
[sepertinya aku harus mengecek statusku, system command : holo self data]
{name : Reyhan Kajuki
Age : 15
Job : Mekanik
Level : 100
Str : 220, VIT : 180, AGI : 220, INT : 520 DEX : 200
Skill : - intimidation, }
[Sepertinya aku tak sengaja memakai skill intimidation saat di kepung garus, hemm sepertinya memang aku harus membuka skill ku agar aku bisa mendata dan mengingat ingat semua skill ku.] kata ku sambil memegang dagu.
[skill dasar dari skill mekanik adalah creation, namun untuk menggunakanya aku perlu bahan baku pembuatanya.]
Sebenarnya untuk membuat suatu barang seorang mekaniker perlu bahan baku untuk membuat sesuatu, baik itu bahan yang mentah atau bahkan bahan daur ulang, asal sang mekaniker menganggap barangnya bahan baku maka dia bisa membuat sesuatu dari bahan baku tersebut.
[mungkin aku harus memulung bahan baku terlebih dahulu? Tapi itu tak efisien, mungkin.... ah! Lebih baik aku mendaftar di asosiasi hunter dengan menutupi identitasku. Yah lebih baik begitu agar aku bisa pergi ke Dungeon dan mendapat bahan baku, sekaligus mendapatkan uang dari penyelesaian Dungeon.]
Setelah itu rey berdiri dan bersiap untuk pergi ke Asosiasi Hunter, di asosiasi hunter terdapat dua sistem penerimaan hunter yang pertama adalah jalur Reguler, biasanya jalur ini bisa di bilang jalur penerimaan biasa dari sekolah hunter terus mendaftar tanpa ada ujian apapun dan bisa langsung bergabung dengan guild dengan sertifikat dari masing masing sekolah.
Dan jalur yang satunya lagi adalah yang akan di lakukan oleh rey yaitu jalur obserfatif, yaitu jalur yang di khususkan untuk hunter yang biasanya terlambat dalam pembangkitan, namun biasanya jalur ini juga di gunakan oleh beberapa orang agar identitasnya di rahasiakan, jalur ini di adakan karena ada beberapa hunter yang tidak ingin di ketahui oleh publik bawa dirinya hunter atau ada alasan lainya, namun yang pasti jalur ini akan menjadi pilihan tepat untuk Rey yang saat ini ingin merahasiakan tetang kekuatanya, walau sebenarnya Asosiasi akan tetap meminta data diri pribadi, untuk pengecekan.
__ADS_1
Dan jalur ini pun memerlukan beberapa identifikasi, yaitu identifikasi kekuatan, frofil dan sebagainya agar asosiasi dapat menentukan pringkat dari orang tersebut, tak seperti jalur reguler yang biasanya tidak perlu lagi hal semacam ini karena sudah ada sertifikat dari institut pengajar hunter, yah seperti ijazah jadi asosiasi tak perlu lagi menguji kekuatan atau kecakapan dari orang bersangkutan.
Saat rey akan keluar rumah, dia melihat ibunya baru pulang dari satu tempat, dari wajahnya terlihat dia begitu kelelahan seperti telah mengurusi rakyat yang banyak maunya, yah begitulah wajah ibuku sekarang.
[ibu? Ibu baru pulang dari mana?] kata ku heran tak biasanya ibu keluar rumah, kalau bukan karena harus keluar.
[Rey... ibu baru pulang kerja.] kata ibuku sambil pergi ke dapur mengambil minum.
[kerja? Memang ibu bekerja dimana?] kataku yang sedikitnya mengkhawatirkan keadaan ibuku, karena badan ibuku itu lemah bahkan aku ingat saat dulu ia meninggal karena kelelahan kerja, tentu aku saat itu hanya bisa menerima takdir, itu terjadi saat aku ada di kelas dua SMA yang membuatku semakin defresi, dan lagi lagi yang membuatku bisa lepas dari defresi dari ditinggalkan kedua orang tuku adalah Alice.
[ibu bekerja di resto temen ibu, di sisi jalan yang ada di depan.] kata ibuku sambil, menidurkan badanya di sofa tengah rumah yang di sebelahnya ada aku yang duduk sejak mengajak ibu ngobrol.
[ibu jangan terlalu memaksakan diri oke, kalau lelah mending langsung istirahat aja.] kata ku yang khawatir.
[baiklah, ibu akan menuruti perkataan anak ibu yang manis ini.] kata ibu sambil mencoba memeluku.
[tidak, kau sebaiknya fokus sekolah agar dapat di terima di universitas terkenal dan bekerja yang layak, biar ibu yang bekerja dan jangan khawatirkan apapun.] kata ibuku sambil mengusap kepalaku, yah aku tau ibuku hanya tak ingin anaknya terebani saja makanya dia harus bekerja keras di kehidupan sebelumnya, tapi sekarang....
