
🌒🌒🌒
Waktu terus berjalan, tak terasa tiga bulan sudah Riko tinggal dirumah yang sama bersama orang tuanya, namun tak pernah juga ia mendapat kasih sayang.
Semua masih sama, tak pernah ada yang berubah, Haris ayahnya tak pernah mempermasalahkan akan sikap istrinya terhadap Riko, seakan memang ia tak pernah mengenalnya, padahal Riko darah dagingnya sendiri.
Suatu hari, saat Riko pergi membuang sampah didepan rumah, hatinya berdesir melihat anak-anak yang berboncengan sepeda motor menggunakan seragam sekolah. Terbesit dipikirannya ingin melanjutkan sekolahnya. Namun ia takut untuk mengutarakan niatnya, karena selama dia tinggal disini, tak pernah sekalipun ia berbincang dengan ayahnya.
Mungkin hari ini keberuntungan sedang berpihak padanya, ayahnya Haris yang notabennya jarang berada dirumah, kini tengah bersantai ditaman belakang rumah, sedangkan ibu dan ketiga saudara tirinya tengah pergi jalan-jalan entah kemana.
Merasa inilah waktu yang tepat, maka Riko tak ingin membuang kesempatan ini. Dihampirinya ayahnya.
" Pak, Riko pengen lanjutin sekolah" ucapnya seraya menunduk, Haris yang tengah memegang HP pun menoleh kearah sumber suara
" Sekolah? kamu yakin? tapi Riko, kamu tau sendiri bagaimana ibumu kini. Bapak rasa itu tidak mungkin, kecuali kalau kamu bisa membiayai sekolahmu sendiri"
" Tapi Pak"
"Riko, dengarkan bapak, bapak tau kamu pengen bisa sekolah seperti teman-teman seusiamu, namun bagaimana bisa bapak menyekolahkan kamu, sementara semua keuangan ibumu yang mengurus, bapak tak punya simpanan Riko, setiap kali bapak mencoba untuk menyisihkan uang, ibumu selalu tau. Bersabarlah kamu, nanti bapak akan coba ngomong ke ibumu, kalau tidak boleh maafkan bapak yang tak bisa berbuat apapun, selama ini bapak diam bukan tak sayang, namun kalau bapak membelamu, bapak takut ibumu akan memperlakukanmu jauh lebih buruk dari sekarang"
Tanpa menjawab Riko langsung memutar tubuhnya dan berlari ke kamarnya, menumpahkan segala kesedihan yang ia rasa, kecewa, sedih dan hancur. Merasa menjadi orang yang tiada artinya bagi siapapun.
……………
__ADS_1
Semenjak pembicaraan bersama ayahnya, Riko kini hanya fokus pada pekerjaannya, biasnya dia akan melihat dari jauh ayahnya pergi bekerja, namun kini ia enggan untuk menatap pria dewasa tersebut. Kecewa, kecewa teramat dalam hingga tak ingin melihat ayahnya sama sekali.
Hari Minggu pagi, disaat satu keluarga tengah sibuk sarapan bersama, Haris memanggil Riko untuk ikut sarapan bersama. Tentu saja semua atas ijin dari sang istri.
Suasana canggung begitu terasa, apalagi ditambah tatapan sang ibu yang menurutnya mengerikan. Riko hanya berusaha makan dengan segera agar cepat pergi dari tempat ini.
Semua sudah selesai memakan sarapan, kedua saudaranya Putra dan Arya --pergi meninggalkan meja makan, hanya tersisa Riko dan Bu Rima juga Haris.
Tak ingin berlama-lama, Riko segera berdiri dan akan membereskan meja makan, namun dicegah oleh ayahnya.
"Riko, mulai sekarang kamu berhenti bekerja disini, sekarang bapak minta kamu kemasi baju-baju kamu, bapak akan mengantarmu pulang"
DEG
" tapi pak? kenapa Riko diusir? apa salah Riko? Riko kan selalu nurut pak?" merosot dan duduk dilantai, menangis meraung-raung mengharap kedua orang dihadapannya mempunyai empati padanya.
"Riko, Riko nggak salah kok, hanya saja keadaan sekarang tak memungkinkan Riko untuk tetap tinggal disini, bapak harap Riko bisa mengerti, sekarang Riko bangun dan bereskan barang-barangmu, nanti bapak antar, ayo Riko" ucapnya lembut seakan merasa iba, namun tetap saja kata-katanya begitu menyakitkan bagi Riko. Ayahnya merupakan keluarganya satu-satunya kini membuangnya lagi, ya lagi. Tak ada kalimat yang Riko ucapkan, lidahnya kelu, jiwanya hancur, dengan perlahan ia bangkit dan membereskan barang-barang nya.
Setelah semua beres, Haris mengantarkan Riko ke terminal, disana Haris menyuruh Riko untuk duduk diam dibawah pohon. Sementara Haris pergi dan berniat membelikan tiket.
Ditengah kesendiriannya, Riko yang terus saja diam dan termenung itu dihampiri oleh sosok pria paruh baya. Bahkan hingga pria tersebut duduk disebelahnya, Riko tak menyadari akan hal tersebut. Hingga sebuah tepukan halus memanggilnya untuk kembali kedua nyata.
" Hai, kamu Riko kan?" Riko yang merasa ada yang menepuk bahunya dan menanyakan namanya pun ia menoleh
__ADS_1
"iya, saya Riko, maaf bapak siapa?" pria tersebut hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Riko.
" Dulu kita pernah duduk satu bangku di bis, kamu dari kampung dan ingin ke kota menemui ayahmu" mendengar penuturan pria tersebut, Riko menatap pria tersebut dengan seksama, dan mencoba berfikir, mengingat-infat kejadian beberapa bulan lalu.
"Pak Danu??"
"iya😊. Dan kita bertemu lagi sekarang, bagaimana kabarmu nak?"
"iya pak, Riko senang bisa bertemu bapak lagi. Alhamdulillah seperti yang bapak lihat, Riko baik-baik saja"
"lalu untuk apa kamu sendirian disini?"
"Riko mau pulang kampung pak"
"lho, bukannya dulu kamu bilang kamu dikampung sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan ke kota menyusul bapakmu?"
"ceritanya panjang pak, yang pasti sekarang Riko mau balik ke kampung"
" bagaimana kalau kamu ikut bapak saja, tinggal sama bapak"
"tapi pak,"
"udah, ayo"
__ADS_1
Riko menurut dan mengikuti Pak Danu dan menggandeng tangannya.