaha ayolah Alice kau taukan dari dulu kau tak suka dengan tulis menulis, jadi aku kira tugasmu akan sedikit berat hanya itu.] kata ku dengan agak jujur.
[tuh kan! Kau ini menyebalkan! Dasar Reyhan bodoh ma ma ma ma] dengan arah Alice memukulku beberapa kali.
[tu-tunggu Alice jangan memukulku, aku bisa jadi ayam penyet bila di pukul mu aaaaaahk!] teriakan kesengsaraan menggema cukup luas di daerah pelatihan itu.
[hahaha kalian ini sungguh lucu, benar apa yang di katakan orang kalian begitu serasi, mungkin ini alasanya orang orang pada cemburu pada mu Reyhan Kajuki.] kata seseorang yang tiba tiba datang dari ruang pelatihan.
[ketua Adrian! Maaf telah mengganggu waktu latihan.] kata Alice sambil bersikap seolah tak terjadi apa apa walau dia sedikit tersipu.
[ugh... sama orang ganteng aja baru bersikap sok manis, buakh!!!] aku kembali mendapat pukulan.
[emhp dasar Rey bodoh, ketua aku pamit terlebih dahulu seperinya sudah saatnya aku masuk kelas.] kata Alice sambil berjalan menjauh kearah ruang ganti perempuan.
[adu du duh dasar anak itu, tak bisa di ajak bercanda.] kata ku sambil berusaha berdiri lagi.
[ya sepertinya kau akan mengalami kesulitan di masa depan, ah aku lupa memerkenalkan diriku perkenalkan namaku Adrian Sulivian, aku ketua OSIS saat ini senang berkenalan dengan mu Reyhan Kajuki..] kata ketua osis itu sambil mengajak bersalaman.
[kau tau namaku?] kataku dengan keheranan.
[yah aku tau dari cerita Alice, tapi sepertinya apa yang di gambarkan alice sedikit berbeda.] kata ketua itu sambil tersenyum misterius.
[haaa? Maksudnya?] kata ku karena tak mengerti apa yang di katakan Adrian.
[yah alice selalu menggambarkan mu seorang yang cerdas namun kadang bersikap bodoh kalau itu mungkin benar, selalu bersikap ceria padahal kau sangat tersakiti, namun kau juga sangat baik pada waktu bersamaan walau sedikit bodoh, dan orang harus dia lindungi, dan juga betapa dia... ahk mungkin aku terlalu banyak bicara?] apa sebenarnya yang kau ceritakan pada orang orang tentangku Alice.
[ahhk apa yang sebenarnya dia pikirkan tentang ku?] kataku sambil tersenyum kecut.
Ting ning nong....
[ahk! bel masuk sudah berbunyi bisa bisa aku telat, ahk apalagi jam pertama gurunya galak banget lagi, jadi kakak kelas sekalian senang bertemu dengan kalian, bila ada kesempatan lagi mari kita ngobrol lagi dan, tolong jaga Alice, aku pergi terlebih dulu, permisi..] setelah mengatakan itu aku berlari cukup kencang walau tak sekencang sebelumnya karena akan menjadi kecurigaan terhadapku.
[Del, apa kau merasakanya juga...] kata adrian.
[maksudmu aura yang merembes keluar dari tubuhnya? Benar aku pun merasakanya, namun aku tak paham kenapa dia di masukan di kelas biasa, bila instingku benar mungkin dia lebih berbahaya dan lebih kuat dariku.] kata Delvina sambil mengamati Rey di kejauhan.
[sampai seperti itu?] kata Adrian karena terkejut akan penjelasan Delvina.
[yah dia benar-benar pandai menyembunyikan kekuatanya, pantas saja kelompok Garus masih berani berurusan dengan dia, kalau bukan karena aku selalu di kelilingi orang-orang sepertinya, kemungkinan aku pun akan menganggap orang itu sama seperti yang di katakan Alice.] kata Delvina kemudian.
[hem bila seperti itu mungkin ada beberapa kemungkinan kenapa dia di masukan ke kelas biasa, pertama dia baru dibangkitkan beberapa hari ini, atau memang dia berhasil mengecoh Dewan Asosiasi Hunter Negara.] kata Adrian sambil menganalisis kemungkinan.
[kemungkinan kedua rasanya terlalu mustahil di lakukan, kau tau sendiri alasanya, betapa ketatnya Asosiasi Hunter Negara, namun untuk alasan pertama pun aku sedikit ragu, memang benar hunter memiliki kekuatan yang beragam tapi kekuatan hunter itu tak akan lebih dari rank B saat pertamakali mereka di bangkitkan dan itupun hanya kekuatan bukan dari pengalaman dan aura Petarung, tapi dia berbeda aku tak tau tingkatan kekuatanya namun aura bertarung yang ia miliki lebih pekat daripada aku yang sudah cukup berpengalaman soal itu, dan kau sendiri pun tau aura petarung tak bisa di miliki secara instan tapi akan sedikit demi sedikit terkumpul untuk seorang hunter saat mereka bertarung dalam situasi sulit, itulah yang membedakan hunter berpengalaman dan tidak, namun melihat auranya yang sedemikian rupa, aku ragu dia baru di bangkitkan kemarin kemarin.] kata Delvina sambil memijit keningnya yang tak mengerti apa yang dia rasakan.
[hem ini menarik.... Rey sebenarnya kau itu siapa?] kata Adrian dengan smirk yang agak menakutkan.
__ADS_1
To be continued.....
Oh iya terimakasih telah membaca karyaku bila kalian ingin membaca ceritaku yang lain kalian bisa mampir di karyaku yang lain judulnya IMMORTAL SLAYER ONLINE, dari judulnya kalian pasti sudah tau ceritanya tentang apa, jadi langsung saja baca itung itung menunggu novel ini juga kan.( Hehehe ngarep banget.)