[tidak ibu, dengarkan dulu perkataanku.] kataku sambil melepas pelukan kami dan menatap wajah ibuku datar, ibu ku yang melihat itu hanya kebingungan karena memang jarang aku menunjukan ekspresi seperti ini di depan keluargaku biasanya aku menunjukan wajah senyum, agar tak membuat ibu khawatir akan keadaan ku.
[aku tak peduli dengan universitas atau bekerja di perusahaan, yang aku inginkan sekarang adalah kebersamaan kita sebagai keluarga, aku tau ayah mempunyai hutangkan?] kata ku menatap mata ibu lekat, sontak mendengar perkataan anaknya tersebut Yunia Kajuki atau ibu Rey langsung melotot tak percaya.
Karena masalah hutang sebenarnya di rahasakan ibuku, yah benar saat dulu aku tak tau sama sekali tentang masalah hutang itu hingga dimana ibuku harus di rawat dirumah sakit dan saat itu ada beberapa orang yang menagih hutang itu, tentu itu membuat ku kaget dan pada akhirnya rumah ku di jual agar dapat melunasi hutang itu, tak hanya itu kami juga harus mengontrak di kosan kecil yang hanya mempnyai dua kamar.
Dan barulah saat itu aku mulai bekerja sampingan untuk setidaknya sedikit mengurangi hutang hutang itu, sampai akhirnya ibu meninggal karena memaksakan dirinya untuk bekerja, maka dari itu aku yang dahulu sangat membenci diriku sendiri karena begitu tak berguna, sebagai kakak sebagai satu satunya laki laki di keluarga kecil kami aku benar benar tak berguna, yang membuatku sangat defresi yang menjadikanku sangat suram dan hanya memandang rendah diriku sendiri.
__ADS_1
[nak kau tau itu dari mana?] kata ibuku yang tak sedikitpun menutupi keterkejutanya yah memang seharusnya begitu, mau bagaimanapun kedua orang tuanya memang pinta dalam menyembunyikan masalah ini.
[tak penting dari mana dan dari siapa aku tau hal ini, namun yang penting sekarang berapa hutang yang harus kita bayar.] kataku sambil mengeluarkan memo.
[itu... sebaiknya kau tak perlu tau nak bia-] belum ibuku menyelesaikan ucapanya aku telah memotong perkataanya.
[ibu apa aku itu begitu tak berguna?] kataku sambil menatap kebawah.
[bukan begitu nak tapi..] kata ibuku yang panik melihat prilaku anaknya yang tak biasanya.
[kalau begitu apa bu? Apa ibu ingin mengatakan tak ingin meyusahkan kami?] kataku ambil menatap kedua mata ibuku.
[malah dengan menyembunyikan masalah ini, yang menjadi menyusahkan untukku bu.... aku tak tau harus berbuat apa bila ibu saja bersikap begini, aku... aku merasa aku benar benar tak berguna bila terus harus di bantu oleh ibu, alice dan kinan. Seharusnya aku yang melindungi kalian tapi, tapi....] aku tak meneruskan ucapanku karena bingung apa yang harus ku katakan, sedangkan yunia yang mendengar penuturan anaknya hanya menunduk, diapun sama bingungnya dengan rey entah apa yang harus dia katakan pada anaknya tersebut.
[15, limabelas juta, itu hutang yang di tinggalkan ayahmu, dan nanti di akhir bulan kita harus melunasinya.] kata ibuku lirih, ibu akhirnya menyerah akan Rey, dia tak pernah melihat Rey yang seperti ini biasanya dia tak pernah memikirkan hal hal yang seperti ini, bukn berarti rey tidak baik namun biasanya dia berprilaku seperti kebanyakan remaja seusianya, namun kali ini ibu melihat sisi dewasa rey membuatnya bingung, kenapa dengan anaknya tersebut.
[lima belas juta dalam tiga minggu kah... baiklah aku akan memikirkan cara untuk melunasi hutang itu, dan sebaiknya ibu bekerja secukupnya saja jangan memaksakan dirimu, aku tak mau ibu sakit.] kaaku sambil beranjak keluar rumah.
[nak kamu mau kemana?, aku tak tau apa yang kau pikirkan atau kau rencanakan, tapi ibu tak akan mengijinkanmu bila itu bersangkutan dengan hal yang berbahaya dan melanggar hukum.] kata ibuku yang menghentikan langkahku.
[tenang bu, aku tak sebodoh itu, lagian otaku itu pintar bu masalah sekecil ini mah gampang...] kata ku sambil menunjukan jempolku dan senyum konyol agar ibuku tak terlalu mengkhawatirkan apa yang ku lakukan.
[haah terserah, kau ini sama konyolnya dengan ayahmu, hati hati di jalan.] kata ibuku sambil mengusap kepalaku.
[tentu, tak akan ada yang bisa melukaiku kok bu tenang, hehehe.] kataku dan melangkah keluar rumah.
__ADS_1
[sebenarnya kenapa anak itu? apa kematian ayahnya yang membuat dia berubah seperti itu? haah semoga dia tak melakukan hal yang berbahaya.]
To Be Continued....