Amerta Pride System

Amerta Pride System
5. Ciyaaaaatt!!


__ADS_3

[sialan! Akan kuhancurkan mulut sialan mu itu, haaa pukulan lengan baja!] teriak garus dengan semangat.


Duaar!!!!


Ledakan terjadi serangan dari garus membuat area sekitar itu tertutupi debu, namun setelah debu menghilang, pemandangan yang menakjubkan terjadi, serangan kuat yang di hantamkan garus dapat di hentikan dengan satu tangan oleh Adi, sontak itu membuat garus merasa tak percaya, pukulanya itu sangat di takuti di angkatanya karena kekuatan seranganya, tapi sekarang di hentikan hanya dengan satu tangan.


[ap-apa! Tidak mungkin! Bagaimana bisa!?] kata garus sambil mundur kebelakang, karena merasa ketakutan.


[bukankah sudah ku katakan, kekuatanmu terlalu kecil dibanding tubuhmu yang bongsor itu.] kata Adi dengan datar.


[sialan! Sebenarnya siapa kau? Kita tak punya dendam, tapi kenapa kau mencampuri urusanku!?] kata garus mencoba bernegoisasi karena dia merasa akan kalah bila harus bertarung melawanya.


[haaa... kenapa? Bukan kah sudah jelas, karena orang sepertimu lah yang selalu berprilaku seenaknya sendiri, kita sebagai hunter di pandang buruk di masyarakat, itu sudah jadi alasan yang bagus untuk mencampuri urusanmu itu.] kata Adi dengan tatapan yang tajam pada garus.


[cih hanya karena kau punya sedikit kemampuan, kau pikir bisa bersikap seenaknya rambut merah! bagaimanapun kami menang jumlah, kau tak mungkin bisa mengalahkan kami semua sendiri bukan, lagian orang yang kau lindungi itu seorang normie hingga dia tak bisa berbuat apa apa.] kata garus, yang melihat temanya sudah berdiri di sampingnya siap bertarung ronde dua.


[kalau begitu bagaimana bila aku juga ikutan.] kata seseorang perempuan di belakang garus, itu adalah Delvina, di sampingnya ada beberapa orang di antaranya ada Alice juga.


[kau... bagaimana mungkin.] kata garus yang kaget karena dia sudah di kepung dewan keamanan.


[tentu saja itu aku, aku memanggil bantuan bodoh.] kata ku dengan nada mengejek, yah selagi mereka berantem dan berbicara yang sungguh membuat bulu kuduk ku berdiri karena saking alaynya percakapan mereka, aku menghubungi alice supaya membawa dewan keamanan, yah kalian bisa memanggilku pecundang atau apapun namun inilah satu-satunya cara agar kami selamat tanpa harus bertarung.


[Bocah Si alan! Kenapa kau memanggil dewan keamanan!?] kata garus dengan emosi memuncak.


[tentu saja aku memanggil mereka bodoh, kalau tidak aku yang akan bonyok, bagaimanapun aku ini orang normal bongsor otak otot.] kataku dengan menohok.


[Kauuu!] kata garus ingin menerjangku namun.


Duarrr!!


[hentikan garus kalau kau masih bernekad jangan salahkan kami bila kami akan memberikan sanksi yang berat.] kata delvina setelah menembakan sebuah proyektil di hadapan garus yang membuat dia kembali mundur dan menekan kemarahanya.


[kalian sebaiknya ikuti kami ke kantor kedewanan, bila ada yang memberontak jangan salahkan aku bila menyeretkalian dengan kasar.] kata delvina sambil membekuk anggota garus, dan aku pun mengikuti mereka untuk memberikan kesaksian sebagai korban, mau bagaimana pun aku pasti akan di sebut korban toh aku ini masih di pandang sebagai orang normal, walau yang bonyok anggota garus sih.

__ADS_1


Dan setelah semua selesai akhirnya genk garus di beri hukuman skor selama dua minggu, tapi menurutku untuk mereka malah skorsing seperti itu akan di syukuri atau malah di anggap libur panjang, yah sebuah hukuman yang tak menjadi hukuman untuk para berandal.


Walau bisa di bilang kejadian ini adalah kejadian yang buruk tapi sepertinya tak bisa di bilang seperti itu, karena dengan kejadian ini aku kembali berteman dengan si rambut merah ini, yah setelah kejadian itu aku dan adi menjadi cukup dekat bahkan bisa di bilang kami menjadi teman dekat, toh aku memang sudah tau sifatnya bagaimana jadi kami cepat akrab.


Saat perjalanan pulang aku dan alice tak berbicara sama sekali, aneh biasanya dia yang selalu cerewet tapi sekarang entah kenapa dia menjadi pendiam begini.


[Alice, kau tak apa?] kata ku, sambil melihat wajahnya.


[Tidak, hanya saja aku merasa bersalah padamu...] kata nya dengan wajah yang menunjukan kekecewaan.


[loh? Kenapa? Aku tak merasa kau melakukan kesalahan apapun..] kataku bingung sambil menghentikan langkah ku.


