Amerta Pride System

Amerta Pride System
8 menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku.


__ADS_3

Booooom!!!


Suara keras terdengar saat tangan rey menyentuh bulatan yang ada di hadapanya, dan angka yang ada di atas benda itu menunjukan angka 845, tentu itu bukan angka yang bisa di miliki oleh orang biasa bahkan di antara Hunter pun angka sebesar itu sangat susah untuk di dapatkan.


Sang penguji terlihat pucat saat melihat angka yang ter pampang di hadapanya, di dalam hati dia merutuki kejadian itu.


[mo-monster dia monster!] kata nya dalam hati.


[sekarang tangan kananku kan?] kata rey sambil bersiap kembali.


[aah iya tunggu sebentar.] kata orang itu dan mereset angka di alat itu.


Kali ini rey tak langsung memukulnya tapi dia bersiap terlebih dahulu dan saat dia merasa pas dia langsung melancarkan pukulan terbaiknya.


Duarrrrr!!!


Suara yang lebih besar terdengar, saking terkejutnya orang yang menguji Rey sampai membuat dia terjatuh kebelakang, dengan ekspresi rumit dia melihat angka yang ada di alat itu dan dia sangat syok melihat angka yang tertera.


[seribu empatratus sembilan....] saking syoknya dia langsung gemetar, dia pun tak tau kenapa dia gemetar namun tetap dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


[anda tak apa apa penguji?] kata rey dengan tenang merasa tak ada yang aneh toh dia juga tak tau berapa standar biasanya hunter jadi dia acuh tak acuh.


[t-tak apa apa, baiklah sekarang anda bisa melanjutkan tes berikutnya.] sang penguji membawa rey ke masing masing alat untuk mengetes fisiknya, mulai dari tes kecepatan lari, tes kelincahan, tes ketahanan, semua di lalui rey dengan biasa saja, bahkan terkesan dia seperti bosan dengan apa yang di teskan karena memang membosankan sih. Toh cuman disuruh lari angkat beban dan lain-lain.


Namun berbeda dengan pengetes ujian yan bernama asep itu, dia benar benar terkejut setiap Rey melakukan tes, yah sebenarnya itu reaksi yang normal, biasanya orang yang melakukan tes hanya berada di tingkat D kebawah terkadang ada juga di atasnya namun sangat langka, sedangkan yang di lakukan Rey, tentu sangat di luar akal sehat, setiap tes yang dia lewati melebihi nilai yang biasanya di miliki hunter bahkan untuk rank A pun akan kesusahan untuk mencapai nilai yang di peroleh Rey.


[hemmm sepertinya kekuatanku memang sangat lemah, haaa aku harus cepat cepat meningkatkan kekuatan fisikku.] Gumam rey yang tentu tak dingar oleh penguji, kalau sampai asep mendengar apa yang di katakan rey bisa bisa dia masuk rumah sakit karena serangan jantung dan korengan.

__ADS_1


[apa ada yang harus kau lakukan lagi, penguji?] kata Rey sambil menatap Asep yang masih linglung.


[aaahh tidak untuk tes fisik sudah selesai tuan Kaju beristirahat di ruang tunggu, sambil menunggu pengetes anda untuk tes bakat.] kata asep yang langsung mengantar rey ke ruang tunggu dan dia pergi entah kemana untuk memberitahu penguji selanjutnya.


Saat Rey ada di ruang tunggu dia hanya diam sambil menatap layar ponselnya untuk mencari tahu dungeon yang baru atau sudah lama terbuka namun belum ada yang menuntaskanya.


Saat rey sedang sibuk sendiri di sebuah ruangan para penguji sedang berkumpul membahas Rey, membahas apa yang akan mereka lakukan karena mereka sendiri kebingungan.


[jadi Bam, kau yang akan menguji dia di tes bakat.] kata Asep pada temanya itu Bam atau nama lengkapnya Bambang.


[haah? Apa kau gila! Kau ingin aku di pukuli oleh orang itu? lihatlah segala asper kekuatanya bahkan melebihi rank A, dan kau menyuruhku yang rank B untuk menghadapinya?] kata Bam, dengan emosi yah orang mana yang tak marah saat di suruh untuk bunuh diri.


[tenanglah Bam, aku mengerti apa yang kau rasakan tapi mau bagaimana lagi kita tak punya penguji yang lebih kuat darinya, kalau pun kita memilih orang lain tetap saja akan dia buat bonyok.] kata Asep menenangkan Bam, tapi apa benar?


