
Semenjak ada Andi dan keluarganya yang tinggal bersama, Riko kini tak kesepian lagi, apalagi Bu Isti memperlakukan Riko sama seperti ia memperlakukan Andi. Riko senang, bisa ikut merasakan kasih sayang orang tua lagi, meskipun dari orang-orang yang mungkin awalnya kasihan padanya.
Riko pun memanggil Pak Umar dengan sebutan Bapak dan Bu Isti dengan sebutan Ibu. Pak Umar dan Bu Isti bahkan sepakat menjadikan Riko anak angkat mereka. Dan Riko pun senang karena kini dia merasa memiliki keluarga yang lengkap.
Kini setiap pagi Riko tak perlu bersusah payah membeli lauk ke warung di seberang jalan, karena Bu Isti selalu menyediakan menu sarapan pagi untuk keluarganya juga untuk Riko, yang saat ini sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka.
Rumah dan sekitaran menjadi bersih terawat dan nampak indah, memang tangan seorang ibu sungguhlah berharga, beliau bisa menciptakan suasana yang nyaman dan indah membuat siapa yang melihat dan berada ditempat menjadi betah.
Sebelum berangkat kuliah, Riko mengantarkan Bu Isti terlebih dahulu ke rumah mbak Niken yang ada di ujung gang. Baru kemudian pulang kembali dan berangkat kuliah bersama dengan Andi.
Satu jurusan bahkan satu kelas, sangat menyenangkan rasanya. Apalagi Andi mahasiswa berprestasi, Riko merasa terlalu beruntung bisa bersanding bersama Andi dan keluarganya.
Setiap pulang kuliah, makanan sudah tersedia, bahkan baju-baju kotor pun semua sudah tercuci bersih dan terlipat rapi di dalam lemari.
Benar-benar hal baru yang dialami oleh Riko, semenjak neneknya meninggal dan ia tinggal di rumah peternakan milik Pak Danu, ia terbiasa mengurus semua keperluannya sendiri, namun sekarang Bu Isti dengan sukarela mau mengurus semua keperluan pribadinya. Riko terharu akan kasih sayang kedua orang tua Andi terhadapnya.
Malam ini Riko akan mendapatkan gajinya selama sebulan di restoran Jepang tempatnya bekerja, Riko berencana akan memberikan sebagian kepada Bu Isti untuk membeli keperluan rumah tangga.
Saat sudah sampai di rumah dan Bu Isti sudah terlelap karena jam sudah menunjuk angkat sepuluh lewat, Riko memutuskan untuk memberikannya esok hari. Dan Riko memilih untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.
Pagi yang cerah secerah wajah Riko yang nampak berbinar. Mungkin karena hari ini akan menjadi hari pertama baginya memberikan uang hasil jerih payahnya pada sosok orang tua yang mengurusnya. Rasa senang, sedih, bangga bercampur menjadi satu, namun rasa bahagia jauh lebih terpancar dari aura tubuhnya.
Seperti hari biasanya, Riko bersiap untuk pergi kuliah. Dan kini tengah duduk manis menyantap sarapan pagi yang nikmat bersama Pak Umar, Bu Isti, dan juga Andi. Benar-benar gambaran keluarga yang utuh nan harmonis.
" Buk, Riko ada sesuatu buat ibuk" ucap Riko setelah menghabiskan sarapannya terlebih dahulu.
__ADS_1
" apa nak?" tanya Bu Isti.
" ini Buk, mohon diterima ya. Ini uang gaji Riko bekerja di restoran Jepang selama satu bulan ini, dan Riko juga sudah mengambil sebagian kok. Ibu bisa gunakan uang ini untuk membeli kebutuhan rumah" ucap Riko kembali sembari menyerahkan amplop berwarna coklat kepada Bu Isti.
"Nak Riko, kenapa uangnya malah dikasih ke ibuk? inikan uang nak Riko" ujar Bu Isti lembut
" iya nak Riko, lebih baik kamu simpan uang ini buat kebutuhan kamu" Pak Umar menimpali ucapan istrinya.