[bukan seperti itu, tapi aku merasa aku tak bisa menjagamu hingga akhirnya kau mengalami hal yang seperti itu, seharusnya aku yang berada di sampingmu...] katanya dengan wajah yang benar benar sedih, tapi apa aku memang semengkhawatirkan itu?


[haaa ayolah Alice, itu bukan salahmu, lagian tak mungkin juga kan kau selalu ada di sampingku bukan? Lagian bila kau juga ada di sana waktu itu mungkin kejadianya tak akan selesai semudah ini, justru karena kau tak ada jadi kau bisa membawa senior Delvina kan.] kata ku sambil mengusap kepala Alice, entah kenapa itu sudah kebiasaan kami berdua sedari kecil untuk saling mengusap kepala saat salah atu di antara kami sedang merasa sedih.


[tetap saja, aku merasa sedikit bersalah...] kata Alice yang menyandarkan kepalanya pada dadaku.


[hemmm... kalau begitu bagaimana kalau kau memasakan sesuatu untukku, sudah lama aku tak memakan makananmu Alice.] kata ku sambil mengusap kepala.


(aN: hooo kode keras bambang!!!!! Langsung sikat!)


[ya hanya itu, lagian aku memintanya bukan untuk menebus kesalahan atau apapun, aku hanya ingin memakan masakanmu hanya itu.] kata ku sambil menggandeng tangan Alice dan melanjutkan pulang.


(aN: eh si an_)


[baiklah besok aku akan membuat bekal untuk kita berdua, jadi kau mau aku masakan apa?...] kata Alice kemudian.


[kau saja yang tentukan, apa pun yang kau masakan rasanya pasti enak.] kata Rey.


[emmh itu pilihan yang paling sulit kau tau!] kata Alice sambil mengembungkan pipinya.


[hemm kalau begitu... nasi goreng plus telur dadar, kayaknya bakal enak.] kata Rey sambil tersenyum ke arah Alice.

__ADS_1


[oke siap komandan, sampai ketemu besok Rey, kalau kau butuh bantuan jangan lupa hubungi aku.] kata Alice sambil pergi ke rumahnya yang berada di samping kanan rumahku yang hanya ke halangi dua rumah.


[iya, dadah.] kataku sambil tersenyum.


Setelah Alice tak terlihat aku masuk ke dalam rumah, aku sempat berpikir apa yang selalu kami lakukan itu seperti kebanyakan sahabat? Mungkin aku yang dulu tak terlalu memperhatikanya, namun aku yang sekarang agak berbeda, walau perlakuanku terhadapnya masih sama namun ada perasaan yang aneh di hatiku, dan itu cukup menggangguku, apa yah.


(aN:inilah contoh dari seorang nolep seperti kalian.....)


[seperti biasa kakak selalu bermesraan dengan kak Alice.] kata seorang di sampingku.


[huaaa!! Kau mengagetkanku Kinan, bisa tidak kau muncul dengan cara yang biasa...] dia adalah Kinan adik ku, orangnya supel, ceria, dan juga pintar, namun itu semua tertutupi oleh kejahilanya yang guuuh sungguh menjengkelkan.


[biasa aja kali, tak perlu seheboh gitu juga, jadi apa kakak pacaran sama kak Alice?] kata Kinan sambil tersenyum jail, oh maaf saja adiku aku tak akan terkena kejailanmu kali ini.


Adikku itu sebenarnya cukup cantik dengan rambut hitam dan mata cerah dengan warna yang selaras dengan rambutnya, tinggi? tak begitu, namun dadanya cukup berisi bisa di bilang dia gadis yang sangat manis, apalagi sekarang dia sedang berada di umur dimana dia akan semakin tumbuh, dia sekarang duduk di bangku smp, kelas dua yah walau begitu badanya bisa di bandingkan dengan gadis sma biasa, apalagi dengan pembawaanya yang anggun bila di luar rumah, ingat bila di luar rumah oke.


[pacarankah.... Boleh juga tapi kayaknya hubungan kita lebih nyaman begini deh dari pada pacaran.] kata ku dengan wajah datar.


[eh kok reaksinya beda sama yang ku pikirkan...] kata adik ku sambil melototkan matanya.


[heeemm memang kau pikir aku akan bereaksi seperti apa? Ah aku baru ingat bukanya kemarin kau baru saja kencan?] kata ku dengan datar.


[eh!? Bagaimana kau tau!?] kata Kinan dengan kaget setengah mati.


[hem apa segitu mengagetkanya bila aku tau? Memang kau melakukan apa saat kencan? Waaaaah jangan jangan...... kau nakal yah walau masih muda.] kata ku sambil tersenyum jail ke arahnya.


[ak-aku tak me-melakukan apapun kok.] kata Kinan dengan gugup dan wajah memerah.


[wah wah wah... aku tak menyangka adik kecilku ternyata sudah berani nakal di belakang yah ck. Ck ck] kata ku sambil menyilangkan tangan dan geleng geleng kepala.


[it-itu tak benaaaaaarrrrr!] kata Kinan sambil berlari menuju kamarnya.


Hahaha memangnya kau kira aku akan kalah dengan kejailanmu, eh tapi ibu di mana yah biarlah lebih baik aku mandi dan mulai berlatih.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2