[hooo jadi tak apa bila ku bonyok begitu?] kata Bam dengan urat yang menegang ingin menghajar temanya itu.


[Kau!!] kata Bam sambil mengepal tanganya, akan menghajar asep, namun belum juga beraksi dia sudah di hentikan oleh seseorang.


[hentikan kalian berdua, kalaupun kalian bertengkar pun tak akan menyelesaikan masalah, lebih baik pikirkan bagaimana kita mengetes orang itu] dia adalah Lili diapun sebenarnya sangat terkejut dengan hasil tes yang di peroleh Rey, dari segi kepintaran bisa di bilang dia cerdas, dari segi kekuatan dia bisa di bilang monter, dia bahkan sempat ragu apa benar rey itu yang melakukan tes atau orang lain.


[Lili sebenarnya siapa orang itu? aku tak pernah mendengar orang sekuat itu sebelumnya.] kara Bam yang sebenarnya sedikit penasaran dengan identitas Rey.


[apa kau pikir aku akan membocorkan informasi pribadi para hunter?] kata Lili dengan mata menyipit.


Setelah mereka berdiskusi mereka tetap tak mendapat jawaban hingga pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan seorang orang tua, namun dengan wajah yang berwibawa masuk ke ruangan itu.


[kalian kenapa? Apa ada masalah?] kata orang itu pada tiga orang di hadapanya.

__ADS_1


[ketua!? Tidak kami hanya kebingungan untuk memilih penguji untuk menguji peserta tes Ketua.] kata Lili sambil membungkuk hormat pada orang di hadapanya, dia adalah Dernanta Purwana, ketua Asosiasi Hunter Negara Indonesia, dia berperawakan seperti kakek yang berwibawa dengan berewok di mukanya tentu dengan rambut ubanan.


[hemm kenapa hanya untuk menguji calon hunter sampai membuat kalian sebingung itu.] kata Denanta, sambil ikut duduk di antara mereka, memang Denanta di kenal sangat ramah bahkan dia tak membedakan orang orang, dia mengenggap semua orang sama tak ada yag harus di perlakukan spesial begitu pula sebaliknya, hingga dia dikenal dengan orang yang sangat bijak, dan akhirnya dia di pilih untuk menjadi ketua Asosiasi.


[itu... sebaiknya ketua melihat datanya sendiri.] kata Asep sambil menyerahkan seluruh hasil tes Rey pada Dernanta.


[astaga! Ternyata kalian menemukan seorang monster..] kata dernanta melihat kertas di hadapanya, tentu dia percaya apa yang tertulis di kertas itu, melihat bagaimana mereka betiga kebingungan dan juga tentu dernanta percaya terhadap anak buahnya itu.


[baiklah kalau begitu biar aku sendiri yang mengetes anak ini.] kata dernanta sambil melangkah ke luar ruangan.


[eh!? Tu-tunggu ketua, apa tak apa-apa membuat anda mengetes orang itu?] kata Lili yang segera mengejar ketua mereka di ikuti tiga orang di belakangnya.


[yah... aku ingin melihat dengan mata ku sendiri bagaimana kekuatanya.] kata dernanta sambil terus melangkah kan kakinya ke arah suatu ruangan.


Sedangkan orang yang di belakangnya hanya terdiam setelah mendengar perkataan ketua mereka karena mereka pun kebingungan untuk memilih orang untuk mengetes Rey, hingga mereka memilih diam dan mengikuti ketua mereka untuk mengetes Rey.


...


Sedangkan di ruang tunggu rey sedang tiduran di sopa yang ada di ruang tunggu, walau sekarang di dalam gedung banyak orang namun di ruang tunggu ini hanya ada rey seorang, memang benar bena jarang orang yang masuk jalur Observatif, saking bosanya Rey membuat dia sempat tertidur walau tak lama.


[astaga ini sudah satu jam, apa memang sesusah itu mempersiapkan ujian terakhir ini yah?] kata rey yang saat ini sedang handstand, saking tak ada kerjaan.


Dia sudah mengumpulkan beberapa informasi yang menurutnya berguna dia juga telah menyusun rencana untuk apa yang akan ia lakukan kedepanya, bahkan ia sempat bertelepon ria dengan Alice walau sepertinya Alice sedang sibuk akan sesuatu, membuat Rey menyudahi percakapan mereka.


[astaga sampai kapan aku harus menungguuuuuuuu.......] katanya yang sekarang sudah kembali duduk di sofa.


To be Continued.......

__ADS_1


Re:creator.


__ADS_2