Anak Yang Di Abaikan

Anak Yang Di Abaikan
Butuh Pertolongan


__ADS_3

"Riko... Rik... Riko..." panggil Andi dengan menggoyang-goyangkan kaki Riko, namun Riko tiada merespon, ia masih betah berada di dunia yang gelap gulita. Andi bergegas keluar dan meminta bantuan sama ibu juga bapaknya.


Pak Umar dan Bu Isti bergegas menuju ke kamar Riko setelah diberitahu oleh Andi.


Pak Umar juga Bu Isti menyerukan nama Riko berkali-kali untuk membuatnya tersadar, namun Riko tak juga merespon, Bu Isti yang panik sudah mulai mengeluarkan air mata, sedangkan Andi diperintahkan oleh Bu Isti untuk segera menelpon Mas Sahrul suaminya mbak Niken yang kebetulan sudah ada di rumah. Pak Umar ia masih berusaha untuk membangunkan Riko, memanggil namanya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya tanpa kenal lelah, mengucap istighfar berkali-kali. Entah apa yang terjadi, matanya terbuka, nafasnya normal, namun ia tak merespon sama sekali dengan apa yang ada disekitarnya.


Tak berapa lama datang Mas Sahrul juga mbak Niken dengan mengendarai mobil. Mbak Niken yang melihat keadaan Riko pun menangis histeris, Mas Sahrul dibantu oleh Andi bergegas membawa Riko ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.


Bu Isti, mbak Niken dan Pak Umar ikut kedalam mobil mas Sahrul, sedangkan Andi ia mengikuti dengan mengendarai sepeda motor Riko.


Mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, beruntung sekali keadaan lalu lintas cukup mendukung, hingga mereka tak harus terjebak di lampu merah. Namun terdengar suara sirine motor polisi yang mengejar, mas Sahrul pun menurunkan kecepatan mobil dan menepi. Seorang petugas berseragam itu menghampiri mobil mas Sahrul, belum sempat polisi tersebut menegur, mas Sahrul sudah lebih dahulu meminta pertolongan. " Pak tolong bantu saya untuk bisa sampai ke rumah sakit secepatnya, adik saya sedang dalam keadaan darurat ", dan polisi tersebut menengok ke belakang dan bergegas mengendarai motornya kembali untuk membantu melancarkan perjalan ke rumah sakit. Bahkan anggota polisi tersebut juga membantu mengantarkan ke ruang IGD. Setelah memastikan Riko ditangani oleh dokter, polisi tersebut tak lupa akan tugasnya untuk memberikan surat peringatan tilang karena melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, dan itu membahayakan untuk diri sendiri juga orang lain.


Mas Sahrul dan Andi pergi bersama anggota polisi tersebut untuk menyelesaikan prosedur penilangan, sedangkan Bu Isti dan mbak Niken berpelukan sambil menangis di kursi tunggu ruang IGD, Pak Umar jangan ditanya, beliau mondar-mandir dan sesekali mengintip kedalam.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, bahkan mas Sahrul dan Andi pun sudah kembali, namun dokter yang menangani Riko tak kunjung keluar dari IGD. Bagi keluarga pasien yang tengah menunggu, tiga puluh menit bukanlah waktu yang sebentar, namun bagi dokter yang berada di dalam dan tengah menangani pasien, tiga puluh menit sangatlah cepat. Hingga beberapa saat berlalu barulah dokter keluar dan menanyakan keluarga pasien. Semua orang segera berdiri menuju kearah dokter tersebut untuk mendengar penjelasan langsung darinya.


" pasien mengalami syok berat, dan syukur sekarang pasien sudah dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja saat ini tengah tertidur karena obat yang kami berikan barusan, dan pasien harus melayani rawat inap beberapa hari kedepan untuk memastikan pasien sudah benar-benar pulih. Dan mungkin nanti kalau memang dibutuhkan, pasien juga harus dibantu oleh ahli psikologi, jadi mohon untuk segera diurus administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan "


Mas Sahrul segera mengurus administrasi dan tak berselang lama Riko sudah keluar dari IGD dan dibawa keruang perawatan, Bu Isti, Pak Umar, Andi, mbak Niken dan mas Sahrul mengikuti dari belakang hingga sampailah Riko di ruang perawatannya.


Perawat yang tadi mendorong brankar Riko sudah keluar dari ruangan, Bu Isti juga Mbak Niken dan yang lainnya segera berkerumun mengelilingi Riko untuk melihat dengan jelas bagaimana keadaan Riko saat ini.


Setelah memastikan baik-baik saja, mas Sahrul, Andi, dan Pak Umar duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan, karena mas Sahrul menempatkan Riko di ruang VIP.


" saya juga tidak tau mas, tadi Riko pamitan mau berangkat kerja, biasanya jam 11 baru sampai rumah, ini baru jam 7 lebih sudah sampai rumah. Dan saat itu juga saya, Andi juga istri saya tengah berbincang di depan, Riko pulang langsung masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam, menyapa kita saja tidak. Karena kami merasa ada yang aneh, saya suruh Andi anak saya untuk menemui Riko, namun keadaannya sudah seperti tadi " jelas Pak Umar kepada Mas Sahrul.


" apa sebelumnya Riko pernah bercerita perihal masalah yang tengah dialaminya saat ini Andi? "

__ADS_1


" tidak Mas, Riko tidak ada cerita apa-apa sama saya. Bahkan akhir-akhir ini juga saya melihatnya tampak bahagia kok "


" lantas apa yang bisa membuat Riko sampai demikian? apa dia ada masalah ditempatnya kerja ya? "


" bisa jadi itu mas, kan tadi Riko seperti itu sepulang dari kerja, apalagi sebelum berangkat ia juga baik-baik saja seperti tidak ada masalah " ujar Andi menimpali ucapan mas Sahrul. Dan Pak Umar mengangguk membenarkan.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya, saya mau coba untuk datang ke tempat Riko bekerja, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi "


" boleh saya ikut mas? " tanya Andi


" kamu disini saja, mana tau nanti Riko sadar, jadi kalau ada sesuatu kamu bisa segera memanggil dokter dan langsung kabari saya juga "


" baiklah mas "

__ADS_1


" mas aku ikut kamu ya.. " pinta mbak Niken pada suaminya. Sahrul berfikir sejenak kemudian mengangguk. Dan kini mas Sahrul dan mbak Niken pergi ke tempat Riko bekerja untuk mencaritahu apa yang membuat Riko bisa sampai demikian.


__ADS_2