" tapi buk, pak, Riko ikhlas kok"
"bapak tau nak kamu ikhlas, dan kami juga ikhlas lahir batin menjadikan kamu anak kami,"
" tapi pak, Riko mohon terima uang ini ya, Riko sudah lama bermimpi bisa punya orang tua dan bisa memberikan uang hasil jerih payah Riko pada orang tua Riko. Pak Umar dan Bu Isti kan sudah Riko anggap orang tua Riko sekarang. Jadi Riko mohon terimalah uang ini sebagai bentuk rasa terimakasih dan hormat Riko pada kalian"
Namun Bu Isti berencana akan menyimpan uang tersebut dan akan memberikannya kembali kepada Riko ketika dia membutuhkannya dikemudian hari.
Riko senang karena niat baiknya diterima oleh Bu Isti, meskipun tadi harus berdrama terlebih dahulu, namun nyatanya uang itu kini telah diterima oleh BU Isti.
Dengan hati gembira dan senyum merekah Riko melewati hari ini. Rasanya semua lelah dan kesulitan menjadi tak ada artinya saat suasana hati begitu indah.
Pak Umar dan Bu Isti kagum terhadap sosok Riko, anak lelaki yang dituntut dewasa sebelum waktunya. Bekerja dan menimba ilmu tanpa kenal lelah, mereka merasa kasihan pada orang tua yang sudah membuang anak yang begitu membanggakan seperti Riko. Sungguh orang tua yang sangat merugi.
Pak Umar sudah tau semua kisah Riko, karena disela-sela waktu kosong biasanya Riko dan Andi serta Pak Umar dan Bu Isti akan berbicara santai untuk sekedar membuat kehangatan dalam rumah yang mereka huni.
Pak Umar yakin, bahwa Riko kelak akan bisa berhasil dan jadi orang sukses. Melihat betapa gigih usahanya selama ini.
__ADS_1
Meskipun dalam keagamaan Riko masih sering bolong dalam salat, namun semenjak kehadiran Pak Umar dan keluarga, kini Riko mulai memperbaiki ibadahnya.
Pengaruh didikan orang tua memang sangat berarti. Beruntung Riko bukan orang yang bebal, Riko termasuk anak yang patuh.
Mengenai pemilik restoran langganan peternakan yang kini tempat Pak Umar mengais rejeki yang notabennya merupakan ayah kandung Riko, Pak Umar juga sudah tau. Bahkan menyarankan pada Riko untuk memperkenalkan kembali dirinya pada ayah kandungnya.
Namun Riko menolak, Riko tak siap. Dia tak ingin mengulang kejadian tempo dulu. Tak sanggup untuk merasakannya lagi. Yang Riko ingin, hanya Haris sang pemilik restoran dengan tiga cabang itu mengingat sendiri siapa dirinya. Kalaupun tak ingat, maka biarkan saja. Biarlah semua mengalir seperti air yang mengalir menyusuri panjangnya aliran sungai.
****
Tak terasa sebulan sudah Riko dan Andi juga kedua orang tuanya tinggal seatap. Pak Umar dan Andi mempunyai keinginan untuk membuka usaha angkringan dengan menu aneka olahan ayam.
Riko yang mendengar pun merasa senang, dan menyambut baik niat tersebut. Tapi sebelum usaha tersebut dimulai, Pak Umar ingin bertemu sama mbak Niken terlebih dahulu selaku pemilik peternakan yang sesungguhnya.
Pagi hari selepas membersihkan kandang dan memberi makan ayam-ayam, Pak Umar pergi untuk menemui mbak Niken dirumahnya.
"assalamualaikum "
"wa'alaikumsalam" sahut seorang wanita paruh baya yang tak lain istrinya. Karena memang Bu Isti bekerja dirumah mbak Niken membantu membersihkan rumah dari pagi hingga sore hari. Namun saat siang hari pulang sebentar untuk menyiapkan makan siang buat keluarga di rumah.
"ada perlu apa pak?" tanya Bu Isti pada suaminya
"mau bertemu sama mbak Niken, mau membicarakan soal usaha yang sudah bapak sama Andi rencanakan semalam"
"ooo iya, ibuk panggilkan. Duduk dulu pak" Setelah mempersilahkan suaminya duduk, Bu Isti masuk kembali kedalam rumah untuk memanggil mbak Niken
__ADS_1